Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 35 Kenangan Indah Di Masa Lalu


__ADS_3

"Bolehkah Aku egois, Bang? Ceraikan Juriah. Kita pulang ke Jakarta dan lupakan semua yang membuat kita jadi gila harta. Ya?"


Mata Soleh membulat dan gerahamnya mengeras.


"Kamu bilang kita gila harta? Secara tidak langsung kamu menuduh Aku juga gila harta? Tidakkah kau fikir, semua kulakukan demi siapa!? Demi dirimu juga Aku lakukan ini, Amelia!"


Keduanya saling bertatapan. Amelia bingung karena keegoisan Soleh yang mencuat dan menyalahkan dirinya.


"Aku tidak minta apapun darimu, Bang! Meskipun gajimu hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Walaupun Aku tidak bisa menabung untuk masa depan kita. Aku tidak pernah menuntut apa-apa, Bang!"


"Aku selalu mencari jalan agar Ibuku tidak terus membully kamu! Ini kulakukan agar Ia tak lagi menjadikan kamu kambing hitam atas semua keadaan kita yang hanya serba pas-pasan! Apa kamu sadar, Amelia? Itu karena Aku cinta kamu! Aku tidak bisa melawan orang tuaku yang kadung membenciku karena keadaan diriku yang beristrikan dirimu yang hanya anak petani miskin saja, tidak seperti kedua adikku, Budi dan Fitra!"


"Jadi Abang juga menyalahkan Aku karena keadaan ekonomi kita yang pas-pasan?"


Kedua suami istri beda usia lima tahun itu mulai mengeraskan suara masing-masing.


Keduanya merasa berada di pihak yang benar.


Dan puncaknya adalah, Soleh mengambil jaket serta tas pinggangnya lalu pergi bergegas keluar.


"Mas! Mau kemana? Kenapa kamu melarikan diri?" ujar Amelia menahan tangisnya. Keributan ditengah malam buta bisa mengganggu ketenangan semua orang yang sudah terlelap dalam mimpi indah.


"Aku pergi! Percuma Aku disini! Dan kalau Aku terus-terusan disini, kau akan semakin mengeluarkan ocehan tak bermutu bahkan semakin menceramahi seolah dirimu paling benar! Dengar, Amelia! Seujung kuku pun Aku tidak ada niatan untuk menyakiti siapapun. Apalagi kamu! Dan juga Juriah yang posisinya sama denganmu! Sudah kubilang, sudah kukatakan, bertahan! Kau cukup bertahan saja dan doakan kebaikan untuk suamimu ini! Suamimu sudah ingat pulang bahkan sampai ribut dengan Juriah pun harusnya kau syukuri! Harusnya kau layani Aku dengan baik ketika Aku menyambangimu! Nih! Uang untukmu!"


Amelia menangis sesegukan.


Tak lagi dihiraukan rasa malu yang tadi menggelayut di hati.


Ia sedih, sakit hati, Soleh melemparkan lembaran uang seratus ribuan dengan tidak sopan lalu melenggang pulang.


Malam yang dingin, menyelimuti hati Amelia dan Solehudin.


Sepasang suami istri yang kini semakin bermasalah.


Soleh juga menangis. Air matanya menetes mengingat betapa jahatnya Ia barusan memperlakukan Amelia.

__ADS_1


Semua Ia pikir untuk kebaikan dan kekuatan istri pertamanya juga. Hatinya ketakutan, Amel menyuruhnya menceraikan Juriah. Padahal jalan yang sudah Ia tempuh baru selangkah saja.


Baru memulai, tapi Amelia sudah menggertak untuk tinggalkan Juriah.


Bukan itu yang Ia mau.


Yang Soleh mau, Amelia mengerti dirinya dan juga perasaannya. Cukup doakan saja. Lalu menerimanya dengan hati senang ketika pulang berbagi kasih dengan Juriah. Harusnya Amelia begitu.


Soleh yang sudah mengkhayalkan tidur bersama Amelia yang lebih dewasa dan lebih pintar bergoyang di atas ranjang. Hati kecilnya merindukan sentuhan lembut Amelia yang mampu membawanya melayang ke atas awan setiap kali bercinta.


Bukan dengan perkataannya yang mirip ustadzah kampung yang sok suci.


Soleh menghapus lelehan air matanya ditengah deru mesin kendaraan dua roda yang harusnya jadi kebanggaan Amelia dan mau dibonceng keliling kampung karena pencapaiannya.


Ternyata... Soleh kecewa karena raut wajah Amelia justru datar saja. Bahkan kedua orang tua Amelia juga tak bereaksi seperti Bapak dan Ibunya.


Sementara Amel hanya bisa menatap Soleh yang kian menghilang dari pandangan.


Soleh, Solehudin suami yang sepuluh tahun dinikahinya. Ternyata, waktu begitu cepat berlalu. Merubah pria tampan yang manis dengan senyuman menawan dan prinsip hidup sederhana.


Terngiang obrolan awal sebelas tahun yang lalu, pertama kali mereka ketemu di tengah rinai hujan yang mencegah mereka berlalu lanjutkan perjalanan.


Dan Soleh pemuda 24 tahun yang sedang menenteng map berisikan surat lamaran pekerjaan dan fotokopi ijazah SMA serta dokumen lainnya yang diperlukan untuk bekerja di pabrik mesin bubut yang baru saja dibuka di kampung Amelia.


Mereka berdua meneduh di sebuah saung pinggir jalan karena hujan yang sangat deras. Bahkan selokan pinggir jalan sampai naik semata kaki dan situasi banjir menggenang di sekitar.


"Naikkan kakinya dek! Nanti ada lintah yang bisa saja menempel karena terbawa dari sawah dan ladang!" ujar Soleh mencoba berinteraksi dengan Amelia yang terdiam merenung menunggu hujan reda.


Mereka hanya berdua saja. Entah kebetulan, tetapi begitulah jalannya takdir dan jodoh.


Pertemuan pertama itu membuat mereka saling kenal dan mengobrol panjang lebar.


Hampir tiga jam, hujan deras tak kunjung reda. Beruntungnya hanya hujan saja, tak disertai kilat dan petir yang biasanya turut menyambar.


Obrolan mereka, mulai menjurus ke hal-hal pribadi seperti pasangan ideal di mata masing-masing dan juga tentang orang tua.

__ADS_1


Soleh adalah pria baik yang jujur dan berbicara apa adanya.


Tidak seperti kebanyakan pemuda lain yang biasanya mengajak Amelia mengobrol. Rata-rata mereka suka menonjolkan diri dan menceritakan kelebihan dibandingkan kekurangannya.


Berbeda dengan Soleh.


Amelia tertarik sejak pandangan pertama.


Soleh tampan, manis, juga baik hati dan tidak suka neko-neko alias bukan pemuda yang suka aneh-aneh.


Semuanya, terlihat sempurna di mata Amelia.




Mendapatkan perhatian Soleh seperti mendapatkan anugerah terindah dalam hidup Amelia yang gadis miskin sederhana dan berkulit lebih hitam dibanding Soleh yang sawo matang.


Tetapi Soleh justru serius melanjutkan hubungan dengan Amelia setelah obrolan di saung saat itu.


Hubungan mereka berlanjut. Soleh mengantar Amelia pulang sampai ke rumah setelah hujan reda.


Malam Minggu berikutnya Soleh datang berkunjung ke rumah orangtuanya Amelia.


Terus berkembang menjadi intens setiap malam Minggu.


Soleh masih pengangguran kala itu. Soleh tamatan SMA sedangkan Amelia hanya lulus SMP saja.


Tetapi cinta sudah melekat di hati keduanya. Dan khayalan bisa menjejakkan kaki di Ibukota untuk merubah hidup, membuat keduanya merasa satu visi misi yang sama. Soleh dan Amelia mulai melanjutkan angan-angan.


Soleh melamar Amelia di bulan kesepuluh hubungan mereka karena Soleh mendapatkan panggilan kerja di pabrik keramik di daerah industri ibukota.


Mereka hijrah bersama dan mengontrak dari kamar kost-an lalu pindah ke rumah kontrakan yang sekarang mereka tempati.


Soleh melarang Amelia bekerja karena ternyata banyak bujangan iseng yang sering menggoda dan mengganggu Amelia ketika istrinya itu sedang keluar.

__ADS_1


Amelia menangis di ranjang tidur Inayah sendirian mengingat masa lalu.


BERSAMBUNG


__ADS_2