
"Mas Soleh?!?" pekik Juriah dengan suara yang parau.
Ojan mengantarkan putri tunggalnya itu ke rumah sakit dengan mobil Alphard yang dibeli tunai seminggu setelah kematian Samsiah. Memang mobil bekas, tapi masih greng mulus tanpa cacat. Ojan membelinya seharga 200 juta rupiah dari dealer mobil langganannya.
Soleh terkapar dengan tubuh lemah tak berdaya dan wajah pasrah berurai air mata.
"Maaasss!!!"
Juriah langsung memeluk tubuh Suami yang sangat disayanginya.
Satu kaki Soleh telah pihak dokter bedah amputasi karena remuk rusak parah.
Soleh kini hanya berkaki satu. Sedangkan satu kakinya dipotong hingga pangkal paha karena hancur setelah mengalami kecelakaan beruntun di jalan raya menuju rumah toko Juriah.
Ojan hanya diam dengan senyuman tipis di bibirnya yang hitam.
Soleh tidak berani memandang wajah Bapak mertuanya yang menurutnya mirip Dajjal itu karena hanya memiliki satu mata dan itu pun terlihat merah dengan urat-urat syaraf yang tergambar jelas. Semakin menakutkan siapa saja yang melihat.
Soleh menggenggam jemari tangan Juriah. Ia menangis meminta maaf kepada Sang istri yang sebenarnya bukan lagi Soleh sayangi tetapi hanya takuti karena nyawanya ada diujung tanduk jika berani menyakiti Juriah.
Kedua suami istri yang dulunya begitu hot romantis bahkan selalu suka mengeram di kamar, kini hanyalah menangis berpelukan meratapi nasib diri yang penuh ujian.
"Sayangku..., maafkan semua perkataanku padamu, Juriah! Mari kita hidup bersama dalam kebahagiaan dan kegembiraan. Maafkan Aku yang belum bisa jadi suami yang baik. Maaf..."
Juriah mencium punggung tangan Soleh.
Menangis haru karena akhirnya Soleh kembali mencintai dirinya sepenuh hati meskipun kini hanya memiliki satu kaki.
"Apa kamu akan malu melihatku yang cacat begini, Juriah?"
"Mas...! Sedari awal Aku memilihmu menjadi pasangan hidupku, Aku sudah siapkan mental untuk menerimamu apa adanya. Asalkan kamu benar-benar mencintai ku juga dengan apa adanya. Apalagi, kini Aku juga terkena kanker serviks. Dan sedang berjuang menjadi survivor cancer. Berharap penyakit yang entah mengapa harus kuidap ini pergi dan menghilang. Dan kita bisa hidup bahagia bersama dengan memiliki anak-anak yang banyak. Hik hik hiks..."
"Aamiin..."
__ADS_1
Soleh menangis pilu.
Pupus sudah keinginannya untuk mencari Amelia dan kembali mengajaknya rujuk.
Hati kecil Soleh sebenarnya tidak terima. Tetapi kenyataan hidupnya telah jadi tandonan tumbal pesugihan yang Ojan sepakati.
Soleh hanya bisa menerima pasrah.
.............
"Bagaimana mungkin kami harus pergi dari rumah milik kami sendiri? Hik hik hiks... Biadabnya kalian!!!" teriak Mariana dengan hati yang sangat kesal.
Baru saja kemarin Ia mendengar kabar kalau putra sulungnya kecelakaan dan harus diamputasi kakinya karena kondisi yang mengenaskan.
Kini kabar lain lagi, Ia harus pergi keluar dari rumah Lani yang sudah diklaim milik seorang pengusaha kota tempat mereka tinggal yang membuka usaha di Ibukota dan telah membeli rumah beserta tanah dari seorang pria bernama Anton Wicaksono lengkap dengan surat-surat yang dibalik nama.
Untuk mengurus keruwetan permasalahan ini, Mariana sampai meminta tolong kepada Fitra putra keduanya.
Fitra bolak-balik kantor kelurahan, kecamatan bahkan sampai ke dinas agraria dan kependudukan untuk mengurus masalah Lani sampai tuntas.
Ternyata pria itu sudah berpengalaman menipu perempuan-perempuan labil seperti Lani dengan berkedok cinta dan perasaan.
Tetapi sang pengusaha yang membeli rumah Lani beserta lahan hibahan dari Ojan yang diatas namakan Anta dari si Anton itu kekeuh pada pendiriannya dan tak mau tahu menahu soal Lani dan Mariana yang menjadi korban penipuan.
Pak Darminto meminta Mariana serta Lani pindah sampai urusan kepemilikan rumah dan uang milyarannya kembali baru dia bersedia memberikan kembali rumah itu pada Lani.
Jika Fitra dan Lani melanjutkan permasalahan ini ke jalur hukum, kemungkinan kecil mereka bisa menang.
Selain itu, untuk memulai persidangan hukum perdata butuh modal untuk menyewa pengacara handal sedangkan bukti-bukti tidak ada di Lani.
Keteledorannya dulu tidak mempunyai salinan fotocopy surat-surat berharga dokumen seperti sertifikat rumah, tanah dan lain-lain. Lani kurang begitu memperhatikan hal-hal yang demikian.
Hingga justru dirinya lah kini yang kesulitan.
__ADS_1
Fitra juga sudah melaporkan pencarian orang atas nama Anton Wicaksono yang ternyata tidak terdaftar sebagai warga resmi kota tempat tinggal mereka.
Semakin membuat Lani depresi shock setengah mati.
Untungnya rumah Mariana yang dulu ditinggalkan, masih utuh tidak Ia jual. Sehingga kedua janda beda generasi itu akhirnya pindah ke rumah pertama mereka.
Fitra tidak berani membawa serta Ibu dan adik perempuannya tinggal bersamanya. Karena Fitra sendiri sampai saat ini masih tinggal di Pondok Mertua Indah. Sama seperti Jamal juga.
Mariana dan Lani tertunduk malu pulang ke tempat asal mereka.
Kembali bertetangga dengan orang tua Tito yang hanya diam tidak mau lagi berurusan dengan Mariana juga Lani.
Lani sangat malu.
Kisahnya seperti sebuah novel yang sedang booming dan jadi pembicaraan hampir semua orang di kampungnya.
Kisah kebodohannya yang meminta cerai suami dan memilih menjalin hubungan dengan pria penipu hingga harta bendanya ludes tak bersisa.
Lani malu. Sangat malu hingga tak berani keluar rumah membantu ibunya menyapu halaman.
Lani yang dulu cantik jelita dengan usia 23 tahun, muda, ceria dengan wajah berseri-seri, kini terlihat kusam dan flek-flek hitam penuaan dini tanpa dipoles make up. Bahkan wajahnya dipenuhi jerawat hingga kulitnya sering merah ketika kena sinar matahari langsung.
Lani ingin sekali pergi jauh dari kampungnya. Ingin seperti Tito yang justru pergi merantau ke Ibukota setelah resmi mengurus perceraiannya dengan Lani.
Ia mencoba menanyakan lowongan pekerjaan apapun kepada teman-teman lamanya asalkan jauh dari kampungnya karena tak tahan hidup menderita mendengar omongan orang karena kisah hidupnya yang miris menyedihkan.
Hingga sebulan kemudian, Zahira salah satu teman SMP nya mengajak Lani bekerja di kota Batam sebagai seorang waitres atau pelayan sebuah kafe katanya.
Lani masih muda. Meskipun kini dalam kondisi terpuruk dengan tubuh serta wajah tak terurus, Zahira yakin, usia muda Lani mampu memikat para cukong untuk makan dan hang out di kafe milik Bossnya.
Hanya butuh modal untuk mempermak dan memoles wajah Lani menjadi wajah perempuan yang berharga jual tinggi.
Bisa ditebak bukan, apa kira-kira pekerjaan yang Zahira tawarkan aslinya di kota Batam itu nanti?
__ADS_1
BERSAMBUNG