
Amelia merasakan hawa dingin yang aneh setelah kepulangan Tia dan Alif.
Seperti ada bayangan hitam yang mengikuti kemana Amel pergi. Bahkan, kuduknya terasa semriwing dan bulunya terus-terusan merinding.
Satu hal lagi yang membuat Amelia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Anak Tasya, Dea yang berumur empat tahun selalu menangis setiap kali melihat wajah Amelia. Kecurigaannya bertambah soal adanya aura mistis yang menyelimuti tubuh serta rumah kontrakannya.
Namun Amelia tidak berani suudzon dan bercerita kepada orang lain. Hanya dipendam sendiri.
Hingga terjadi sesuatu...
Sesosok bayangan hitam tinggi besar seolah sedang berdiri di tepat di depan pintu kamar mandi ketika Ia hendak wudhu sholat Isya.
"Astaghfirullah..., astaghfirullahal'adziiim!" teriaknya sambil menutup mata, ketakutan.
Tubuhnya bergetar, jantungnya berdebar. Bibir Amel berusaha terus membaca kalam Illahi walaupun ada ayat yang dibaca ulang sampai dua kali. Saking kaget dan takut melihat sosok makhluk astral yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Bahkan kaki Amel gemetar tak mampu Ia langkahkan. Begitu pula wajahnya pucat pasi dengan bibir terkatup rapat tak tahu harus berbuat apa.
Amelia membuka matanya perlahan.
Sosok bayangan hitam tinggi besar itu kini telah menghilang. Namun tak serta merta membuat Amelia lega. Justru semakin terkungkung rasa takut yang kian dalam.
Tok tok tok
Tok tok tok
"Assalamualaikum! Assalamualaikum! Tas, Tasya! Tasya Aku langsung masuk ya?"
Amelia yang merasa semakin ketakutan akhirnya pergi bergegas ke rumah kontrakan Tasya.
Diki dan Lukman ternyata sudah pulang kerja. Mereka sedang duduk di ruang tengah sambil menikmati makan malam.
"Dik, maaf! Tasya kemana?" tanya Amelia pelan.
"Lagi mepende Dea, Mbak! Masuk sini. Makan bareng kita!"
"Terima kasih. Saya, saya boleh ikut duduk di sini dulu ya?"
Diki seperti melihat Amelia sedang dalam kondisi ketakutan.
"Mbak Amel? Kenapa? Koq pucat gitu? Apa,... apa Bang Soleh datang dan buat keonaran lagi?"
Amelia segera menggelengkan kepala.
"Terus kenapa?"
"Mh, mmm... Diki. Kamu pernah melihat sesuatu yang menakutkan ga?"
"Mmmh, apa Mbak? Setan? Mbak lihat setan?"
Diki membelalakkan matanya. Dea menangis keras dari dalam kamar. Membuat Ia, Amel dan Lukman seketika melonjak kaget.
"Ada aura mistis sepertinya disekitar kita!"
"Heh! Jangan ngomong sembarangan, Man! Ini malam Jum'at. Jangan nyebutin hal yang bikin bulu kuduk gue merinding!" Sontak Diki langsung menegur Lukman yang justru terlihat santai.
Tasya menggendong tubuh Dea keluar kamar.
__ADS_1
"Bang, Tasya demam!"
Seketika Amel merasa tidak enak hati karena mengganggu ketenangan keluarga kecil bahagia ini dengan permasalahannya yang silih berganti.
"Dea panas, Tas? Cepat bawa berobat ke klinik. Nih, pegang. Segini kayaknya cukup untuk berobat!" Amelia mengambil tangan Tasya dan memberikan selembar uang kertas seratus ribu rupiah untuk dipakai berobat Dea.
"Mbak!"
"Ambillah. Ayo, Dik! Bawa Dea ke klinik dokter Sutadi di perempatan jalan sana!"
"Terima kasih, Mbak! Nanti kalau sudah gajihan saya ganti ya Mbak?" timpal Diki yang langsung mengambil kunci motor maticnya dan bergegas keluar menuntun motor yang terparkir di teras rumah kontrakan.
"Jangan dipikirkan masalah uang. Yang penting bawa dulu Dea berobat!"
"Makasih, Mbak!"
"Iya. Moga Dea cepat sembuh ya!?"
Amelia dan Lukman mengantar Tasya yang menggendong Dea sampai duduk di jok belakang motor Diki.
"Gue tinggal dulu, Man!" seloroh Diki pada Lukman.
"Iya. Jangan kuatir!"
Kini tinggallah Amelia dan Lukman berdua saja di halaman rumah kontrakan yang berjejer rapi.
"Masuk lagi, Mbak Amel!" ajak Lukman dengan sopan.
"Tidak, terima kasih. Kita tunggu di luar saja, ya? Ga enak sama tetangga. Tasya Diki juga ga ada di rumah. Lebih baik kita duduk-duduk di teras saja!"
Hari ini saja Ia mendengar gosip yang kurang baik yang berhembus di luaran sana. Tepatnya di warung besar Bu Saodah yang ada diujung jalan.
Memang bukan gosip yang menyudutkan dirinya. Tapi ceritanya cukup membuat daun telinga Amelia memanas juga. Karena ini menyangkut dirinya dan mantan suami yang dijemput paksa oleh orang tua serta keluarga istri barunya.
Namanya tinggal di perumahan padat penduduk, gosip berkembang dengan pesat menjadi trending topik bahkan viral di seantero pemukiman rumah kontrakan Amelia.
"Hebat betul bang Soleh! Diam-diam menikah lagi bahkan orang tua sama mertua barunya sampai datang menjemput dan beri dukungan buat mentalak istri pertama. Ck ck ck! Jaman edun ya!? Hehehe..."
"Eh, yang bawa mobil itu mertuanya lho! Parkir mobilnya juga didepan situ. Malah sempat beli rokok sama Kratingdaeng dua botol di warung ini lho!"
Ibu Saodah memang paling senang dengan berita-berita terbaru yang hangat bahkan sampai dia goreng lagi untuk meramaikan warung sembakonya agar makin laris manis yang beli silih berganti.
Itu sebabnya Amelia sengaja jaga jarak dengan Lukman. Takut ada gosip yang lebih fatal lagi nantinya. Karena sempat pula terdengar obrolan panjang para emak yang kurang kerjaan ketika belanja berjam-jam di warung Bu Saodah menyebutkan nama Lukman sebagai lelaki yang turut membantu evakuasi kepindahan Solehudin dari rumah kontrakan bersama Amel tempo hari.
Amelia ingin sekali masuk rumah dan lanjutkan ibadah sholat isyanya yang tertunda tadi.
Hati kecilnya sengaja Ia kuatkan dengan bergumam dan berbicara sendiri kalau setan akan takut pada ayat suci Al-Quran. Dirinya niat ibadah sholat wajib. Setan pun pasti lari terbirit-birit. Begitu akhirnya keyakinan bulatnya.
"Bang, maaf... saya tinggal dulu ya? Sudah malam juga. Khawatir jadi gunjingan orang nantinya jika kita terlihat berduaan saja padahal niatnya nungguin Tasya dan Diki pulang dari klinik."
"Iya, Mbak. Masuk aja. Udara di luar dingin. Biar saya yang menunggu Diki Tasya pulang."
"Terima kasih."
Amelia masuk dengan isi kepala penuh pertanyaan.
__ADS_1
Sepertinya Lukman juga mendengar gosip miring tentang Soleh Amelia yang membawa-bawa namanya serta sehingga pemuda yang usianya lebih muda dua tahun dari Amelia itu juga bertindak lebih hati-hati.
Tidak seperti di awal kenal. Lukman justru kini terlihat menjauh dari Amelia. Entahlah. Mungkin merasa kalau Amelia adalah perempuan yang menyedihkan dan membawa kesialan seperti yang keluarga Soleh tuduhkan padanya. Amelia kini tak terlalu ambil pusing.
Baru saja Ia menggelar sajadah dan menaruh mukenanya di atas karpet sebelum mengambil wudhu.
Tiba-tiba seperti ada sesosok anak kecil yang melesat melewati dia. Anak kecil perempuan yang hanya memakai Pampers saja. Begitu penglihatan Amelia sepintas.
"Astaghfirullahal'adziiim!!!"
Amelia memekik kaget.
Dadanya berdebar kencang. Nafasnya kembali tersengal.
"Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah..."
Matanya membulat penuh dan fokus mengedarkan pandangan. Tak nampak bocah perempuan berambut ikal sebahu yang barusan melesat cepat.
"Astaghfirullah...! Astaghfirullah..."
Amelia kian takut hingga kembali berjalan cepat keluar rumah kontrakannya.
Lukman yang ternyata masih duduk di teras rumah kontrakan Tasya terkejut melihat Amel setengah berlari menghampiri dirinya. Wajahnya pucat dan dadanya turun naik kencang.
"Ada apa, Mbak?" tanya Lukman padanya.
"Maaf..., maaf sekali. Saya, saya mmm... sebentar saya minta tolong Mbak Yuni saja!"
Lukman hanya termangu melihat wajah Amelia yang gugup dan kini berbalik arah ke pintu kontrakan rumah sebelah lainnya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum! Mbak Yuni! Mbak..."
Tak lama pintu rumah terbuka dan suami Yuni tersenyum menyambut kedatangan Amelia.
"Yuni kebetulan shift tiga, Mel! Ada apa? Butuh bantuan? Mau kutolong?"
Amelia menyadari kalau meminta tolong Reyhan justru akan semakin membuat posisinya jauh lebih terancam.
Penghuni rumah kontrakan sekitaran memang rata-rata adalah pasangan suami istri yang bekerja. Hanya satu dua orang saja yang istrinya murni Ibu rumah tangga seperti dirinya. Di jajaran rumah kontrakannya hanya dia dan Tasya saja yang berstatus IRT tinggal di rumah. Yang lainnya karyawati bahkan ada yang satu kerjaan bareng suami.
"Maaf, Mas Reyhan. Saya kira ada mbak Yuni di rumah! Maaf sudah mengganggu!"
Amelia mundur dan kembali ke rumah.
Lukman yang sedari tadi hanya memperhatikan Amelia kini mulai merasa ada yang tidak beres yang telah terjadi pada diri janda kembang itu.
Ia langsung menuju ke arah Amelia yang seperti panik sendiri.
"Mbak kenapa?"
"Lukman...! A_ada makhluk me_..."
Amelia tidak jadi menceritakan keadaan yang sebenarnya pada Lukman. Kini Ia diam tak lanjutkan ucapan. Hanya duduk di teras rumah kontrakan Diki dan berharap pasangan suami istri itu segera pulang dari klinik.
Lukman tidak bisa memaksa Amelia untuk cerita. Meski rasa penasaran begitu besar di hati serta kepalanya, Lukman sudah cukup senang bisa duduk berduaan dengan Amel di teras rumah.
__ADS_1
BERSAMBUNG