Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 218 Hari Bahagia Siti Juriah Part Dua


__ADS_3

Hari ini adalah hari bahagianya Juriah.


Ijab kabul akan dilaksanakan pada pukul lima sore setelah Ashar, namun pesta di pelaminan sudah mulai digelar.


Banyak tamu undangan yang sudah hadir berdatangan ingin memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.


Termasuk keluarga besar Amelia dan Lukman yang secara khusus di undang oleh Victor lewat Komisaris Jenderal Pertanian Holtikultura yaitu Ibu Fanny Ghassani, Mamanya Lukman.


Juriah dan Amelia yang bertatapan, saling melempar senyuman.


"Mbak Amel, bolehkah saya berbicara lebih akrab lagi dengan Mbak?" tanya Juriah dengan suara pelan ketika keduanya sama-sama berdiri dekat dan saling bersalaman.


Amelia tersenyum mengangguk.


Mereka melipir sebentar ke tempat yang lebih lengang.


"Mbak Amel..."


"Selamat ya, Ju?! Moga pernikahan kalian samawa, langgeng sampai akhir hayat."


Mata Juriah berkaca-kaca.


"Mbak,... izinkan Aku mencium punggung tanganmu ya Mbak?" ujarnya sambil meraih jemari tangan Amelia.


Juriah memeluk Amelia dengan suara terisak.


"Jangan menangis, Ju! Nanti make up mu luntur. Ayo, semangat. Ini adalah hari istimewa kamu."


"Mbak, hik hiks hiks... Aku minta maaf atas semua kesalahanku di masa lalu, Mbak. Maaf, maaf beribu-ribu maaf."


"Sudah. Sudah kumaafkan, Juriah. Berbahagialah. Kamu berhak bahagia."


"Mbak! Mbak kenapa kamu bisa punya hati yang luas seluas samudera, Mbak? Semakin kamu baik padaku, semakin aku merasa sadar betapa jahatnya aku dimasa lalu padamu, Mbak. Hik hik hiks... Aku, mengambil suamimu. Aku,"


Amelia segera meraih dua tangan Juriah dan mencoba menenangkannya.


"Sudahi semua penyesalanmu itu. Kita adalah manusia yang sedang berjuang untuk meraih kebahagiaan di masa depan. Kita adalah manusia yang ingin bahagia tentunya dengan ridho Allah dan mendapat keberkahan-Nya. Semua kesalahan di masa lalu, mari kita jadikan pelajaran. Kamu dan Aku, kita semua adalah manusia biasa yang pernah salah. Maafkan aku juga yang pernah berfikir kalau kamu benci aku dan ingin merusak kebahagiaan keluargaku."


"Mbak, hik hiks hiks..."


Lagi-lagi keduanya saling berangkulan.


"Anggap aku adikmu, Mbak. Aku ingin sekali punya Kakak. Allah mentakdirkan aku menjadi anak tunggal padahal aku dulunya punya kakak dan adik. Mereka lebih dahulu dipanggil Yang Maha Kuasa karena Allah lebih sayang mereka. Maukah Mbak jadi kakakku? Yang selalu menegurku jika aku melakukan sesuatu kesalahan? Yang selalu menasehati jika aku bertingkah kelewatan."


"Terima kasih. Terima kasih sekali karena kamu menganggap ku Kakak, padahal aku tidak sebaik itu juga."


"Mbak... aku yang berterima kasih. Semua kejadian yang aku alami, menjadikan aku bisa berfikir lebih bijaksana lagi. Betapa aku harus belajar banyak dari Mbak Amel tentang kekuatan iman serta ketabahan yang banyak. Dan tentang keikhlasan serta pelayanan pada pasangan halal."


Amelia tersenyum sembari menunduk.


"Dulu kita sama-sama masih muda. Apalagi kamu. Dan kita masih sama-sama memiliki sisi negatif serta keegoisan yang tinggi. Semakin bertambahnya usia, kita mulai bisa melihat dengan mata hati. Belajar dari kesalahan. Berusaha tidak mengulangi kekalahan yang sama. Mari kita meminta pada Allah, semoga rumah tangga kita Allah jaga sampai Jannah."


"Aamiin ya Allah."


Raut wajah Juriah serta Amelia kini berubah ceria.


"Mbak, maaf... izinkan aku ikut campur urusan Inayah."


"Ada apa?"


"Tolong selamatkan rumah tangga mereka!"


"Apa maksudmu, Ju?"


"Katanya Mas Victor, mas bule akan menceraikan Inayah dan ikut pulang ke San Fransisco bersama keluarganya. Bahkan katanya Pupu juga akan di bawa."


"A_apa?"


"Aku gak berani bohong, Mbak! Tapi, katanya besok mas bule beneran akan mentalak Inayah."


Sontak raut wajah Amelia menegang.

__ADS_1


Matanya membulat menatap Juriah rahangnya mengencang.


"Cepat lakukan sesuatu! Jangan sampai mereka berpisah hanya karena mas bule lupa ingatan."


"Inayah tidak cerita apapun padaku."


"Inayah adalah anak yang baik. Dia sangat baik dan terlalu pintar menyembunyikan kesedihannya. Tolong Inayah! Dia masih sangat muda. Dia juga sedang hamil, bukan? Aku, takut Inayah terpuruk karena keadaan mas bule yang berubah total kembali seperti lima tahun yang lalu. Bahkan semakin beringas kata mas Victor. Keduanya orang tuanya sendiri tidak sanggup menasehati dia yang memang kepala batu."


Amelia menghela nafas panjang.


Antara kaget juga bingung.


Adiknya tak menceritakan perihal keadaan rumah tangganya secara detil.


Inayah hanya minta didoakan selalu untuk rumah tangganya ketika Amel menelpon beberapa hari yang lalu.


"Apa Inayah sudah datang?"


"Belum, Mbak. Sepertinya masih bersiap-siap. Tapi kata mas Victor mereka akan datang. Inayah sudah mengkonfirmasi itu."


"Apa mas Victor sudah menghubungi mas Arthur?"


"Karena kesibukan mas Victor, dia belum sempat menjenguk mas bule lagi ke rumahnya di BNR. Maaf, Mbak!"


"Aku mengerti. Apalagi kalian juga sibuk menyiapkan pernikahan tanpa bantuan wedding organizer. Pastinya semua sibuk."


"Iya."


"Hhh..."


Lagi-lagi Amelia hanya bisa menghela nafas.


"Itu mereka, Mbak!" seru Juriah ketika matanya menangkap sosok pasangan yang baru saja datang di pintu aula gedung hotel tempat ia dan Victor adakan pesta pernikahan.


Amelia dan Juriah saling menatap. Ada kode rahasia diantara dua pasang bola mata mereka.


Keduanya berpisah menemui pasangan masing-masing yang sedang berbaur dengan tamu yang lain.




Pasangan yang sempurna. Tampan dan cantik.


Tapi Amelia justru melihat gurat kesedihan di wajah adiknya itu.


"Inay!" sapanya seraya melambaikan tangan.


"Mbak Yu'!"


Inayah tersenyum lebar. Ia berusaha menekan perasaannya dan mencoba seceria mungkin.


"Ada Mbak Amel! Pegang tanganku, Mas!" bisik Inayah pada Arthur.


Arthur menuruti walaupun wajahnya menegang sekejap.


Kini mereka beradegan mesra di depan umum terutama dihadapan Amelia.


Amelia merentangkan kedua tangannya dan memeluk Inayah.


Ia juga sedang berusaha meredam emosi agar tidak terlihat amarahnya di depan banyak orang.


"Arthur, Alhamdulillah kamu sudah sehat."


"Iya, Mbak. Begitulah!" jawab Arthur agak tegang. Ia melihat Inayah lalu beralih ke Amelia.


"Maaf, Mbak. Mas Arthur masih belum mengingat semuanya." Inayah mencoba menjadi penerjemah Arthur dengan menutupi keadaannya.


Arthur mengangguk hormat dan tersenyum tipis.


Lukman menghampiri mereka sembari merangkul bahu Arthur.

__ADS_1


"Siapa kau?" tanya Arthur terkejut karena merasa asing.


"Hei, aku Lukman. Kakak iparmu, suami Mbak Amel. Maaf, aku belum sempat menjenguk mu di rumah sakit. Dan baru kali ini berjumpa disini."


"Oh. Begitu ya. Oke!"


Perkataan Arthur yang dingin membuat Lukman merasakan ketidakberesan dalam hubungan Arthur dengan Inayah juga.


Lukman sebenarnya sudah mengetahui keadaan Arthur yang menderita amnesia retrograte dari Amelia.


Tapi melihat kondisi Arthur yang sekarang ini, baru Ia lihat pertama kali.


"Coba kulihat kontak nomor ponselmu!" ucap Lukman membuat Arthur memicingkan mata.


"Untuk apa?"


"Untuk memastikan kalau nomor pribadiku masih tersimpan dengan baik disana."


Arthur mengangkat bahu. Tapi Ia mengikuti arahan Lukman juga.


Setelah Arthur membuka kunci ponselnya dengan sidik jari, Lukman dengan cepat merebut ponsel Arthur.


"Hei, itu ponselku! Privasi dan tidak boleh kau ambil seenak jidatmu!"


Inayah segera menarik tangan Arthur dan berusaha menenangkannya.


"Tenang, Mas! Dulu kalian sangat akrab satu sama lain," bisik Inayah membuat Arthur mendengus.


"Dia? Orang songong ini?" tanyanya tak percaya.


Lukman lega, nomornya masih tercantum di galeri kontak ponsel Arthur. Tertera atas nama "Maz Bro Luxs". Seketika senyumnya mengembang.


"Lihatlah! Ini nomor ponselku. Kalau kau butuh teman berdiskusi seperti dulu, you can call me. Right?"


Arthur mendengus.


Ia mengambil ponselnya dengan kasar meskipun Lukman sudah menyerahkannya dengan baik-baik.


"Hehehe..., ternyata kau jauh lebih brutal di masa lalu, ya? Kuharap Inayah segera bisa menaklukkan dan menjinakkanmu kembali. Hehehe..."


"Kau pikir aku ini hewan peliharaan?" tukas Arthur. Lukman tertawa, tapi tidak dengan Amelia dan Inayah.


"Mas, mohon jangan membuat orang-orang jadi memperhatikan kita. Ini pestanya mas Victor dan Putri Fania. Bukan pesta keluarga kita!" Amelia mengingatkan suaminya dengan suara pelan.


Lukman tersenyum seraya merangkul bahu istrinya.


"Aku penasaran. Apakah si bule songong ini sudah menyetu++hi istrinya, adauwww!"


Amelia mencubit pinggang Lukman mendapati bisikan candanya yang dirasa Amel sudah kelewatan itu.


Lukman diam melihat wajah Amelia terlihat tegang. Ia makin menyadari kalau ada yang tidak beres saat ini.


Arthur mengibas tangan.


"Inayah! Aku mau menemui dulu si Victor. Tunggu saja di sini!"


"Tapi aku juga mau menyalami Mbak,..." Inayah terpaku melihat Arthur yang sudah melesat tanpa menunggu ucapannya selesai.


Inayah malu hati. Ternyata Amelia sedang menatapnya dengan tajam.


"Mbak..."


Amelia menghela nafas.


"Aku butuh penjelasan mu setelah kita pulang dari sini, Inay!"


Inayah sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


Kakak pertamanya itu pasti akan membuka forum sidang dan menginterogasinya dalam banyak pertanyaan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2