
Tring.
Inayah tiba-tiba menchatnya.
...Mas, bisakah aku menelponmu?...
Arthur langsung melakukan panggilan telpon tanpa menjawab pertanyaan Inayah.
...[Hallo? Mas? Assalamualaikum]...
"Waalaikum salam, Inayah!"
...[Mas!? Benarkah apa yang mas Rama katakan padaku? Kita..., kita akan menikah hari ini?]...
"Apa kamu sudah selesai kuliahnya?"
...[Ya]...
"Sekarang dimana? Bisa kujemput?"
...[Aku sudah ada di wilayah Baranang Siang. Aku naik motor, Mas!]...
"Parkir saja ke basement BTM. Aku akan menunggumu di lobi mall itu."
...[Oke]...
Klik.
Arthur menghela nafas.
Agak gugup barusan ketika Inayah ia telpon. Padahal hanya via ponsel. Entah bagaimana nanti jika ia bertemu langsung dengan gadis itu.
Sekitar kurang dari setengah jam akhirnya mereka bertemu.
Sebuah restoran Jepang yang ada di dalam mall dekat wilayah perumahan mereka tinggal, jadi pilihan keduanya untuk makan siang sejenak.
"Mak yang memaksa Mas?" tanya Inayah dengan wajah cemas.
Arthur tersenyum tipis.
"Inay... Aku, mau menanyakan sesuatu. Bersediakah kamu menikah denganku? Menerimaku lengkap dengan segala kekurangannya, baik burukku, dan kita hadapi semua masalah yang datang menghadang laju biduk rumah tangga kita. Mau?"
Inayah tersedak.
Ia terbatuk-batuk membuat Arthur segera menyodorkan botol air mineral setelah membuka tutupnya.
"Mas..."
"Jika kamu tidak bersedia pun tidak mengapa. Tapi, kuharap pernikahan siri ini segera terjadi. Aku...cemas melihat keadaan Emak."
"Aku bersedia. Tapi bolehkah aku tahu, apa kamu akan terus menganut faham se+ bebas? Masih akan bergonta-ganti pasangan meskipun ada aku yang telah menjadi istrimu?"
Kini Arthur yang terbatuk.
Wajahnya merah padam.
Ada amarah sekaligus malu karena dirinya yang dituduh Inayah suka bercinta dengan sembarang wanita.
"Sejauh mana kamu mengetahui diriku?" Arthur balik bertanya.
"Jawab dulu pertanyaanku! Mas kebiasaan! Selalu saja membalikkan pertanyaan sebelum jawab pertanyaanku!"
"Apa aku ini seperti bandit di matamu? Terlihat sangat haus hubungan yang seperti itu? Seperti itu? Sesadis itukah Aku terlihatnya?"
Inayah menunduk. Menaruh sumpit kayunya dan mengalihkan pandangan ke arah luar jendela kaca yang tembus pandang.
"Aku ini memang pria dewasa. Aku, dulu ateis dan tidak percaya Tuhan. Dulu. Sebelum Tuhan memberiku cobaan dengan penyakit dan keadaan yang memprihatinkan. Terlahir sebagai anak tunggal dari pasangan suami istri yang berkecukupan membuatku tidak siap mental menerima vonis dokter kalau kemungkinan besar reproduksiku tidak bagus. Dan aku, terdeteksi mandul!"
Deg.
Inayah merasa tertohok dengan cerita Arthur.
Teringat masa-masa Amelia dahulu ketika masih menikah dengan Solehudin.
__ADS_1
Pria itu dan keluarganya menyindir Mbaknya itu mandul. Itu karena pernikahan mereka yang sudah melewati masa sepuluh tahun masih adem ayem. Sepi, belum juga digerecoki momongan layaknya pasangan lain.
Inayah diam dengan mata menatap lekat wajah Arthur yang tampak pucat pasi.
"Kau tahu? Aku adalah penderita infeksi saluran kemih yang sering bolak-balik operasi, berakibat membawa dampak buruk bagi kualitas sel sperm+ku. Dokter mendeteksi bakteri sudah menyebar ke kelenjar prostat dan struktur reproduksi lainnya. Menyebabkan jumlah serta kualitas sperm+ku menjadi terganggu. Kemungkinan Aku mandul. Dan saat dokter mengatakan itu, usiaku baru delapan belas tahun."
Inayah melihat tangan Arthur yang agak gemetar. Ada keringat menetes di pelipis kiri dan kanannya.
Arthur sedang menahan kegundahan hatinya.
Inayah segera menggenggam kepalan tangan Arthur untuk menenangkannya.
"Aku... blenk sejak saat itu. Aku..., tidak bisa terima, Tuhan menghukum diriku yang bahkan saat itu belum pernah melakukan hubungan badan. Meskipun tinggal di negara Amerika yang terkenal dengan kebebasannya, Aku dididik Mami dengan sangat keras. Kata Mami, aku berdarah Indonesia kuat yang wajib menjaga nilai moralitas ke-timurannya. Tapi sejak saat itu, Aku seperti terlempar dari kehidupan kami yang baik. Aku marah pada Tuhan. Aku mengikrarkan diriku tidak lagi percaya adanya Tuhan. Sejak saat itu, aku keluar dari rumah. Tinggal sendiri di apartemen mewah yang memang mami papi hadiahkan untukku di hari kelulusan sekolah menengah atas saat itu. Aku... merubah kepribadianku."
"Sudah, Mas...! Maaf. Sudahi ceritamu. Maaf. Inayah terlalu banyak bicara sampai,"
"Kamu memang berhak tahu. Kamu wajib tahu siapa pria yang akan menikahimu. Setan atau malaikat, manusia atau dedemit. Kamu berhak menanyakan itu dariku."
"Mas..."
"Aku tidak suka jajan sembarangan. Aku, tiga kali pacaran serius. Dan ketiganya berusia jauh lebih tua dariku. Rata-rata, mereka memiliki anak bahkan Venny sudah memiliki dua orang anak."
Inayah menelan ludah. Ia tidak siap mendengarkan cerita Arthur lebih lanjut lagi. Ditambah ada beberapa pengunjung yang datang duduk di sekitar mereka.
"Aku, tidak tahu...apa Aku cinta mereka. Tapi yang jelas, Aku hanya berharap jika mereka adalah jodohku, Aku tidak perlu sakit hati ketika ditagih anak oleh keluarga mereka karena pasanganku sudah memiliki anak dari pernikahannya terdahulu."
"Kamu..., memacari istri orang juga?"
"Itu kesalahpahaman. Dan itu memang murni ketololan Aku yang tertipu mulut manis perempuan. Berita itu tersebar ke seluruh antero. Tapi Aku bersyukur... Sejak namaku rusak, aku jadi tahu karakter orang kebanyakan. Perempuan yang berkelakuan baik, akan menjauh. Tapi perempuan yang penasaran ingin mencoba, dia akan terlihat tanpa topeng dihadapanku."
Grepp
Inayah menaruh jari telunjuknya ke dekat bibir Arthur.
"Diamlah, Mas! Ayo cepat makan! Kita harus cari ustadz karena Mas Rama sudah menjapriku. Mak tanya kapan kita segera datang ke rumah sakit."
Arthur memerah wajahnya.
Ia diam menurut.
Ya Tuhan... Bisa-bisanya Aku menuruti ucapan gadis ingusan ini! Hhh..., apakah dia ini penyihir? Mengapa setiap kali dia berkata dengan suara tegasnya, Aku jadi penurut bak ekor kuda.
Arthur mempercepat makannya.
Kini mereka bergegas menuju masjid Istiqlal, menemui ustadz Kamal, seorang staff MUI yang cukup akrab dengan Arthur setelah Sheikh Abdul Aziz dan Kiyai Haji Hanafi, ketua ranting pusat MUI yang adalah guru agamanya dalam menekuni ajaran agama Islam.
Tak butuh waktu lama, mereka kini bertiga pergi ke rumah sakit Fania tempat Mia dirawat.
Rama, Lukman, Amelia, Tia dan Alif sudah berada di ruangan Mia. Hanya Gaga yang masih di sekolah karena ada kegiatan ekstrakurikuler yang tidak bisa Ia tinggal.
Mereka segera mendandani Inayah di ruang kamar mandi rumah sakit. Hanya berganti pakaian dan make up ala kadarnya saja.
"Inay...! Apakah kamu merasa terbebani dengan permintaan pernikahan dari Emak ini?" tanya Amelia menyelidik hati adik perempuannya yang masih sangat muda.
Inayah menggeleng cepat.
"Mungkin ini sudah takdir Inay, Mbak! Inay ikhlas. Inay juga bisa menerima mas Arthur sebagai suami Inayah. Mbak Yu' tak perlu khawatir!"
"Mak tadi sempat muntah-muntah beberapa kali. Mak bahkan sampai teriak kesakitan sambil manggil-manggil nama kamu, Nay!" cerita Tia membuat Inayah kian cemas dengan kondisi Mia.
Setengah jam kemudian, Inayah keluar dari kamar mandi.
Gadis berumur delapan belas tahun itu keluar setelah Tia dan Amelia.
Termangu Arthur melihat Inayah keluar dengan wajah yang cantik, molek bak boneka Barbie.
Cantik sekali... Gumamnya terpesona.
Pernikahan terjadi dengan sangat cepat dan lancar. Para nakes, dokter dan suster jaga menjadi saksi-saksi pernikahan antara Arthur dengan Inayah.
Dengan mahar uang senilai satu juta rupiah, Arthur menikahi Inayah secara siri dengan Rama sebagai wali nikah.
Pernikahan resmi baru akan digelar bulan depan, setelah Arthur selesai syuting film terbarunya di Bali.
__ADS_1
Mia, tersenyum dengan air mata berlinang.
Mulutnya komat-kamit, mendawamkan doa-doa agar putrinya Inayah bahagia bersama Arthur Handoko.
Sepasang cincin nikah yang sudah Arthur persiapkan menjadi momen paling romantis setelah mereka bergantian memasangkan cincin di tangan.
Inayah tersenyum. Hatinya lega dan bahagia.
Inayah dan Arthur tersenyum lebar di pelukan Mia yang terus-menerus membacakan doa untuk kebahagiaan mereka berdua.
"Titip Inayah ya, Mas? Jaga dia, bimbing dia, karena dia masih sangat muda. Tolong jangan masukkan ke dalam hati setiap umpatannya jikalau kalian sedang berselisih paham. Jangan pernah memukulnya jika Ia salah. Berilah ia nasehat agar Ia tahu kalau Ia salah. Dan Inayah,... turutilah perkataan suamimu. Perkataannya bisa menjadi jalanmu menuju surga. Karena surgamu kini adalah suamimu. Jangan pernah memaki suami dengan perkataan yang kasar menyakitkan hati jika ada masalah datang nanti. Cukup berikan dia senyuman dan doa agar suami kita tidak salah dalam melangkah. Uhuk uhukk uhhukk..."
"Uhuk uhuk, hoeek!"
Mia... batuk-batuk hingga memuntahkan cairan kuning dan merah di muntahan terakhir.
Lalu,... Mia pingsan tak sadarkan diri.
Sejak saat itu, kondisi Mia koma.
Hanya terbaring di ruang ICCU dengan alat bantu rumah sakit. Tak lagi terdengar suara lembutnya menasehati. Tak ada lagi terdengar celotehan canda tawanya.
Mia, seperti itu sampai saat ini. Sampai saat Arthur harus kembali ke Bali keesokan harinya.
"Mak...! Mak! Aku yakin Emak bisa dengar Aku. Aku harus pergi kembali menuntaskan kerjaanku. Maaf, Mak! Aku tidak membawa putrimu karena dia masih kuliah juga. Aku mohon, Mak sudah bangun ketika Aku pulang nanti. Aku akan menikahi Inayah dengan layak nanti. Dan kuharap, Mak masih bisa menyaksikan ijab kabulku yang kedua di depan kedua orang tuaku juga tamu hadirin yang banyak, nanti."
Mia tak bergeming.
Hanya suara mesin mendeteksi jantung dan alat vital Mia lainnya yang terdengar dingin menakutkan.
Arthur mencium punggung tangan Mia. Di ciumnya juga pipi kiri, pipi kanan dan kening Mia.
"Aku berangkat ya, Mak?"
Inayah tak henti-hentinya meneteskan air mata.
Kondisi Emaknya ternyata sudah di titik nadir. Suami yang baru beberapa belas jam itu pun harus pergi lagi, meninggalkan dirinya sendiri.
Mereka berpelukan dengan tangisan kecil yang terdengar.
"Yang sabar ya Inayah? Maaf... Mas harus tinggalkan kamu dulu. Maaf... "
Inayah mengangguk tak dapat berkata-kata apa-apa.
Arthur mengusap butiran halus di pipi Inayah.
"Kamu harus kuat. Jangan lupa makan, dan jaga kesehatan. Jaga Mak dengan baik. Mas pergi ya?"
"Maaf ya Mas, aku gak bisa mengantarkan sampai bandara."
"Tidak apa-apa. Kita akan bertemu kembali bulan depan. Jaga dirimu baik-baik, istriku!"
Perpisahan ini terasa sangat menyakitkan hati Arthur maupun Inayah. Apalagi kondisi Mia yang merosot tajam hingga koma tak sadarkan diri kini.
Tapi mau bagaimana lagi, proyek kerja Arthur tidak bisa ditunda. Ada banyak orang yang bergantung pada dedikasinya juga di dunia perfilman.
Arthur mengecup kening istrinya setelah mengusap lembut pucuk jilbab Inayah membuat Inayah seperti terbang melayang ke nirwana.
Mas Arthur...! Aku cinta padamu!
Arthur menghela nafas.
Inayah Sayang, Aku... cinta kamu.
Keduanya bergumam dalam hati. Pada dirinya sendiri. Tapi perkataan hati mereka sama persis satu sama lain.
Benar kata orang, kalau jodoh tidak akan kemana.
Tak kan lari gunung dikejar.
Asam di gunung, garam di laut.
Jodoh rahasia Illahi Robbi.
__ADS_1
BERSAMBUNG