
"Mbak... mmm, minggu depan Mama dan Papaku mengajak datang ke kampung halaman Mbak Amel untuk silaturahim. Apakah Mbak bersedia?"
Merona merah jambu wajah Amelia.
Lukman ternyata tidak main-main untuk terus berhubungan serius dengan dirinya.
"Mas, apa Mas sungguh-sungguh?"
"Ya Allah, Mbak! Sedari awal Aku ini tidak ada niatan main-main. Masa kamu masih tidak percaya?"
Ada setitik air mata kebahagiaan yang keluar dari sudut kiri mata Amelia.
Lukman menggenggam jemarinya hangat.
"Kabari Emak dan Tia juga mas Rama. Aku akan meminta kesediaan mereka memberikan izin serta restu untuk menikahkan kita."
Senyuman Amelia mengembang.
Setahun yang penuh dengan air mata kesedihan dan juga cobaan hidup yang menggempurnya habis-habisan seolah terlupakan oleh kebahagiaannya yang ada sekarang.
"Bismillah, semoga Allah merahmati hubungan kita ini dan memperlancar semuanya."
"Aamiin..."
Lukman tersenyum lega.
Wanita pujaannya yang selama setahun lebih itu selalu jadi khayalan setiap malam menemani tidurnya akan segera jadi miliknya.
Tinggal selangkah lagi.
Semuanya seperti mimpi.
Dan Lukman percaya takdir Illahi sangatlah berpihak padanya yang sepertinya memang berjodoh dengan Amelia.
Perempuan sederhana yang memiliki kebaikan dan kekuatan luar biasa. Perempuan sederhana yang selalu santun dan santai menyikapi setiap permasalahan hidupnya. Benar-benar membuat Lukman terpesona jatuh cinta.
Doanya pada Allah Ta'ala semakin giat. Meminta agar Tuhan Yang Maha Kuasa menyingkirkan segala hal yang menghalangi hubungan mereka dan menggantinya dengan kebahagiaan.
Tuhan Maha Segalanya.
Dengan kekuatan doa, Lukman sangat yakin karena firasatnya yang kuat serta keyakinannya yang besar akan menjadi suami dari perempuan sederhana yang bernama Amelia.
Perempuan yang kini telah menjadi wanita pengusaha kuliner juga. Yang bahkan restoran sederhana yang Amelia bangun di toko kontrakan barunya berjalan luar biasa.
Bahkan usaha kateringnya mendapatkan dua kontrak baru dari perusahaan percetakan serta perusahaan retail yang tak jauh dari tempat tinggal nya kini.
Alhamdulillah.
Diki bahkan ikut bergabung ke usaha rumahan Amelia dan resign kerja di konveksi milik Boss Adam.
Tasya juga senang, ia bisa bekerja bersama Sang Suami yang bertugas sebagai driver serta administrator pengurus Katering DeaLia.
Nama putri mereka menjadi nama usaha katering Amelia. Membuat Tasya sangat terharu dengan kebaikan Amelia yang menganggapnya seperti adik kandung sendiri.
............
"Mak, apa sudah siap?"
__ADS_1
Tia membuka tirai gorden kamar Mia.
Emaknya itu masih memoles wajahnya yang meskipun sudah berkepala lima tapi masih terlihat aura kecantikannya.
Ada sejumput kesedihan mengingat sang suami yang telah tiada.
Hari bahagia putri sulung mereka menjadi kurang keceriaannya karena Kan'an yang telah berpulang ke Rahmatullah.
Mia terisak sendirian setelah Tia menutup kembali gorden kamarnya seraya berkata, "Jangan terlalu cantik dandannya, Mak! Nanti ada yang terpikat Mak. Hehehe...!"
Hati kecilnya merindukan Kan'an. Cinta pertama sekaligus terakhirnya.
Mia sebenarnya ingin sekali menyusul Sang Suami di alam sana. Tapi mengingat Inayah dan Gaga yang masih kecil dan butuh bimbingannya, Mia meminta umur panjang agar bisa mengurus semua anaknya sampai menikah. Setelah itu, Ia pasrah jika Tuhan mengambil nyawanya.
"Assalamualaikum..."
"Kulonuwun..."
"Assalamualaikum!"
Tok tok tok...
Tia yang sedang memakaikan hijab pashmina pada Inayah adiknya langsung berseru, "Mereka sudah datang!"
Rama dan Gaga menyambut kedatangan tamu agung beserta keluarganya. Ada perempuan cantik yang juga berdiri ditengah-tengah mereka.
"Mbak Yu' Amel!?!"
Rama terpesona. Kakaknya kini terlihat sangat dewasa dengan aura kecantikan yang terpancar dari hati lewat senyuman manisnya.
Dulu, Rama adalah orang yang mempertanyakan keseriusan Soleh dalam membangun rumah tangga dengan kakaknya.
Mereka pernah terlibat obrolan yang serius bahkan cenderung memanas.
Saat itu, Rama masih berumur 21 tahun. Niatnya datang ke Jakarta, ingin ikut numpang tinggal di kontrakan Amel dan Soleh sampai Ia mendapatkan kerja di Ibukota.
Namun baru saja beberapa hari, Soleh justru memperlihatkan arogansinya pada Rama. Mengoceh ini itu seolah dirinya adalah pakar Kehidupan yang mengatakan kalau dirinya berdiri di atas kaki sendiri tanpa bantuan siapapun.
Soleh seolah menjadikan dirinya panutan yang wajib dicontoh Rama.
Namun di penghujung obrolan panas itu, Soleh justru mengeluarkan unek-uneknya yang langsung membuat hati Rama meradang marah sekaligus sedih.
"Sejujurnya, Aku tidak suka dan tidak terima adik ipar menumpang hidup meskipun hanya sebentar saja. Khawatir kalau kebaikan kami dimanfaatkan. Khawatir disalahgunakan dan justru enak-enakan ongkang-ongkang kaki menikmati fasilitas dari sodara sendiri. Karena Aku sendiri seperti ini tidak ada kontribusi saudaraku. Aku berusaha hidup di atas kakiku sendiri tanpa bantuan siapapun. Dan hasilnya, bisa kamu lihat sendiri! Sebagai seorang laki-laki, harusnya kau sadar diri. Apakah niatmu menumpang hidup pada Amelia apakah tidak akan memberatkan Aku sebagai kakak iparmu?! Kau fikir, Kakakmu akan menceritakan kegundahan hatinya karena Ia pasti bilang boleh atau silakan saja tinggal di sini sampai kamu sudah dapat pekerjaan dan mengontrak tempat sendiri. Hhh..., naifnya dirimu, Ram!"
Ada rasa senang, Amelia kini telah berpisah dari pria sombong itu.
Tapi Rama juga cemas dan khawatir Kakaknya kembali mendapatkan jodoh pria yang kurang lebih sama seperti Solehuddin.
Rama menatap keseluruhan tampilan Lukman.
Pria muda. Sepertinya sepantaran dengannya.
Tetapi melihat seluruh anggota keluarga Lukman yang lainnya, Rama sedikit lebih tenang karena berpenampilan rapi dan indah di pandang mata.
Mereka juga membawa banyak hantaran. Padahal kata Tia kalau Kakaknya itu hanya akan datang bersilaturahmi dahulu.
Berniat mengenalkan dulu satu sama lain keluarga mereka dengan keluarga Lukman. Tapi...
__ADS_1
Rama kembali terkenang saat Soleh dan keluarganya datang hendak melamar Sang kakak.
Mereka datang membawa seserahan yang tidak begitu banyak namun pulang dengan kata-kata yang kurang enak.
Menyebutkan kalau Amelia adalah seorang perempuan yang miskin yang tentu saja senang dan bahagia dilamar putra mereka yang pintar serta hebat dimata mereka. Padahal saat itu Solehuddin masihlah seorang pengangguran yang belum memiliki pekerjaan tetap. Tapi kesombongan mereka sudah tampak disaat awal pertemuan itu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kepada yang terhormat, Ibundanya Amelia, juga yang terhormat adik-adik Amelia, serta kerabat saudara dan juga para sesepuh di sini, kami mohon maaf jika kedatangan kami saat ini jadi membuat kegaduhan semuanya. Niat kami sebagai wali dari Lukmanul Hakim dan keluarganya adalah ingin melamar putri dari keluarga ini yang bernama Amelia. Hehehe..."
"Putra kami sangat ingin menyegerakan hubungan ini halal secepatnya. Kami, sebagai wali dan juga orang tua, tentunya mensupport dan mendukung keinginannya yang mulia. Untuk itu, dengan sepenuh hati kami haturkan niatan Ananda kami, Lukmanul Hakim melamar Amelia dengan seserahan yang kami bawa ini. Mohon maaf sebelumnya, jika apa yang kami bawa ini jauh dari kelayakan. Karena untuk kelanjutannya bisa kita obrolkan nanti setelah ada kesepakatan diantara kita. Semoga keluarga Amelia bersedia menerima pinangan putra kami, yang bernama Lukmanul Hakim. Wabillahit-taufiq wal hidayah, wasallamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Merona wajah Amelia.
Mia menatap dengan bahagia. Dan mengangguk-angguk sembari tersenyum melihat wajah sang putri sulungnya.
"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, Alhamdulillaahirobbil'alamiin. Puji syukur atas kehadirat Allah SWT. Serta shalawat dan salam kami haturkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Alhamdulillaahirobbil'alamiin. Kami keluarga besar Amelia tentunya sangat senang atas kedatangan keluarga dari Abanda Lukmanul Hakim. Apalagi setelah mendengar sendiri niatan keluarga besar Ananda yang sangat mulia yaitu hendak melamar putri kami Amelia. Selebihnya untuk semua jawaban dari pertanyaan niatan Keluarga Ananda apakah akan diterima seserahannya, kami tidak bisa menjawabnya. Kami pasrahkan semuanya kepada Amelia sendiri, apakah akan menerima pinangannya Ananda Lukmanul Hakim atau tidak,"
"Saya terima, Pak!" jawab Amel dengan cepat, membuat semua tertawa mendengarnya.
"Yu' sudah tidak perlu banyak fikir lah!" goda Tia dengan suara yang lucu.
Lukman tersipu malu-malu. Senang hatinya karena Amelia tidak terlihat ragu-ragu lagi untuk menerima pinangannya.
"Alhamdulillah. Telah kita dengarkan sendiri, seperti apa jawaban calon mempelai wanitanya, hehehe... Jadi untuk itu, kami pihak mempelai pria memberikan seserahan kepada pihak mempelai wanita. Mohon maaf jika ternyata banyak kekurangannya! Mohon diterima semua hantaran yang kami bawa ini." Pihak dari Lukmanul Hakim kembali membuka acara.
"Alhamdulillaahirobbil'alamiin. Kami sebagai wali dari pihak keluarga Amelia sangat senang karena mendapatkan tamu kehormatan yang nantinya akan menjadi bagian dari keluarga besar kami. Hantaran yang diserahkan kepada kami, dengan senang hati kami terima. Sebelumnya kami juga meminta maaf jika jamuan yang kami suguhkan sangat sederhana. Ini semua sebenarnya tidak kami prediksi seperti ini. Karena Amelia bilang kalau kita baru akan bersilaturahim dahulu. Hehehe..."
"Hahaha, betul. Mohon maaf kalau kedatangan kami jadi membuat panik. Tapi, calon mempelai prianya sudah sangat tidak sabar dan ingin sekali secepatnya ijab kabul. Hehehe..."
Lukman tersenyum menyeringai kepada Amelia yang tersipu dengan wajah tertunduk malu.
"Kepingin cepat-cepat sah katanya. Hehehe..."
"Baiklah, hehehe... Kami semua sangat memakluminya. Hanya, karena kepala keluarga ini sudah berpulang ke Rahmatullah, otomatis untuk semua urusan ditangani seadanya dan sekemampunya Bu Mia seorang orang tua tunggal dari Amelia. Jadi, mohon maaf sekali lagi kalau jamuannya ala kadarnya saja."
"Ini sambutan yang sangat baik sekali dari keluarga Amel. Kami semua senang bisa bersilaturahim kesini mengantarkan Lukman." Fanny ikut menjawab dengan wajah sumringah.
"Untuk kelanjutannya, kita tinggal bahas kira-kira waktu yang tepat bagi mereka melangsungkan pernikahan. Dan untuk semuanya, masalah MUA, pelaminan dan juga Wedding Organizer biar pihak kami yang mengaturnya. Jadi, keluarga Amel tidak perlu susah-susah memikirkan hal itu. Kami akan urus semuanya." Fanny kembali mengatakan hal yang membuat Mia serta Tia ternganga dengan binaran indah di kedua bola mata mereka.
Mia dan Tia saling berhadapan.
"Sekiranya pernikahan di gelar di Jakarta, apakah Ibu dan adik-adik menyetujuinya? Tapi jika ingin melangsungkannya disini, kami juga tidak apa-apa."
Amelia, Tia, Mia dan Rama saling berpandangan.
"Kami setuju dilakukan di Jakarta. Terima kasih banyak telah memberikan kebahagiaan kepada kakak kami tercinta, Mbak Yu' Amelia. Terima kasih."
Rama menghandle semua.
Tia mengangguk. Sejatinya pernikahan Sang Kakak memang lebih baik dilakukan di tempat yang jauh dari pantauan Solehudin.
Ada kekhawatiran kalau pria menyebalkan itu akan menggagalkan rencana pernikahan Amelia dan membuat rusuh di hari H jika pernikahan dilaksanakan di rumah ini.
Mia tersenyum lega dan mengangguk mengiyakan ucapan Rama.
Hati kecilnya terus mendawamkan agar sang putri hidup bahagia sampai akhir hayatnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1