Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 208 Duet Juriah Dan Victor


__ADS_3

Victor mengejar Juriah sampai ke parkiran.


Akhirnya Ia berhasil menangkap pergelangan tangan Juriah yang hampir saja tertabrak sepeda motor yang melintas kencang hingga keduanya berguling di trotoar jalan.


Posisi Victor tepat di atas tubuh Juriah. Kepalanya terbentur trotoar hingga terasa nyeri sampai menggigit bibir dan pejamkan mata.


"Mas!! Maaf, maaf!"


Juriah yang merasa bersalah segera bangkit seraya menyangga bagian belakang kepala Victor dengan cepat namun lembut.


"Aduhh, gegar otak gak nih aku ya?" gumam Victor dengan nada candaan justru semakin membuat Juriah merasa sangat bersalah.


"Maaf, mas! Maafkan kecerobohan Aku. Maaf, tolong maafkan Aku."


"Bantu aku berdiri, Putri Fania!" kata Victor dengan suara seperti biasa setelah tersenyum lebar melihat wajah Juriah yang pucat pias penuh kepanikan.


"Maaf, Mas Victor. Maaf..."


"Sudah kumaafkan, Putri. Lama-lama kau jadi mirip mpok Minah di sitkom Bajaj Bajuri yang suka sekali minta maaf!"


"Ehh?!"


Merona wajah Juriah. Merah padam digoda Victor yang wajahnya juga merah jambu.


Tanpa sadar mata Victor tertuju pada dada Juriah yang sempat menempel lekat di dadanya barusan ketika terjatuh di trotoar.


Victor adalah seorang laki-laki yang juga suka berhubungan intim dengan perempuan ketika hasrat jiwanya berkembang dan libido hasratnya sedang meningkat tinggi.


Victor adalah seorang bis+ks+al.


Dia memiliki keinginan tinggi hidup bahagia bersama sesama pria, tapi juga sering main ranjang dengan perempuan bayaran yang ia yakini bersih dari bibit penyakit.


Melihat Juriah, hasratnya perlahan meningkat.


Sudah cukup lama juga Victor tidak bercinta dengan seorang perempuan. Sebulan lalu Ia melakukan hubungan terlarang dengan seorang pria yang sama seperti dirinya. Dan sebenarnya hubungan intim itu cukup menyakitkan namun mengingat rasa sayang tulusnya yang ingin disalurkan pada sesama jenisnya, Victor menahan semua rasa sakit itu hingga akhirnya yang ada hanyalah kepuasan di batin.


Victor menggandeng tangan Juriah.


Mereka berjalan bergandengan menuju Expandernya yang terparkir di basemen hotel.


"Mari kita pulang!" katanya pada Juriah.


"Pertemuannya?"


"Biar saja. Yang penting Aku sudah setor muka. Next time jika ada pertemuan lagi, bisa ikutan lagi."


Juriah menunduk. Ia merasa menyesal karena terlalu baper hingga menangis dan kabur melarikan diri ketika Arthur mencecarnya dengan tuduhan.


"Mas bule itu terlalu kasar menuduhku demikian. Aku, tidak seperti yang ia bilang juga. Sumpah demi Allah, aku datang ke Jakarta bukan untuk menghancurkan kehidupan Mbak Amelia yang sudah menemukan kebahagiaan dengan pasangan barunya. Aku hanya ingin mencari kebahagiaanku sendiri. Itu sebabnya Jakarta di mataku ibarat surga yang menggiurkan untuk kutaklukan. Tapi ternyata, bukan surga melainkan neraka."


Victor menggenggam tangan kanan Juriah dengan tangan kirinya sementara tangan kanan fokus memegang setir mobil.


"No, dia tidak kenal kamu secara benar. Dia hanya melihat sisi burukmu di masa lalu. Mari kita buktikan, kamu adalah orang baik!"


Juriah menoleh.


Tatapannya tajam kearah Victor yang mengulum senyum.


"Kamu takut?" tantang Victor membuat Juriah makin membatu.


"Intinya aku harus tetap disini, mas? Di kota Jakarta yang kejam dan bengis ini?" tanya Juriah dengan suara parau.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Karena tekanan Arthur mentalmu menjadi loyo, gitu? Kamu takut? Kamu ingin mundur dan pergi begitu saja karena hardikannya?"


Juriah mengangguk pelan, lalu menunduk.


Cekiiiitttt


Juriah tersentak. Victor menghentikan mobilnya tiba-tiba.


"Ma_mas?!?" pekik Juriah spontan.


"Kamu beneran mau pulang kampung setelah apa yang sudah kita lewati?" tanya Victor kaget mendapati jawaban Juriah.


Juriah diam. Tak berani buka suara.


"Kamu kena mental gara-gara ucapan di Arthur itu?"


"Dulu..., aku memang pernah buat kesalahan yang besar di hidupku. Dulu. Aku pernah bertingkah kejauhan dengan menikahi pria beristri hanya karena perjodohan orang tua kami yang diluar nalar. Hhh..."


"Itu dulu. Itu dulu, Putri!"


"Namaku Juriah, Mas! Siti Juriah. Meskipun mas sudah mengubahku menjadi Putri Fania, tapi nama asliku tetaplah Siti Juriah."


"Juriah..., jangan menyerah. Percayalah, setiap kesedihan pasti ada kebahagiaan. Aku, percaya kalau kau adalah perempuan yang baik. Hanya keadaan saja yang membuatmu melakukan hal seperti itu. Tebakanku tak salah bukan?"


Juriah tertunduk kian dalam. Butiran-butiran air matanya kembali bercucuran.


"Kalaupun dulu kamu adalah perempuan jahat, melihatmu menangis seperti ini aku yakin kamu merasa berdosa dan sangat menyesal. Aku yakin kamu ingin merubah nasibmu menjadi perempuan baik-baik. Iya kan? Aku tidak salah menilaimu, kan, Juriah?"


Malam itu, Juriah menceritakan semua kisahnya. Semuanya, tanpa ada yang tertinggal.


Kisah hidupnya yang panjang dan penuh drama. Dari soal keperawanannya yang direnggut paksa oleh pria biadab yang sampai saat ini tak bisa ia ingat.


Lalu dari dirinya yang dijodohkan dengan pria beristri bernama Solehudin.


Hingga cinta datang menyapa dan membuatnya memiliki keinginan untuk memonopoli suaminya seorang diri padahal seharusnya mereka berbagi.


Jodoh Amelia, istri pertama Soleh ternyata tak berlanjut. Mereka bercerai dan Juriah berhasil memiliki Soleh seutuhnya.


Sempat bahagia. Juriah menceritakan semuanya. Ternyata pondasi rumah tangga dan iman dirinya dengan sang suami tidaklah kokoh.


Satu persatu masalah berdatangan.


Satu persatu bencana serta musibah menghampiri kehidupan rumah tangga mereka yang dibangun diatas puing-puing penderitaan Amelia.


Keluarga Soleh, keluarga Juriah, semuanya seolah harus menerima karma dari perbuatan buruk yang pernah mereka lakukan.


Juga dirinya dan Soleh.


Penyakit kotor sempat menghinggapi. Harta benda dan warisan habis tak bersisa dipakai untuk berobat rutin demi kembalinya kesehatan Juriah serta Solehudin.


Hingga akhirnya Juriah menyerah.


Juriah menggugat cerai Soleh dan Soleh mempermudahnya.


Rumah tangga mereka hanya bertahan selama tiga tahun. Kemudian hancur berantakan tak bersisa tersapu badai.


Juriah mengakui kesalahannya di masa lalu.


Ia mengakui kalau apa yang Arthur tuduhkan memang benar adanya. Meskipun tak semuanya benar.


Juriah mengakui kejahatannya pada Soleh yang sudah cacat agar mencari uang dengan jalan instan. Yaitu dengan meminta-minta di bawah lampu merah perempatan jalan.

__ADS_1


Itu semua karena Juriah sudah lelah dengan keadaan. Kemiskinan membuat dirinya gelap mata hingga lebih memilih cerai dan merantau ke Ibukota daripada terus menerus bersama Soleh yang tak pernah lelah mengeluh sepanjang hidupnya.


Juriah ingin mencari kebahagiaannya sendiri.


Meskipun kini hidupnya sebatang kara karena kedua orang tua telah tiada, tapi Juriah yakin, selagi ia sehat dan mampu bekerja, ia akan bisa hidup dengan layak tak seperti ketika bersama Soleh.


Victor mendengarkan cerita panjang kisah hidup Juriah dengan penuh kekhusu'an.


"Oleh karena itu, apakah kamu masih semangat untuk mewujudkannya?"


Juriah mendongakkan wajahnya.


"Ingin, Mas. Tapi aku takut. Ibukota terlalu kejam ternyata menerima kedatanganku yang awalnya arogan. Kupikir ibukota bisa kutaklukan, nyatanya aku malah dibantai."


Victor mengusap air mata Juriah.


"Arthur menantangku barusan."


"Apa katanya mas bule?"


"Jika aku bisa merubahnya menjadi perempuan baik-baik, dia akan sangat mengapresiasi tindakanku. Mari kita buktikan! Kau dan aku, adalah manusia berakhlak baik."


Keduanya bertatapan lama.


Juriah mengangguk juga akhirnya.


Victor tertawa lega. Kini ia bisa buktikan pada Arthur kalau ia pun adalah orang baik. Tentunya dengan membuat Juriah menjadi perempuan baik-baik yang punya nilai baik di mata banyak orang.


"Dengar, Juriah! Aku akan membuatmu menjadi artis besar. Aku akan membangun attitudemu menjadi artis yang rendah hati, baik dan berbudi luhur. Mari kita bangun karakter itu. Maukah kamu mengikuti ajaranku?"


Juriah tersenyum manis.


Keduanya berpelukan dengan perasaan lega bercampur senang.



"Amelia"



"Lukmanul Hakim"



"Inayah"



"Arthur Handoko"



"Siti Juriah"



"Victor"



"Solehudin"

__ADS_1


(Mohon maaf jika visual tidak sesuai harapan 🙏🙏🙏)


BERSAMBUNG


__ADS_2