
"Maakkk!!!"
"Mas Arthur? Koq tau Mak disini?"
"Hehehe... siapa yang gak tau proyek usaha agrobisnisnya Bu Fanny!"
Arthur tersenyum lebar di depan gerbang PT Saung Emak Jawara Indonesia di daerah Sentul, lahan pertanian holtikultura sekaligus kantor usaha join Fanny dan Mia.
Mia yang memang sudah bersiap untuk pulang karena hari telah beranjak sore.
Fanny sendiri sudah beberapa hari ini tidak datang ke sana karena sedang menemani Bimo pertemuan para pengusaha ekslusif di Singapura.
Otomatis Mia mengurus semuanya sendirian. Cuma mengontrol saja, karena Fanny sudah memiliki banyak sekali ilmuwan-ilmuwan muda yang berpotensi yang masuk bergabung di perusahaan anyar mereka namun sudah sangat booming iklan pemasarannya.
"Mak..., pasti lupa sesuatu kan?"
"Apa?!?"
Arthur sudah bisa menebak reaksi Mia yang terlihat seperti memang tidak mengingat hal penting yang seharusnya Ia lakukan.
"Mak! Ambil hasil medical check up yang kemarin!"
"Hasil medical check up? Kapan Emak cek up?"
"OMG, Mak? Koq bisa Mak selupa ini? Usia Mak baru lima puluh satu. Bahkan masih lebih tua Mami Saya, 60 tahun. Hehehe... Mak kurang piknik ya?"
"Hahaha... Mak justru piknik terus ini setiap hari keluar turun naik mobil bagus, naik motor gonta-ganti, kurang piknik yang bagaimana lagi, Nak Arthur?! Hehehe..."
Keduanya tertawa lepas.
"Ayo, kuantar ke rumah sakit. Biar proses pengobatan bisa segera dijalani. Sakit kepala Mak masih kerasa?"
"Iya."
Mia bahkan mengingat-ingat jika pukul dua belas siang dan panas matahari sangat menyengat, Ia sampai nyaris semaput pingsan. Mata berkunang-kunang, gelap dan perutnya mual sakit seperti dikocok-kocok. Entah ada apa dengan kondisi kesehatannya yang semakin hari semakin tak bisa diajak kompromi ditengah kesibukannya yang baru saja dimulai.
Arthur tersenyum. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya. Perlahan mereka keluar pergi meninggalkan lahan perusahaan yang Fanny bangun bersama Mia bahkan diberi nama pun nama sesuai dengan Mia yang seringkali Fanny panggil Emak.
.......
"Ada sel-sel abnormal di dalam otak Ibu Mia. Sel-sel itu ternyata berkembang dengan sangat cepat menyerang fungsi otak itu sendiri dan terus menumpuk membentuk... tumor."
"Tumor?" tanya Arthur mulai cemas.
"Tumor itu apa Dok?" Mia ikutan bertanya.
Arthur segera menggenggam tangan Mia untuk menguatkan wanita yang sudah Ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Dok, seberapa banyak sel tumor yang bersarang di otak Ibu saya?" tanya Arthur makin serius.
__ADS_1
"Ini sebenarnya hal yang cukup langka. Pasien sudah ditahap mengkhawatirkan karena... sudah ada di stadium empat,"
"Apa? Stadium empat? Secepat itu proses penyebarannya tanpa ada gejala-gejala yang lebih intensif lagi selain sakit kepala?"
"Inilah yang saya sebut hal yang cukup langka. Karena pasien sebenarnya sudah mengidap tumor otak selama tiga tahun, tapi tidak sampai membuat beliau drop parah. Ditambah pasien tidak pernah melakukan check kesehatan sebelumnya."
"Tapi..., biasanya akan ada gejala-gejala awal sebelum tumor itu menyebar menjadi ganas bukan, Dok?"
"Sepertinya pasien memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa selama ini. O iya, apa Ibu sudah lama mengalami sakit kepala yang cukup hebat selama ini?"
"Dari masih ada almarhum suami saya, saya sering sekali oleng di kebun. Tiduran dulu di saung kebun."
Arthur menghela nafasnya. Ada rasa sesak yang lumayan menghimpit dada. Terbayang wajah Rama, Inayah dan Gaga yang sudah cukup Arthur kenal karakternya.
"Dokter, bisakah saya berbicara empat mata dengan Anda?" Arthur ingin menanyakan hal serius tanpa ada Mia diantara mereka.
Sang dokter mengangguk.
Arthur berdiri sambil menggenggam erat tangan Mia.
"Mak, Mak duduk di ruang tunggu dulu ya? Saya mau minta resep obat untuk Emak dulu sama dokter Ramon!"
Mia menurut. Ia duduk di kursi panjang yang berderet kosong di aula ruang tunggu yang mulai ramai.
"Suster,"
"Ya, Mas?"
"Ya, Mas. Silahkan!"
Arthur kembali ke dalam ruang praktek dokter Ramon.
"Dok, apa mungkin ada kesalahan diagnosis?" tanya Arthur berusaha mendapatkan penjelasan sejelas-jelasnya setidaknya yang mungkin bisa memberikan pencerahan atau harapan lebih untuk kesehatan Mia.
"Kemungkinan salah diagnosa adalah hal manusiawi. Tapi, Ibu Mia melakukan serangkaian pemeriksaan general, Pak. Jadi, setiap pemeriksaan menjadi satu kesatuan keterangan diagnosa yang saling berkesinambungan. Kecuali, Ibu Mia hanya melakukan tes darah saja, atau tes scanning saja. Itu bisa salah diagnosa. Tapi Ibu Mia melakukan tes kesehatan keseluruhan dan hasil akhirnya, juga mengejutkan saya pribadi sebagai dokter spesialis syaraf pusat. Maaf... jika kabar yang saya bagikan ini adalah kabar yang..."
"Adakah proses pengobatan yang bisa membuat Ibu saya ini sembuh dari tumor otaknya?"
"Buatlah Ibu bahagia."
Arthur menelan ludahnya. Dokter Ramon tersenyum tipis penuh arti.
"Jadi, intinya saya sakit apa, Dok? Tumor otak?" Mia yang sedari tadi kebingungan ikut angkat bicara.
"Mak..."
"Mas, Emak sakit parah? Harus dirawat? Tapi Mak ngerasa baik-baik saja, cuma sakit kepala sama mual muntah yang kadang datang disaat yang tidak tepat."
"Dokter...! Stadium empat, apakah separah itu? Lalu, kesempatan untuk hidup lebih...,"
__ADS_1
Arthur tak berani meneruskan ucapannya.
"Umur ditangan Tuhan, Mas! Kita berdoa saja yang terbaik. Jaga kesehatan Ibu Anda. Sayangi beliau dengan lebih. Berikan kebahagiaan di sisa hidupnya. Hanya itu saran saya. Tapi jika Mas ingin melakukan proses pengobatan lebih lanjut, seperti tomoterapi, radioterapi, kemoterapi... maaf kalau saya terlalu lancang mengatakan agak terlambat. Sebagai seorang ahli medis, saya harus memberikan dukungan medis yang besar. Namun mengingat proses rangkaian pengobatan yang justru bikin drop keadaan pasien, khusus untuk Anda dan Ibu Anda, saya mengambil resiko mendapat sanksi teguran dari pihak ikatan dokter, sebaiknya... jangan lakukan hal-hal tersebut. Ibu Anda memiliki kasus kesehatan yang langka. Secara teoritika, Ibu Mia seharusnya sudah sangat drop kesehatannya karena tumor sudah menjalari seluruh syaraf otak. Tapi... ternyata kondisi fisiknya sangat kuat sehingga beliau masih bisa jalan kesana-kemari aktivitas seperti biasa."
"Cuma ingatannya kian hari kian... mengkhawatirkan saya, Dok!"
"Saya tuliskan resep, penghambat penyebaran sel tumor serta vitamin-vitamin penunjang kesehatan Ibu Mia. Oiya, jangan minum kopi, teh dan minuman bersoda. Perbanyak minum air putih. Makan teratur dan jangan biarkan penyakit asam lambungnya kambuh karena tidak makan dengan teratur. Ini resep obatnya ditebus di bagian obat."
"Terima kasih, Dokter!"
"Oiya, saya tidak menyarankan Ibu Anda kemoterapi, tapi untuk kontrol diusahakan setiap minggu bertemu saya."
"Baik, akan saya usahakan, Dok! Permisi, selamat petang!"
Arthur hanya bisa menghela nafas panjang.
Ia melihat Mia yang sedang bercengkrama dengan perempuan yang duduk disebelahnya. Mia memang pribadi yang ramah dan pandai bergaul. Mudah berteman di manapun Ia berada.
"Mak!"
"Mas Arthur?"
"Saya tebus obatnya dulu. Mak masih mau disini, atau..."
"Mas, Mas sini! Hehehe... Kenalkan, Neng, putra ibu. Single belum menikah. Ayo, ayo kenalan!"
Arthur berdecak sedikit sebal.
"Arthur."
"Liana. Hehehe..."
"Saya calon menantu Emak Mia."
"Ehh? Calon menantu?" Mia terperangah.
"Mak lupa, Mak? Saya ini calon suaminya Inayah! Hadeuh, punya Mak mertua begini amat ya?'
"Calon suami Inayah? Iya ya? Apa...Mak udah kasih izin ya? Kapan ya?"
Arthur segera meraih pangkal lengan Mia.
"Permisi, Mbak Liana... kami duluan!" pamit Arthur pada perempuan muda yang baru saja Ia dan Mia kenal.
"Neng Liana, ibu pamit duluan ya?" pamit Mia dengan senyuman mengembang.
"Inayah mana? Koq kamu sendirian? Inayahnya mana? Katanya calon suami Inayah? Tapi koq putriku kamu tinggal sendirian!?"
"Inayah kan ngampus, Mak. Kita ini sedang jalan berduaan. Quality time. Hehehe..."
__ADS_1
Mirisnya. Tubuh Mia memang kuat. Tetapi syarat ingatannya perlahan melemah dan membuat Arthur sedih ingin menangis juga.
BERSAMBUNG