Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 117 Keadaan Soleh Dan Amelia Yang Sangat Kontras


__ADS_3

Treeet treeet treeet


Soleh yang sedang terisak terkejut, ponselnya berdering. Pria berusia 36 tahun itu mencoba mengabaikannya karena tahu pasti kalau yang menelponnya itu adalah Juriah.


Treeet treeet treeet


Treeet treeet treeet


Kali ini Ia mengambil ponselnya yang ada di saku celana.


"Hahh? Si Ojan?"


Klik.


"Hallo? Assalamualaikum, iya Bi?"


...[Hei, menantu tidak berguna! Pulang kau! Temui putriku sekarang juga! Kalau tidak, nyawamu akan kutumbalkan kepada peliharaanku, si Gunderewo! Mau kau, hahh? Kalau kau belum pulang juga dalam waktu satu jam, jangan salahkan Aku jika kau merasa dikejar-kejar makhluk besar hitam seperti dulu Bapakmu, si Anta!]...


Klik


Soleh tertegun.


Ojan sudah mematikan sambungan teleponnya. Tapi hati Soleh seolah menciut kecil sekali laksana Ojan sedang berdiri di depannya dengan mata satunya yang melotot tajam.


Slebbb


Soleh menahan nafasnya.


Seolah ada bayangan hitam tinggi besar yang melintas tepat dihadapannya.


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Jantungnya berdenyut kencang sekali.


Soleh segera melap lelehan air matanya. Bangkit dari lesehannya di teras rumah Mia, Emaknya Amelia.


Lalu bergegas membuka kunci kontak motor gedenya dan...


Cuss berangkat pulang ke kediamannya di jalan Asamka.


Seorang pria berambut gondrong, terkejut melihat sosok yang Ia kenal baru saja melintas di hadapannya dengan tergesa.


"Bang Soleh?"


Soleh yang mengebut hanya melengos sebentar tapi tidak menghentikan laju kendaraannya.


Soleh fokus dengan tujuannya kini. Yaitu pulang ke rumah istri mudanya yang sepertinya sudah mengadu kepada Ojan tentang perbuatan Soleh.


Siallan betul Keluarga itu! Ternyata, mereka kaya raya karena punya peliharaan makhluk yang menyeramkan!


Rutukan hati Soleh yang bergemuruh semakin kencang tatkala mengingat ucapan Ojan barusan di telepon kalau ternyata Bapaknya meninggal dunia karena dijadikan tumbal.


Dada Soleh berdenyut sakit.


Air matanya meleleh mengingat betapa dirinya dan keluarga sudah terlanjur jauh masuk ke dalam keluarga Juriah yang dikiranya adalah keluarga malaikat yang akan mengangkat derajat. Ternyata...


Cekiiiit...


Soleh terbelalak.


Sebuah sepeda motor yang menyalib tepat dihadapannya seperti salto dan berguling beberapa kali.


Benar-benar kecelakaan lalu lintas yang terjadi didepan mata.


Sreeek...


Sreekkkk

__ADS_1


Spontan Soleh mengerem motornya yang dipacu dengan kecepatan 60km/jam dengan mendadak demi menghindari kecelakaan beruntun.


Namun,


Gubrak


Gubrak


Gubrak.


Soleh terpental karena motornya dihajar oleh mobil yang juga ternyata hilang kendali serta konsentrasi, terkejut karena ada kecelakaan lalu lintas di depannya dan menghajar motor Soleh yang berhasil berhenti seperkian detik menghindari kecelakaan beruntun. Namun,


Soleh menelan salivanya.


Satu kakinya seperti mati rasa.


Ia masih melihat sosok hitam tinggi besar yang melotot dengan mata merah yang mencorong dan menyeringai memperlihatkan taringnya, lalu menghilang menjadi asap hitam. Wusss...


"To_toloong!" pekiknya dengan kekuatan yang tersisa.


Ia masih dalam keadaan sadar.


Matanya menyapu tubuh yang terasa ba'al tergeletak di atas aspal panas dengan suara riuh ramai beberapa kendaraan yang juga mengalami kecelakaan.


"Tolong!"


Seseorang mendatanginya. Lalu berteriak, "Disini juga ada korban satu lagi! Kayaknya kakinya copot nih!"


Soleh yang baru tersadar dengan perkataan orang tersebut.


Matanya menatap tajam ke arah kaki kirinya yang... terlepas benar-benar dari pangkal pahanya. Hingga, seperti hilang rohnya, Soleh langsung pingsan terkapar.


Suasana siang menjelang dzuhur itu menjadi awal hari penyesalan hidup Soleh yang tiada henti.


..............


"Assalamualaikum!"


"Assalamualaikum..."


Tia menyibak tirai gorden rumah emaknya dari balik jendela.


Ia masih khawatir kalau yang mengetuk pintu adalah di Solehudin lagi.


"Mbak Tia!"


Tia membelalakkan matanya.


"Kamu?!?"


"Mbak ini Aku, Rama!"


Tia langsung membuka pintu setelah memekik teriak pada Mia.


"Maak, Rama pulang!!!"


Siang yang barusan menggalaukan hati dan perasaan Ibu dan adiknya Amelia itu kini berubah cerah ceria.


Mereka saling berpelukan dan menangis haru melihat salah satu anggota keluarga kembali pulang dari perantauan.


Mia menangis di pelukan Rama yang kini ada dihadapannya.


"Maaak..., Bapak, Mak! Hik hik hiks... Bapaaak!" isak tangis Rama membuat mereka kian larut dalam keharuan dan kesedihan.


Anak kedua mereka yang telah lama pergi untuk mengadu nasib dengan merantau menjadi Anak Buah Kapal (ABK) itu kini sudah kembali pulang.


Namun sayangnya, kepala keluarga itu telah tiada. Meninggal dunia tanpa disaksikan oleh putra sulungnya yang saat itu masih jauh diperantauan dan dalam kontrak kerja yang ketat karena berada di tengah lautan.


Mia dan Tia menceritakan kronologis kematian Anta pada Rama.

__ADS_1


Tia juga menguatkan Rama agar ikhlas menerima takdir kalau Bapak mereka kini sudah tenang di alam baka.


Tangisan Rama membuat Mia dan Tia hanya bisa memeluk lagi tubuh pria yang kini sudah beranjak dewasa itu.


Rama sudah berumur 28 tahun. Beda umur dengan Amelia tiga tahun lebih muda dan 2 tahun lebih tua dari Tia.


Tia sendiri sudah menikah dengan Arif dan dikaruniai satu orang anak bernama Tiara yang sudah berumur 4 tahun.


Keluarga mereka adalah keluarga yang hangat dan saling melengkapi satu sama lain.


"Mak, apakah ada Yu' Amel?"


"Yu' Amel? Di kota, Ram!"


"Tapi tadi aku melihat Bang Soleh keluar dari sini. Dia bawa motor gede bagus."


"Soleh...! Setan itu? Memang dia habis dari sini!"


"Setan? Jahatnya mulut Mbak Tia. Kenapa menjuluki Bang Soleh dengan julukan setan! Ga boleh, Mbak. Dosa, tau!?!"


"Dia bukan lagi bagian dari keluarga kita, Rama! Kalau dia mendekati kamu untuk cari perhatian dan bilang butuh bantuan agar Yu' Amel mau kembali padanya, sebaiknya abaikan saja!"


"Ehh? Koq? Lha? Memangnya?..."


Rama kebingungan sendiri.


Selama ini memang keluarga mereka menutup rapat kondisi Amelia kepada Rama karena tak ingin membuat adiknya itu gundah gulana fikirannya di perantauan.


Tia dibantu Mia sesekali, menceritakan semuanya tentang Amelia.


Treeet treeet treeet


"Woala, panjang umur! Yang lagi kita omongin langsung telepon!" pekik Tia kegirangan.


"Assalamualaikum, Yuuu'!!!" jerit Tia menyapa Sang Kakak.


...[Waalaikum salam! Tia, hehehe bikin kaget deh! Sepertinya sedang bahagia atau,]...


"Yu', kuganti dengan video call ya?"


Tia memindahkan sambungan teleponnya menjadi video call.


Terlihat wajah Amelia yang juga sumringah membuat semua jadi semakin bahagia.


"Yuuu', lihat ini siapa yang datang?" tanya Tia dengan candaannya tentang Rama.


...[Duh, cowok mana lagi itu? Jangan kenalin Mbak Yu' mu sama cowok-cowok lain nanti mas Lukman, ehh mas...]...


Tia tertawa. Kini Ia melihat wajah Lukman yang serius meskipun tidak dengan mimik marah meraih ponsel yang dipegang Amelia.


Tia sudah tahu, Kakaknya itu akhirnya menjatuhkan pilihan pada si Bujang tampan yang memang lebih keren di bandingkan si Duda CEO pemilik konveksi tempat Amelia bekerja sama membuat makan siang untuk para karyawannya.


"Mas Lukman! Libur, Mas? Hehehe... Santai aja Mas, Aku cuma becanda. Tapi beneran ada cowok ganteng satu lagi yang cariin Mbak Yu' Amelia. Jangan cemburu ya? Hehehe..."


Lukman tersipu malu. Tia langsung menggodanya yang memang cemburu mendengar ada cowok lain yang barusan Tia bilang.


...[Woaaa, cowok ganteng favoritku satu lagi ternyata!?! Iyakah, Tia? Mana, mana dia?]...


Amelia sengaja membuat Lukman cemburu dengan mengambil ponsel yang ada di tangan Lukman.


Lukman yang sedih hanya bisa menjauh pelan-pelan. Membuat Tia dan Amelia tertawa bersama meskipun di tempat yang berbeda.


...[Rama!!! Ramaa!!! Mana adikku yang ganteng itu?]...


Mendengar perkataan Amelia, Lukman yang merasa hatinya sesak kini tersenyum lega.


Lukman kembali mendekat. Ia ingin segera berkenalan dengan Rama. Karena setelah Anta meninggal dunia, Rama adalah wali nikah Amelia. Dan rencana pernikahan mereka bisa secepatnya digelar.


Berbinar kedua bola mata Lukman.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2