
Juriah terbangun dan berteriak memanggil Soleh. Sejak kepulangannya dari rumah sakit, Juriah menjadi lebih manja pada Soleh. Bahkan cenderung menyusahkan karena apa-apa selalu ingin dilayani oleh Soleh.
"Maaasss..."
Soleh yang mulai kesal tapi tak berani berbuat kasar hanya bisa menuruti Juriah secara ogah-ogahan.
"Iyaaa..."
"Mas, aku mau makan baso! Yang pedes asem seger kayaknya!"
"Hadeeuh. Belum boleh makan begituan!"
"Maasss, kepengen. Boleh ya, sekali aja!"
"Perut kamu masih belum kering jahitannya, Ju! Nanti genyeh. Basah lagi. Bahaya!" ucapan Soleh ada benarnya juga.
"Bosan Aku makan telur rebus terus!"
"Operasi kamu itu termasuk operasi besar. Kistanya sudah pecah jadi sel kanker. Biarpun sekarang sudah diangkat, tetap harus jaga kesehatan dan pola makan. Bahaya kalau sembarangan jajan!" umpat Soleh agak lembut.
Juriah mencucutkan bibirnya.
Ia sengaja membuka kancing kemejanya hingga belahan d+danya terlihat Soleh.
"Ck. Mancing-mancing, padahal ga ngasih juga!" sengit Soleh kesal.
Juriah tertawa terpingkal-pingkal. Ia lupa, dokter melarang mereka berhubungan int+m dulu selama sebulan. Sampai jahitannya pulih benar dan tidak lagi sakit peregangan kulit.
"***** aja, boleh!" sela Juriah membuat Soleh mencebik.
Tapi tangannya gatal juga karena hampir dua minggu tidak menj+mah Juriah.
Ehh? Kok ga sekeny+l dulu? Sekarang lembek ya? Hm... tubuh Juriah juga terlihat tipis. Pan++++nya juga tepos sekarang. Ya iyalah dad+nya juga ikutan menipis. Hhh... Sekarang gak memikat hati lagi! Justru masih lebih baik punya Amelia dulu!
Soleh tertegun. Ingatannya kembali mengenang Amel.
Wahai jandaku! Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kamu sudah bisa lupakan Aku? Atau masih bersedih memikirkan diriku yang berpoligami? Aku rindu kamu, Amelia!
"Maaasss!!!"
__ADS_1
Gendang telinga Soleh seperti mau pecah.
Juriah tiba-tiba berteriak tepat di sampingnya.
"Apa sih?" bentaknya kesal.
"Kamu pake bengong! Ya pasti kalo Aku udah sembuh kita tempur setiap malam! Kamu gempur Aku habis-habisan juga Aku siap! Sekarang kondisiku seperti ini, jangan bengong kayak ayam jago kampung yang mau dipotong!"
Soleh tersentil oleh kata-kata Juriah.
'Ayam jago kampung yang mau dipotong'.
Ayam jago kampung? Si Juju menjuluki Aku ayam jago kampung? Hhh... Istri macam apa yang berani meledek Suami dengan sebutan ayam jago kampung? Itu konotasi yang terdengar meremehkan sekali. Gue tinggal kawin lagi nangis Lo! Umpat hati Soleh dongkol.
Soleh mengabaikan Juriah. Ia turun ke lantai bawah. Kembali ke toko onderdil dan bengkel Ojan yang tak pernah sepi pelanggan itu.
Tinggal Juriah yang termangu sendirian.
Ia meraba pipinya pelan. Kemudian berjalan ke arah cermin.
Juriah mematut di depan cermin kaca.
Mata Juriah menatap lekat tubuhnya sendiri.
Kurus dan kering.
Ia meraba d+danya sendiri.
Merasakan bahwa dirinya kini kurang menarik seperti dulu. Bahkan baru tersadar kalau d+danya yang dulu memb+sung kini terlihat kempes.
Penyakit membuat Juriah susut berat badannya.
Ia mend+s+h resah.
Sepertinya aku harus minum vitamin biar kembali seperti sebulan yang lalu. Kata hatinya.
Juriah menurunkan pinggang celana kulotnya. Terlihat jelas luka bekas jahitan operasi pengangkatan kista.
Lagi-lagi Juriah menghela nafas.
__ADS_1
Bagaimana kalau mas Soleh bosan denganku? Bagaimana kalau nanti dia mulai cari perempuan yang lain lagi? Bagaimana kalau Aku akhirnya diceraikan jika Ia tak lagi tertarik dan bern+fsu padaku? Bagaimana ini?
Juriah bergelut dengan isi hatinya sendiri.
Ia mengambil pouch tempat make-upnya. Lalu mulai berdandan seperti dulu, mematut diri demi untuk membuat suaminya bahagia.
Wajah pucatnya kini telah berubah cantik. Make up berhasil membuat Juriah terlihat cantik berseri kembali.
Ia kembali duduk di tepi ranjang. Memikirkan diri ingin memakai pakaian yang lebih baik lagi dari yang Ia pakai sekarang.
Sebuah gaun lengan pendek jadi pilihannya. Juriah ingat itu adalah gaun favoritnya karena pernah dipuji Soleh dengan panggilan Tuan Putri yang cantik jelita.
Ia pun bergegas mengganti bajunya.
Kini Juriah tersenyum puas meskipun gaun yang awalnya nge-pas di badan tapi kini longgar, masih bisa menampakkan aura kecantikan masa mudanya.
Perlahan Juriah turun melewati tangga.
Perutnya masih sakit dan juga ngilu tatkala kakinya satu persatu melangkah menjejak anak tangga.
"Mas..."
Soleh terpana sesaat melihat Juriah yang berdiri tersenyum manis di tangga sambil menatapnya mesra.
Sempat ada yang tegak berdiri tetapi kemudian melemah lagi karena percuma juga berdiri jika tidak diberi asupan gizi. Begitu pikir Soleh.
Juriah menghela nafas melihat senyuman yang menggembang di bibir Sang suami terlihat hanya dalam hitungan detik saja. Soleh kembali datar dan pura-pura sibuk melayani pelanggan bengkel yang minta ini-itu.
Juriah dengan sebal kembali naik ke atas.
Ia meringis kesakitan. Membuka gaunnya dan terlihat darah keluar dari sela-sela jahitan.
"Maaasss!!!"
Soleh hanya berdecak mendengar jeritan sang istri yang terdengar jelas sampai bawah.
"Benar-benar nyusahin!" umpatnya tak peduli.
BERSAMBUNG
__ADS_1