Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 22 Juriah Dan Perasaannya


__ADS_3

Ditempat yang berbeda, kediaman Mariana dan Anta. Juriah sedang mendengarkan cerita karangan sang mertua yang menceritakan keburukan demi keburukan sifat serta sikap Amelia selama berumah tangga dengan Soleh.


Dengan kejadian yang terjadi barusan, tentu saja membuat Juriah tak ayal percaya juga ucapan kedua mertuanya.


"Perempuan itu suka sekali mengatur hidup kami terlebih hidupnya Soleh. Dasar perempuan tidak punya adab! Dia seringkali seperti itu padahal kami selalu menuruti keinginannya!" celoteh Anta dengan bibir mencucut.


"Itu sebabnya Bapak berani melawan sekarang! Dia pikir, dia akan terus menjadi ratu di keluarga yang selalu ia tindas. Dia orang miskin, tapi gayanya sok kaya. Juriah lihat sendiri kan barusan tingkahnya pada Bapak?" tambah Mariana mengaduk-aduk emosi semua yang mendengar.


"Hidupnya selalu penuh sandiwara! Pura-pura mau pingsan supaya Soleh lebih memperhatikannya! Itu adalah akal bulus si Amel, Ju! Kamu jangan terpancing oleh sifatnya yang sok ramah!"


Kedua orang tua Solehudin itu terus menerus memancing dan mencuci otak Juriah dengan cerita palsu tentang Amelia, menantu pertamanya yang tidak sesuai.


"Apa kampung Mbak Amel dekat dari sini, Bu?" tanya Juriah.


"Satu jam lebih kalo naik angkutan umum. Tapi kalo naik motor, bisa satu jam kurang koq! Andaikan motor Soleh sudah dibawa dari Jakarta, kayaknya bisa deh dia bolak-balik pulang ke istri tuanya nanti!"


"Saya ada rencana ajak Mbak Amel tinggal bersama di Asamka. Mas jaga bengkel di sana. Kami bisa tinggal satu atap."


"Ya Allah, Juriah?! Kenapa kamu ini baik sekali? Hatimu bersih bagaikan malaikat. Sungguh suatu kebahagiaan bagi kami! Tapi,... buat apa ajak dia tinggal bersama? Jangan, Juriah! Bisa-bisa rumah tangga kalian selalu panas dan diracuni si Amel terus! Jangan! Ibu sama sekali tidak setuju!"


"Iya, jangan! Jangan berfikir untuk tinggal satu atap dengan madu mu itu, Nduk! Bahaya! Bapak juga tidak setuju!"


Juriah kini bimbang. Ia tadi sudah mengatakan keinginannya tinggal bersama dengan Amelia sebelum istri pertama Suaminya itu pergi.


Hatinya juga resah setelah mendengar kabar kalau temperamen Amelia tidak semanis yang diperlihatkan kepadanya.


Juriah mulai berfikir bagaimana kalau nanti mereka jika benar-benar tinggal satu atap sedangkan sikap dan sifat Amelia culas seperti yang diceritakan kedua mertuanya.


"Berarti... Saya jangan mengajak Mbak Amel tinggal bersama, Bu Pak?"


"Ya jangan! Dimana ada istri muda menanggung beban hidup istri tua! Nanti malah dimanfaatkan! Nanti malah merusak hubungan! Soleh itu pria yang sangat baik, Juriah! Dia pengertian. Sangat pengertian! Dia juga tidak suka membantah ucapan istri karena takut dosa. Kadang malah demi menjaga perasaan istri, Soleh sampai tanpa sadar suka membentak kami. Nanti kamu juga bisa lihat sendiri! Makanya, usahakan untuk bisa mendapatkan hati Soleh, Ju! Soleh akan memperhatikan kamu juga nantinya. Dan dia akan jadi suami terbaik untukmu dan anak kalian kelak!"


"Uhuk uhuk uhuk..."


Juriah terbatuk-batuk mendengar kata 'anak'. Wajahnya memerah mengingat semalam justru Ia menjaga tubuhnya agar tidak diset+b+hi Soleh yang memang sudah seharusnya.


Juriah masih sangat takut berhubungan int+m walaupun kini statusnya adalah istrinya Soleh.


Kenangan buruk ketika pria durjana yang memperk+s+nya tanpa perasaan itu selalu menghantui setiap kali Juriah memikirkan pernikahan.

__ADS_1


Ia trauma. Juriah memiliki ketakutan besar yang belum bisa Ia kendalikan.


Sungguh Juriah sangat bersyukur sekali karena Soleh bisa diajak kompromi dan diskusi.


Semula Ia menerima pernikahan ini hanya untuk mendapatkan status baru. Berharap suaminya tidak terima keadaannya yang tidak ingin disentuh dan menceraikannya saat itu juga. Apalagi Soleh juga memiliki istri yang lain. Jadi dalam pemikiran Juriah, Soleh akan langsung mentalaknya hingga Ia menjadi janda dan tak perlu pusingkan lagi statusnya karena setidaknya Ia pernah menikah menjadi istri orang walau hanya sekejap. Begitu pemikirannya.


Masalah harta, Juriah tidak terlalu peduli. Dia anak tunggal. Warisan Ojan dan Samsiah lumayan banyak. Jika Soleh sampai meminta ganti rugi kompensasi karena dirinya yang menolak disentuh, Juriah pasti akan melepaskan beberapa aset warisannya untuk Soleh dan keluarga.


Tetapi setelah kejadian semalam dan Soleh justru begitu baik, dewasa mengerti keadaan dirinya, hati Juriah mulai terbuka.


Setelah berbincang dengan Mariana dan Anta setelah sarapan pagi, Juriah masuk ke kamar Soleh.


Ia menunggu kepulangan Sang Suami sembari melihat-lihat isi kamar Soleh yang dipenuhi foto-foto masa kecil sampai remaja. Membuat Juriah tersenyum kecil melihat wajah tampan Sang Suami dimasa lalu itu.


Mas... ternyata kamu imut juga ya? Puji batin Juriah.


Diam-diam, benih-benih cinta mulai ditebar. Juriah mulai mengingat kembali percakapannya semalam dengan Solehudin. Ia menangis menceritakan tentang kisah sedihnya di masa sekolah dulu. Bahkan perlahan tangan Soleh terasa hangat mengusap lembut bahunya.


Juriah mulai melamun.


Usia mereka memang terpaut jauh. Dirinya yang baru 22 tahun, menikah dengan Soleh, pria beristri dengan usia 35 tahun. Terlihat sangat jauh jika dilihat dari angka yang tertera.


Tetapi kenyataannya, Soleh masih gagah dan tampan.


Dilihat lebih dekat, justru dirinya lah yang terlihat lebih tua dari usianya. Soleh justru begitu awet muda.



Kumis tipis dan juga sedikit rambut tumbuh dibawah dagu, semakin membuat ketampanan Soleh kian terpancar.


Sejujurnya, wajah Soleh adalah wajah pria idaman Juriah. Berwajah manis, berkulit sawo matang yang estetis dan bertubuh tinggi tegap tapi tidak kekar. Benar-benar pria dengan penampilan yang sangat Juriah suka.


Pertama kali bertemu Soleh, Juriah nyaris tidak ingin mengedipkan mata. Seperti melihat keindahan alam yang Allah ciptakan, Juriah memiliki sedikit kebahagiaan karena ternyata pria yang selama ini selalu disebut-sebut Umi dan Abinya.


Itu sebabnya Juriah lebih melemah tidak terlalu melawan kata-kata orang tua setelah bertemu Soleh di rumah sakit waktu menjenguk Mariana.


Dalam hati Juriah, Ia mau juga dijodohkan. Ternyata pria yang usianya lebih tua 13 tahun darinya itu adalah pria tampan aslinya.


"Assalamualaikum..."

__ADS_1


Sontak Juriah yang sedang rebahan di kasur langsung bergegas bangkit dan beranjak ke luar kamar setelah mendengar suara salam Solehudin.


"Mas..."


"Juriah udah makan?"


Hatinya meleleh mendapati pertanyaan lembut suaminya yang mengayunkan sebuah bungkusan pada Juriah.


"Apa itu, Mas?"


"Nasi uduk. Tadi beli di jalan. Yuk, makan sama-sama!"


Juriah menebarkan senyum termanisnya untuk Soleh seorang. Soleh yang melihat langsung terpana melamun seketika.


Juriah... Senyummu manis sekali! Bikin jantungku kebat-kebit rasanya, kepingin sekali memeluk tubuhmu.


Juriah mengambil bungkusan yang Soleh berikan. Gayanya kini terlihat lebih manja sembari bergurau menikmati harum aroma nasi uduk yang keluar dari kantor plastik putih.


"Juriah ambil piring dulu ya Mas?"


"Iya."


"Mas..." Juriah berhenti sejenak. Matanya menatap Soleh.


"Hm?"


"Mas suka dipanggil dengan panggilan 'Mas' atau 'Abang'?"


"Hahh?" Bola mata Soleh membulat. Lalu tertawa kecil mendengar pertanyaan lucu dari istri mudanya yang memang masih muda.


"Untuk mu spesial. Panggilan mas sudah paling indah."


Juriah lagi-lagi tersenyum manis. Hatinya bahagia dipuji terus menerus oleh Soleh yang terlihat semakin menarik Dimata Juriah.


"Sore kita pulang ke rumah mu, ya?"


Juriah diam tak menjawab.


Tapi pikirannya melayang memikirkan orangtuanya di desa yang berbeda.

__ADS_1


Juriah anggukan kepala.


BERSAMBUNG


__ADS_2