Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 50 Solehudin Kian Berubah


__ADS_3

"Pak, besok-besok kalo ke bengkel jangan rubah-rubah buku jurnal! Bahaya! Pemilik aslinya ngadat dan Aku kena omelan!"


Soleh langsung mengeluarkan amarahnya pada Anta yang sedang tiduran sambil menscroll aplikasi tiktuk sambil makan B+ng-Beng beku kesukaannya.


"Apa sih kamu? Datang-datang langsung nyerocos macam petasan banting di bulan Ramadhan!"


Anta cuek bebek tanpa mengalihkan matanya dari layar ponsel.


"Abang! Kapan sih si Juriah hamil? Kalian nikah sudah mau dua bulan, tapi kok belum ada kabar?"


Tiba-tiba Lani yang melihat kedatangan Abang kesayangannya langsung masuk dan memberondong Soleh dengan pertanyaan.


"Apaan sih kamu, Lan? Aku sedang kesal, kamu datang-datang tanya kehamilan! Baru juga beberapa minggu Aku nikah! Kenapa kamu yang pusing?!" semprot Soleh pada Lani yang semakin membuat kepalanya pening.


"Bang! Aku minta lahan ya di sawah yang bapak garap? Dua ratus meter saja. Buat bikin rumah. Ya ya ya? Katanya kalau Juriah hamil, lahan yang digarap Bapak bakalan jadi hak milik keluarga kita? Iya kan?"


"Memangnya kamu punya uang buat bangun rumah?" tanya Soleh dengan suara lantang.


"Ya uangnya pinjam Abang sama Juriah. Hehehe... Seratus juta cukuplah buat bangun rumah minimalis dua kamar."


Pluk.


Soleh melemparkan kulit kacang tanah yang baru saja Ia makan isinya dari toples yang tersedia di meja.


"Kamu kira Aku punya pohon duit! Segampang itu bisa mengeluarkan duit seratus juta! Ini ada kerugian dua puluh jutaan saja udah berani mengeluarkan kata-kata kasar pada menantu, apalagi kalau sampai seratus juta? Cih! Nyebelin!"


"Makanya harus pandai ambil hati mertua!"


"Kamu sendiri? Emang dah pandai ambil hati mertuamu?"


"Pandai-lah! Cuma sayangnya mertuaku bukan orang berada! Hhh... amsyong Aku, Bang!"


"Hm. Ibu mana?"


"Arisan sama teman-temannya!" jawab Anta kembali nimbrung obrolan.


"Arisan?"

__ADS_1


"Iya. Uang hasil Aku otak-atik pembukuan bengkelmu yaitu, dibawa ibumu arisan emas batangan murni Ant*m yang sepuluh gram. Katanya kepingin banget kayak orang lain, punya koleksi Mas Antam bergram-gram!"


"Tapi Aku yang kena maki si Ojan Marjan itu! Ish, mulutnya nyelekit. Ucapannya kasar! Baru tau Aku kalo temannya Bapak itu kalo ngomong pahit sekali!"


"Hehehe...! Makanya, pintar-pintar ambil hati dia! Jangan kau buat masalah sama dia! Terus kasih kebahagiaan sama anaknya!" tukas Anta memberi nasehat.


"Heleh! Si Juriah juga sama. Sama kayak moyangnya. Bukannya menghibur ku malah ikutan meledek. Depan anak-anak kuli pula. Si*lan!"


"Abang, pulang nanti harus baik lagi sama Juriah! Aku gak mau kalian ada masalah!" Lani kembali ikut dalam obrolan.


"Hhh..., nantilah dulu, Lan! Lagipula kamu masih enak tinggal di rumah si Tito. Makan tinggal makan. Ga perlu masak karena mertuamu yang masak!" tutur Anta pada anak perempuannya.


"Batin, Pak! Si Reni adiknya si Tito mau nikah bulan depan. Otomatis akan ada menantu baru di rumah itu. Aku bakalan kurang leluasa bergerak. Pingin punya rumah sendiri juga! Rumah tangga sudah mau empat tahun, masa' terus tinggal di rumah mertua."


"Si Tito setuju sama keinginan kamu?" tanya Soleh pada adik bungsunya.


"Tahu. Tapi dia gak merespon. Taulah punya uang dari mana? Ngepet? Piara tuyul? Gitu katanya. Kan ngeselin, Bang! Lama-lama kutinggalin juga dia kalo hidupnya ga ada perubahan alias gitu-gitu aja! Dikiranya Aku ga bisa apa dapetin cowok yang lebih tajir dari dia? Huh! Kamu aja yang laki-laki bisa, masa' Aku ga bisa. Aku minta aja pengasih dari Mbah Surip biar minta dibuka auranya!"


"Aura apa?"


"Aur-auran!" ledek Anta pada putri bungsunya.


Tito adalah pria yang baik dan punya pemikiran dewasa.


Mereka menikah empat tahun lalu dan sudah dikaruniai seorang putri umur satu tahun setengah bernama Felicia yang dipanggil Cia.


Mereka tetanggaan. Dan cinta berlabuh setelah setahun menjalin kasih.


Tito pria baik tetapi pekerjaannya hanyalah sebagai tukang babat rumput dan ojek motor saja.


Sebenarnya ada keinginan untuk hijrah pindah ke kota seperti Soleh juga teman-temannya yang lain, tetapi keinginan Tito ditentang keluarga.


Nani dan Engkos tidak ingin ketiga anaknya pergi meninggalkan kampung halaman. Mereka pernah bersumpah, tanah kelahiran adalah yang terbaik untuk dirinya dan seluruh anggota keluarga.


Tak perlu hijrah. Tak guna kerja jauh merantau ke luar kota. Mereka lebih senang anak-anaknya mencari nafkah di kampung sendiri.


Treeet treeet treeet

__ADS_1


Soleh mengambil ponselnya yang berdering.


"Juriah telepon!" katanya dengan nada enggan.


"Ayo, angkat! Tanyakan padanya, Aku butuh uang seratus juta, bisa pinjam dalam waktu yang lama kan? Ayo bang!"


Lani mengguncangkan bahu Soleh yang berdecak kesal.


"Hallo? Iya, Sayang?"


...[Mas, kamu dimana? Cepat pulang, Mas! Bapak kecelakaan di tikungan Salawi!]...


"Hah?!? Iya, Aku otewe pulang!"


Klik.


Soleh tersenyum lebar mendengar mertuanya kecelakaan.


"Rasain! Hahaha... anak baik begini dimaki-maki, akhirnya kena tulah kecelakaan lalu lintas! Moga mampus orang tua itu di tempat kejadian!"


Soleh bersorak gembira. Anta ikut tersenyum melihat putra kebanggaannya bahagia.


"Bang, kalo dapat warisan, bagi-bagi Lani ya Bang! Buat bangun rumah!" ujar Lani menimpali komentar Soleh.


"Hahaha... tenang, Lan! Aku buatin rumah dua tingkat nanti di tengah sawah yang sertifikatnya atas namaku!"


"Aamiin... Hehehe!"


Begitulah, ketika manusia lebih condong menyukai harta dunia dan mulai tak peduli hasilnya di dapat dari perbuatan halal atau haram. Maka perlahan sifat, sikap serta tabiat pun berubah menyerupai setan.


Soleh dengan hati riang pamitan pulang pada Anta dan Lani.


Ia ingin melihat sendiri keadaan Ojan yang baru saja memakinya mentah-mentah tanpa memikirkan perasaan Soleh Sang menantu.


"Semoga si Ojan cepat mati! Aku bisa menguasai seluruh hartanya. Hehehe..." gumam Soleh pada dirinya sendiri.


Ia bersiul mendorong motor gedenya keluar dari pelataran rumah Mariana dan Anta.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2