
Juriah langsung jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit tanpa sempat melihat prosesi pemakaman sang Ayah.
Dunia terasa kelam.
Umi dan Abinya telah tiada. Pergi dengan kisah yang pedih menyakitkan. Tinggalkan dirinya sendirian di dunia yang kejam ini.
Juriah juga masih harus bolak-balik kontrol ke rumah sakit.
Juriah benar-benar drop jiwa raganya.
Untungnya Soleh telah berubah perlahan. Kasihan juga Ia melihat Juriah yang kini sebatang kara. Soleh lah yang harus mengurus Juriah karena memang itu kini adalah tanggung jawabnya.
"Ju... Yang tegar, yang kuat! Jangan terus-terusan menyiksa dirimu dengan penyesalan ini. Ayo kita bangkit. Kita bisa bangkit lagi. Masih panjang perjalanan. Kita doakan saja orangtua kita semoga Allah ampuni segala dosanya. Moga Allah menempatkan mereka di tempat yang indah."
"Hik hiks..., Mas!"
"Masih banyak yang harus kita lakukan, Sayang!"
Juriah akhirnya mengangguk. Ia ingin hidup dengan tenang dan damai.
Kematian kedua orang tuanya adalah takdir Allah yang harus dijalani.
Meskipun Ia menangis darah mengiba kepada Allah SWT, semua tak akan berubah.
Uminya tidak akan hidup lagi.
Abinya pun begitu.
Juriah berusaha menerima kenyataan ini sebagai takdir buruk dan akan Ia kembalikan kepada Si Pemilik Kehidupan.
Ojan tidak ditahlilkan karena kondisi anak menantunya yang tidak stabil.
Tetapi Juriah dan Soleh mengadakan sodakoh jariah ke beberapa masjid atas nama Ojan juga Samsiah.
Setidaknya, ada sedikit amalan yang anak menantunya lakukan untuk meringankan langkah Ojan serta Samsiah ke alam baka.
..............
Treeet treeet treeet
Ponsel Juriah terus berdering.
"Bu'Le Tika? Ada apa ya?"
Juriah langsung mengangkat telpon dari istri sepupu almarhum Ojan yang kini bekerja lagi di rumah Ojan atas permintaan Juriah.
...[Ju! Juuu hik hiks... Juriah!]...
"A_ada apa Bu'Le?"
...[Rumah! Rumah, Juuu!!! Hik hik hiks... Rumah kebakaran!]...
"Apa???"
Sontak Juriah menjerit.
"Maaasss! Mas Soleeeeh!!!"
Juriah turun dari lantai dua rukonya. Berlarian ke bawah menuju toko onderdil dan bengkel yang menyatu.
"Ada apa?" tanya Soleh tanpa menolehkan wajah dari nota bon yang sedang dihitungnya.
"Rumah Abi! Rumah Abi kebakaran!!!"
"Hah?!?"
__ADS_1
"Ayo, ayo cepat sebelum semua benar-benar hangus!"
Soleh yang sudah mulai belajar mengendarai motor maticnya pun mengambil kuncinya dan bergegas mengikuti langkah Sang istri.
"Ayo ayo cepat!"
"Sabar dulu! Tenang!"
"Rumah orangtuaku kebakaran, Mas, gimana bisa Aku disuruh tenang?" sentak Juriah pada Soleh yang berjalan berjinjit dibantu kruk penyangga.
Juriah baru tersadar, suaminya kini tidak seperti yang dulu lagi.
Soleh harus berjalan pelan-pelan. Tidak bisa cepat apalagi berlari.
Jatuh berderai air mata di pipi.
Ada sebuah penyesalan karena pernah menjadi perempuan perebut laki orang hingga nasibnya jadi seperti ini.
Ingatannya melayang mengingat Amelia, mantan istri Solehudin suaminya.
Soleh menggandeng Juriah. Kini Ia bersiap untuk membawa sepeda motor matic yang ringan hingga masih bisa menahan dengan satu kaki menopang jika kendaraan macet atau berada di lampu merah.
"Ayo!"
Juriah menurut.
Ia duduk di jok belakang.
Tubuhnya Ia sandarkan di punggung Soleh.
"Sayang, jangan seperti itu. Aku tidak segagah tiga bulan yang lalu. Kalau sekarang kamu menggelendot begitu, Aku tidak kuat menopang dan kita kemungkinan besar bisa jatuh hingga terjadi kecelakaan."
Juriah langsung menegakkan badannya.
Soleh hanya menelan salivanya.
Jahatnya Soleh.
Meskipun tubuhnya sudah tak sempurna karena hanya berkaki satu, tetapi fikiran m3sumnya masih saja ada di kepala.
Bahkan masih terdengar kekecewaan batinnya melihat Juriah yang sekarang.
Benar-benar karakter yang sudah berakar di otak dan hati yang kotor.
Rumah Ojan hangus dilahap si jago merah. Benar-benar habis tak bersisa.
Bahkan rumah tetangga kiri kanan ikut terbakar beberapa. Membuat Juriah terduduk lemas di depan trotoar jalan.
Soleh hanya mematung termangu.
Hatinya juga tak berani berkata-kata.
Kekayaan dan kejayaan Ojan Samsiah musnah dalam waktu sekejap saja.
Padahal semua itu dibangun dengan tetesan air mata yang banyak dan juga masa yang tak terhingga.
Dan juga, korban-korban tumbal yang tak terhitung berapa jumlahnya. Soleh merinding membayangkan itu semua.
Begitulah.
Pendapat harta tidak dibawa mati, ada juga benarnya. Terlebih jika harta itu didapat dengan cara yang tidak baik. Selain kemurkaan Allah yang didapat, juga tak ada keberkahan didalamnya. Sehingga dengan cepat pula harta itu musnah jika Allah sudah Berkehendak.
Juriah kembali pingsan.
Soleh langsung membawa Sang istri ke rumah sakit tempat biasa Juriah berobat dengan bantuan Le Giman dan istrinya.
__ADS_1
Dokter mengatakan kalau kondisi rahim Juriah terkena infeksi yang sudah parah.
Jalan terbaik adalah pengangkatan rahim untuk menyelamatkan nyawa Juriah.
Soleh akhirnya terpaksa menandatangani kontrak operasi pengangkatan rahim Juriah agar terbebas dari penyakit terkutuk itu tanpa Juriah tahu.
Soleh merenung di depan ruangan operasi.
Pupus sudah harapannya bisa memiliki keturunan dengan Juriah.
Kekecewaan harus Ia telan bulat-bulat.
"Keluarga pasien Ibu Siti Juriah!"
"Iya, Dok? Saya suaminya!"
"Pasien kekurangan darah. Stok darah golongan Ibu Juriah sedang kosong di sini. Tolong carikan donor darah minimal dua orang!"
"Saya saja!" ujar Giman.
"Saya juga sepertinya memiliki golongan darah yang sama dengan istri saya!" sela Soleh juga.
"Silahkan ke tempat pendonoran darah, untuk diperiksa dahulu kelayakannya."
"Baik, Dok!"
Melalui pemeriksaan HB dan golongan darah apakah sesuai dengan darah yang dibutuhkan pasien, Giman bisa jadi pendonor tetapi Soleh,...
"Maaf, Pak! Bapak tidak bisa!"
"Kenapa, suster?"
"Bapak terdeteksi memiliki virus HIV dan sebaiknya bapak segera ke lab untuk pemeriksaan total lebih lanjut."
"Lha? Koq? Saya tidak sakit, Suster!"
"Justru kami menemukan virus itu di sel darah Bapak. Untuk kebaikan Bapak sendiri, lebih baik diobati dari sekarang sebelum penyakit ini menyerang jauh lebih ganas lagi."
"Sebentar, virus HIV? Maksudnya?"
"Virus HIV AIDS, Pak!"
"APA???"
Soleh melotot kaget.
Bagaimana mungkin dia bisa mengidap penyakit yang menyeramkan itu? Fikirannya melayang jauh tinggi.
"Kenapa saya bisa terkena penyakit mengerikan itu?" pekik Soleh panik.
"Virus HIV AIDS bisa menular lewat cairan tubuh termasuk cairan darah, air m4n+, jarum suntik yang dipakai bergantian, air susu ibu yang terinfeksi virus HIV. Dan yang paling banyak adalah melakukan hubungan dengan berganti pasangan, terutama jajan diluaran. Dan ternyata memiliki penyakit kel4min hingga bisa menularkan virus itu seketika."
"Ja_jajan diluaran? Perempuan berpenyakit kel4min?"
Pucat pias wajah Soleh.
Teringat pada wanita yang tak di kenalnya yang Ia bayar dengan harga sepuluh juta ketika hendak menjemput jenazah Samsiah di kota Cikarang.
"Siallan!" makinya pelan.
Lemas lunglai lututnya yang hanya satu itu.
Air matanya benar-benar tak bisa dibendung lagi.
Soleh mulai merasa dirinya adalah makhluk yang sangat dibenci Tuhan, hingga mendapatkan ujian cobaan sedahsyat ini tanpa sadar dan merasa bersalah betapa tingkahnya lah yang membuat dirinya jadi begini.
__ADS_1
BERSAMBUNG