Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 113 Malam Panjang, Perjalanan Panjang


__ADS_3

Malam panjang, benar-benar panjang.


Soleh berjibaku naik turun tubuh perempuan malam yang bahkan tak dikenalnya dan tak tahu siapa namanya itu.


Tapi Soleh merasakan kepuasan luar biasa.


Hampir dua bulan lamanya Juriah tidak melayaninya dengan benar di atas ranjang karena sakit yang berkepanjangan.


Bahkan dokter memvonis Juriah terkena kanker serviks. Makin membuat Soleh kesulitan untuk mengajak berhubungan int+m seperti di awal pernikahan.


Soleh sampai benar-benar all out berc+nta one night stand dengan perempuan malam yang biasa menjajakan diri.


Tak sadar kalau justru hubungan yang terlarang itu akan semakin menambah pelik permasalahannya.


Tak ingat betapa jenazah Samsiah yang menangis menunggu di urus dan dikebumikan dengan layak.


Tak tolih Juriah, sang istri muda yang terbaring lemah di ranjang rawat inap rumah sakit kampungnya.


Soleh bersenang-senang dengan uang hasil congkelan di brankas Bapak mertuanya yang juga dibawa makhluk-makhluk astral peliharaan Ojan yang saat ini wajah dan tubuhnya mulai digulung lalat hijau serta semut hitam karena bau busuk bangkai.


Malam yang indah menurut Soleh.


Padahal malam itu adalah malam laknat yang akan membuat dirinya tertular virus mematikan lewat hubungan haram dengan seorang perempuan malam yang sengaja mengajaknya bercinta. Tarif harga yang lumayan besar, lima juta rupiah padahal sudah dua minggu perempuan itu tidak ada yang berani memakai jasanya karena ketahuan memiliki penyakit menyeramkan itu.


"Mana janjimu membayar dobel?" tagih perempuan itu setelah Soleh berhasil menuntaskan tempurnya yang sampai tiga kali tembakan.


"Hehehe..., dasar l+cur! Sabarlah dulu. Tidurlah dulu disampingku! Nanti kubayar!"


"Cih, jangan bilang kalau kau menipuku!"


Soleh merasa kesal.


Diambilnya segepok dari dalam tas ransel bututnya yang selalu dibawa-bawa.


Ia melemparnya tepat ke wajah perempuan malam yang menatapnya jijik.


"Nih!"


"Dasar laki-laki hina! Hidupmu pasti akan terlunta-lunta sampai akhir karena berani melempar uang ke wajahku!" umpat perempuan itu kesal.


Soleh bangkit, tak kalah kesal.


Diraihnya wajah perempuan itu dan di ci+mnya dengan beringas.


"Aku membayarmu dobel, sepuluh juta! Bahkan istri dan mantan istriku sendiri belum pernah kuberikan uang sebanyak itu. Tapi kau malah bertingkah memakiku sampai bilang aku hina!"


Perempuan itu menunduk. Mengambil lembaran uang kertas seratus ribuan yang tercecer dari satuan gepoknya.


"Sudah selesai! Aku pergi!" ujarnya singkat sekali.


"Haish! Bodohnya Aku! Padahal uang sepuluh juta itu bisa buat melamar gadis perawan!" umpatnya kesal pada kebodohannya karena hubungan one night stand yang membuatnya rugi besar walaupun menyenangkan.


Soleh baru sadar dari mabuknya.

__ADS_1


Uang lima belas juta raib dalam semalam. Soleh hanya bisa tidur menggelosor di atas mobil Fortuner Ojan yang Ia bawa dari kampung untuk mengurus jenazah Samsiah.


.............


Pukul enam pagi, mobil Soleh diketuk-ketuk seorang sekuriti.


"Pak, permisi. Mobil Anda menghalangi jalan pengendara yang lain hingga berujung kemacetan!"


Soleh merasakan tubuhnya penat dan kepala yang berat.


"Oh iya, maaf!"


Soleh memacu mobil Ojan keluar dari parkiran ngasal nya hingga ditegur pihak keamanan setempat.


Kini tujuannya adalah pom bensin dan mencari toilet umum untuk mencuci mukanya yang masih muka bantal.


Ia juga ingin pipis. Semalaman menahan rasa cukup membuat sakit dan ngilu juga.


Soleh mematut dirinya yang kusam di kaca depan kamar mandi pom bensin.


Ia menghela nafas dan berdecak melihat kantung mata yang terlihat agak menggembung serta berwarna hitam. Benar-benar mata panda.


Dibukanya ponsel yang sedari semalam sengaja Ia non-aktifkan.


Juriah ternyata menelpon sampai puluhan kali. Begitu juga dengan chat pesannya yang ramai di hape Soleh oleh notice masuk.


"Hhh... Heran ini perempuan! Ga bisa tenang apa sehari Aku tanpa digerecoki perempuan pesakitan ini!" umpatnya seorang diri.


Soleh kembali ke mobil Fortuner Bapak mertuanya.


Hari yang masih cukup pagi sehingga perjalanannya tanpa kendala berarti.


Pukul sepuluh Soleh sudah tiba di RSUD. Langsung menuju ruang informasi dan menanyakan jenazah atas nama Samsiah, korban lakalantas kereta api listrik di wilayah Cikarang arah Bekasi


Sungguh miris.


Tubuh Samsiah hancur menjadi beberapa bagian hingga Soleh sendiri dilarang membuka peti jenazahnya yang berwarna hitam pekat.


Soleh hanya bisa tertegun. Mengenang kebaikan Samsiah pada dirinya.


Samsiah lah yang seringkali menjadi pelerai ketegangan Ojan ketika dengan frontal mengatakan kekesalan hati pada Soleh hingga terlontar kalimat kasar yang menjatuhkan.


Samsiah juga baik pada Ibu Bapaknya. Karena Samsiah pula-lah Soleh bisa menikah dengan Juriah.


Tapi seketika pikiran itu hilang berganti penyesalan yang mendalam karena menikahi Juriah.


Andai saja Aku menolak menikahi Juriah waktu itu, mungkin nasibku tidak sena'as ini sekarang. Mungkin saja Aku dan Amelia telah hidup bahagia. Mungkin saja, ada anak yang hadir diantara kita setelah ujian rumah tangga sepuluh tahun lebih.


Soleh terpekur.


Ia mengusap wajahnya.


"Pak! Tolong diurus jenazahnya untuk di bawa pulang ke kampung halaman almarhumah. Hari ini juga, saya akan menebusnya!"

__ADS_1


Soleh sudah meminta bantuan Le Giman untuk memberitahukan kepada keluarga Samsiah kalau jenazahnya akan segera dibawa ke sana agar mempersiapkan pemakamannya.


Soleh sibuk mengurus biaya administrasi dan prosedur pembawaan peti jenazah dengan ambulance rumah sakit.


Pukul dua belas lebih, jenazah Samsiah dibawa pulang ke kampung halamannya dengan Soleh yang mengantar dari belakang dengan mobil Fortuner.


Syuuut


Angin menghempas pipi Soleh. Ternyata, itu adalah hembusan nafas Samsiah.


Roh Samsiah telah duduk di jok depan bersama Soleh.


Wajahnya yang hitam gelap, berbau prengus seperti aroma darah yang terbakar.


Soleh mengendus-endus lubang penciumannya.


"Bau darah kering!" gumam Soleh seorang diri. Ia tak bisa melihat kalau ada Samsiah yang duduk di sebelahnya dengan tatapan tajam tak berkedip.


Treeet treeet treeet


Ponsel Soleh berdering.


...My wife is calling...


Soleh segera mengangkatnya dengan earphone.


"Iya, sedang dalam perjalanan!"


[Mas...! Masih dimana? Jemput Aku, aku ingin ikut prosesi pemakaman Umi untuk yang terakhir kali!]


"Mana bisa, Ju! Aku langsung ke Pam+kasan! Abi ingin Aku bawa Umi ke kampung halamannya. Katanya biar Umi diurus keluarganya!"


[Apa? Abi suruh kamu bawa jenazah umi ke kampung Pam+kasan?]


"Iya. Ini dalam perjalanan. Semua anggota keluarga Umi sudah siapkan liang lahatnya. Aku sedang menyetir mobil ini! Udah dulu, ya?"


Klik.


Bosan Soleh berbicara dengan Juriah yang kini berubah kurus kering dan tak lagi menarik dimatanya.


"Ck. Perempuan menyebalkan ini! Selalu saja menyuruhku ini itu! Dikiranya Aku ini kacungnya!" umpatnya sebal.


Pluk.


Soleh berdebar kencang.


Kepalanya seperti kena pukul yang sangat keras hingga terdorong ke samping.


Bau darah kering menyengat. Bulu kuduk Soleh merinding padahal hari masih siang pukul satu.


Sebisa-bisanya ia membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Tapi seolah lupa dan ulang lagi dan lagi.


Samsiah tidak suka menantunya itu mengumpat mencela putri kesayangannya. Ia juga tahu kelakuan busuk Soleh yang telah berani menduakan anaknya dan berani bercinta dengan kupu-kupu malam di diskotik semalam.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2