Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 13 Soleh Telah Pulang


__ADS_3

Apa pendapat kamu soal poligami?


^^^[Aku tidak membenci, juga tidak pro juga pada para penganutnya]^^^


Bagaimana kalau seandainya kamu justru jadi salah satu diantaranya?


^^^[Menjadi salah satu bagian dari penganut poligami?]^^^


Ya.


Cukup lama Soleh menunggu jawaban Juriah.


Hatinya agak dag-dig-dug juga. Karena pertanyaannya lumayan menguras emosi juga.


^^^[Aku hanya bisa pasrah pada Ketetapan Allah Ta'ala. Mungkin sudah nasib dan takdirku seperti itu]^^^


Hampir saja Soleh bersorak kegirangan. Juriah ternyata begitu dewasa dan diplomasi menjawab pertanyaannya.


Seketika Ia merasa bersalah pada Amelia yang wajahnya tiba-tiba terbayang di pelupuk mata.



Amel... Maafkan Abang! Telah mencoba bermain hati. Maaf...



Juriah cantik. Muda dan berkulit kuning langsat.


Meskipun wajahnya terlihat jutek dan garang, tetapi senyumnya manis. Sekilas bahkan senyumnya mirip senyum Amelia.


Soleh mulai membanding-bandingkan Juriah dengan Amelia. Hingga tangan kanannya segera mengetuk dahi sendiri dengan sebal.


...[Tanya dulu istri mas. Aku tidak bisa menjawab apapun itu sebelum istri mas sendiri yang mengizinkan kita bersama]...


Lagi-lagi Soleh seperti mendapatkan angin segar.


Soleh melihat lagi foto profil di aplikasi WhatsApp Siti Juriah. Cantik. Dan disana terlihat rambutnya yang diekor kuda, tanpa hijab yang tadi dikenakannya saat menjenguk ibunya Soleh di rumah sakit.


Dengan atau pun tanpa hijab, kamu tetap cantik, Juriah...



Tanpa sadar Soleh memuji paras elok Juriah yang telah menjerat hatinya walau baru kenal dalam hitungan jam saja barusan.


Sungguh Soleh tak mampu menahan gejolak untuk segera mempersunting gadis cantik yang seandainya bisa ia miliki akan jadi anugerah terindah pastinya.


Soleh lupa, komitmen hatinya sebelum bertemu dengan Siti Juriah dan ketika ia melihat air mata Amelia yang tumpah di doa sepertiga malam sang istri.


Bisa jadi ini adalah ujian pernikahan yang Allah berikan padanya. Namun Soleh justru berfikir ini adalah hadiah baginya karena telah menjadi anak yang berbakti, menuruti keinginan kedua orangtua yang telah melahirkannya.


Keesokan hari, Mariana pulang dari rumah sakit dengan dijemput Anta, sang suami.


Keduanya terlibat kasak-kusuk kalau taktik yang sedang mereka jalankan berhasil juga pada akhirnya.


Soleh sudah bertemu Juriah semalam. Dan menurut pengamatan Mariana, anaknya itu sudah masuk perangkap dan berhasil terpikat pada kecantikan Juriah yang memang seluruh warga desa mengakuinya.

__ADS_1


Juriah memang gadis cantik. Tetapi Juriah sudah tidak perawan. Itu inti pokoknya.


Anta dan Mariana tidak mempermasalahkan hal itu karena ada maksud lain yakni ingin memiliki sebagian harta Ojan dari nenek moyangnya yang berhektar-hektar.


Itu sebabnya Mariana dan Anta sangat ingin menjodohkan putra pertamanya itu walaupun sudah ada Amelia yang berhak atas Soleh putra tercintanya.


Anak laki-lakinya yang lain tidak mungkin mau karena istrinya berasal dari keluarga berada. Fitra dan Jamal, istri mereka adalah anak orang kaya. Fitra memiliki istri anak tengkulak kayu gaharu yang harganya tahu sendiri berapa perkilonya.


Jamal, istrinya anak tunggal pedagang beras di pasar impres. Setiap bulan menantunya itu mengirimkan dua karung beras kualitas premium untuk makan sehari-hari mereka.


Jadi, tidak mungkin Mariana dan Anta mengorbankan rumah tangga Fitra serta Jamal.


Soleh adalah anak sulung mereka. Sepuluh tahun lalu, Soleh menikahi seorang anak sulung petani miskin dari kampung sebelah. Amelia namanya. Hanya tamat SMP dan keduanya menikah lalu merantau kerja di Ibukota.


Setiap lebaran Soleh dan istrinya pulang kampung. Dan hanya mereka berdua saja yang jarang membawa bingkisan kecuali mentahannya saja.


Tidak seperti anak-anak yang lainnya. Yang seringkali membawa buah tangan sebagai persembahan terbaik untuk Mariana dan Anta.


Padahal kalau difikir-fikir, Soleh dan Amelia adalah penyumbang uang terbesar dibanding anak Anta Mariana yang lain. Karena Soleh anak sulung, otomatis Anta dan juga Mariana lebih dahulu menceritakan kesusahan mereka pada si sulung. Sehingga Si Sulung lah yang lebih banyak beban untuk membantu perekonomian kedua orangtuanya. Termasuk hutang-hutang Anta dibulan-bulan yang lalu.


Soleh pulang kembali ke Ibukota dengan bus malam. Supaya subuh sudah sampai di rumah dan bertemu Amelia, istrinya.


Pukul empat dini hari menjelang adzan Subuh, Soleh mengetuk pintu rumah kontrakannya.


Amel senang melihat kembali wajah sang suami yang hampir empat hari tak ia tengok ketampanannya.


"Gimana kabar Ibu, Bang?"


"Alhamdulillah. Ibu sudah pulang ke rumah, Mel!"


"Syukurlah!"


Selepas sholat Subuh, Soleh kembali tidur. Sedangkan Amelia menuju ke dapur. Ia menjerang air untuk dimasukkan ke termos, juga menggoreng nasi sisa kemarin agar bisa kembali disantap setelah dibumbui dengan aneka bumbu dapur menjadi sarapan yang sedap untuk suami tercinta.


Uang yang Soleh beri tempo hari memang masih sangat banyak. Tapi Amelia selalu mengingat pesan Soleh yang menyuruhnya menghemat sampai tiga bulan ke depan.


Apalagi uang untuk angsuran kredit motornya Soleh yang tinggal tiga bulan lagi masih belum dibayarkan ke dealer. Khawatir terpakai dan mereka akan bingung cari pinjaman. Secara Soleh kini hanyalah seorang pengangguran.


Amelia sibuk mencuci pakaian kotor Soleh yang tiga hari di pakai pulang kampung.


Ada rasa senang, juga khawatir mengingat kemarin sang ibu mertua memintanya satu hal yang menurut Amelia sangatlah menyakitkan.


Jam tujuh pagi, Amelia telah selesai mencuci. Ia menjemur pakaian di teras rumah kontrakannya yang hanya ada lahan dua meter kurang.


Gubrak


Amelia kaget. Tiang penyangga jemuran yang terbuat dari stainless tipis jatuh karena patah bagian bawahnya. Dan nyaris menimpa kepala seseorang.


"Awas!!!" pekik Amel respon menarik orang yang hampir kejatuhan tiang jemuran.


Keduanya bertubrukan dan jatuh bersamaan.


"Aduhh!"


"Maaf..."

__ADS_1


Ternyata orang itu adalah Lukman, teman kerja pabriknya Diki tetangga Amelia. Rupanya Lukman numpang menginap karena Tasya sedang pulang ke Cakung ke rumah orangtuanya.


"Ga apa koq mbak. Hehehe...! Kalaupun ketiban, pastinya ga begitu sakit. Paling pusing-pusing sedikit!" kata Lukman mencandai Amelia agar tidak lagi cemaskan dirinya.


"Hehehe... Saya gak tau kalo tiang jemurannya udah keropos! Maaf ya?"


"Iya. Saya maafkan. Hehehe..."


"Mbak Amel? Bang Soleh udah pulang ya dari kampung? Soalnya saya dengar suaranya tadi sebelum azan Subuh," ujar Diki yang terlihat keluar dari rumah dan siap berangkat kerja bersama Lukman.


"Iya, Mas Dik, betul! Oh iya, kalo seandainya di pabrik ada lowongan pekerjaan, kasih tau saya ya atau Bang Soleh!"


"Buat siapa, Mbak? Buat Mbak? Ada sih, bagian buang benang! Mau?"


"Bukan buat saya. Buat Bang Soleh!"


"Lah? Bukannya Bang Soleh kerja di PT Keramik Tile ya?"


"Akhir bulan lalu kena PHK, Mas Dik!"


"Oala... Tapi saat ini bagian lokernya khusus buat cewek, Mbak! Nanti saya kabari lagi kalo ada loker buat cowok deh, ya!?"


"Makasih ya Mas Diki."


"Sama-sama, Mbak!"


Amelia masuk rumahnya, hendak mencari paku dan palu untuk membetulkan tiang jemurannya yang rusak.


Ternyata Soleh sudah duduk di kursi makan dengan wajah bantalnya dan bibir merengut.


"Kenapa aib suami dibongkar ke luar?" semprotnya dengan suara kasar.


Amelia terkejut. Ternyata Soleh marah karena Amel menceritakan perihal di PHKnya ia dari perusahaan.


"Maaf, Bang! Maksudku siapa tau di pabrik tempatnya mas Diki kerja ada lowongan. Jadi aku,"


"Lain kali janganlah ceritakan kelemahan suamimu ini, Amelia! Bukan hal yang baik, mengumbar kekurangan pasangan!"


Seketika Amelia hanya menelan ludah. Mengangguk dan menunduk. Meski hatinya tidak terima dikatakan bersalah. Karena bukan niatnya mempermalukan Soleh dihadapan Diki dan juga Lukman.


Tapi dimata Soleh, Amelia begitu lancang dan kurang ajar.


Sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya, bersih tak bersisa dilahap Soleh. Segelas teh manis hangat jadi yang paling akhir hingga mulut Soleh mengeluarkan dahaknya.


"Eeeu'!"


Soleh kembali ke atas tempat tidur.


"Aku tidur lagi ya beberapa jam?" katanya pada Amelia.


"Iya, Bang!"


Amelia hanya menjawab dengan singkat.


Meski kesal harus membetulkan tiang jemuran sendirian, tetapi Amel tahu kalau Soleh pasti masih sangat mengantuk dan lelah.

__ADS_1


Amelia memakluminya.


BERSAMBUNG


__ADS_2