
Arthur Handoko terpekur di atas pusara Bianca Louise Smith, kekasih sejati yang Ia idamkan bahkan sampai Bianca mati.
Banyak jejak digital yang Bianca tinggalkan untuk bisa dilihat Arthur.
Terlihat jelas sampai matipun Bianca tidak pernah mencintai dirinya. Karena tak ada sekalipun Bianca pernah menyebut nama Arthur dalam video-video postingannya di IG perempuan separuh Inggris separuh Indonesia itu. Sama seperti dirinya dan Victor yang anak blasteran.
Tangannya dingin, bibirnya bergetar.
Tak pernah terpikirkan olehnya kalau Bianca akan pergi lebih dulu meninggalkan dirinya. Bahkan dengan meninggalkan satu kenangan nyata dalam hidupnya. Yakni Putra Arthur Pangestu.
Meskipun sempat bingung karena Putra Arthur Pangestu ternyata memiliki akta kelahiran di Indonesia dengan nama ibu dan ayah Inayah serta dirinya. Sungguh diluar dugaan.
Tapi Arthur enggan mengorek keterangan lebih lanjut soal akta kelahiran Pupu yang sebenarnya adalah putranya dengan Bianca.
"Bi, Aku sangat merindukanmu, Bi! Aku datang dari jauh, niatku ingin mempersunting dirimu. Kita bertiga, aku, kamu dan Pupu bisa hidup bahagia selamanya. Ternyata..., kamu tinggalkan aku lebih dulu. Tinggalkan Pupu juga. Hhh... Bi! Kamu adalah perempuan paling hebat. Perempuan yang memiliki jiwa besar bahkan sampai rela memberikan darah dagingmu pada perempuan lain yang mengambil hatiku darimu tanpa kusadari. Tapi kini aku sudah dalam kondisi sadar sesadar-sadarnya. Aku minta maaf, Bi! Aku tahu kamu sampai datang ke Indonesia dan menyerahkan Pupu padaku sebenarnya niatmu untuk membuat kita bersatu. Tapi aku seperti tidak punya hati bahkan membiarkan kamu pergi dan meninggalkan Pupu bersamaku. Kesadaranku datang terlambat, Bi! Maaf. Hik hiks hiks... Maaf!"
Arthur terisak seorang diri.
Angin kencang berhembus menerpa wajah pria yang kini berusia 37 tahun itu.
Arthur merasakan hatinya hampa sekali.
Cukup lama ia terpekur menangis menyesali nasib diri.
Bianca, perempuan yang tak lain adalah teman masa kecilnya itu telah tiada tanpa sempat bertemu kebahagiaan.
Arthur hanya bisa meratapi nasibnya yang malang.
Ini adalah bulan Agustus. Mendekati musim gugur sehingga hawa sejuk semakin semilirkan angin menambah suasana kesedihan hati Arthur.
Arthur mengusap pelan nisan salib yang tertulis nama Bianca.
Dingin sekali menyesap di telapak tangan.
Cintanya pada Bianca kini benar-benar terkubur dalam-dalam. Tak ada yang tersisa. Hanya Pupu seorang warisan paling berharga yang Bianca tinggalkan untuknya seorang.
Cinta memang memabukkan.
Cinta sebelas dua belas dengan minuman beralkohol. Membuat candu para pemujanya yang sudah kadung terperosok oleh pesona cinta.
Dua jam Arthur berkeluh kesah dari hatinya yang terdalam di atas pusara Bianca, ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemennya.
Pupu dirawat dan dijaga Frederica serta Joko. Sedangkan dirinya tinggal di apartemennya sendirian.
Seperti yang dia bilang, ingin menyendiri dan menenangkan hati.
__ADS_1
Tapi ternyata hatinya kian kosong setelah tinggalkan Ibukota negara Indonesia.
Seperti ada yang hilang. Sampai terasa nyeri hatinya ke jantung dan pusat kepala. Berdebar-debar serta nyut-nyutan keningnya setiap kali mengingat Inayah.
"Hhh... kenapa wajah perempuan cupu itu selalu terbayang di pelupuk mata?! Apakah ini karena aku yang terlalu semena-mena waktu kemarin-kemarin sampai wajah anak itu terus-terusan di ujung mata? Haish!"
Arthur yang memulai hidup baru dengan kesendiriannya merasa terganggu selalu karena ingatannya akan Inayah.
Seminggu, tapi rasanya seperti sewindu.
Semakin Ia benci dan muak pada perempuan yang sok polos itu, semakin ingatannya tentang Inayah serta kelakuannya selama tersadar dari koma terus terbayang.
San Fransisco adalah kota yang liberal. Penduduknya mayoritas beragama Kristen tapi banyak juga yang tidak memeluk agama apapun dan tidak mengakui adanya Tuhan. Seperti Arthur tempo dulu.
Tetapi bukan berarti di salah satu kota di wilayah utara negara bagian California, Amerika Serikat itu tidak ada masjid tempat ibadah umat muslim.
Ada salah satu masjid yang sangat indah untuk takaran masjid di wilayah Amerika yang notabenenya terlihat kurang respek dengan Islam, AISabeel Noor Al-Islam. Letaknya ternyata tidak begitu jauh dari apartemen tempat tinggal Arthur.
Entah mengapa, didalam keterasingan sendirian, Arthur selalu saja menatap gedung kokoh yang letaknya hanya beberapa ratus meter saja dari tempat tinggalnya itu jika sedang melamun di depan balkon apartemennya.
Seperti ada sesuatu yang membuatnya menjadi tenang jika matanya menatap bangunan tua yang menyejukkan hati itu.
Memancing Arthur bertanya-tanya dalam hati. Sejak kapan bangunan yang banyak ditemukan di negara Papanya itu berdiri kokoh di kawasan distrik mission ini.
Ia yang terbangun dalam kondisi terbaring di rumah sakit dan tersadar dengan keadaan diri telah memiliki istri serta satu orang anak. Istrinya bahkan ditengarai kini sedang mengandung. Dan yang mengejutkan justru anak laki-lakinya itu ternyata adalah anak biologisnya saat masih berhubungan dengan Bianca.
Kepala Arthur seperti mau pecah.
Bagaimana bisa semua itu terjadi? Sedangkan seingat dirinya, Bianca dengan kejam memutuskan hubungannya dan lebih memilih lanjutkan pernikahan dengan suaminya yang seorang tentara.
Bagaimana bisa ketika Ia terbangun, semua seolah diskenariokan dengan begitu sempurnanya.
Arthur shock. Oleng seketika mendapati dirinya yang benar-benar jauh berubah.
Bahkan teman dekatnya yang Ia kebal di antara para pekerja seni peran di Britania Raya, Victor Valdes juga kini sangat jauh berubah.
Victor Valdes, pria flamboyan yang sangat benci perempuan dan juga rasis itu justru kini menikah dengan perempuan muslim.
Arthur benar-benar tertohok mendapati kenyataan yang ada di depan mata.
Meskipun Inayah terlihat begitu mempesona dibalik hijab style yang dikenakan, sedikit pun Arthur tidak tergoda.
Inayah bahkan usianya jauh lebih muda. Cantik, manis, baik dengan kulit kuning langsat nya yang begitu segar menggoda, justru semakin membuat jiwa Arthur bergejolak dipenuhi amarah. Yang justru ia sendiri tidak tahu, kenapa amarah itu begitu membuncah ingin meledak.
__ADS_1
Inayah yang sangat baik memperlakukannya, justru akhirnya mendapatkan perlakuan kasar darinya.
Sejujurnya Arthur mengakui kekeliruan yang ia buat. Arthur juga menyesalkan tingkahnya yang kadung kelewat batas. Apalagi setelah dirinya mengunggah video teranyar yang pastinya akan sangat menyakitkan hati Inayah yang katanya adalah istrinya yang sangat Ia cintai.
Arthur terdiam melamun dengan mata menatap masjid.
Entah mengapa hatinya tergerak untuk pergi ke masjid itu.
Jejak digital dan juga berkas-berkas yang ia miliki, dirinya adalah seorang mualaf. Masuk Islam mungkin karena desakan Inayah yang akan dinikahinya. Begitu prasangka buruknya.
Arthur selalu berfikir negatif jika itu tentang Inayah yang menurutnya sangat cupu, kuno dan jadul.
Arthur bahkan berfikir, Amelia, Tia, tidak berkerudung. Tetapi Inayah sendiri justru berpenampilan lain. Kepalanya selalu dibungkus kain penutup. Seolah-olah dia tak punya rambut padahal sangat indah ketika diperlihatkan tempo hari padanya.
Arthur selalu menolak Inayah jika hendak mengurusnya. Bahkan dengan tegas Arthur mengusir Inayah pindah ke kamar tamu karena dia tidak nyaman jika tidur berdampingan dengan Inayah yang begitu asing baginya.
Arthur mengenang semua perlakuan jahatnya pada Inayah sepanjang jalan menuju masjid.
Pukul tujuh malam.
Suasana sekitar seperti biasa. Tampak lengang meskipun ada satu dua orang yang lalu lalang melakukan aktivitas.
Brukk.
Arthur terkejut. Sebuah mobil klasik berhenti dan seorang perempuan berpakaian seperti Inayah keluar dari mobil dan menutup pintu mobilnya cukup kencang.
"I am sorry, I'm in hurry!"
"It's Okay. Never mind."
"Thank you. Excuse me."
Entah mengapa, Arthur menyunggingkan senyum pada wanita muslim yang sepertinya asli warga Amerika karena terlihat dari kontur wajah serta kulitnya.
Sekejap kemudian Arthur seperti familiar dengan wajah perempuan yang agak cukup umur itu.
"Siapa ya dia? Sepertinya aku kenal wajahnya!? Mmm... sepertinya, dia seorang artis!"
Arthur yang bergumam seorang diri hanya bisa memandangi wanita itu hingga menghilang masuk ke dalam masjid.
"Sinead O'Connor !!!"
Sontak Arthur menutup mulutnya terkejut bukan kepalang.
__ADS_1
BERSAMBUNG