Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 21 Amelia Memilih Pulang Kampung


__ADS_3

Soleh mengejar langkah sang istri yang berjalan cepat namun sedikit sembari menenteng tas besar.


"Amelia, kendalikan emosimu! Juriah melihat kelakuan kita!" tukas Soleh dengan suara tertahan.


"Aku tidak peduli! Bapak Ibumu sudah sangat kejam menghinaku!!!" jawab Amelia geram tingkat tinggi.


"Mereka itu orang tua. Ya seperti itulah jika kita tua nanti pada anak-anaknya!"


"Aku tidak mau seperti mereka!'


"Karena kamu childfree, tidak mengerti perasaan orang tua yang memiliki anak!"


Amelia berhenti dan menoleh ke arah Soleh.


"Sabar, Amelia... Kita akan punya anak, tapi tidak saat ini. Karena Aku dan dia tidak melakukan apa-apa semalam!"


Soleh menarik jemari tangan Amelia. Ia menghela nafas lega ketika Amelia berhenti dan menangis dengan wajah tertunduk.


"Aku mau ke rumah Emak, Bang! Aku... Aku kangen Emak Bapak! Hik hik hiks..."


"Ya sudah. Aku akan mengantarmu ke sana. Tapi tunggu dulu. Aku akan ganti pakaian dulu. Ya? Tunggu Aku! Jangan kemana-mana!"


Amelia mengangguk.


Gang rumah Soleh menjadi tempat penantiannya menunggu Soleh yang pulang ke rumah untuk mengganti bajunya yang hanya sarungan dan kaos oblong saja.


Tak lama kemudian Juriah datang menemui Amelia yang berdiri mematung di pinggir jalan menunggu Sang Suami.


"Mbak Amel!"


Amelia menoleh ke arah Juriah yang memanggilnya.


Gadis yang telah jadi istri muda suaminya itu berjalan cepat dengan langkah tergesa-gesa.


"Mbak!"


"Maaf, Juriah! Mungkin tingkahku terlihat kekanak-kanakan dimatamu! Tapi..., ini adalah untuk yang pertama kali Aku berkata kasar kepada mereka."


Amelia mencoba menerangkan lebih jelas. Terkesan membela diri, tetapi Ia ingin Juriah bisa menilai sendiri.


Namun sayangnya, otak Juriah sudah terkontaminasi celotehan-celotehan Bapak dan Ibu mertuanya yang menceritakan hal-hal buruk tentang Amelia. Juriah hanya mengangguk mengiyakan ucapan Amelia.


"Mbak mau kemana sekarang?"


"Mau ke rumah orang tuaku di kampung sebelah, Ju!"


"Iya. Kabari Aku kalau Mbak butuh apa-apa, ya?"


"Terima kasih. Ternyata kamu perempuan baik!"


Juriah menggeleng pelan. Tangannya tiba-tiba mengulurkan sesuatu kepada Amelia.


"Ini, pegangan untuk Mbak!"


"A_apa ini?"


"Sedikit uang untuk jajan di jalan, Mbak! Peganglah. Saya tidak bermaksud merendahkan martabat Mbak. Tapi saya rasa, Mbak akan butuh ini!"


Amelia terhenyak.


Mata mereka saling beradu pandang. Hati Amelia melunak dan langsung merangkul bahu madunya.


"Terima kasih. Aku titip Bang Soleh ya?" ujarnya dengan penuh kelembutan.


Juriah terasa seperti adik kecil bagi Amel. Seperti Tia dan Inayah, adik perempuannya.


Juriah mengangguk.

__ADS_1


"Bang Soleh cuma mengantarku saja sampai rumah Emak. Dia tidak menginap. Jadi,... tolong urus dan rawat dia dengan baik." Kata Amelia lagi.


"Mbak, bagaimana tawaran Saya? Mau ya tinggal bersama?"


"Aku akan jawab nanti via telepon."


"Baik. Saya tunggu jawabannya."


Soleh telah menemui mereka dengan tatapan ambigu.


Hatinya sedikit gamang. Entah mengapa Amelia bisa dekat dengan Juriah. Dan bisa berbincang dengan madunya tanpa hati yang dongkol.


Tidak seperti dengan Mariana, Ibunya. Amelia lebih sering mengadu dan mengeluh. Begitu juga dengan Anta, Bapaknya. Selalu saja ada yang jadi pangkal permasalahan diantara mereka bertiga.


Membuat Soleh agak kesal juga jika ketiganya mulai mencari perhatian dengan bercerita tapi beda versi.


Juriah melambaikan tangan kepada suami serta madunya yang akan pulang ke kampung halamannya di kampung sebelah yang berjarak beberapa kilometer dari kampung mertuanya.


"Jangan kemana-mana, tetaplah di rumah!" ucap Soleh pada istri mudanya yang tampak sedih melihat kepergian mereka.


Juriah..., andaikan bisa, Aku ingin mengajakmu turut serta. Kita pergi bertiga, kemanapun kaki melangkah. Aku akan menjagamu dan Amelia selamanya!


Soleh mulai jatuh cinta kepada Juriah secara perlahan dan alami tanpa Ia sadari.


.............


Angkutan kota yang Soleh dan Amelia tumpangi telah sampai di depan gang daerah pemukiman rumah emak Bapaknya Amelia.


"Ayuk?!"


Ternyata Inayah yang baru saja pulang sekolah dan baru turun dari angkot juga tetapi jurusan yang berbeda meneriakkan nama Amelia.


"Inay! Pulang sekolah? Ini kan baru jam delapan. Masih pagi, koq?"


"Para guru ada rapat. Jadi kami dipulangkan cepat."


Inayah mencium punggung tangan Amelia dan Solehudin.


"Pagi sekali sudah sampai. Dari Jakarta jam berapa, Yuk?"


"Kemarin. Kami menginap di rumahnya Bang Soleh!"


"Oh, pantesan! Hehehe..."


"Bagaimana sekolahmu? Lancar?"


"Alhamdulillah. Tinggal satu semester lagi. Try out, UAS, UAN, lulus deh! Hehehe..."


Inayah adalah adik Amelia yang nomor tiga. Usianya 17 tahun.


Adik Amelia ada empat. Yang pertama bernama Tia 28 tahun, sudah menikah dengan anak tetangga rumah dan memiliki satu anak. Yang kedua Rama, 23 tahun sedang merantau di kota sebrang. Rama bekerja kontrak sebagai ABK kapal pesiar. Makanya perekonomian keluarga Amelia terbantu berkat kiriman uang dari Rama.


Inayah adiknya nomor tiga. Sedangkan si bungsu Gaga 10 tahun sekolah kelas empat.


Kejadian yang lucu memang. Gaga lahir sehari setelah Amelia dan Soleh melangsungkan pernikahan.


Makanya Soleh selalu mengirimkan hadiah di hari ulang tahun Gaga sekalian pengingat hari jadi pernikahan mereka berdua.


Seperti sebulan yang lalu, Soleh membelikan Gaga sepatu futsal dan langsung dikirim via JNE.


"Ayuuk, Abaaang!"


Gaga senang sekali menyambut kedatangan Kakak serta Kakak iparnya di depan pintu. Ia senang karena Amelia pulang. Biasanya Kakak pertamanya itu hanya pulang setahun sekali itu setiap mau lebaran atau setelah lebaran.


"Koq tumben? Ayuk Amel pulang sebelum lebaran?" tanyanya dengan polos membuat Soleh terkekeh.


"Kami habis menengok Ibunya Bang Soleh. Beberapa hari yang lalu dirawat di rumah sakit."

__ADS_1


"Oh, sekarang gimana keadaannya, Bang?" tanya Inayah ikutan nimbrung.


"Alhamdulillah. Sudah sembuh, Inay!"


"Koq kamu gak sekolah?" tanya Amel pada Gaga.


"Ini. Hehehe...!" Gaga menunjuk ke arah kaki kirinya.


"Kenapa?"


"Terkilir pas tanding futsal kemarin! Mainnya penuh kekerasan sih lawannya!" adu Gaga membuat Soleh mengelus kepalanya pelan sambil tertawa.


Soleh melirik wajah istrinya. Ia agak tenang kini karena Amelia terlihat ceria, tidak murung seperti tadi pagi.


Mereka bercengkrama santai sambil menikmati keripik singkong buatan Inayah yang menjadi usaha sampingan adik Amelia itu.


Keluarga mereka adalah keluarga besar yang sederhana.


Dididik dan diasuh oleh dua orang suami istri yang berhati lembut. Tidak seperti Mariana dan Anta, Kan'an dan Mia adalah orang kampung yang tidak suka neko-neko.


Memang keluarga mereka miskin. Tetapi hidupnya damai tak punya beban berlebihan. Mereka agamis dan lebih memikirkan hal-hal kerohanian ketimbang duniawi.


Makanya, hidup bahagia dengan harta berlimpah bukan tujuan utama mereka.


Yang penting sehat, bisa bekerja meskipun di ladang atau pun sawah orang dan memberikan kehidupan yang cukup untuk kelima anak mereka sudah merupakan anugerah besar dari Allah untuk mereka.


Sepertinya Kan'an dan Mia juga sedang bekerja di sawah hari ini. Amelia belum melihat wajah Emak Bapaknya.


Tidak seperti Mariana dan Anta. Mereka memiliki ekspektasi tinggi kepada kehidupan keempat anak mereka meskipun sudah dewasa bahkan sudah menikah.


Semua anak harus menuruti keinginan Mariana dan Anta. Kalau tidak, mereka tidak segan-segan mengucapkan sumpah serapah, bahkan mengutuk dengan kalimat pedas yang menyakitkan hati serta telinga.


Sebenarnya Amelia sudah sangat faham tabiat kedua mertuanya. Tetapi semakin kesini, kelakuan mereka semakin membuatnya berfikir harus berani melawan juga jika tak mau terus terusan diinjak-injak harga dirinya.


"Amel..."


"Ya, Bang?"


"Aku pulang sekarang ya?"


Amelia menelan salivanya. Ia menatap wajah suaminya dan mengangguk pelan.


"Aku akan menjemputmu dua atau tiga hari lagi. Kita akan diskusikan lagi nanti."


"Iya. Bang..., maafkan Aku yang membuat keadaan jadi seperti ini."


"Sudahlah, Amel... Aku minta maaf atas sikap Bapak dan Ibu padamu. Aku..., Aku tidak tahu harus berkata apa untuk,"


"Sudahlah..., jangan bahas itu lagi."


"Iya. Hhh... Tolong sampaikan salam ku pada Emak Bapak ya? Aku harus mengantar Juriah ke rumah orangtuanya. Juga mulai membicarakan urusan bengkel yang akan mereka hibahkan padaku!"


"Iya."


Perpisahan yang menyesakkan dada bagi Amelia. Tetapi tidak bagi Soleh.


Hati Soleh sedikit lega karena Amelia ada ditempat kedua orang tuanya.


Soleh bisa mulai menjaga Juriah dan mendekatinya secara perlahan.


Otaknya bekerja dengan keras memikirkan cara agar Juriah bisa terus Ia lunakkan dan pernikahan mereka berakhir bahagia di atas ranjang.


Semalam ketika Juriah sudah terlelap setelah bercerita banyak, Soleh diam-diam mengamati bibir merah istri mudanya dan mengkhayalkan nikmatnya bercinta dengan Juriah.


Sampai kini, Soleh masih memendam perasaan. Begitu ingin menikmati malam pertama yang tertunda karena Juriah memiliki trauma ketakutan disentuh pria.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2