
Amelia dan Lukman terkejut karena melihat Rama datang bersama Arthur di sore hari ke rumah besar mereka.
Bahkan Rama meminta waktu kepada kakak dan kakak iparnya beberapa puluh menit untuk berbincang serius.
Tentu saja kedua pasutri itu langsung suu'dzon dan kasak-kusuk di ruang pribadi mereka menerka-nerka apa yang ingin Rama sampaikan dihadapan bule campuran Indonesia itu.
"Ada apa Rama sampai bawa-bawa bule nyasar itu ke sini?" gumam Lukman yang bergemuruh kencang dalam dada.
Amelia yang kini sudah memasuki bulan kedelapan juga ikut cemas melihat Lukman berwajah masam. Hormon ibu hamil mudah sekali berubah meskipun Amelia berulang kali menahan gejolaknya. Karena dirinya kini mudah sekali sensitif.
Dan Lukman tersadar akan kondisi Amelia sehingga Ia segera meraih bahu istrinya dengan lembut.
"Sayang, kamu tunggu di sini. Biar kita para pria saja yang duduk satu meja. Kamu sebaiknya jangan ikut perbincangan kami dulu. Oke?"
Amelia cemas akan kandungannya, tapi kepo dan penasaran dengan kabar yang akan Rama sampaikan.
Kini ketiga pria dewasa itu duduk di meja makan dengan badan saling berhadapan.
"Bisa kita mulai?" kata Lukman lebih dahulu membuka kata.
Rama menelan salivanya. Ia melirik Arthur yang duduk manis disampingnya.
Dug.
"Mas,... tolong Aku, awal ceritanya harus dimulai dari mana?" gumam Rama dengan suara berbisik pada Arthur.
Tentu saja membuat Lukman bingung.
"Ini masalah siapa, Ram? Masalahmu atau masalah dia?"
Arthur membetulkan posisi duduknya.
"Baiklah. Sebelumnya saya minta maaf karena sudah masuk ke dalam kehidupan kalian dan duduk di sini untuk membincangkan masalah yang cukup besar ini bagiku. Ini, tentang kesehatan Emak!"
"Apa??? Kesehatan Emak???"
Rama menunduk, sementara Arthur mengangguk.
"Ada apa? Kenapa Emak?"
Terdengar suara hembusan nafas Rama dan raut wajahnya yang berubah suram.
"Emak, divonis dokter mengidap tumor otak stadium empat."
"A_pa???"
Tentu saja Lukman terkejut dan terpekik kaget. Namun Ia segera menguasai kembali emosinya yang sempat melonjak.
"Dokter yang mana? Dokter beneran atau dokter abal-abal?"
__ADS_1
Ketidak-percayaan Lukman membuatnya berkomentar sinis dengan senyuman tipis.
"Mas Lukman..., ini benar-benar vonis dokter spesialis neurologi di rumah sakit umum daerah ibukota Jakarta."
"RSUD Jakarta mana? Apa itu sudah fix, atau baru diagnosa awal saja?"
Lukman berusaha keras untuk tidak mempercayai omongan Rama apalagi omongan Arthur, sutradara dan produser film yang sempat membuatnya illfeel karena pernah menawari Amelia main filmnya.
"Emak sudah general check up di RSUD tempat Mbak Yu' Amelia dirawat tempo hari, Mas!" tutur Rama. Kali ini Lukman terdiam membisu.
Ia tertegun tak percaya.
"Emak..., tumor otak stadium empat? Bagaimana mungkin langsung stadium empat tanpa ada tanda-tanda dan keluhan di awal?!" gumam Lukman masih tak percaya.
"Itu karena Emak adalah orang yang kuat. Emak tidak pernah memperlihatkan sakitnya pada kita. Maksudku, pada kalian semua."
"Kamu sendiri, kenapa ada di sini? Apakah ada kontribusinya dengan keluarga kami, terutama dengan Emak?" tanya Lukman.
"Maaf..., Rama yang minta, Mas!" jawab Rama.
"Kenapa? Kenapa harus ada dia? Kamu sendiri kan bisa datang dan menemui Aku langsung tanpa harus diantar produser film ini! Dan kamu, apakah kamu sedang menganggur? Atau sedang cari artis baru untuk main di filmmu?"
Arthur tersenyum tipis.
"Jangan terlalu membenciku, Lukman. Karena bisa jadi Aku akan kamu cintai suatu saat nanti. Hehehe..."
"Astaghfirullah, hadeuh... Amit-amit jabang bayi! Naudzubillah tsumma naudzubillah!"
Perkataan Lukman membuat Arthur tertawa terbahak-bahak.
Rama sebenarnya ingin sekali mencegah Arthur agar tidak cepat-cepat beranjak pergi.
Tapi melihat Lukman yang seolah cuek tak peduli ketika Arthur berjalan ke luar rumahnya, seketika Rama tak berkutik.
Hanya handphone yang jadi perantaranya.
Rama menchat Arthur.
^^^Mas Arthur, maaf ya Mas. Aku gak bisa berbuat apa-apa selain,...^^^
No problemo. It's Okay Ram.
^^^Mas masih nunggu Aku kan?^^^
Aku masih di parkiran depan gerbang.
^^^Oke. Tunggu Aku ya Mas^^^
(Emoji jempol)
Lega hati Rama.
Arthur benar-benar pribadi yang dewasa.
__ADS_1
Bahkan disaat dirinya sedang tidak bisa berbuat banyak untuk memberikan penjelasan kepada Kakak iparnya, Arthur tetap memaklumi.
"Ram, apa yang barusan itu benar? Emak sakit parah?" tanya Lukman dengan lebih serius.
"Mas, bagaimana mungkin Aku mencandai penyakit? Apalagi mengatasnamakan Emak! Semua itu benar, Mas!"
Rama mulai menceritakan asal muasal Emak bisa terdeteksi penyakit mematikan itu.
"Apakah itu bisa saja rekayasa si Arthur? Akal bulusnya agar bisa masuk ke dalam keluarga kita dan menginginkan Inayah?"
"Mas Arthur tidak sejahat itu, Mas! Dia baik dan tulus. Bahkan sampai saat ini, tak pernah Ia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Aku berani pasang badan untuk membelanya karena itu benar. Sejujurnya kami sudah saling akrab dan berteman dekat selama ini. Mas Arthur tidak pernah memanfaatkanku untuk mendekati Inayah. Percayalah padaku, Mas!"
Lukman menatap kedua bola mata Rama.
Terlihat kesungguhan dari ceritanya.
"Lantas, apa Emak sudah ceritakan semuanya?"
Rama menggeleng pelan.
"Emak justru menutupinya dari kita. Emak tidak ingin kita sedih. Bahkan Emak meminta mas Arthur untuk tutup mulut. Namun mas Arthur sendiri tidak bisa menjaga rahasia untuk yang satu ini. Dokter juga meminta agar kita menjaga Emak sampai akhir. Untuk operasi, kemoterapi dan radioterapi juga tidak dianjurkan. Tumor otak Emak sudah dibatas akhir. Tinggal beberapa bulan saja kemungkinan kecil batas hidup Emak. Kalau ambil jalan operasi, dokter khawatir fisik Emak drop dan berimbas pada sisa umurnya yang kian pendek. Tapi itu semua terserah pilihan kita. Bagaimana pendapat, Mas Lukman?"
Lukman termangu.
Agak bingung juga mengambil keputusan.
Inginnya sih, Emak berobat serius. Ikut kemo dan masuk ruang operasi. Tetapi ternyata hal itu tidak jadi patokan emak sembuh. Lukman galau dan gamang.
"Bagaimana mungkin umur Emak beberapa bulan lagi!? Dokter bukanlah Tuhan. Dokter bisa saja salah diagnosa. Iya kan?"
Rama mengangguk mengiyakan.
Ada rasa optimis, Emak bisa sembuh dan panjang umur. Karena Rama yakin, umur di tangan Tuhan.
"Mas..., Aku mohon ceritakan semuanya pada Mbak Yu' secara perlahan. Kandungan Mbak juga sama pentingnya dengan Emak."
"Iya. Aku akan ceritakan jika waktunya sudah pas, Ram!"
"Iya. Terima kasih banyak, Mas! Aku akan coba dekati Emak secara persuasif. Emak harus rutin berobat agar kesehatannya terjaga. Dan rasanya tidak mungkin untuk terus-menerus merepotkan Mas Arthur juga. Dia punya banyak kesibukan."
"Hm. Kalau untuk menemani Emak berobat, Aku juga bersedia pastinya, Ram!"
"Iya. Rama juga, Mas! Tapi Emak memilih diam sembunyikan penyakitnya. Kalau Mak sampai lupa berobat, itu bahaya bagi kesehatannya."
Lukman mengerti maksud Rama.
Lukman juga faham dengan maksud Mia menutupi sakitnya.
Ada banyak hati yang akan terluka dan tidak bisa terima.
Amelia, Tia, Inayah dan juga Gaga. Pasti mereka akan histeris mendengar kabar buruk ini.
Lukman hanya bisa menghela nafas. Hatinya remuk redam mendengar cerita Rama, apalagi nanti Amelia. Pasti bakalan sangat terkejut dan menangis keras.
__ADS_1
Lukman sudah bisa membayangkannya.
BERSAMBUNG