Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 64 Usaha Katering Amelia


__ADS_3

Tring


Amelia membuka ponselnya setelah mendapatkan notice pesan masuk.


Dari Adam Malik. Boss konveksi tempat Diki dan Lukman bekerja. Dan saat ini mereka sedang ada hubungan kerjasama mengurus makan siang para karyawan konveksi.


Amelia dengan dibantu Tasya menerima pekerjaan yang lumayan membantu dirinya melanjutkan hidup mencari nafkah sendiri.


Sejak dirinya diceraikan Soleh tiga bulan lalu, Amelia berjuang sendirian tinggal di Ibukota. Mencari nafkah untuk dirinya sendiri dan masih mengontrak di tempat yang sama dahulu ketika Ia masih berumah tangga dengan Soleh.


Sebenarnya sempat kepikiran pindah kontrakan. Benar-benar memulai hidup yang baru tanpa bayang-bayang Soleh lagi.


Karena di rumah itu, Amelia kadang sering mengingat semua kenangan bersama Soleh.


Lima tahun mengontrak di rumah minimalis satu kamar itu dengan ruang tengah yang cukup luas sehingga jika kedua orang tua Soleh datang berkunjung, mereka bisa gelar kasur lantai di depan televisi tabung 14 inci.


Kini televisi bekas itu sudah tidak berfungsi. Hanya penghias meja saja agar ruang tengah tidak kosong melompong.


Tetapi tetangga kiri kanan di rumah kontrakan inilah yang membuat dirinya bertahan. Terutama Tasya, istrinya Diki dan putrinya yang sudah seperti saudara bagi Amelia.


Tasya penyemangat hidup Amelia. Tasya usianya kurang lebih sama dengan Tia. 25 tahun. Tia lebih dulu menikah di usia muda melangkahi Rama, adiknya yang kini bekerja sebagai pekerja ABK atau Anak Buah Kapal di sebuah kapal pesiar milik perusahaan Thailand.


Rama berumur 28 tahun kurang. Berbeda setahun dengan Lukman.


Itu sebabnya Amelia merasa Lukman lebih condong seperti adik bagi Amelia walaupun pria bujang itu seringkali menampakkan sikap dewasa ketika sedang berbincang dan membantu permasalahan Amelia.


Pukul sembilan malam.


...Apakah chat saya mengganggu Mbak Amel?...


Amelia tersenyum tipis. Ia memang baru saja akan pergi tidur.


Sejak menekuni usaha katering bersama Tasya, jam istirahatnya jauh lebih cepat. Dan itu memang yang Amelia butuhkan untuk mengurangi lamunan yang kurang baik.

__ADS_1


...Baru saja mau tidur, Boss...


Tring.


...Besok menunya apa Mbak?...


...Sayur sop tetelan daging sapi, tempe orek kecap dan balado tongkol. Untuk menu lusa, andaikan Boss ada request bisa pesan sekarang saja. Masalahnya kami tidak stok belanjaan banyak. Untuk menjaga kualitas kesegaran sayuran, kami belanja setiap hari kecuali bumbu-bumbu yang cukup awet jika dibeli untuk beberapa hari....


Amelia berusaha profesional menjalankan usaha kateringnya dan ingin Boss konveksi puas bekerja sama dengan jasa masakannya.


Tring.


Kami?


^^^Saya dan Tasya, Boss^^^


Oh, usaha berdua dengan istri Diki ya?


^^^Iya.^^^


^^^Aamiin. Apakah Boss memiliki keluhan tentang masakan katering kami? Soal rasa dan kemasannya? Bagaimana pendapat Boss,?^^^


Bagi saya katering mbak sudah yang terbaik. Sesuai harga jual dan kemasannya juga rapi. Soal rasa, saya tidak punya keluhan. Sepertinya Mbak bisa lebih memperbanyak pesanan dan menekuni usaha katering ini lebih serius lagi. Misalnya menawarkan jasa katering kepada pabrik-pabrik sekitar. Kalau Mbak Amel butuh modal, saya bersedia membantu.


Seketika Amelia tersadar, kemungkinan besar Ia bisa melebarkan sayapnya mengembangkan bisnis seperti yang Boss Adam bilang.


Boss, maaf. Apakah ada pabrik lain yang bisa saya ajukan proposal buat melebarkan usaha katering saya? Boleh saya minta referensinya? Maaf kalau tiba-tiba saya jadi kepikiran ingin lebih banyak orderan selain dari konveksi Boss Adam.


Cukup lama Adam tidak membalas japrian Amelia. Membuat jandanya Solehudin itu akhirnya merebahkan tubuh, menarik selimut dan membaca doa tidur.


Tring.


Nanti saya kabar-kabari.

__ADS_1


^^^Terima kasih banyak Boss Adam.^^^


Panggil Adam saja. Atau Mas lebih santai terdengar.


Tentu saja Amelia seperti tergelitik ingin menggoda. Tapi urung, mengingat Adam adalah pemilik perusahaan konveksi yang juga adalah Boss nya.


Iya, Mas. Terima kasih.


Suamimu sudah tidur, Mbak? Saya harap saya tidak sedang mengganggu rumah tangga orang. Baiklah permisi, assalamualaikum.


Amelia bingung harus menjawab apa.


Waalaikum salam.


Hanya satu kalimat salam penutup chattan mereka yang terlihat kaku dan garing.


Tapi di tempat lain, di sebuah ranjang besi yang besar, seorang pria dewasa sedang tersenyum-senyum sendirian dengan mata memandang langit-langit kamar.


"Sayangku Adelia, kenapa ada orang yang sangat mirip denganmu di dunia ini? Kenapa bisa? Tapi sejak Aku melihat wajah perempuan yang berwajah mirip kamu, tidurku sedikit terganggu karena selalu ingin melihat wajahnya yang seperti cermin dirimu, Sayang! Bahkan namanya pun, hanya berbeda satu huruf saja. Namanya Amelia sedangkan kamu, Adelia. Sayangku, dia istri orang. Dan Aku tidak akan bertindak melebihi batas. Karena cintaku suci seutuhnya hanya untukmu. Tunggu Aku di pintu surga, Sayang!"


Tangannya mengusap-usap sebuah bingkai foto yang memang sangat mirip dengan Amelia. Bak pinang dibelah dua.


Malam yang menenangkan untuk Adam dan juga Amelia.


Adam sedang bernostalgia memikirkan almarhumah istrinya yang telah tiada. Sementara Amelia mulai mengkhayal karena sebentar lagi usaha kateringnya bisa semakin berkembang maju seiring dukungan penuh Adam sebagai costumer pertama yang memakai jasa kulinernya.


Amelia ingin pulang kampung sebelum usaha kateringnya benar-benar berjalan maju.


Ia ingin meminta restu kedua orang tuanya termasuk jujur menceritakan keadaan rumah tangganya yang sudah cerai selama tiga bulan ini.


Sepandai-pandainya Ia menutupi keadaan dirinya, suatu saat nanti keluarga pasti akan mendengar juga.


Dan Amelia tidak ingin hal itu terjadi.

__ADS_1


Apalagi kini Soleh dan istri mudanya juga tinggal di kota yang sama. Hanya beda kampung saja. Tetapi suatu saat nanti Bapaknya bisa saja bertemu Soleh di jalan. Amelia berfikir lebih baik jujur cerita yang sesungguhnya sekarang daripada hal itu benar-benar terjadi.


BERSAMBUNG


__ADS_2