Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 192 Akhir Yang Bahagia 4


__ADS_3

"Suster,"


"Iya, DenPu?"


"Bunda hamil?"


"Hehehe, iya. DenPu akan punya adik kecil tujuh bulan lagi."


"Kalau Bunda dan Papa punya adik kecil, nanti mereka tidak sayang Pupu lagi?"


"Hehehe... rasa sayangnya pasti akan terbagi. Kan adik bayi lebih butuh perhatian karena masih sangat kecil dan hanya bisa menangis kalau mau apa-apa. Pupu kan sudah besar. Pupu bisa minta bantuan suster Arini."


Pupu terdiam.


Sejak saat itu, bocah imut itu jadi jauh lebih pendiam.


Inayah begitu antusias hingga lupa memberikan penjelasan pada anak sambungnya yang baru berumur lima tahun itu.


Fokusnya kini adalah menchat Arthur yang masih berada di benua lain karena pekerjaannya.


...Sayang, kapan kamu pulang?...


Arthur yang membaca chat kiriman istrinya itu tersenyum simpul.


...Knp Yang? Ada apa? Apa ada masalah?...


...Ga. Aku cuma kangen aja (emoji tertawa)...


Arthur tersenyum lebar.


...Tumben kamu kangen aku Yang. Biasanya yang selalu bilang begitu AKU setiap kali jauh dari kamu. Dan kamu akan jawab, ALAHH LEBAY....


Inayah membalasnya dengan emoji tertawa terbahak-bahak sampai lima emoji.


...Memangnya aku ga boleh kangen y?...


...Tentu saja boleh. Coz aku juga rindu sekali padamu....


...Hanya sekali?...


...Hahaha apa sih, ga faham...


...Iya kamu bilang rindu sekali. Kenapa hanya sekali. Harusnya rindu berkali-kali...


...Hahaha... duuhh gemez. Pingin unyel-unyel kamu jadinya...


...Cepetan pulang makanya...


...Aku udah beli tiket pesawat untuk besok malam. Kangen kamu tapi skrg aku lg rapat ga bisa telpon. Ini pun Boss besar tengok aku terus ketik2 hape terus...


...Ya udah, aku mau pergi ke minimarket dulu ya Yang! Mau ajak Pupu beli jajanan....


...Ok. Have fun y. Love you my sweet wife...


...Luv U to Suamiku Sayang...


Inayah tersenyum lebar.


Chattan mereka terlihat lebay. Memang iya, tapi dia sangat suka chamistry yang seperti ini. Ada manis-manisnya.


Pupu tadi pulang sekolah Inay jemput dan diajak turut ke rumah sakit. Pulang dari rumah sakit bocah itu pamit masuk kamar mau istirahat tidur siang katanya.


Tok tok tok


"Assalamualaikum, Pupu Sayang! Masih tidur kah? Bunda masuk ya?"

__ADS_1


Kreeek


Inayah membuka pintu kamar Pupu yang tidak dikunci.


Kosong.


Ranjang tidur Pupu masih tertata rapi pertanda bocah imut itu tidak tidur di situ.


"Suuus, Sus Ariniii..."


"Ya, Buu..."


Suster Arini tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.


"Pupu mana?" tanya Inayah.


"Lho? Kan tadi masuk kamar?"


Inayah bingung. Arini balik bertanya.


"Coba lihat di teras. Biasanya dia duduk tunggu tukang es cincau lewat!"


"Baik, Bu!"


Inayah merasakan jantungnya berdebar. Ini pertama kalinya Pupu keluar rumah tanpa izin darinya.


Ia mencoba memeriksa setiap sudut kamar anak itu, berharap ada dia di sana. Tapi tidak ada.


"Bu,... DenPu ga ada!"


Sontak kedua perempuan beda umur itu saling bertatapan dengan wajah pucat tegang.


"Pupuu!!!"


"Pupuuu..."


Hasilnya nihil.


Putra Arthur Pangestu tidak ada. Entah pergi kemana.


"Cari semua kamar mandi!" pekik Inayah menyuruh Arini.


Mereka kembali sibuk mencari Pupu.


Namun tetap tidak ada.


"Pupu!!! Apa..., Pupu sedih karena Bu Inayah akan punya adik bayi?"


Sontak mereka saling berpandangan.


"Itu kan masih lama!"


"Tadi di jalan Pupu nanya apa kalau nanti Bunda punya adik bayi akan tidak sayang dia lagi. Terus saya jawab, sayangnya pasti akan terbagi. Adik bayi belum bisa apa-apa kecuali hanya bisa menangis."


"Kenapa Suster Arini tidak menghibur Pupu dan jawab Bunda Papa pasti tetap sayang dia!" sentak Inay dengan wajah merah padam karena kesal.


"Pupuuu...! Pupuuu...! Cepat semuanya, cari Pupu! Pupu harus ketemu sebelum Mas Arthur pulang!"


Semua bergerak mencari Putra Arthur Pangestu.


Inayah hanya bisa menitikkan air mata. Sedih karena putranya pergi dari rumah tanpa bilang.


"Pupuu, kamu kemana, Sayang!"


Inayah meminta bantuan Rama, Alif, Tia dan juga Gaga.

__ADS_1


Hanya Amelia dan Lukman yang tidak ia beritahu karena kakak tertuanya itu sedang sibuk mengurus dua anak kembarnya yang sudah satu tahun setengah dan sedang aktif-aktifnya.


Semua sibuk mencari Pupu.


Suster Arini yang merasa bersalah bahkan sampai terus menangis menyesali ucapannya pada Pupu yang tidak terpikirkan akan jadi begini.


Sementara Arthur masih sibuk dengan pekerjaannya.


Di tempat lain, Amelia dan Lukman pergi ke mall untuk membeli kebutuhan si kembar Adam dan Hawa.


Pasangan suami istri itu terlihat bahagia meskipun kini super sibuk mengurus dua buah hati mereka.


"Dasar! Kerja yang benar. Kamu harus fokus menghafal kode dan nomor seluruh custom barang yang dijual di butik ini. Karena jika sampai salah tulis, semuanya jadi kalau balau. Pelanggan juga jadi kesal kalau cuma untuk urusan tulis resi sampai lama apalagi salah!"


Seorang supervisor butik terlihat memaki sales promotion girl yang sepertinya membuat kesalahan.


Amelia yang melihat itu hanya bisa menarik nafas panjang. Turut prihatin dalam hati.


"Kenapa, Sayang?" tanya Lukman yang ternyata diam-diam memperhatikan perubahan raut wajah istrinya yang sedang mendorong stroller dengan Hawa tertidur lelap di sana.


"Eh? Hehehe..., enggak Mas. Aku cuma merasa empati aja. Berasa aku yang jadi SPG itu deh. Dimaki karena kesalahannya memang hal yang wajar. Tapi dimaki di ruang umum, rasanya menyedihkan juga."


Lukman mengelus lembut bahu Amelia.


Ia faham betul kalau istrinya itu berhati super lembut meskipun kini mereka telah naik derajat.


Lukman termangu menatap Amelia yang seperti kaget melihat siapa sales promotion girl yang kena omelan itu.


"Ju_riah? Siti Juriah?"


"Kamu kenal dia?"


"Itu kan, istri mudanya mas Soleh!" gumam Amelia dengan suara bergetar.


"Oh. Yok kita balik arah. Jangan sampai kita papasan!"


Lukman segera mengambil alih stroller Hawa yang barusan di dorong Amel. Adam yang ada digendongannya diberikan kepada Amelia yang masih termangu bengong.


"Sayang..."


"Ah, ya Mas. Maaf..."


Lukman tidak ingin membuat Amelia teringat masa lalunya yang pahit. Ia mencoba mengalihkan perhatian dan fikiran Amel dengan mengajaknya makan dahulu di sebuah kedai food court.


"Amel..., jangan berfikir tentang masa lalu. Aku ga suka kamu jadi sedih kalau mengingat itu. Ada aku, juga dua anak kembar kita. Itu seharusnya membuatmu bersyukur dan melupakan semua yang pernah terjadi pada hidupmu di masa lalu."


"Iya, Mas. Aku cuma, cuma kaget. Mereka menjalani hidup dengan keras juga."


"Mereka sudah bukan urusanmu lagi. Tidak boleh kamu pikirkan mereka lagi. Aku tak suka itu, Sayang!"


"Maaf... Maaf ya Mas!"


Amelia meraih jemari Lukman. Menggenggamnya erat agar tersalurkan hawa hangatnya ke tangan Amelia.


"Aku..., masih cukup trauma jika melihat mereka." Kata Amel jujur pada suaminya.


Lukman menggenggam erat tangan Amel.


"Kamu adalah milikku sekarang. Istriku tercinta dan bukan lagi siapa-siapa mereka. Aku akan usahakan untukmu agar tidak bertemu dengan mereka lagi. Dan jika ternyata, pertemuan itu adalah takdir yang Tuhan beri, hadapilah dengan hati tenang. Mereka tidak akan bisa menyakitimu lagi. Karena kalau sampai itu terjadi, akulah yang akan melawan mereka."


"Terima kasih, Mas..."


Amelia tersenyum dengan bola mata beriak.


Ia bahagia, sangat bahagia. Dirinya bisa menjadi istri dari Lukmanul Hakim, dan merubah nasibnya menjadi wanita yang jauh lebih dihormati keluarga.

__ADS_1


Hidupnya telah berubah. Begitu pula hidup Soleh juga Juriah.


BERSAMBUNG


__ADS_2