Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 141 Masih Mencari Celah


__ADS_3

Fanny terkesiap setelah melihat Arthur lebih dekat. Demikian pula halnya dengan Arthur Handoko yang seperti mengenali wajah Fanny.


"Ibu... Fanny Adriana?"


"Kamu... anaknya Joko Handoko kah?"


"That's right!" Arthur tersenyum dan mengangguk dengan sopan.


"Sejak kapan kalian saling kenal?" tanya Fanny penasaran dengan bola mata berbinar ingin tahu.


"Hehehe, rahasia! Ternyata... ternyata Amelia adalah menantu Ibu Fanny ya!? Ternyata Lukmanul Hakim adalah putra pertama Pak Bimo Aruan. Wah, Aku ternyata ketinggalan berita ya!?!"


"Kamu kenal putra dan menantu kesayanganku?"


"Hehehe... Secara personal tidak terlalu kenal. Tapi kami satu kapal pesiar bulan yang lalu. Dan kami sempat tegur sapa."


"Hm, seperti itu!"


Arthur tertawa kecil. Ia sangat kagum dengan istri Bimo Aruan, pengusaha asli Medan yang fasih bahasa Sunda itu.


Ternyata semakin dekat dilihat, Nyonya Bimo itu lebih cantik aslinya daripada gambar di foto.


Arthur penyuka wanita dewasa yang cantik. Dia memiliki selera yang tinggi untuk urusan perempuan. Dan bukan pula pria yang mudah jatuh cinta seperti kebanyakan pria diluar sana.


Rata-rata perempuan pilihan Arthur untuk hanya sekedar jadi 'teman tidur' adalah perempuan pengusaha atau wanita karier eksekutif muda. Karena biasanya mereka tidak menginginkan hubungan jangka panjang alias hanyalah sekedar teman di atas ranjang semalam saja. Esoknya, mereka akan melupakan dan bahkan seolah tidak saling kenal.


Hubungan seperti itu lebih terjamin kebersihannya dari pada harus jajan atau membeli teman kencan sembarangan.


Arthur pernah one night stand dengan perempuan-perempuan tangguh seperti Fanny. Yang usianya jauh di atas dirinya. Beberapa produser dan sutradara perempuan, selebihnya adalah perempuan pengusaha muda yang kesepian tapi ogah menikah karena terlalu sering dikecewakan.


Sepak terjang Arthur yang seorang atheis tentu saja cukup dikenal kalangan pengusaha wanita terbatas.


Jadi, Fanny juga tahu sedikit tentang King Arthur, Raja Film yang seorang Don Juan hebat.


Tapi Fanny bukanlah seperti kebanyakan perempuan dewasa. Ia sudah cukup makan asam garam dan masa pubertasnya pun sudah lewat.


Sudah bukan waktunya lagi untuk bermain-main hanya untuk mendapatkan kebahagiaan semu yang sifatnya sesaat, namun dosanya setiap saat sepanjang hayat.


Jadi dimatanya Arthur tak lebih bagaikan seorang pemuda seumuran anaknya.


"Kenapa kamu cengengesan terus?"


Arthur tersenyum lebar. Ia tak menyangka kalau bertemu Fanny di kesempatan kali ini.


"Bu Fanny, bisakah kita berbisnis?"


"Bisnis apa?" tanya Fanny dengan suara datar.


Mia tidak tahu dunia luar. Ia hanya melihat sikap ketus Fanny pada Arthur yang dianggapnya adalah orang baik.


"Janganlah sejutek itu, Kak!" bisik Mia membuat Fanny tersenyum kecut.


"Anak kecil ini memang harus dijutekin, Mak?" jawab Fanny dengan suara berbisik pula.


Mia tersenyum mengangguk pada Arthur yang tampak seperti salah tingkah dihadapan Fanny.


"Saya sedang mencari pemeran utama wanita di film terbaru Saya."


"Lalu?"


"Saya tertarik sekali dengan menantu Ibu, Amelia."


"Menantuku memang sangat menarik. Tapi Aku tidak akan memberikan Amelia menjadi artismu, Anak Muda! Dan Aku yakin, putraku juga pastinya tidak akan pernah mengizinkannya!"


"Mbak Yu' Amelia mau di ajak main film?" tiba-tiba Inayah yang baru saja keluar dengan membawa nampan berisi tiga gelas cangkir teh hijau ikutan nimbrung pembicaraan.

__ADS_1


Arthur terkejut melihat penampilan Inayah yang begitu cantik dengan mukena batik Bali melekat ditubuhnya.


Fanny yang sedari tadi memang mengamati Arthur ikut melirik Inayah dan kembali memperhatikan Arthur yang ternganga.


"King Arthur, carilah artis lain yang lebih mumpuni! Jangan ganggu putri-putriku termasuk Inayah juga!" teguran Fanny membuat Arthur menatap Mamanya Lukman dengan agak was-was.


Ternyata Ibu Fanny sudah mengenali sebagai King Arthur! Hm. Bahaya juga ini! Tapi..., bisakah Aku mengajaknya ke apartemenku dan bermain cantik dengannya di atas ranjang? Pasti sangat mengasyikkan.


Arthur berkhayal tidur dengan Fanny yang seusia dengan Mamanya yang seorang dosen bahasa Indonesia di San Fransisco sana.


"Ini. Ibu bisa baca dulu novelnya. Judulnya Istri Muda Untuk Suamiku.. Cerita tentang seorang perempuan yang dipoligami suaminya yang seorang pecalang. Sangat bagus dan seperti biasa, film ini Saya dedikasikan di festival film Cannes."


"Aku akui, kemampuanmu membuat film menjadi lebih hidup dan berbobot. Tapi maaf, Aku tidak ingin berbisnis denganmu dalam hal apapun terutama film. Jangan lakukan hal yang tidak Aku restui karena hasilnya pun nanti tidak akan baik. Carilah artis lain di tempat lain. Kami tidak tertarik untuk itu!"


Inayah tersenyum seraya mengacungkan jempolnya pada Fanny.


"Saya juga kurang suka dengan tuan Bule ini, Bu! Hehehe... Agak lebay meskipun lumayan baik hati karena pernah membantu kami angkut-angkut barang pas pindahan. Maaf Mas Arthur, jujur memang menyakitkan. Tapi lebih baik jujur daripada bohong bukan?"


Arthur terlihat lesu meskipun ia masih berusaha menyunggingkan senyuman.


Treeet treeet treeet


Ponsel Fanny berbunyi. Bimo menelponnya.


"Iya, Pa? Oke. Aku masih di Bogor. Iya, Sayang, hehehe... Aku akan pulang segera. Yap. Oke. Hehehe... Siap, Pak Boss!"


Klik.


Fanny menutup sambungan teleponnya.


"Mak, Aku harus pulang. Mas Bimo ternyata kangen Aku. Hehehe..."


Fanny pamit pada Mia dan Inayah. Tia serta suami juga anaknya tidur di kamar belakang restoran. Begitu pula Rama, yang punya tempat tinggal sendiri di ibukota. Hanya di hari-hari tertentu saja dia pulang ke kediaman Mia di daerah Bogor ini.


"Hei Anak Muda, kamu tidak mau pulang?" sindir Fanny tapi justru disalahartikan oleh Arthur.


Mia dan Inayah tidak mengenal Arthur serta kepribadiannya seperti Fanny. Mia serta Inayah juga adalah orang-orang desa yang berhati bersih, polos tanpa punya fikiran buruk. Apalagi Arthur selama ini juga bertingkah sopan pada mereka.


Itu karena mereka belum tahu diri Arthur yang sebenarnya.


"Jangan bertamu ke rumah orang sampai larut malam! Jangan samakan mereka dengan dirimu yang seorang penganut kebebasan! Tolong, hargai kami seperti kami menghargai mu. Oke?"


Arthur tersenyum dengan jantung berdebar. Ia agak gugup setelah Fanny mengatakan itu dihadapan Mia dan Inayah. Arthur yang merasa selama ini bisa menutupi identitasnya dihadapan orang-orang polos itu pun mulai cemas.


Ternyata semakin kesini kesempatanku mengajak Amelia ikut berperan sebagai pemeran utama semakin jauh. Hhh... Semoga Bu Fanny tidak membongkar kelakuanku pada orang-orang baik ini. Semoga. Doa Arthur dalam hati.


Fanny bergegas pergi.


Mobil Honda jazznya yang berwarna putih dikendarai Fanny seorang diri.


Ia memang lebih nyaman jika pergi sendiri tanpa ditemani sopir.


Selain lebih rileks, Fanny juga merasa lebih leluasa kemanapun Ia pergi jika membawa mobil sendiri.


Pukul delapan malam. Fanny berharap pukul sepuluh Ia sudah tiba di rumah besarnya dibilangan pusat Ibukota.


Kota Bogor nyaris sama dengan kota metropolitan dalam urusan kemacetan. Apalagi di jam-jam seperti sekarang ini.


Baru saja beberapa ratus meter dari lokasi rumah yang dihuni Mia, tiba-tiba ban mobilnya kempes.


Ini adalah keadaan yang paling Fanny benci ketika membawa kendaraan seorang diri. Situasi ini sangat menyulitkan, karena Ia tidak faham untuk mengganti ban meskipun ada ban serepnya di dalam.


"Siallan! Mana jalanan di perumahan ini lumayan sepi, lagi! Hhh... Bengkel hanya ada di luar jalur perumahan! Bagaimana ini?!?" gumamnya kesal.


Mau tidak mau Ia harus meninggalkan mobilnya di tepi jalan. Lalu menghubungi jasa derek kendaraan. Dan Ia memesan taksi online.

__ADS_1


Brukk.


Fanny menutup pintu depan kesal. Ia membawa serta tas kecil dan tas besarnya yang berisi barang-barang penting yang ada di dalam mobil.


Fanny menengok ke kanan dan ke kiri.


Tinn tinn tinnn...


Ia terkejut. Sorotan lampu dari kendaraan yang datang membuat Fanny menutup wajahnya karena silau.


"Kenapa, Bu? Koq berhenti di pinggir jalan?"


Ternyata Arthur yang datang.


Tadinya Fanny senang karena ada seseorang yang peduli. Tapi setelah mengetahui siapa orang yang peduli itu, Ia jadi kecewa.


"Ban mobil bocor. Terpaksa telpon derek dan tunggu taksi online!"


Arthur memberhentikan mobilnya.


Ia mencoba melihat kondisi ban mobil Fanny yang sepertinya memang harus diganti.


"Ada ban serep?"


"Tidak usah. Aku mau pulang segera setelah jasa derek datang."


"Hm. Iya juga sih. Terlalu malam untuk dikerjakan di tempat sepi seperti ini. Ngomong-ngomong taksi online jarang masuk perumahan ini kalau sudah pukul delapan malam. Jalanan rawan jadi mereka agak sukar ditemukan di sini jika sudah malam."


Fanny hanya bisa mengangkat bahu.


Beberapa kali mendengus, tapi tak berani juga menghardik bocah yang kabarnya santer menyukai wanita dewasa yang lebih tua darinya.


"Ibu sepertinya kurang nyaman ditemani saya?"


"Tidak juga. Itu hanya perasaan kamu saja, Arthur. Saya hanya sedang gelisah karena harus segera pulang!"


Hampir setengah jam kurang menunggu, akhirnya mobil jasa derek datang juga.


Setelah berdiskusi akhirnya ada kesepakatan diantara mereka. Mobil diderek ke bengkel yang Fanny setujui. Dan Ia bisa mengambilnya esok hari.


"Tinggal taksi online!" gumam Fanny sedikit lega.


"Kamu tidak akan pulang?" tanya Fanny lagi pada Arthur.


"Saya tunggu sampai Ibu dapat kendaraan."


Ternyata lumayan lama. Bahkan Fanny sudah berdiri selama dua puluh menit.


Kesal dan bosan.


"Bagaimana kalau ikut Aku saja? Kuantar sampai tujuan!" tawar Arthur tapi langsung dijawab gelengan kepala oleh Fanny.


"Tidak, terima kasih!"


"Ini sudah pukul setengah sembilan. Sampai jam berapa Ibu jika terus menunggu di sini? Kalau saya antar sejak tadi, mungkin kita sudah masuk jalan tol keluar Bogor!"


Mendengar celotehan Arthur, mau tak mau Fanny harus menerima tawaran pria yang lebih sering dipanggilnya bocah itu.


"Dengan catatan, tidak ada kesepakatan apapun? Kalau kau ingin bayaran ongkos bensin, akan kuberikan."


"Jangan seperti itu, Bu! Jangan terlalu sungkan begitu. Saya akan antar Ibu selamat sampai rumah. Yo, naik!"


Fanny akhirnya menurut. Ia masuk mobilnya Arthur dan langsung meluncur menuju arah jalan bebas hambatan.


Fanny tidak mengeluarkan sepatah katapun. Begitu pula Arthur. Mereka diam dan sama-sama larut dalam fikiran serta lamunan masing-masing.

__ADS_1


Sampai...


BERSAMBUNG


__ADS_2