Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 86 Kejadian Yang Tak Terduga


__ADS_3

Mariana menelpon Tito lewat ponsel Lani yang dipegang Cia.


...[Hallo? Bu? Lani ada di situ?]...


Tito langsung bertanya pada Ibu mertua soal keberadaan Istrinya.


"Ga ada. Kalian ini gimana sih? Koq bisa tenang-tenang saja tinggalin kita berdua di rumah sakit berjam-jam !?"


...[Maaf, Bu! Kondisi rumah beneran kacau! Lani juga sempat pingsan, berangkas emas perhiasannya hilang juga digondol maling. Mungkin Lani sekarang sedang lapor polisi. Ya udah, Tito tutup dulu telponnya ya, Bu! Assalamualaikum...]...


"Waalaikum salam....! Ck ck ck... Ada-ada saja!"


Pikirannya semakin galau mengingat emas-emas milik putrinya itu sudah terkumpul lumayan banyak, dan kini raib di gondol maling.


Mariana kembali berdecak kesal.


Apa iya si Lani lupa kunci pintu gara-gara semalam kita panik bawa Cia ke rumah sakit?


Mariana memijat pelipisnya yang penat.


Ia hanya bisa menghela nafas panjang. Tangannya sibuk mengipas-ngipas tubuh Sang cucu yang sedang tidur setelah menangis menanyakan Mamanya.


..............


Juriah menelpon nomor kontak Samsiah. Ia sengaja menelponnya di dalam kamar.


"Umi? Hallo? Umi dimana?"


...[Umi di butik, Ju! Kenapa?]...


Luruh air matanya. Merasa malu, sedih dan sakit hati. Dia telah dibohongi Uminya sekali lagi.


Jawaban Sang Umi saat Juriah menuduhnya selingkuh ternyata cuma alasan saja.


Leher yang gatal dan alergi emas muda dari kalung yang dipakai Uminya hanyalah alibi yang dibuat-buat.


Juriah merasa sangat bodoh. Mudah ditipu hanya dengan cerita palsu yang dikarang Samsiah.


Tumpah air mata di pipi sembari mendengarkan suara Uminya yang terus berbicara seolah dirinya tidak tahu apa-apa.


"Umi... Umi bertobatlah, Umi! Hik hik hiks..."


Akhirnya Juriah mengeluarkan unek-uneknya. Seketika Samsiah terdiam. Hening dari balik ponselnya tanpa suara.


"Bertobatlah Umi! Minta ampunan Allah Ta'ala! Hik hik hiks... Sebelum Abi tahu kelakuan Umi. Segeralah Umi bertobat! Taubatan Nasuha!".


Samsiah masih diam, tak ada jawaban.


Sampai akhirnya Juriah mematikan sambungan teleponnya. Dan menangis sesegukan dengan tubuh telungkup di atas ranjang.


Soleh datang melihat keadaan istrinya.


Hanya tatapan kosong penuh kebingungan. Soleh merasa gagal jadi orang dewasa yang harus bisa menangani permasalahan ini.


Satu sisi adalah Ibu mertuanya, sisi lainnya adalah adik kandung. Sulit baginya untuk memihak salah satu diantara mereka.

__ADS_1


Apalagi Samsiah juga berjasa besar dalam membela Soleh ketika Ojan mulai melampiaskan amarah dengan menjadikannya kambing hitam.


"Yang..."


Juriah melompat ke pelukan Soleh.


Tangisnya pecah di dada sang suami.


Hingga,


"Aduhh! Aduh perutku sakit, Mas! Aduhh!"


"Ke_kenapa? Kenapa perutnya?"


Sontak Soleh panik. Wajah Juriah pucat seputih kapas.


Dan Juriah mengerang kesakitan sambil memijit-mijit perutnya yang sakit seperti dipilin itu.


"Masss, aduuhh!!!"


Soleh mengangkat tubuh Juriah yang terkulai lemas.


Darah mengucur dari bagian sensitif Juriah.


"Apa ini? Pendarahan? Darimana datangnya darah ini? Koq?,"


Soleh makin panik.


"Lani! Lani, sini cepat bantu Aku! Lani!!!" pekiknya keras membuat Lani bergegas.


"Ada apa sih?!?"


Siang itu menjadi siang yang horor bagi Soleh, Lani juga Juriah.


Karyawan bengkel ikutan panik.


Mereka menelpon pihak ambulance yang bergerak cepat membawa Juriah ke rumah sakit besar, tempat Cia di rawat.


Darah yang mengalir deras dari alat vi+Al Juriah bagaikan kran air yang dibuka full. Terus keluar hingga membasahi sekujur pakaian Juriah.


Istri muda Solehudin itu tidak sadarkan diri dan mengalami pendarahan hebat hingga Soleh harus berjibaku mencari kantong darah untuk transfusi.


Lani yang anaknya juga dirawat di ruang anak lantai dua, memberi kabar Mariana kalau Juriah pendarahan dan ada di rumah instalasi gawat darurat.


Lani bergantian menjaga Cia sementara Mariana bergegas ke ruang IGD menemui Soleh yang sibuk sendiri mengurus administrasi lalu harus mencari kantong darah karena stok golongan darah Juriah sedang kosong.


"Leh, gimana istrimu?"


"Ibu, tolong jaga dulu Juriah! Aku harus mencari darah di rumah sakit lain!"


"Leh, Leh! Tunggu!"


Soleh sudah lebih dulu pergi dengan menyewa ojek karena tadi Ia ikut mobil ambulans bersama Juriah dan Lani.


"Ck! Ada-ada saja! Hhh... Bikin susah orang tua! Bukannya bikin senang!" gerutu Mariana kesal.

__ADS_1


Tak lama kemudian Ojan dan dua kerabatnya datang melihat keadaan sang putri tunggal.


Sepertinya karyawan bengkel dan toko onderdil menelpon memberitahukan keadaan Juriah.


Mariana memicingkan matanya. Bibirnya menyeringai melihat Ojan yang terlihat menyedihkan sekaligus menyeramkan.


Satu kakinya timpang hingga jalannya tertatih-tatih karena tulang kaki yang tidak normal setelah kecelakaan.


Wajah Ojan yang dulu tampan, kini terlihat menakutkan dengan bola mata kosong satu. Juga ada luka baret yang cukup mengganggu orang yang melihatnya termasuk Mariana.


Ya ampun! Juragan kaya raya yang dulu tampan itu kini seperti makhluk yang menyeramkan! Hm. Ternyata benar, wajah tampan bisa berubah sekejap mata jika sudah habis masanya. Untungnya uangnya tak habis-habis!


Mariana berkutat dengan fikirannya sendiri.


Ia menyambut Ojan.


"Pak Ojan!"


"Anakku begini pasti karena kelakuan anakmu!" dengus Ojan langsung menyerang Mariana.


"A_apa?"


Mariana melotot tersentil hatinya.


"Anakmu adalah pria bermental tempe yang bisanya cuma menengadahkan tangan meminta-minta padaku juga anakku! Cih! Menyesal Aku menikahkan putriku dengan anakmu yang sama sekali tidak bisa diandalkan! Bahkan untuk membahagiakan Juriah dengan hartaku saja bisanya cuma menghambur-hamburkan uang saja!"


Mariana makin meninggi emosinya.


"Bisa-bisanya kau menyalahkan putraku! Keterlaluan! Dasar keluarga pemeras tenaga orang! Pantas kau bisa kaya raya, ternyata... teganya kau mengambil keuntungan untuk dirimu sendiri!" serang Mariana membalas makian Ojan yang bertubi-tubi.


Ruang tunggu IGD menjadi ramai karena Ojan dan Mariana yang saling lempar ocehan. Semakin lama semakin meninggi intensitas amarah keduanya sampai harus dilerai pihak keamanan setempat. Dan Ojan maupun Mariana pergi ke arah yang berbeda.


"Si+lan! Bisa-bisanya si buruk rupa itu memaki perempuan! Seharusnya Ia mengaca di cermin dulu biar tahu seperti apa mukanya sekarang. Jangan gampang menghina orang, mencaci sesuka hati! Dasar orang gila!!!"


Lani terkejut melihat Mariana yang mengoceh terus tanpa Lani tahu apa sebabnya.


"Kenapa, Bu?"


"Orang gila buruk rupa, kembali kesurupan mencaci maki Aku didepan banyak orang!" celoteh Mariana membuat Lani semakin bingung.


"Siapa, Bu?"


"Si Ojan Markojan!"


"Oh!"


Lani diam. Malas menimpali komentar ibunya karena matanya kini fokus menyuapi makan Cia.


Pusing juga Ia, suami istri itu membuatnya keluarganya menjadi hancur berantakan perlahan-lahan.


Lani termenung. Teringat semua kejadian demi kejadian yang menimpa keluarganya sejak Soleh menikahi Juriah.


"Apa memang..., keluarga si Juriah... memang memiliki, pesugihan?" gumam Lani pelan pada dirinya sendiri. Merinding seketika bulu kuduknya.


Ia menggelengkan kepala. Mencoba menghilangkan pikiran buruknya pada keluarga kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Atau..., atau ini kerjaan si Amel? Dia... pasti begitu benci pada Bang Soleh dan juga kedua orang tuaku! Benar! Pasti si Amel!!!" seru Lani makin tak jelas fikirannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2