Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 181 Belajar Bersama Di Malam Pertama


__ADS_3

Pukul empat sore, keduanya sampai di rumah besar Arthur yang masih satu kawasan dengan perumahan yang pernah dihuni almarhumah Mia bersama anak-anaknya.


Inayah dan Arthur bergegas menunaikan shalat Ashar yang terlebih dahulu.


Terlihat Arthur begitu semangat bahkan sholat dengan khusu' menghafal ayat demi ayat bacaan sholatnya di dalam hati.


Pria itu benar-benar ingin menjadi muslim yang baik dan taat pada Allah Ta'ala, Sang Pencipta.


Hingga begitu inginnya mengubah diri yang tadinya cuek menjadi lebih agamis dan rajin ibadah di sela kesibukannya yang padat merayap.


Arthur juga rajin mengaji private di jam istirahat siangnya di mushola wisma kantor. Tanpa sepengetahuan Inayah awalnya. Tapi akhirnya ketahuan juga tatkala Inayah melakukan sambungan video call dan Arthur sedang duduk bersila di mushola wisma berhadapan dengan pak ustadz yang sekaligus seorang sekuriti gedung dengan buku Iqro terbuka. Inayah terharu, Arthur ternyata lebih serius menjalani agama Islam dari yang selama ini Ia bayangkan.


"Sayang..."


Inayah mencium punggung tangan Arthur yang ada duduk di shaf depan dan menoleh ke arahnya sembari mengulurkan tangan.


Arthur segera mengecup kening Inayah. Lalu kembali duduk menghadap kiblat, lanjutkan doa dengan tangan menengadah bermunajat kepada Allah.


Sungguh suasana yang nyaman menyenangkan yang benar-benar jadi impian Inayah.


Sholat bersama suami tercinta, itu adalah khayalannya di masa remaja.


Alhamdulillah, kini terlaksana.


Arthur kembali menoleh dengan senyuman manis.


"Sayang... cantiknya pujaan hatiku!" ujarnya pelan tapi jelas.


Arthur meraih bahu Inayah hingga mendekat dan rapat di pelukannya.


Inayah memasrahkan tubuhnya menggelayut mesra di dada sang suami. Kini Ia rela lahir batin, memberikan seluruh jiwa raga untuk Arthur seorang. Pria dewasa yang sudah menjadi suaminya itu.


Arthur telah menyiapkan semuanya. Ponselnya telah dimatikan. Lalu meraih ponsel Inayah juga dan...


Tritririiiinggg..


"Koq, dimatikan, Mas?"


"Hehehe..."


Dia hanya terkekeh. Itu adalah timing untuk mereka berduaan di kamar.

__ADS_1


Rumah mereka memang tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Dari sebelum menikah, Arthur lebih suka tinggal sendiri. Untuk pakaian, Ia lebih memilih jasa laundry. Dan pesan jasa bersih-bersih rumah setiap seminggu sekali lewat jasa general cleaning service.


Itu berlaku sampai saat ini.


Inayah juga sangat setuju dengan privasi Arthur yang kurang suka memiliki asisten walau terkadang sedikit menyulitkan ketika harus pergi keluar rumah untuk beberapa hari.


Arthur akhirnya memilih jasa sekuriti dari pihak keamanan setempat untuk menjaga rumahnya jika harus ditinggal berhari-hari bahkan sampai hitungan bulan apabila sedang ada kerjaan di luar kota atau negeri.


"Inay..."


"Ya, Mas?"


"Capek gak?"


Inayah agak gugup sekaligus kebingungan.


Arthur menarik lembut betisnya. Dan mengusap pelan dengan pijitan yang membuat Inayah merasa nyaman.


"Maasss, harusnya Aku yang pijitin Mas!" tolak Inayah setelah tersadar dan menarik kembali kakinya merasa kurang sopan membiarkan Arthur memijatnya.


"Ga apa. Kita bisa gantian massage. Iya kan? Hehehe..."


Inayah menutup wajahnya yang memerah.


"Hehehe... Kita pelan-pelan ya?" bisik Arthur di telinga Inayah.


"I_iya."


Arthur menyeringai. Inayah teramat manis dan begitu polos. Membuat Arthur jadi gemas dibuatnya.


Gadis mungil yang masih ingusan dipandangannya itu memang teramat menggemaskan. Sampai-sampai Arthur takut sekali menyakiti hati Inayah karena dirinya yang geragas dan kadang suka sekali dengan kekerasan ketika melakukan pergulatan.


Arthur menelan ludah.


Sudah lebih dari empat tahun dirinya tak pernah lagi bercinta.


Terakhir kali, Bianca lah perempuan yang ada di hati Arthur.


"Aku berani bersumpah atas nama Tuhan. Dia adalah hasil tetesan sper++mu. Arthur Pangestu adalah darah dagingmu. Bahkan sampai detik ini, tidak ada laki-laki manapun yang tidur denganku selain dirimu. Bahkan sampai suamiku meninggal dunia di perbatasan empat tahun yang lalu."


Jantung Arthur seketika berdebar kencang.

__ADS_1


Suara Bianca kembali terngiang.


"Ke_kenapa, Mas?"


Inayah memiliki perasaan yang peka'. Ia langsung bertanya melihat aura wajah Arthur yang berubah suram tiba-tiba.


Arthur tersenyum menutupi kegundahan hatinya.


"Tidak apa-apa, Sayang!"


Ini adalah momen penting dalam hubungan rumah tangganya yang sudah melewati masa sebulan penuh.


Waktunya Ia untuk unboxing Inayah. Dan Inayah juga sudah sangat terlihat pasrah.


Arthur tidak ingin kembali menunda.


Ya Allah ya Tuhanku... Tolong hapuskan kenangan tentang Bianca. Izinkanlah Aku membahagiakan Inayah, Istriku. Kumohon ridho-Mu ya Allah! Doa Arthur dalam hati.


Ini adalah pengalaman pertama bagi Inayah, meskipun untuk Arthur adalah pengalaman yang kesekian kalinya.


Namun Arthur harus bisa memberikan yang terbaik. Setidaknya, kenangan malam pertama mereka harus jadi kenangan paling indah dalam hidup Inayah.


Arthur memejamkan mata, melum+at lembut bibir mungil Inayah yang padat berisi.


Perlahan dan penuh kehati-hatian.


Inayah adalah segalanya bagi Arthur kini.


Teringat pesan Mia yang terakhir kali. Arthur wajib menjaga putri Mia itu sampai kapanpun. Meskipun bumi berguncang, badai menerjang, Arthur harus menjaga Inayah. Lahir batinnya.


Bukan untuk jadi beban seumur hidup Arthur. Tapi untuk jadi pasangan sehidup sematinya.


Semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai harapan Arthur.


Inayah membuka hati juga diri untuk Arthur masuk lahir batinnya.


Permainan yang sangat lembut, seperti seorang guru yang sedang membimbing siswa barunya. Laksana suhu mengajar cupu.


Semuanya sesuai porsi dan kepuasan hati dari kedua belah pihak, yakni Arthur dan Inayah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2