Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 76 Seperti Bocah Berebut Mainan


__ADS_3

Dua pria, duduk di kursi sofa yang sama. Dengan senyuman manis tersungging di bibir masing-masing. Membuat Amel deg-degan sendiri menerima kenyataan seperti ini.


Usianya bukan usia remaja.


Bukan pula saatnya untuk bermain cinta.


Tetapi keadaan ini memaksa dirinya harus berfikir keras agar tidak terjadi chaos apalagi sampai ada keributan diantara keduanya.


Apalagi mereka saling kenal.


Yang satunya atasan yang lainnya anak buah. Sungguh aneh rasanya kalau sampai ada keributan hanya karena memperebutkan dirinya seorang.


Untungnya ada Pak Toha duduk manis diantara keduanya.


Amelia hanya bisa tersenyum tipis dengan hati berdebar kencang.


Empat gelas kopi hitam yang dibawa Tia akhirnya bisa sedikit mencairkan suasana. Rupanya mereka adalah pria-pria penikmat kopi. Bersyukur Amelia dalam hati.


"Keren, Kak! Patah satu tumbuh seribu," bisik Tia pada Amel ketika Kakaknya itu mengambil sebuah kotak tissue untuk dibawa ke ruang tamu.


"Ish, kamu nih! Deg-degan nih, hiks... takut gontok-gontokan!" bisik Amelia pada adiknya sembari berjalan keluar lagi.


"Hihihi, ga lah. Mereka pria dewasa yang imut karena mencintai Yu' Amel!"


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."


Amelia menoleh ke arah pintu rumah yang terbuka.


Nirwan teman sekolahnya datang dengan membawa kotak kue besar.


Ah, syukurlah. Kukira yang datang Bang Soleh! Lengkap sudah penderitaanku kalau dia yang datang!


Amelia menghela nafas panjang.


Tanpa sadar dua pasang bola mata memperhatikan tindak-tanduk dirinya dengan banyak pertanyaan dan khayalan di kepala kedua pria itu.


"Siapa Mel?"


"Siapa Mbak?"


Bahkan keduanya juga kompak langsung bertanya kepada Amelia siapa pria yang baru saja datang.

__ADS_1


"Ehh, banyak tamu ternyata, Mel! Hehehe..."


Nirwan tanpa sungkan masuk setelah melepas sepatu pantofelnya. Dia memang bekerja sebagai supir pribadi kantor Kecamatan. Jadi pakaiannya rapi dan selalu pakai sepatu pantofel setiap ngantor.


"Wan, gimana kabar Lilis?" tanya Amelia seketika membuat Adam dan juga Lukman agak sedikit tenang. Tapi kembali tegang karena bisa jadi yang namanya Lilis itu adalah anak kecil. Begitu dipikiran keduanya.


"Alhamdulillah. Lilis sudah pulang ke rumah, Mel! Ini dia suruh Aku kirimkan ini untuk tambahan tahlil nanti malam!"


"Waah, kalian ini. Selalu saja membuat kami jadi gak enak hati. Padahal Aku gak pernah datang berkunjung ke rumah kalian. Oiya mungkin besok sebelum kembali ke Jakarta Aku mampir nengok putri kecil kalian."


Lukman dan Adam hanya jadi penonton interaksi antara Amelia dengan Nirwan.


Untungnya Emaknya Amel langsung keluar kamar dan ikut menyambut Nirwan sembari mengucapkan terima kasih serta selamat atas kelahiran putri ketiga Ia dan Lilis.


Seketika wajah-wajah tegang dua pria yang duduk sambil menikmati kopi mulai mencair kembali.


Amelia benar-benar dibuat gugup dan sport jantung.


Ia merasa seperti perempuan yang buruk karena membuat dua pria seolah menunggu keputusannya memilih diantara mereka.


"Amelia akan pulang besok?" tanya Adam yang perlahan ikut gabung dalam obrolan.


"Iya, Mas! Amelia sudah terlalu lama mengganggu jadwal katering konveksinya Mas Adam. Maaf ya?"


"Mbak Amel pulang bareng Aku aja. Kita naik motor, jauh lebih cepat!" timpal Lukman membuat Tia yang mengintip dari balik pintu ruang tengah terkikik menahan tawa.


Ia merasa sangat senang sekali, Mbak Yu'nya sudah banyak yang menunggu untuk dikhitbah rupanya.


Status janda tidak membuat Amelia jatuh harga. Bahkan derajatnya kini jauh lebih baik dibandingkan ketika masih remaja.


Kini cowok-cowok dewasa yang keren perlente yang menyukainya. Bukan type cowok tengil macam Soleh yang sok highclass. Padahal tampangnya nge-pas.


Tia diam-diam mengambil foto Kakaknya yang tengah tersenyum dan mengobrol dengan dua pria tampan itu.


"Biar kuapload di status WA! Hm. Si Lani sama Mas Fitra dan mbak Aulia kan sekontak denganku! Biar rasa mereka melihat siapa saja pria yang sedang mendekati kakakku!"


Tia langsung menjadikan foto langka itu si SW nya.


Sementara Nirwan, pamit permisi pulang setelah berbincang santai dengan mereka yang ada di ruang tamu.


"Makasih ya Wan! Tolong sampaikan salamku pada Lilis! Terima kasih banyak!"


"Sama-sama, Mel! Mak, Nirwan pamit ya? Mari abang-abang semua, saya permisi duluan!"

__ADS_1


Nirwan menyalami Lukman juga Adam dan Pak Toha.


"Saya boleh menginap semalam di sini? Saya dan Pak Toha maksudnya. Biar besok pagi kita bisa pulang ke Jakarta sama-sama."


Adam kian mendekat ke pada Amelia.


Sebenarnya Ia sudah tahu kalau Lukman bukanlah pria kekasih Amelia seperti yang Ia duga. Diki dan Tasya menceritakan semua kisah Amelia serta Lukman serta.


Hubungan mereka hanyalah pertemanan saja. Tapi Lukman memang punya niatan untuk mendekati Amelia jauh sebelum Amel dicerai suaminya. Begitu kata Diki pada Adam ketika Adam datang ke kontrakan mereka menanyakan alamat rumah orang tua Amelia di kampung.


Kini keduanya terbuka memperlihatkan persaingan yang mulai sengit.


"Boss, ada apa dengan Boss? Selama ini,"


"Saya menyukai Amel!" jawab Adam.


"Saya mencintai Mbak Amel, dan ingin mengenalkannya segera kepada keluarga saya!" ujar Lukman tak mau kalah.


"Jadi, jawaban ada di tangan Amel. Kita menunggu keputusan Amel siapa yang Amel pilih. Kamu atau Aku!"


"Saya yang lebih dulu mengenal Mbak Amel. Boss tidak bisa menyerobot seperti ini. Itu gak fair! Lagipula, perempuan seperti Mbak Amelia lebih cocok dengan saya daripada dengan Boss!"


"Maksudnya, Amelia tidak bisa dapatkan yang lebih baik begitu?"


Perdebatan kian panas setelah Nirwan pergi.


Membuat pening kepala Amelia.


Adu argumen mereka ternyata tak jauh beda layaknya bocah yang berusaha saling berebut mainan.


"Bisakah kalian tidak menganggap saya barang?" celetuk Amel membuat Adam dan Lukman terdiam. Sementara Pak Toha tersipu sendirian.


"Kalian pulanglah setelah istirahat yang cukup. Bukan maksud saya mengusir. Tapi tolong, keluarga saya sedang berkabung. Bukan waktunya untuk bertanya hal-hal yang diluar konteks tahlilan almarhum bapak saya!"


Dua pria itu menunduk malu.


Bisa-bisanya mereka lupa kalau Amelia sedang berduka.


Adam mengusap raut wajahnya sembari mengucap kalimat istighfar. Lukman tak kalah malu dengan tepukan di dahinya dan garuk-garuk kepala seraya menghela nafas panjang.


Cinta ternyata bisa membuat orang lupa ingatan. Adam dan Lukman tersenyum malu dalam hati.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2