
"Kemana ya Tuan Arthur itu? Kenapa dia gak nongol-nongol lagi setelah kita pindahan?" gumam Inayah seorang diri.
Setelah sempat merasa gendeg dengan tingkah tuan bule gila yang menyebalkan itu ternyata cukup membekas juga dihati Inayah.
Hari ini Ia sudah mulai hunting kampus universitas. Dunia terasa sepi meskipun Ibukota begitu ramainya.
Dengan ditemani Tia, Kakaknya, Inayah akhirnya mendaftar sebagai mabar mahasiswi baru di sebuah kampus swasta yang tak jauh dari daerah tinggalnya.
Inayah bisa mencapainya dengan naik motor Arif yang sengaja disimpan di rumah BNR karena ada kendaraan resto yang bisa Ia gunakan.
Dan semua prosedur yang wajib Inayah juga sudah Ia lengkapi. Tinggal menunggu waktu hari masuk kampus yang masih ada waktu beberapa minggu lagi.
Inayah bisa berleha-leha setelah mendapatkan grup chat jurusan yang dipilihnya. Untuk informasi lebih lanjut, biasanya akan dosen ataupun pihak kampus kirimkan via grup chat WA.
Bosan juga Inayah menunggu di rumah sementara semua anggota keluarganya sibuk wara-wiri resto Amelia.
Inayah sendiri mendapat pesan dari Amel, untuk mengurus dulu pendaftaran kuliahnya sampai urusan beres.
Amelia lebih menginginkan Inayah hanya fokus kuliah meskipun Lukman sempat memberi Inayah kesempatan bergabung dengan usaha katering Kakak pertamanya itu.
Tapi memang kuliah jauh lebih sulit dibanding sekolah biasanya.
Kuliah sangat berbeda dan diperlukan konsentrasi tinggi dari para mahasiswa agar fokus pada matkul tanpa bantuan siapapun kecuali dirinya sendiri serta sedikit bantuan dari teman.
Mia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk hidup mandiri. Belajar mengurus segala urusannya sendiri. Bahkan sejak masih SD, Inayah dan Gaga sudah terbiasa sekolah sendiri, mengerjakan PR sendiri dan mengambil raport sendiri.
Mia hanya tamatan SD. Tidak faham dan gagap teknologi soal pendidikan jaman sekarang.
Sesekali Mia dan Kan'an mengutus Tia untuk mengambil raport Inayah atau Gaga jika diperlukan untuk orang tua datang ke sekolah putra putrinya.
Sejak mengenal Fanny, kehidupan Mia berubah drastis. Fanny mengenalkan dirinya dengan dunia sosialita. Fanny bahkan membawa Mia ke kursus-kursus memasak dan juga seminar tentang pertanian.
Mia merasa dunianya kini jauh lebih indah.
Besannya itu benar-benar super sekali. Sangat jarang di dunia ini besan yang benar-benar menganggap seperti adik ataupun sahabat sendiri.
Biasanya para besan menjaga jarak dan selalu hati-hati ketika berbicara tentang apapun termasuk hubungan anak-anak mereka.
Tapi tidak dengan Fanny.
Seperti yang Fanny pernah ungkapkan, itu karena Mia sangatlah mirip dengan adik kandungnya yang telah tiada. Bahkan semuanya, termasuk sifat dan karakter Mia.
Sekarang kedua wanita paruh baya yang masih cantik dan energik itu selalu pergi berdua-duaan. Bahkan Bimo yang biasanya kesal selalu dikintili istrinya kini kangen masa-masa itu.
Tapi Bimo senang karena istrinya begitu tulus kepada Emaknya Amelia, menantu mereka.
Setidaknya Fanny ada teman yang bisa membuat dirinya bisa memilah mana yang baik, mana yang buruk. Mana prioritas utama, mana yang hanya sekedar hiburan saja.
Pergaulan Fanny sangat luas sedari muda. Bimo telah mengetahuinya. Teman Fanny banyak bahkan para pria eksekutif mengenali Fanny lebih dahulu ketimbang dirinya.
Tapi terkadang karena sifat ramah dan baik hatinya itu, orang banyak memanipulasi kebaikannya.
Beberapa kali Fanny sempat diisukan melakukan hubungan dengan pria yang lebih muda dan kabar itu bahkan sampai ke telinga Bimo. Namun Bimo lebih mempercayai Sang Istri ketimbang gosip diluaran sana.
Orang iri melihat keberhasilannya. Terlebih istrinya semakin tua semakin cantik. Fanny ibarat porselen kuno, yang semakin tua semakin antik. Sudah barang tentu banyak pria yang menginginkan dirinya lepas dari Bimo dan ingin merasakan keindahan hidup bersama wanita yang telah menemani hidup Bimo selama hampir 32 tahun.
Dalam rumah tangga, tidak selamanya indah dan manis yang Bimo rasa. Ribut besar karena kecemburuan, bahkan sampai nyaris cerai ketika anak-anak mereka masih kecil, semua telah Bimo dan Fanny alami.
__ADS_1
Itu adalah bumbu kehidupan berumah tangga.
Bahkan sempat ada WIL, dan untungnya Fanny cepat sigap membereskan semua sebelum hubungan Bimo jauh lebih serius lagi.
Fanny menggertak Bimo minta cerai jika terus melanjutkan hubungan terlarang mereka. Tentu saja Bimo tidak inginkan itu. Fanny baginya adalah mutiara keramat yang harus Ia jaga sampai akhir hayat. Karena menikah dengan Fanny, mulai dari nol sampai dirinya berjaya dan masuk buku sejarah Guiness World dengan urutan ke-dua puluh lima konglomerat Indonesia, itu adalah pencapaian yang luar biasa.
Bimo yang mengatakan alasan bosan setelah lima belas tahun berumah tangga, hingga datang seorang perempuan cantik yang pandai mengambil hati dan juga masih muda akhirnya meninggalkan wanita selingkuhannya yang belum satu tahun itu dipacari.
Sejak itu Fanny mulai bergaul dan banyak keluar rumah mencari kesibukan positif hingga usahanya juga berkembang seiring pesatnya bisnis Bimo.
Fanny punya perusahaannya sendiri.
Dan kini justru Fanny lah yang lebih sering membuat Bimo cemburu.
"Ibu sudah pulang?" tanyanya pada Dartik, asisten rumah tangga mereka yang setia bekerja selama sepuluh tahun itu.
"Belum, Pak. Katanya masih seminar dengan Ibu Mia."
"Kemaren Ibu pulang jam berapa?"
"Jam sepuluh, Pak."
"Jam sepuluh malam?"
"Iya. Ibu sering makan malam di kota Bogor bersama keluarga Nona Amelia. Saya sering lihat status WA Ibu."
"Hhh..."
Bimo hanya bisa menghela nafas. Ia sendiri sudah lama nomornya diprivasi sehingga tidak bisa melihat postingan status What'sApp istrinya. Tepatnya sejak Fanny mulai merubah diri dan tampilannya juga.
Sementara dilain pihak, Fanny memang benar bersama Mia dan putra-putrinya di kediaman Fanny yang ditempati mereka.
"Hm?"
"Kenapa kamu tidak makan malam dengan Mas Bimo, tapi malah seringnya makan malam bersama kami? Bukan apa-apa, jujur Aku takut kalian semakin renggang karena ada kami terutama Aku." tanya Mia setelah merasa hubungan mereka sudah sedemikian dekatnya.
Mia merasa berkewajiban mengingatkan Fanny.
"Hilih? Kenapa? Bimo sibuk. Pasti dia sudah makan malam dengan kliennya juga. Sudahlah. Bimo juga tidak menelponku, Mak! Kalau dia butuh Aku, dia pasti hubungi Aku koq! Hehehe... jangan khawatir."
"Mas Bimo tidak pernah komplein tentang waktumu yang sekarang selalu sibuk keluar rumah? Kalau Aku beda. Aku seorang janda, dan itu pun Gaga terkadang protes kalau Aku terlalu sibuk bekerja di sawah ataupun ladang. Kak Fanny punya suami. Suami adalah pemimpin. Istri wajib melayani suami dan suami-lah ladang pahala kita, Kak!"
"Aku tahu, Mak. Bimo punya dunia sendiri, Aku pun sama. Kami sudah sama-sama berkomitmen menikah sampai mati. Tugas kami masih banyak, yaitu mengurus anak-anak sampai sukses. Tinggal satu anakku yang belum selesai kuliah dan menikah. Aku lega, Lukman sudah melepas masa lajangnya dan kini sedang membangun kerajaan bisnisnya dibantu Amelia. Semoga mereka bisa fighting dan berjaya seperti Bimo."
"Aamiin..."
Mia menatap lembut wajah cantik Fanny.
"Aku tahu, kamu sedang khawatir denganku. Tapi jangan terlalu khawatir, Aku sudah melewati banyak hal, Mak!"
"Kita ini sudah matang. Ibarat buah, matang di pohon dan siap panen jika tidak segera dipanen akan segera busuk."
"Hahaha..., kau ni Mak. Bisa saja pribahasamu!"
"Itu menandakan kalau waktu kita hidup tinggal sebentar saja. Kalau tidak segera dipanen, kita akan segera busuk. Buah busuk akan dibuang dan hancur perlahan tanpa ada orang yang berniat menoleh kearahnya. Bahkan mungkin menutup hidung karena mencium bau busuk."
"Hm..."
__ADS_1
"Jangan sia-siakan apa yang sudah ada ditangan. Jangan sampai kita menyesal karena telah mengabaikannya."
"Dulu dia pun begitu."
"Dulu. Disaat masih muda. Tapi disaat sudah tua, apa masih seperti itu?"
"Bisa saja bukan? Dia banyak uang. Dia bahkan bisa membeli tiga perempuan sekaligus untuk teman kencan bersama seranjang satu malam. Iya kan? Hehehe..."
"Haruskah berfikiran negatif begitu pada orang yang sudah puluhan tahun hidup dengan kita!?"
"Aku terlampau sakit untuk tidak mengabaikan keburukannya tempo hari itu. Pengkhianatan yang Bimo lakukan, sampai saat ini masih terasa."
"Jangan selalu mengingat-ingat keburukan. Tapi ingatlah semua kebaikannya. Suami kita bukan dewa, bukan malaikat. Ia hanya manusia biasa yang bisa saja salah langkah."
"Kita juga bukan Dewi, bukan bidadari. Tidak punya hati yang seluas samudera. Tidak bisa, Mak! Kebaikan yang sekarang ini dia lakukan justru semakin membuatku sakit. Seolah dia sedang menukar semua kejahatannya di masa lalu."
"Hhh..."
"Kamu beruntung. Suamimu sampai akhir selalu mencintaimu. Tak pernah mendua hati apalagi selingkuh."
"Tapi Aku punya penyesalan yang sampai sekarang masih belum bisa memaafkan diriku sendiri, Kak!"
"Apa? Apa itu?"
"Andaikan waktu bisa diputar ulang kembali. Andaikan Mas Kan'an masih hidup dan kami masih sepasang suami istri, Aku akan melayani dirinya dengan sepenuh hati."
"Kamu sudah melayani sepenuh hati! Kamu istri yang baik. Ibu yang sempurna. Mengapa ada penyesalan seperti itu? Bahkan kamu selalu rajin mengirimkan doa untuk almarhum suamimu sampai saat ini. Bahkan tidak ingin menikah lagi meskipun ada pria yang tertarik dan mengajakmu menikah. Kamu bilang, Aku akan menua bersama anak-anak. Cih! Kamu malah bilang masih punya penyesalan. Apa justru kamu yang pernah selingkuh? Hihihi... maaf Aku kebablasan."
"Aku menikah diusia muda, Kak. Enam belas tahun. Dan almarhum dua puluh tahun. Kami sama-sama dijodohkan karena persahabatan kedua orang tua kami. Entah mengapa, mereka sangat kuat ingin kami menikah padahal sedari kecil kami selalu bertengkar tak pernah akur."
"Ternyata kalian teman masa kecil!"
Mia tersenyum. Ia menyeruput teh manisnya yang mulai dingin.
"Setahun rumah tangga kami bagaikan neraka. Tidur saling memunggungi. Bibir kami monyong lima senti. Tak ada yang mau memulai pembicaraan. Hingga..."
Tok tok tok
"Permisi!"
Netra Mia membulat melihat tamu yang datang pukul delapan malam.
"Mas Arthur?"
Sontak Fanny menoleh pada seorang pria bule yang berdiri di depan pagar rumahnya.
"Siapa itu?"
"Tamu kehormatan kami, Kak! Sebentar ya, kubukakan pintu dulu!"
Mia turun dari teras rumahnya yang memang agak tinggi, menuju gerbang rumah besar Fanny.
"Emak, apa kabar?"
Fanny terkejut melihat pria itu mencium pipi Mia yang tak kalah terkejutnya.
"Oala, Mas!!!" pekik Mia mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Ma_maaf! Saya baru pulang dari Perancis, saya terbiasa cipika cipiki meskipun itu dengan lawan jenis. Tolong jangan salah faham!"
BERSAMBUNG