Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 102 Dikira Lukman Ternyata (Siluman)


__ADS_3

Seminggu telah berlalu.


Hidup Amel tanpa Lukman ternyata berjalan terasa hambar.


Amelia menyesal karena dulu sempat bersikap dingin pada bujang 29 tahun itu.


Kini dia seolah diuji hatinya menjadi seperti Lukman yang kala itu selalu mendamba Amelia.


Ponsel Lukman benar-benar tidak bisa dihubungi.


Diki dan Tasya juga tidak bisa membantu Amelia karena Lukman yang menghilang tanpa jejak.


Sebenarnya Amelia bisa saja mendatangi rumah keluarga Lukman yang besar di pusat Ibukota. Namun Amelia terlalu malu untuk melakukan itu.


Dirinya adalah wanita dewasa yang sudah berusia 31 tahun. Rasanya terlalu gatal jika Ia sampai kesana padahal tidak ada hubungan spesial diantara mereka.


Amelia malu.


Hari berganti hari begitu lambat sekali.


Tasya dan Ziah merasakan perubahan yang terjadi pada Amel yang kini jauh lebih pendiam serta sering melamun.


Amelia juga sering salah memasukkan bumbu-bumbu masakan bahkan sampai harus membuangnya sia-sia karena terasa aneh rasanya.


Setiap malam Amelia menangis merasakan kalau dirinya rapuh dan oleng karena kepergian Lukman yang tiba-tiba itu.


Amel hanya meminta dalam setiap sujudnya, agar Allah memberinya kekuatan. Memohon ampunan karena dulu telah bersikap dingin dan apatis pada pria yang usianya lebih muda dua tahun darinya itu.


Amelia hanya meminta yang terbaik menurut Allah untuk dirinya. Jika memang Lukman dan dia tak berjodoh, Amelia minta agar Allah membuatnya kuat melanjutkan hidup dengan tenang dan perlahan melupakan Lukman.


Namun kenyataan tak semudah membalikkan telapak tangan.


Setiap kali Ia berdoa, semakin besar rasa sesal dan sedihnya yang merindukan Lukman.


Hingga akhirnya Amelia mengubah doanya agar Allah membukakan pintu hati Lukman agar kembali seperti semula. Ia ingin minta maaf dari hati yang terdalam jika ada salah yang tidak Ia sengaja menyakiti Lukman.


Begitulah doanya diselepas sholat.


"Assalamualaikum..."


Sontak Amelia terkejut. Begitu juga Tasya dan Ziah yang mendengar suara salam dari balik pintu.


Amelia bangkit. Setengah berlari Ia membukakan pintu depan dengan jantung berdebar.


"Waalaikum salam..."


Kecewa hatinya, karena yang berdiri di depan pintu pukul sembilan pagi itu bukanlah Lukman. Melainkan,


"Bang Soleh?"


Seraut wajah yang sudah cukup lama Amelia lupakan tersenyum. Soleh seakan merasakan kebahagiaan karena Amelia yang rindu setengah mati padanya.


Delapan bulan mereka berpisah. Ini adalah pertemuan pertama setelah keduanya resmi menyandang status janda dan duda.


"Tas,..."

__ADS_1


"Iya, Mbak?"


"Tolong,"


Tasya keluarga dari dapur. Wajahnya juga sama terkejutnya dengan Amel.


"Bang Soleh?!"


"Apa kabar kalian?" tanya Soleh dengan suara lembut dan langsung masuk kedalam rumah kontrakan.


"Jangan masuk!" larang Amelia spontan.


"Kenapa?"


"Tidak enak dilihat orang!"


"Apa? Kamu juga tidak sedang sendirian khan?" Tentu saja Soleh mulai meradang. Amelia melarangnya masuk dan duduk di sofa tempat mereka dulu tinggal.


"Aku tidak mau menerima kamu di rumah ini!" tukas Amelia tanpa basa-basi.


"Kenapa? Toh ini juga dulunya rumah kontrakanku! Barang-barangnya masih sama. Barang yang kita beli ketika masih suami istri. Sofa, lemari itu, meja makan, ranjang tidur..."


Amelia menggelengkan kepala.


"Kumohon, Bang! Kita ini bukan muhrim dan Aku gak mau menerima kamu masuk ke rumah ini. Silahkan duduk di teras!"


"Bagaimana dengan lelaki lain? Apa kamu memperlakukan mereka sama?"


"Lelaki lain? Siapa? Yang mana?"


"Hm. Ternyata belum ada lelaki lain rupanya yang bisa menggantikan Aku di hatimu."


"Apa maumu? Ada urusan apa kesini?"


"Jangan judes padaku, Amel. Aku tahu, perempuan itu judes padahal hatinya merindu dan bertolak belakang dengan ucapan bibirnya. Apa kabarmu, Amelia?"


Amelia menepis tangan Soleh yang hendak menjawil pipinya.


"Jangan bersikap kurang ajar!" pekik Amel membuat Tasya yang sedari tadi hanya diam ikut bereaksi.


"Tolong sebaiknya Abang katakan ada perlu apa kemari?" tanya Tasya.


"Aku hanya ingin menyambangi mantan istriku, Tasya. Hanya ingin melihat apakah hidupnya baik-baik saja atau butuh bantuanku. Begitu. Apa kabarmu dan Diki, Tas?"


"Hm. Baik, Bang! Maaf, kami sedang sibuk. Tolong duduknya di teras aja ya? Kami sedang bekerja. Maaf, pintunya kututup!" Tasya mendorong tubuh Soleh keluar dan hendak menutup pintu tapi,


Tangan Soleh terlalu kuat mendorong kembali daun pintu hingga terjadi adegan dorong mendorong pintu antara Tasya dan Soleh.


Amelia segera sadar dan membantu Tasya mendorong pintu lebih kuat lagi.


Kini dua perempuan itu unggul dan berhasil menutup pintu hingga menguncinya.


Tasya dan Amel saling berpandangan.


"Udah, yok! Kerjaan kita masih banyak. Abaikan, Mbak! Fokus sama katering kita. Ini udah jam sembilan lewat. Ayo!"

__ADS_1


Tasya memberikan Amel nasehat dan support semangat.


Amelia mengangguk sembari merangkul Tasya yang sudah seperti adik kandungnya sendiri.


"Hei, kenapa kalian ketus sekali padaku? Tidak bisakah berbicara sopan padahal Aku ini datang jauh-jauh dan sopan pula bertamu ke rumah kontrakanku sendiri!"


Terdengar suara Soleh yang berkoar-koar bagaikan orang mabuk.


Membuat Amelia menepuk dahinya hilang konsentrasi.


"Amel! Amelia!!! Aku tahu kamu kangen padaku! Aku bisa merasakan debaran jantungmu ketika tatapan mata kita bertemu! Bilang saja yang sebenarnya. Dengar, Aku akan menceraikan Juriah, Amelia! Marilah kita kembali rujuk! Aku juga merindukan dirimu! Sama seperti kamu yang selalu setia menungguku sampai saat ini!"


Amelia merasakan emosinya sudah diubun-ubun.


Rasa sedihnya yang membludak karena ditinggal Lukman, kini menjadi amarah yang berkobar karena tingkah Soleh yang memalukan.


Amelia berdiri dengan tangan menggenggam pisau daging.


"Mbak?!? Istighfar!!!" pekik Tasya dan Ziah.


Amelia bergegas keluar dengan mengacungkan pisau yang tajam.


Krieeet...


Soleh senang, pintu rumah dibuka kembali.


Namun senyumannya langsung menghilang melihat Amel berdiri dengan tangan memegang pisau. Seakan siap menghujamkannya ke dada Soleh.


Sontak Soleh mundur.


Takut juga Ia jika nyawanya diambil Amel dengan pisau daging yang besar itu.


"Pergilah! Pergi dari sini! Dengar, ya Soleh... Aku, Amelia... tidak pernah sedikitpun merindukan dirimu! Tidak inginkan rujuk denganmu meskipun kau ceraikan istri mudamu itu! Aku, sudah bahagia dengan hidupku! Dan camkan dengan telinga dan hatimu! Aku... akan membunuhmu jika kau datang lagi dan mengusik kehidupanku, Hei Solehudin!!!"


Amelia mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan bibir bergetar.


Ia sudah sangat siap. Jika Soleh tak bergeming, pisau ini akan Ia tusukkan tanpa ampun.


Tak peduli harus masuk penjara.


Tak risaukan jika nama baiknya akan rusak menjadi terdakwa.


Wajah Amelia menyiratkan kesungguhannya.


Soleh terpaku dengan wajah tegang. Lalu mulai mencoba mengeluarkan rayuan pamungkas bahkan ditambah dengan lelehan air mata pula.


"Amelia... hik hik hiks, maafkan Aku! Aku menyesal, Aku sangat menyesal! Aku menyesal sekali menceraikan dirimu dan lebih memilih hidup dengan Juriah. Ternyata, hidupku hancur bukannya bahagia. Hik hik hiks... Aku merindukan dirimu. Merindukan masa-masa saat kita bahagia. Ternyata, harta tak serta merta membuat hidupku jadi bahagia. Tidak, Mel! Demi Allah Aku sangat menyesal! Aku ingin sekali kamu memaafkan Aku dan kita kembali lagi seperti dulu! Kumohon maafkan Aku, Amel!"


Soleh bahkan menjatuhkan tubuhnya memohon kepada Amelia yang masih mengacungkan pisau.


Suasana yang panas memancing orang berdatangan. Membuat Amel tersadar kalau mereka telah jadi tontonan massa.


"Pergilah, Bang! Aku sudah memaafkanmu. Tetapi Aku tidak ingin rujuk denganmu. Aku tidak mau kembali padamu! Jangan pernah ganggu-ganggu hidupku lagi! Bahagiakanlah istrimu yang sekarang! Dia adalah pilihanmu! Baik buruknya Juriah, dia adalah tanggung jawabmu sekarang! Aku sudah ikhlas melepasmu dulu. Dan tidak inginkan kembali meskipun kau mengiba memohon agar Aku kembali. Aku, bahagia dengan kehidupanku yang sekarang!"


Amelia menghela nafasnya.

__ADS_1


Ia kembali berjalan masuk rumah dan menguncinya dari dalam dengan dada sesak hingga luruhkan air matanya. Sedih dan kesal pada mantan suami yang kini Ia benci.


BERSAMBUNG


__ADS_2