
Soleh pulang ke ruko. Juriah sang istri sudah bersiap menunggunya di depan toko dengan wajah tegang.
"Ayo, Mas... Kita harus ke Rumah Sakit Sawang!"
"Abi gimana keadaannya?" tanya Soleh, pura-pura perhatian.
"Kata Umi, lumayan parah. Mata Abi kena pecahan kaca mobil yang sebelah kiri. Harus segera di operasi!"
"Innalilahi..."
Mereka langsung meluncur menuju rumah sakit tempat Ojan dirawat.
Masih di ruangan ICU dan terdengar suara teriakan Ojan yang membuat semua yang dengar ikut meringis ngilu.
Tulang engkel kaki kanannya mengalami pergeseran. Mata kirinya juga terkena serpihan kaca mobil yang pecah karena mobil menabrak pohon besar.
Soleh bersorak dalam hati. Puas melihat Ojan kini dalam kondisi kesakitan.
Samsiah bahkan sampai kewalahan mengurus suaminya yang rewel berteriak terus tidak tahan oleh rasa sakit yang berkepanjangan.
Sampai perawat kembali menyuntikkan obat penenang lewat selang infus Ojan. Perlahan pria 53 tahun itu diam dan tertidur meskipun sesekali tersentak bangun dan meringis lagi.
"Hhh..."
Samsiah hanya bisa menghela nafas sembari mengusap peluh di dahinya yang menetes.
"Kamu jaga Abi ya malam ini?!" pintanya pada Sang menantu.
Sontak wajah Soleh berubah rautnya.
Juriah menatap Soleh.
"Kita jaga bersama malam ini. Tapi besok Umi harus datang pagi-pagi. Kami harus jaga toko dan bengkel!"
Soleh senang, Juriah ternyata memiliki pemikiran yang sama.
Sebenarnya bukan masalah toko juga bengkel. Namun Soleh memang enggan menjaga Ojan yang baru saja mengalami kecelakaan tunggal.
__ADS_1
Samsiah mengangguk setelah menghela nafas panjang.
"Abi kenapa bisa kecelakaan, Mi?"
"Mana Umi tau? Tapi dari perkiraan Umi, Abi mu habis main koprok di rumah Mas Wawan. Pasti nenggak alkohol juga disana. Ya beginilah jadinya. Hhh..., Umi kan lagi ada pertemuan dengan para istri pengusaha se-kecamatan."
Juriah menarik nafas. Ia mulai kesal karena tingkah kedua orang tuanya yang tidak berubah walaupun sudah punya menantu.
"Abi Umi harusnya lebih banyak di rumah. Ibadah. Bukan keluyuran kemana-mana yang gak jelas. Abi juga. Malu dong sama menantu!" imbuh Juriah sewot pada Ibu Bapaknya sendiri.
Soleh hanya diam. Tapi dalam hati menyumpahi agar kedua mertuanya cepat mati dan harta warisan Juriah bisa jatuh sebagian kepadanya tanpa banyak drama.
Malam ini pastinya akan jadi malam yang sangat panjang bagi Soleh juga Juriah karena Ojan adalah pria tua yang sangat rewel ketika sedang sakit.
Dan benar saja.
Sepanjang malam Ojan berteriak-teriak kesakitan. Mengeluh panas, memekik nyeri, mengatakan hal-hal yang membuat pusing kepala. Soleh dibuat geram oleh tingkah ke kanak-kanakan Ojan menurutnya.
Tensi darah Ojan belum stabil, sehingga belum bisa dilakukan operasi pengangkatan bola matanya yang rusak. Sehingga urat-urat syaraf akan terus terganggu dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
"Sakiiiit hoaaa sakiiiit!!!"
"Aduuhh pinggangkuuu!!"
"Engsel kakiku ngiluuuu!!!"
Begitu terus sepanjang malam.
"Sabar Bi! Sabar! Istighfar! Minta diringankan beban Abi pada Allah Ta'ala!" hibur Juriah pada Abi-nya.
"Sakiiiit!!! Kamu gak ngerasain Nduuuk!!!"
"Iya, Abi! Ini cobaan untuk Abi juga untuk kita semua. Sabar ya Abi!"
Juriah juga bingung. Mau mengusap pun salah. Karena Ojan langsung memekik kesakitan jika tangan Juriah maupun Soleh menyentuh kulitnya.
"Adaaww, sakit bodoh! Kau pikir kesenggol begitu ga sakit?!? Kau mau ngerasain apa yang saat ini kurasa?"
__ADS_1
Ojan berteriak menghardik Soleh yang tanpa sengaja menyikut tulang keringnya yang mengalami pergeseran ketika tertidur di pinggir ranjang.
"Maaf, Abi. Maaf."
Ojan hanya tergagap meminta maaf. Ojan terus berkoar-koar mengucapkan sumpah serapah pada menantunya itu sampai hati kecil Soleh mende+ah, "Suntik mati kayaknya nih bagusnya!"
Juriah juga jadi serba salah. Soleh terlihat menekuk wajahnya jika mereka beradu pandang.
"Maafin Abi ya Mas!" bisiknya sambil mengusap pipi Soleh yang dingin karena AC ruangan yang dipasang full pihak rumah sakit.
Mereka baru sedikit tenang ketika Ojan sudah terlelap walau sesekali masih terdengar erangannya mengeluh kesakitan.
Setelah Subuh, pihak rumah sakit memindahkan Ojan ke ruang inap.
Ojan memilih ruang kelas satu agar mendapatkan pelayanan yang lebih baik dari para tenaga medis di rumah sakit itu.
Sampai siang hari, Samsiah tak kunjung datang. Juriah beberapa kali menghubungi Uminya itu untuk ganti aplusan.
"Umi? Hallo? Umi dimana? Ini udah mau Johor lho!? Hahh? Ya ampuun... bisa-bisanya Umi malah pergi dulu ke Bazaar murah! Umi, Umi! Hadeuh..."
Soleh mendelik. Bingung dengan situasi dan kondisi kedua mertuanya yang aneh-aneh perangainya. Ia tidak tahu, kalau Ojan dan Samsiah adalah pengikut aliran setan. Sehingga hati nuraninya seolah sudah tertutup hingga rasa saling simpati bahkan sesama pasangannya pun nyaris tak ada.
Juriah berdecak kesal.
Soleh hanya menghela nafas karena waktu untuk menjaga Ojan menjadi lebih panjang.
"Aku pulang lebih dulu ya?" ucap Soleh mencoba bernegosiasi dengan istri mudanya.
"Aaaa jangan, Mas! Ga mau!!"
Soleh menyeringai. Juriah menghenyakkan kakinya seperti bocah. Hingga dua gunung kembarnya berguncang membuat Soleh berfikir nakal.
Diliriknya Ojan yang masih terlelap tidur. Tangan Soleh langsung gercep merangkul tubuh Juriah dan mengeksekusi bagian depannya tanpa pikir panjang.
"Solehudin!!! Kau pikir ini kamar hotel? Dasar laki-laki otak m+sum! Pikiranmu kotor dan hanya pandai urusan sela++ka++an saja! Sono belajar berhitung!!! Setelah pulang dari rumah sakit, Aku akan tinggal di ruko, memantau kinerjamu, dasar menantu bod+h!"
Seketika seperti ada petir menggelegar di atas kepala Soleh.
__ADS_1
Nasib sial seolah mulai menaungi zodiaknya lagi.