
Maafkan aku,
menduakan cintamu
Berat rasa hatiku tinggalkan dirinya
Dan demi waktu,
yang bergulir disampingmu
Maafkanlah diriku sepenuh hatimu
Seandainya bila kubisa memilih
Syair lagu yang didendangkan Pasya Ungu lewat kotak musik portabel mini MP3 punya Soleh di rumahnya pukul setengah dua malam benar-benar seperti isi hatinya.
Ditemani Diki dan temannya yang bernama Lukman, Soleh tidur di atas sofa ruang tamu.
Sementara Amelia menginap di rumah kontrakan Diki bersama Tasya, Istri Diki.
Malam itu, Pak RW meminta mereka untuk tabayyun alias saling memaafkan atas apa yang terjadi antara Soleh dengan Amelia.
Pertengkaran dalam rumah tangga adalah hal yang biasa. Tapi jangan sampai membuat keributan yang mengusik ketentraman warga lainnya. Begitu kata Pak RW.
Dan kini baik Soleh begitupun Amel harus merenungkan apa yang membuat mereka jadi bertengkar di tengah malam hingga membuat heboh sekitar.
"Bang Soleh beneran udah nikah lagi? Beneran poligami diizinin sama Mbak Amel? Koq bisa? Gimana ceritanya? Koq bisa mulus jalannya itu gimana, Bang?" tanya Diki sangat penasaran.
"Boro-boro mulus. Ini ribut pun gara-gara masalah poligami. Amelia cemburu istri mudaku!"
"Beuh! Keren!"
"Ck ck ck. Apanya yang keren? Orang berantem koq dibilang keren!" Lukman ikut menimpali perkataan Diki.
Soleh menoleh. Ia tersenyum sinis kepada pemuda yang usianya lebih muda sekitar tujuh tahunan darinya.
"Kamu udah nikah?" tanya Soleh.
Lukman menggeleng.
"Hehehe, belum rasain diamuk bini ya?!" sindiran Soleh disikapi oleh Lukman dengan senyuman lebar.
"Iya." Jawab Lukman tak punya pikiran jelek.
Soleh tertawa puas.
"Bang, spill dong wajah istri mudanya!" celetuk Diki lagi, makin kepo maksimal.
"Heleh, meledek kamu! Hapeku rejed dibanting Amel. Gimana mau spill!?"
"Oh iya ya. Lost contact dong?!"
"Mau gimana lagi?"
__ADS_1
"Kalo Mbak Amel kekeuh minta cerai gimana?"
"Mana berani dia? Itu cuma gertak sambal saja. Aku tau kok isi hatinya. Dia cemburu, Aku akrab sama madunya."
"Bang!" sela Lukman.
"Oi."
"Abang ga punya rasa penyesalan gitu? Sekarang? Kenapa sampe Mbak Amel jadi emosi gitu? Dan tadi kenapa Abang cekik leher Mbak Amel? Mau membunuhnya?"
Soleh menatap tajam wajah Lukman.
"Itu tadi spontanitas. Aku kesal, Amelia banting handphoneku ketika Juriah sedang menelpon. Amelia juga bilang minta cerai. Itu, cuma karena emosiku sebagai laki-laki. Sebagai seorang suami, Aku merasa Amel sudah berlaku tidak sopan padaku! Kamu juga bakalan ngerasain nanti kalo kamu sudah beristri. Dan istrimu bakalan jadi istri yang menyebalkan bagi kamu."
Lukman balik menatap Soleh.
"Jadi intinya, Abang nggak menyesal telah menyakiti hati Mbak Amel?"
"Hei, siapa kamu? Pengacaranya Amel? Koq ngomongnya gitu?"
"Bukan, Bang! Cuma simpatisan saja. Adik saya tiga perempuan semua. Dua malah sudah menikah. Saya ga mau nyakitin hati perempuan, khawatir adik perempuan saya yang dapat karma dari perbuatan kita pada kaum mereka."
Soleh seperti tertampar dengan ucapan Lukman.
Tapi lagi-lagi keegoisan telah membelenggu jiwanya yang merasa lebih benar.
"Aku melakukannya bukan tanpa alasan. Aku juga melakukannya dengan pemikiran yang panjang dan matang. Untuk kebaikan kami juga di masa depan!"
"Udah, udah. Ngapain sih Lo jadi debat sama Bang Soleh? Bang Soleh lebih dewasa secara umur dan pengalaman! Asam garamnya lebih banyak dibandingkan kita! Jangan ngaco dan mulai ceramah! Tidur, Man! Gue getok kepala Lo kalo masih ngoceh soal poligami dan ibadah! Setiap orang punya hak untuk menyakini setiap langkah yang diambil. Seperti Bang Soleh, seperti Lo juga. Kapan Lo kawin? Eh nikah maksudnya. Belum ada hilal kan? Dah, tidur!"
Diki mengomel. Lukman tersipu malu dan tertawa menyeringai.
"Maaf ya Bang!? Saya bablas berfikir terlalu panjang. Hehehe..."
Soleh hanya mengerjap. Ia menghela nafas. Meradang tapi hati kecilnya mengiyakan juga omongan Lukman.
Terbayang seketika jika saja yang melakukan poligami itu adalah Tito, Suami Lani adiknya. Entah apakah Ia bisa menerima alasan yang akan Tito ucapkan.
Soleh mematikan kotak musik portabel-nya dan memejamkan mata.
Pukul dua dini hari, waktu terus beranjak dari perpaduan.
Amelia yang menginap di rumah kontrakan Tasya Diki berusaha pejamkan mata, namun tidak bisa.
Akhirnya pukul tiga dini hari, Ia bangkit dari tidur dan pergi berwudhu.
Ketika tidak lagi sandaran yang menenangkan dan pelukan tangan kehangatan, jalan terbaik adalah hamparan sajadah. Bersujud meminta Kebaikan-Nya.
Mukena Tasya menutup aurat Amelia dan sholat sunnat dua rakaat dengan niat sholat sunah hajat.
Hatinya telah mantap, akan menggugat cerai Soleh, suaminya.
Entah kenapa baru sekarang otaknya berfikir. Kemarin-kemarin, ia tak terlalu pusingkan masalah pernikahan Soleh yang sejatinya ia sendiri yang mengizinkan. Tapi sekarang, Amelia seolah sudah tidak sabar menunggu fajar.
__ADS_1
Diskusi mereka belum selesai. Pak RW meminta Ia dan Soleh untuk merenungkan apa yang jadi pangkal keributan di tengah malam buta.
Amelia merasa Soleh sudah berubah. Bukan lagi Soleh yang dulu.
Awal-awal Soleh menceritakan niatnya menikah lagi karena banyak faktor. Salah satunya adalah membahagiakan kedua orang tua. Juga faktor ekonomi yang sedang bermasalah karena Soleh sudah resign dari tempat kerja. Dan satu lagi, faktor ingin memiliki keturunan.
Amelia teringat ucapan dirinya ketika masih gadis dalam obrolan bersama teman perempuannya di pabrik tempatnya bekerja.
"Mel, Soleh sepertinya agak pemalas. Lebih suka nongkrong genjrang-genjreng bareng komunitasnya ketimbang cari kerja. Padahal dia lulusan SMA. Seharusnya lebih gesit dari yang cuma tamatan SMP kayak kita."
Siti Badriyah, salah satu teman pabriknya pernah mengingatkan.
"Hehehe... Belum ada kerjaan yang srek katanya. Secara, bapaknya kan mandor bangunan (saat itu Anta masih jadi orang kepercayaan kontraktor bangunan di kota) jadi uang bukan masalah bagi bang Soleh!" jawab Amelia kala itu.
"Tapi setidaknya kenapa tak berusaha melamar pekerjaan kesana-kemari dengan ijazahnya itu daripada nongkrong ga jelas dengan alasan menunggu pekerjaan yang sesuai!"
Amelia tersenyum.
Memang, hati kecilnya juga gamang. Tapi melihat hidup Soleh yang enjoy meskipun kantong kosong baginya tak jadi masalah dan sangat realistis dalam memahami hidup, membuat Amelia merasa butuh sosok yang seperti Soleh juga.
Hidup memang harus kita nikmati. Jika terlalu menghamba uang hingga waktu seperti tuntutan yang harus dikejar. Amelia ingin sekali memiliki pasangan yang cocok dalam memaknai kehidupan.
Berusaha dari nol, berjalan tanpa ambisi yang terlalu menjulang tinggi. Namun tetap berusaha mencari jalan terbaik untuk maju. Itu adalah prinsip hidup keluarganya. Sederhana tapi bahagia. Begitu fikirnya dulu.
"Bagiku, masalah kerjaan yang belum Bang Soleh dapatkan tak terlalu jadi masalah, toh usia kita juga masih muda, Sibad. Yang penting bagiku, Bang Soleh adalah pemuda yang setia. Tidak seperti si Lengky noh, ketauan pacaran lagi di belakang si Ima. Hehehe..."
"Hahaha... iya juga sih. Biarpun baik hati dan royal sering belikan barang mahal, tapi kalau cinta diduakan. Hm... maaf ya, I am sorry goodbye!"
"Hehehe... Itulah. Kesetiaan adalah nomor satu. Biarpun wajahku ga cantik, tapi kalo dia mendua, mm... lebih baik lepas dari pada makan hati!" timpalnya kala itu.
"Hahaha... makan hati enak, Amel. Hati ayam apa hati sapi?" celetuk Siti Badriah menimpali.
"Ya. Kita perempuan harus punya harga diri. Iya kan?"
"Ehh, sekiranya suatu hari kamu nikah terus suami minta nikah lagi gimana?"
"Ih, Aku mah mendingan minta cerai daripada di poligami!"
"Eh, siapa tahu jodohmu ustadz gitu!? Biasanya para ustadz menganut paham,"
"Paham apa? Ish, ga semua ustadz ah! Dasar deh kamu! Kamu sendiri gimana, mau emangnya dimadu?"
"Hahaha... ya aku kasih racun! Kecuali, dia buatkan Aku rumah besar, belikan Aku mobil dan orangtuaku dikasih sawah berhektar-hektar. Sekolah adik-adik terjamin sampai lulus semua. Hm... okelah. Hahaha.."
"Dasar cewek matre!"
"Hahaha...! Harus, Mel! Jadi cewek itu harus matre!"
Amelia menangis sesegukan. Kenangan obrolan santainya dengan Siti Badriah seperti slide film yang diputar ulang dan membuatnya dirinya tersadar.
"Ya Allah... Bagaimana mungkin Aku lupa pada prinsip hidupku yang dahulu. Bagiku, hidup sederhana tak mengapa. Asalkan cinta Bang Soleh hanya untukku seorang saja! Hik hik hiks... Aku akan minta cerai! Aku akan belajar hidup sendiri tanpa Bang Soleh! Aku bisa cari kerja meskipun sebagai kuli cuci. Tak masalah. Daripada hidup dengan batin tersiksa setelah sepuluh tahun terus bertahan dengan tekanan kedua orang tua Bang Soleh! Toh Bang Soleh sudah bisa membahagiakan kedua orang tuanya lewat Juriah. Aku, hanyalah seperti batu sandungan untuk kebahagiaan mereka. Menunggu mereka memiliki anak dan bercerai? Rasanya tidak mungkin! Hik hik hiks... Aku akan ajukan perceraian!"
BERSAMBUNG
__ADS_1