
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam!"
Amelia berjalan malu-malu dibelakang Lukman.
Jantungnya berdebar kencang. Apalagi setelah Lukman memarkir motornya masuk parkiran rumah yang sangat besar dan megah.
Amelia baru tahu kalau Lukman ternyata anak orang kaya.
"Aiii, siapa gadis cantik ini?"
Amelia lupa merapikan dandanannya yang kacau karena setengah harian keliling pasar.
Ia mencoba mengendus-endus tubuhnya ingin tahu dan cemas kalau tubuhnya mengeluarkan aroma keringat yang tidak sedap karena habis dari pasar.
Ya ampun, Amel... kenapa bisa bodoh begini?! Kamu dari pasar. Otomatis wajahmu berkeringat dan berminyak. Badan juga pastinya penuh bau aneka macam yang ada di pasar. Duh Gusti! Gimana ini? Kenapa tadi gak mampir dulu toilet umum untuk bebersih muka dan rapikan make up?
Amelia gugup sekali ketika menyalami satu persatu anggota keluarga Lukman.
"Amelia baru pulang dari pasar, Nek. Lukman culik tanpa bilang-bilang. Makanya dia gugup sekali bertemu Nenek, Mama juga Papa!"
Amelia tersenyum. Lukman langsung menghandle sehingga kegalauan hatinya sedikit terobati.
"Bagus dong. Nenek lebih suka perempuan yang apa adanya. Suka main di pasar. Apalagi pasar tradisional. Bukannya perempuan yang cantik, harum wangi dan menutupi wajahnya dengan keglamoran. Hehehe... Sini Nak, dekat Nenek!"
Amel tersipu. Duduk mendekat dengan malu-malu.
Ia bukan gadis remaja belasan tahun. Tapi, situasi ini seolah membawanya kepada kondisi yang mendebarkan.
Dimana dirinya diperkenalkan oleh seorang pria yang mengaku kekasih kepada anggota keluarganya.
Amelia teringat dulu. Sebelas tahun yang lalu ketika Solehudin membawanya ke rumah mantan suaminya itu.
"Oiya, perkenalan dulu dong. Hehehe... biar kita tahu namanya juga, Kak!" Diana adik Lukman nomor satu mencoba berinteraksi dengan Amelia.
"Oh, kenalkan... ini Amel. Nama lengkapnya Amelia. Usianya 31 tahun. Seorang pengusaha katering."
"Bukan pengusaha, cuma... dagang masakan. Hehehe..." sela Amel meralat ucapan Lukman.
Semua tersenyum, melihat betapa kompaknya Lukman dalam mendampingi Amelia yang sedari tadi grogi dihadapan situasi yang tak biasa ini.
Ruang keluarga rumah Lukman yang luar dan besar, sofa kursinya yang super empuk menghangatkan hati semua anggota keluarga yang kumpul di sana. Seorang perempuan sepuh duduk di atasnya dengan seorang pria paruh baya yang gagah berwibawa duduk di samping. Sementara yang lain yang masih muda berselonjor santai di lantai yang bertilam permadani tebal mahal pastinya.
Amelia merasa seperti sedang ada interaksi wawancara kerja pembantu rumah tangga tetapi di rumah orang kaya raya yang baik hati dan santai pembawaannya.
__ADS_1
"Amel? Amelia?"
"Ah ya, Nek?"
"Kamu asli mana? Jawa barat, timur atau tengah? Atau ternyata orang Betawi? Hehehe..."
"O_orang kampung, Nek!"
"Yang pasti Amel-nya Lukman bukan orang-orangan sawah, Nenek!"
Semua tertawa mendengar lelucon Lukman. Membuat Amelia makin gugup dan merasa jauh jomplang.
"Orang manapun, kami tidak masalah. Kami senang, Lukman akhirnya membawa juga perempuan yang Ia suka. Selama ini, anak ini tertutup untuk urusan hati. Membuat kami khawatir sekali, Mel?!"
Amelia terkesima. Bimo dengan sopan mengikut sertakan dirinya berbincang.
"Tapi..., usia saya... dua tahun lebih tua dari Lukman!" gumam Amelia dengan wajah tertunduk memerah.
"Memangnya kenapa? Apa ada masalah dengan umur? Nenek ini menikah dengan Bapaknya Bimo, empat tahun lebih tua. Janda dua anak menikah dengan bujangan. Bagaimana? Keren kan? Hehehe... Masalah jodoh, semua adalah ketentuan Allah. Kita tidak tahu, seperti apa jodoh kita. Bagaimana Allah mengirimkannya dengan begitu luar biasa. Iya kan?"
Amelia menelan salivanya.
Cerita Neneknya Lukman membuat hatinya menghangat.
Mata Amelia beriak. Terharu sampai tak bisa berkata-kata lagi.
Ternyata..., keluarga Lukman adalah keluarga yang sangat hebat. Bahkan super hebat.
Lukman yang sedari tadi menatap wajah Amel tanpa berkedip, tersenyum manis ketika Amel menoleh ke arahnya.
Bimo dan Fanny juga saling pandang dengan tatapan mata penuh kebahagiaan.
Apa Lukman sudah mensetting semuanya? Demi untuk bisa menarik simpatiku saja? Apa iya? Masa' iya seorang anak orang kaya, mencoba menyuruh Neneknya di depan kedua orang tuanya untuk bercerita hal yang seolah berpihak kepadaku? Seorang janda yang dicerai suaminya, janda miskin yang bahkan hanya memiliki pendidikan sampai menengah pertama saja? Apa iya? Aku begitu berharganya di mata Lukman? Sampai Ia begitu ingin menikah denganku ? Benarkah ini? Sedangkan dahulu, jodohku hanyalah seorang pria sederhana yang setingkat lebih tinggi levelnya dariku. Hingga kami menikah sepuluh tahun dan kemudian...cerai karena pilihan poligami yang tidak pada tempatnya.
"Jadi, kalian ini sebenarnya belum jadian? Kak Lukman ternyata sedang masa penjajakan nih?! Waah, harus pepet terus kak Amel, Kak! Jangan kasih kendor! Hehehe..."
Amelia tersenyum dengan kepala tertunduk.
Ia malu, tapi mau.
Ia mau, namun ragu.
Sejujurnya hati kecilnya ada rasa juga karena kebaikan Lukman yang tulus sepenuh hati selalu menolong Amelia di setiap kesusahan.
Namun Amelia ragu dan takut jika keluarga Lukman akan menentang. Karena sejatinya menikah itu bukan hanya mengikat dua insan manusia saja. Tetapi juga ada keluarga masing-masing di belakang mereka.
__ADS_1
Sejenak Amel merasa lega dan senang.
"Amelia..., yuk ikut Mama!"
Amelia mendongakkan wajahnya.
Fanny, Mamanya Lukman mengajaknya ke kamar.
"Sini deh!"
Tentu saja Amelia malu untuk berjalan masuk kamar Fanny karena merasa tidak sopan.
"Saya, saya tunggu Ibu diluar saja!" ujar Amel dengan suara terbata-bata.
"Sini ah!" tentu saja Fanny gemas dan menarik jemari Amel untuk masuk ke dalam kamarnya tanpa sungkan.
"Sini!"
Fanny menepuk kasur busa ranjangnya. Memberi kode agar Amelia turut duduk bersamanya yang sedang membuka-buka lembaran album foto keluarga.
"Lihat nih! Ini Lukman, putra pertama kami!"
Amelia terpukau, matanya menatap lembut ke gambar foto bayi mungil yang sangat menggemaskan.
"Dia manis sedari masih bayi. Sangat manis karena almarhumah Mamanya Mama lebih suka mendandani Lukman dengan perlengkapan bayi perempuan. Secara, Mama sangat ingin punya cucu perempuan. Hhh..." Fanny menghela nafas. Sontak Amel bereaksi dengan mengusap lembut punggung tangan Fanny.
"Kamu masih mau dengar cerita Mama?"
Amelia mengangguk mengiyakan.
"Lukman seperti bayi perempuan padahal Ia adalah anak laki-laki. Itu kesalahan pertama kami. Kesalahan kedua kami, tidak membiarkannya berinteraksi dengan teman-teman cowok ketika usia balita. Jadi Lukman hanya berteman dengan kami para perempuan selain Papanya yang saat itu sering bepergian ke luar kota. Kala itu, keluarga Mas Bimo, masih jauh dari kami karena, kami ini menikah tanpa restu mereka. Secara, dulu..."
"Nenek lebih menjodohkan Bimo menikah dengan orang Medan yang adalah anak temannya Kakek ketimbang menikahkan Bimo dengan Fanny."
Fanny dan Amelia menoleh ke arah pintu. Neneknya Lukman berdiri dengan senyuman.
"Ibu..."
"Ceritakanlah semuanya. Ibu senang, kamu mau terbuka pada calon menantumu."
"Hehehe... Sini, Bu! Fanny hanya ingin Amelia tahu kisah hidup Lukman yang sebenarnya menyedihkan! Semua berawal dari kekeliruan kami dalam mendidiknya."
Amelia kian penasaran. Cerita Fanny membuat Amel menyimak dengan serius kelanjutannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1