
"Aku, sudah menikah, Bianca! Jangan pernah mempermainkan perasaanku lagi!"
Arthur kembali berjalan. Kini kian mantap karena teringat pada wajah manis Inayah yang melayang di ingatan.
"Aku tahu itu. Aku... juga tahu kalau kamu sekarang sudah jadi seorang muslim." Bianca masih mencoba melakukan interaksi komunikasi dengan suara lantang meskipun Arthur telah berlalu dan pergi menghilang.
Arthur benar-benar gugup, gemetar dan deg-degan sesampainya di parkiran mobil hingga masuk mobil Fortuner nya.
"Gila! Bianca, kau benar-benar gila!!!" katanya menahan geram.
Arthur kembali teringat ucapan Bianca yang mengatakan kalau Arthur kecil adalah darah dagingnya.
Apakah itu benar? Apa iya sp+rmaku sebagus itu hingga berhasil menjadikan anak yang Bianca kandung empat tahun lalu ketika kami pacaran diam-diam?
Otak Arthur serasa mau pecah.
Treeet treeet treeet
Ponselnya berdering. Inayah My sweet wife memanggil.
"Hallo, ya Nay? Ada apa?"
...[Mas, motorku pecah ban di kampus. Aku ada di bengkel, tolong...]...
"Bengkel mana? Share loc aja. Mas akan menjemputmu!"
...[Mas masih di kantor?]...
"Sudah keluar kantor. Kita makan siang bareng sekalian. Udah lama kita gak pergi berduaan."
...[Iya. Kukirimi alamat bengkelnya. Hati-hati di jalan ya, Mas?!]...
"Iya, Sayang!"
Klik.
Arthur termangu. Kata 'Sayang' di akhir teleponnya seolah menjadi penutup yang ingin Ia sematkan agar Inayah tidak bisa merasakan kegundahan hatinya karena bertemu Bianca lagi.
Bianca, pacar pertamanya. Juga pacar terlarangnya empat tahun lalu.
Arthur menggaruk-garuk kepalanya yang runyam.
Ia menyalakan mesin mobil. Kemudian melaju perlahan keluar dari basemen gedung wisma tempat kantor Production house nya berpusat.
Semua seperti mimpi.
Masa muda, masa remaja, masa dewasa. Semua berputar bagaikan kilas balik film dokumenter biografi dirinya.
Kesedihan-kesedihan, kisah cintanya yang tragis dengan dirinya yang selalu dilecehkan para wanita yang hanya inginkan kenikmatan sesaat saja tanpa melihat perasaan terdalamnya.
Dan kini, disaat dirinya telah menemukan jati diri. Perlahan ingin mengubah hidup sedih menjadi bahagia, ada lagi masalah yang datang tanpa pernah Ia prediksi.
Bahkan kali ini, Bianca datang dengan kabar yang sangat mengejutkan hati.
Yang sama sekali tidak Arthur bayangkan. Dirinya..., bisa memproduksi anak sendiri.
Inayah tersenyum menatap Arthur yang keluar dari mobil.
__ADS_1
"Lama menunggu, ya?"
Inayah menggeleng cepat.
"Baru lima belas menit yang lalu. Hehehe..."
Arthur langsung menuju tempat kasir bengkel. Menanyakan basa-basi tentang kondisi motor sang istri yang sedang di servis.
Kesepakatan telah dicapai. Arthur mengangguk seraya tersenyum lalu ucapkan terima kasih kepada kasir bengkel yang tersenyum lebar.
"Yuk?!"
Arthur menggenggam erat jemari Inayah dan menuntunnya sampai pintu mobil.
Arthur begitu manis membukakan pintu mobil untuk Inayah yang merah merona wajahnya saking bahagianya. Inayah masuk mobil dengan jantung berdebar kencang.
"Masih ada kelas hari ini?"
"Sudah selesai Mas. Mas sendiri? Habis makan balik lagi kantor?" Inayah bertanya balik.
Arthur merenung sejenak.
"Masih harus edit sana-sini, Nay!"
"Sibuk ya?"
"Ga terlalu juga sebenarnya. Hehehe... Oiya, kita makan ayam geprek di rumah sakit yok?"
"Hah?!? Makan ayam geprek di rumah sakit?"
"Sambil mengenang awal percintaan kita. Hehehe..."
Tapi ada kesedihan terselip di hati. Mengingat Mia, Emaknya yang tidak lagi bersama dirinya padahal mereka telah menikah.
Arthur bisa membaca isi hati Inayah.
Genggaman hangat Arthur menjadi penyemangat Inayah.
Arthur dan Inayah tertawa lepas. Pelayan rumah makan itu ternyata masih mengingat mereka yang makan nasi tambahan sepiring berdua beberapa bulan yang lalu.
"Sekarang, kami adalah pasangan di istri, Mbak!" kata Arthur memberitahu sampai Mbak pelayan membelalak tak percaya.
"Yang bener?!?"
"Iya. Beneran, Mbak. Hehehe..."
"Ya Allah... Hahaha..., beneran berjodoh ternyata ya? Hahaha... selamat ya Mas, Mbak. Selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia dan rukun selalu. Hehehe... Saya turut senang. Beneran senang karena kalian bisa bersama-sama setelah makan bersama menu ayam geprek rumah makan kami."
Bahkan owner-nya yang kebetulan hari itu ada di rumah makan, ikutan mengucapkan selamat dan memberikan menu spesial sebagai tambahan kepada Arthur dan Inayah.
Seketika suasana menjadi riuh ramai sampai memancing pelanggan lebih banyak makan di rumah makan itu karena penasaran ramai orang.
Inayah dan Arthur benar-benar pembawa rezeki rumah makan itu hari ini.
Seketika suasana ramai, pembeli antre sampai luar.
Arthur dan Inayah turut bahagia.
__ADS_1
Arthur memberikan sebuah amplop berisi uang lima ratus ribu rupiah kepada pelayan rumah makan yang pernah menjadi saksi kisahnya dengan Inayah makan bersama nasi tambahan sepiring berdua.
"Hihihi... hihihi ya Allah, lucunya kalo Nay ingat masa itu ya, Mas?!"
"Hehehe... kamu emang gemesin waktu itu. Beneran bikin jantungku dag dig dug. Takut-takut gimana gitu. Asal kamu tahu, Nay... seumur-umur aku baru ngalamin hati retak-retak kayak waktu itu. Takut kamu marah, takut kamu nolak aku terus."
"Mas beneran cinta Aku?"
"Ya Allah, Nay... koq pertanyaannya gitu?"
"Dulu aku percaya Mas cinta Aku. Tapi sekarang,..."
Deg.
"Kenapa, Nay?"
"Mas belum pernah... jamah Aku."
Inayah kaget dengan jawabannya sendiri. Bisa-bisanya ia mengeluarkan unek-unek yang dipendam selama ini.
"Aku..., justru takut kamu yang nolak. Aku tidak siap ditolak. Jadi Aku menunggu momen yang tepat."
Deg deg deg deg
Kini hati mereka sama-sama berdebar kencang. Bahkan suara jantungnya seolah bisa terdengar telinga mereka masing-masing.
"Aku... bersedia menikah dengan Mas, karena... aku memang mau. Aku, menerima cintanya Mas, bukan karena bujukan Emak juga. Tapi..., melihat Mas Arthur yang seolah menjauh, membuatku jadi ragu dan takut. Mas cinta aku hanya karena Emak."
"Enggak! Aku cinta kamu. Aku sungguh jatuh cinta sama kamu. Kepergian Emak yang tiba-tiba, kesibukan keluarga mengurus acara pemakaman, tahlilan dan semuanya membuat aku menahan diri, Nay. Aku hanya menunggu momen itu saja. Waktu yang tepat yang pas buat kamu menikmati hadirnya diriku sebagai suamimu."
Inayah merangkul Arthur erat.
Tangisnya pecah di dada bidang Arthur Handoko.
"Mas jangan bikin Inayah takut. Hanya Mas yang jadi harapan Inayah setelah Allah pastinya. Mas... hik hiks hiks..."
"Maaf, Inayah. Mas kurang peka. Mas justru takut kehilanganmu kalau terlalu memaksakan kehendak. Pernikahan kita juga secepat kilat. Memang ada permintaan Mak, tapi aku juga menginginkan sekali dirimu. Aku bahagia bisa menikahimu. Mendapatkan gadis muda, cantik, pintar dan melihatku berbeda dari perempuan yang lain di luar sana. Aku ingin kita menikah selamanya. Tak ada perceraian, tapi seandainya kamu menginginkan kebahagiaan dan ingin bercerai dariku karena pemikiranku yang tumpul pendek, aku rela demi kamu bahagia."
"Apa sih ish, ngomongnya!"
Bug bug bug
Inayah memukul bahu Arthur pelan bertubi-tubi tapi dengan tenaga yang lemah.
Air matanya tumpah sedangkan suaminya tertawa menyeringai. Bahagia hatinya, hangat terasa di jiwa, meruntuhkan tembok es tebal yang selama ini menjadi penghalang cinta kasih mereka berdua.
Arthur memeluk erat tubuh Inayah.
Mencium bibir Inayah dengan penuh penghayatan.
"Pulang yuk?" bisiknya ingin mendapatkan sesuatu yang berharga dari Inayah.
Sontak merah jambu wajah Inayah. Tapi mengangguk cepat.
Ia tak mau Arthur salah faham lagi.
Rumah tangga mereka sudah sebulan berjalan, tapi belum juga menikmati madunya pernikahan.
__ADS_1
Arthur inginkan itu kini, dan Inayah sudah mengerti dan siap memberi.
BERSAMBUNG