
Perjalanan panjang, namun teramat indah bagi Samsiah.
Berduaan saja dengan pria yang usianya jauh lebih muda. Bahkan masing-masing memiliki pasangan. Tetapi Samsiah tidak mempedulikan pandangan orang.
Baginya dunia terasa milik berdua. Yang lain mengontrak entah terlihat ataupun tidak. Samsiah hanya ingin kebahagiaan dirinya sendiri.
Berjalan masuk pasar Beringharjo Yogyakarta dengan tangan menggandeng mesra Tito. Bahkan kian lekat dengan saling melingkarkan tangan di bahu masing-masing. Sehingga banyak mata yang bisa menerka sendiri hubungan antara dua anak manusia beda generasi itu.
Tak sadar kalau ada sepasang mata milik seseorang memperhatikan lebih intens lagi sedari tadi.
Mata itu adalah matanya Kan'an, ayahandanya Amelia yang sedang diajak Boss kopi mengirim barang ke Jogja.
Kan'an mengenali Tito yang tak lain dan tak bukan adalah adik iparnya Soleh.
Tentu saja pemandangan itu membuat Kan'an jadi bingung. Hingga akhirnya Ia memutuskan untuk mendatangi Tito demi mengingatkan akan anak dan istrinya.
"Tito?"
"Cak Anan?"
Tito terkejut. Ia yang juga lebih mengenal Bapaknya Amel dengan panggilan Cak Anan tentu saja langsung melepaskan pelukan Samsiah yang menempel erat di tubuhnya.
Samsiah yang tidak mengenal Kan'an menyangka pria yang menyapa berondongnya itu adalah Bapak kandung Tito. Wajahnya juga pucat pasi sembari berusaha mencium punggung tangan Kan'an sama seperti yang Tito lakukan.
"Si_siapa ini?" tanya Kan'an pelan tapi penuh rasa penasaran.
"Ini... Boss saya, Cak!"
"Boss?"
"Iya. Ma_maaf... Saya, saya tidak tahu apa-apa tentang perceraian Mbak Amel dan Bang Soleh!" Tito salah faham. Ia takut dan gugup karena Kan'an seolah sedang menyelidiki kisah usainya rumah tangga Amel Soleh.
"Perceraian Amel Soleh?"
Tentu saja Kan'an terkejut setengah mati.
Bola matanya membulat dan...
"Saya, adalah Ibu mertuanya Solehudin yang baru."
Anehnya Samsiah juga turut serta memperkenalkan diri dengan sangat sopan pada Kan'an. Ia fikir Cak Anan adalah guru Tito karena terlihat pria berondongnya itu sangat santun kepadanya.
"Astaghfirullah..., bagaimana bisa?"
Kan'an kian kaget.
"Cak...! Lebih baik Cak tanyakan sendiri kepada Bang Soleh tentang apa yang telah terjadi."
"Dimana dia?"
__ADS_1
"Di bengkel paling besar di jalan raya Asamka kota Pleret. Bang Soleh bisa Cak temui di sana."
"Apa? Bukankah Amelia dan Solehudin kembali ke Ibukota?"
"Iya, memang. Tapi Bang Soleh hanya mengambil barang-barangnya saja dan pindah di Asamka bersama Mbak Juriah istri mudanya. Dan beliau ini, Uminya Mbak Juriah."
"Maaf..., Cak ini siapa ya?" Samsiah menyela obrolan serius antara Tito dengan Kan'an.
"Saya Bapaknya Amelia!"
"Ooo... Saya kira..., dengar Pak! Soleh bukan lagi suaminya putri Bapak. Dia adalah menantu saya sekarang. Dan rumah tangga mereka sudah berjalan selama lima bulan. Apa Bapak tidak tahu? Apa Putri Bapak tidak terbuka menceritakan perceraiannya sendiri? Ternyata, seperti itu. Pantas saja kalau Solehudin tidak menganggap Anda Bapak mertua yang baik. Hm. Akhirnya saya,"
"Stop! Jangan mengomentari putri saya karena pastinya Ibu tidak mengenal Amelia lebih dekat! Dan apa hubungan kalian berdua yang jalan sambil berangkulan di tengah jalan? Pasangan suami istri yang sedang bulan madu? Atau... hhh! Astaghfirullahal'adziiim. Maaf, saya jadi terpancing mengomentari Anda dan pemuda yang saya kenal ini adalah suami dari adiknya Solehudin. Apa saya yang salah berada di dunia lain? Atau..."
"Cak..., maaf."
"Buat apa kamu minta maaf pada orang tua sombong ini? Bukan urusannya juga ikut campur urusan hubungan kita. Seharusnya kamu tidak perlu terlalu sopan pada orang tua yang angkuh ini. Pantas saja, putrinya angkuh. Ternyata bapaknya juga sombong! Ayo Tito! Urusan kita masih banyak. Jangan pedulikan omongan orang yang sok suci ini! Dia pikir siapa, berani menilai kita! Cuih!"
Samsiah bahkan sampai meludah di lantai pasar. Jemarinya yang berkuku panjang dan lentik serta dikutek berwarna merah mencolok itu segera menarik Tito masuk pasar Beringharjo.
Kan'an mengusap raut wajahnya terus beristighfar melihat kegilaan manusia-manusia jaman sekarang.
Sementara Samsiah yang kesal dengan teguran Kan'an diam-diam melantunkan buhulnya dalam hati. Memberikan roh Kan'an sebagai persembahan makhluk astral peliharaannya.
"Siapa nama orang tua gila itu?"
"Cak Kan'an. Tapi saya lebih sering memanggilnya Cak Anan, Bu!"
Tito hanya bisa menelan salivanya.
Pikirannya kacau. Ia mulai menerka bakalan ada kabar berita yang menggemparkan sebentar lagi.
Entah Kan'an yang akan datang melabrak Soleh, atau Lani yang tahu hubungan istimewanya dengan Mertua abangnya itu.
Tito mend+sah beberapa kali.
Helaan nafas yang panjang tak mampu membuat gundah dihatinya hilang.
...............
Kan'an yang tak habis fikir karena melihat sendiri kelakuan Tito dengan ibu mertuanya Soleh yang baru berkali-kali menepuk dahi.
Ia bingung, sedih sekaligus tak percaya. Tetapi semuanya dilihat dan didengar sendiri oleh mata serta telinganya.
Tito menceritakan kalau Amelia dan Solehudin telah bercerai. Soleh justru sudah menikah lagi selama lima bulan.
"Kapan terakhir kali anakku pulang? Bukankah itu baru empat bulan yang lalu? Apakah ketika Amel pulang justru Soleh telah menikah lagi? Dan..., Aku baru ingat! Soleh datang ke rumahku saat itu dengan membawa motor gede bagus. Ia bilang kalau Ia mendapatkannya dari Boss barunya. Apakah istrinya itu lah Boss barunya?"
Kan'an bergelut dengan banyak pertanyaan seorang diri. Bergumam pada dirinya sendiri. Sampai,
__ADS_1
Tiiinnnnnn
Cekiiiit...
Gubrak.
Kan'an jatuh terpental karena kurangnya fokus kala melintasi jalan raya.
Suasana ramai seketika.
Kan'an kecelakaan di tabrak sebuah mobil truk pengangkut batu belahan. Dan...
"Hegh hegh hegh..."
Dasar segar mengucur deras dari kepala, mulut dan hidung pria paruh baya itu.
Matanya berkedip beberapa kali.
"Aduhh!"
"Mbak Amel? Hati-hati! Duh, jarinya tersayat pisau cukup dalam! Cepat cuci pakai air hangat!" pekik Tasya yang terkejut melihat tangan Amelia teriris pisau yang sedang mengiris bawang.
Amelia merasa jantungnya tiba-tiba berdebar.
Ia merasa sesuatu yang tidak enak dihati, tapi tidak tahu ada apa.
Amelia berusaha tenang setelah membersihkan luka sayatan pisaunya dengan plester tangan.
Masakannya kali ini juga amburadul. Nasinya bahkan benyek padahal Amelia bukan lagi juru masak amatiran.
Bahkan Tasya sampai mengulang memasak nasi yang baru karena tidak ingin dikomplain pelanggan katering mereka. Tapi, hasilnya masih benyek juga.
Dan ini adalah yang pertama kali setelah hampir dua bulan Amelia menjalani usaha katering.
"Mungkin berasnya terkontaminasi bakteri ya?" terka Tasya bingung juga.
Tetapi nasi masakan Tasya masih agak mending sehingga mereka memutuskan untuk mengemasnya karena sudah mendekati jam makan siang.
Treeet treeet treeet
Treeet treeet treeet
Ponsel Amelia berdering.
"Tia? Hallo? Assalamualaikum. Ya Tia, ada apa? Aduh sebentar, Ayu' sedang membungkus nasi untuk konveksi nih! Agak sibuk karena sedikit masalah. Hahh? Apa???"
Amelia bengong. Handphonenya terlepas dari tangan.
"Bapak!" gumamnya dengan mata melotot dan mulai beriak penuh pecahan kaca duka lara.
__ADS_1
Siang itu pukul sebelas, Kan'an dikabarkan meninggal dunia karena tertabrak mobil di kota Jogjakarta.
BERSAMBUNG