Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 146 Kebahagiaan Yang Membuncah


__ADS_3

"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Lukman pada dokter yang memeriksa keadaan Amelia di ruangan UGD.


"Ibu Amelia menderita anemia, Pak. Tekanan darahnya sangat rendah. Tujuh puluh per tujuh puluh."


"Haruskah istri saya transfusi darah?"


"Tidak perlu. Saya hanya menganjurkan agar keluarga membantu Ibu Amelia untuk menjaga pola makannya agar lebih seimbang. Empat sehat lima sempurna. Apalagi... ada dua janin muda yang kini sedang tumbuh di rahim ibu Amelia."


"A_ada janin? Dua janin? Hahh? Dokter gak salah diagnosa kan?"


Sontak Lukman membulatkan pandangannya.


Sang dokter tersenyum.


Ia mengulurkan tangannya untuk menyalami Lukman.


"Selamat, Pak! Anda akan menjadi seorang Ayah!"


"Dokter?!?"


Lukman terpaku, menerima jabatan tangan dokter yang hangat dengan rasa tidak percaya.


"Hehehe... Ibu Amel terdeteksi sedang mengandung empat minggu. Kehamilannya masih sangat muda. Untuk itu, tolong dijaga kesehatannya ya Pak? Saya permisi. Jika ada yang dibutuhkan, kami tim medis ada di ruang jaga dua puluh empat jam."


"Terima kasih, Dokter! Terima kasih banyak!"


Lukman merasa lututnya gemetar. Bahkan sebelum kembali ke ranjang opname Amel di ruang UGD, Lukman lebih dulu duduk di kursi panjang yang ada di depan ruangan.


Ia menyeimbangkan rasa terkejutnya yang besar. Kebahagiaan yang sangat besar hampir membuatnya ikutan semaput mau pingsan.


Lukman tersenyum menyeringai.


Tersadar dirinya kalau ucapan Dokter tadi bukanlah halusinasi Lukman saja. Lukman langsung sujud syukur di tempat itu saat ini juga.


"Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillaahirobbil'alamiin..."


Air matanya menetes meski bibirnya menyunggingkan senyuman.


"Lukman!!!"


Fanny dan Mia tergopoh-gopoh menghampiri Lukman yang terlihat dari kejauhan di depan ruangan UGD.


"Bagaimana kondisi Amel, Nak?" tanya Mia dengan suara gemetar. Wajahnya sangat pucat. Begitu cemas sampai dirinya terlihat nyaris ambruk jika tidak diapit Fanny.


"Man!"


"Amel... Amel... Amelia sedang hamil, Mak, Ma!"


"A_pa? Coba ulangi, Man?" tanya Mia lagi.


"Hamil, Mak! Dua janin. Dua calon bayi, Mak! Ma! Sudah empat minggu usia kehamilannya. Hik hik hiks... Alhamdulillah..."


Lukman memeluk kedua wanita yang sangat Ia hormati itu dengan tangisan kebahagiaan.


Mia dan Fanny bertatapan dan memekik kegirangan.


"Alhamdulillaah!!!" serunya tanpa sadar dengan suara keras.


"Ibu, Ibu... mohon volume suaranya di perkecil ya? Ini ruangan UGD!" tegur sekuriti yang berdiri tak jauh dari pintu UGD.

__ADS_1


Spontan Mia dan Fanny menutup mulutnya dengan wajah bersemu merah jambu. Malu tapi bahagia.


Keduanya saling berangkulan setelah Lukman melepaskan pelukannya.


"Alhamdulillah Maakk! Kita akan segera punya cucu. Dan Allah Maha Baik. Khawatir kita rebutan jadi dikasih dua sekaligus. Hihihi... Alhamdulillah!"


"Alhamdulillah wasyukurillaah. Wuaaa Aku senang, Kak! Hik hiks..., Maaasss, putri sulung kita akan punya anak, Maasss!"


Mia menahan isak tangisnya karena kebahagiaan yang membuncah.


Fanny merangkul erat tubuh Sang besan yang sedang berkomunikasi dengan almarhum suaminya.


"Alhamdulillah..."


Fanny menghapus air mata Mia.


"Perjalanan Amel masih panjang. Kita harus merawat dan menjaganya sampai melahirkan. Lukman! Kamu ambil cuti sama Papa selama empat bulan. Istrimu sedang hamil muda. Butuh perhatian lebih dan harus bathress sampai usia kandungannya aman melewati semester awal kehamilan."


"Iya, Ma! Lukman akan ajukan libur empat bulan. Sesekali makan gaji buta Papa. Hehehe... Oiya, Lukman mau lihat Amel dulu ya, Mak, Ma? Kalian bisa masuk bergantian nanti dengan Lukman."


Mia dan Fanny tersenyum sambil mengangguk.


Lukman masuk dengan wajah sumringah. Kini langkahnya sudah kembali tegap, gagah tak gemetar seperti tadi.


Bahkan dirinya sudah mantap dan siap menjadi suami siaga, siap antar jaga karena istrinya sedang hamil muda.


"Sayang..."


"Mas..."


Lukman seketika meraup tubuh Amel yang sudah terbangun dari pingsannya.


Lukman mengusap lembut kedua belah pipi Amelia.


"Sayang..., terima kasih. Terima kasih banyak atas kebahagiaan yang sangat besar ini untukku dan keluarga besar kita. Mak dan Mama ada di luar. Mereka bisa masuk menjengukmu bergantian."


"Ke_kebahagiaan?"


Lukman mengelus pelan perut Amelia yang masih sangat rata.


"Disini."


"Di_sini?!? Apa?"


"Dua janin sedang tumbuh berkembang di sini. Janin calon anak kita."


"Dua? Beneran, Maass?"


Air mata Amelia merebak. Berpendar menjadi tangis kebahagiaan.


"Sungguh, Mas? Aku sedang hamil? Beneran?"


"Tadi juga Aku sempat berfikir seperti itu, Sayang. Sampai kuminta dokter memeriksa kamu sekali lagi. Usia janin baru empat minggu. Masih sangat muda dan rawan hingga kamu harus jaga kesehatan. Kamu juga anemia. HB mu rendah sekali, Yang! Kayaknya itu yang bikin kepala kamu selalu pusing akhir-akhir ini."


Lukman menggenggam kedua jemari Amel.


Perlahan satu tangannya dilepas untuk menghapus butiran air mata istrinya itu.


"Ingat, jangan terlalu sering menangis ya Sayang? Kamu harus bahagia. Harus lebih banyak senyum dan ketawa ketimbang melelehkan air mata. Janji?"

__ADS_1


"Iya." Jawaban Amelia dihadiahi kecupan manis di pucuk kepalanya.


"Aku keluar dulu ya? Biar Mak sama Mama bisa masuk jenguk kamu!"


Amelia mengangguk pelan.


Senyumnya tak mau pergi, menyungging di bibir sampai Lukman keluar dari ruangan UGD.


"Sayaaangg..." kata Fanny dengan suara berbisik dari pintu masuk.


Mia dan Fanny masuk bersamaan tak lama kemudian.


Ketiganya saling berangkulan. Bahagia sekali.


"Nduk, kamu hamil! Kamu tidak mandul! Ocehan mereka akhirnya terbantahkan juga. Alhamdulillaah..." pekik Mia dengan suara kecil.


"Siapa yang bilang menantu cantikku mandul! Orang itu mungkin yang mandul! Sembarangan kalo ngomong!" Fanny yang mendengar ujaran Mia ikut terprovokasi kesal.


Mia dan Amelia hanya tertawa kecil sambil meraih jemari tangan Fanny.


"Mama, Mak... doa kalianlah yang membuat Amelia jadi perempuan paling bahagia saat ini. Terima kasih banyak. Terima kasih, semoga Allah selalu memberikan Mak dan Mama keberkahan."


"Aamiin..."


Hari yang penuh dengan taburan bunga kebahagiaan.


Di luar, Lukman sedang berbincang-bincang dengan Bimo, Arif, Tia, Diana dan juga Rama.


Keluarga besar mereka berdatangan satu persatu setelah mengetahui keadaan Amelia yang jatuh pingsan dari grup WA dua keluarga.


"Kemungkinan Amelia akan rawat inap sekitar tiga hari biar stabil dulu tekanan darahnya. Lukman izin cuti kantor ya Pa? Setelah itu, Lukman akan masuk selama seminggu, lalu ajukan cuti panjang selama tiga bulan sampai usia kandungan Amel masuk lima bulan."


Bimo mendelik pura-pura kesal.


"Hadeuh, karyawan yang satu ini. Jabatanmu biar Papa alihkan ke Diana saja deh!" ujar Bimo membuat Lukman justru tersenyum lebar.


"Beneran? Alhamdulillah... hehehe..."


"Papa udah siapin satu unit departemen perkantoran di daerah Slipi. Bisa buat kamu jadikan kantor pusat sekaligus butik utama. Ada tiga lantai. Ukurannya sekitar satu hektar lebih. Bangunan itu sudah resmi milik Papa sejak akhir bulan lalu. Tolong di rawat dan dijaga. Dan Papa ingin lihat kinerja kamu mengurus perusahaan impianmu sendiri!"


"Papa?!?"


"Itu hadiah dari calon Kakek untuk calon cucu-cucuku dari kamu!"


"Huaaa... thanks a lot, Papa! Papa keren! Papa hebat!"


"Tetaplah jadi anak yang bisa dibanggakan orang tua. Makin bijaksana dan makin dewasa menentukan pilihan. Dunia ini penuh tantangan. Dan perjalanan kalian masih sangat panjang. Semoga semua putra-putriku selalu dalam lindungan Allah Ta'ala."


"Aamiin..."


Bimo sudah memantapkan hati.


Ia akhirnya memberikan Lukman kepercayaan penuh untuk mengembangkan bakat dan bidang hobinya mendesain pakaian perempuan dengan menghadiahkan sebuah gedung perkantoran untuk Lukman membangun bisnis kerajaan usahanya sendiri.


Lukman benar-benar merasa terberkati setelah menikah dengan Amelia.


Benar-benar hidupnya selalu dilimpahi kebahagiaan yang tak pernah Lukman bayangkan seperti ini.


Lukman mensyukuri nikmatnya dengan sholat Ashar lebih lama dan lebih khusu' lagi di masjid rumah sakit.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2