Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 228 Kisah Sedih Pasti Akan Berganti


__ADS_3

Tring.


Pukul sepuluh malam, ada pesan masuk di ponsel Inayah.


Terbelalak mata Inayah. Ternyata Arthur menchatnya.


...Assalamualaikum, selamat malam...


Tentu saja pecah seketika dinding kesedihan yang selama ini membelenggu hati Inayah.


Matanya buram berkaca-kaca. Lalu merembes pelan jatuh butirannya dilanda keharuan.


...Waalaikum salam, Mas Arthur...


Inayah tak ingin melewatkan kesempatan emas ini begitu saja.


Tanpa pikir panjang, jemarinya langsung mengetik dan mengirimkan pesan balasan.


...Apa kabar, Inayah?...


...Baik, Mas. Mas sendiri apa kabar? Kabar Pupu? Mami Papi? Semoga semua sehat....


...Iya. Semua sehat....


Mata Inayah buram karena tergenang air yang terus-menerus keluar.


Mas,... aku rindu kamu Mas! Hik hiks hiks...


Hati kecil Inayah membuncah. Ingin sekali Ia mengatakan suara hatinya tapi tak berani. Takut kalau Arthur justru kembali menarik diri dan apatis kembali pada dirinya.


Kini Inayah hanya mengikuti alur.


...Inayah......


...Ya, Mas?...


...Aku mimpi dibangunkan Emak ketika tertidur di masjid AISabeel Noor Al-Islam...


Inayah menganga lebar.


Mas Arthur telah kembali ingatannya? Sungguh? Benarkah ya Allah?


Hatinya bertanya-tanya dengan penuh kegembiraan.

__ADS_1


...Apa... mas sudah ingat semuanya? Kesehatan mas sudah pulih?...


...Belum. Tapi semuanya seolah menarikku dan memberi tahu kalau diriku yang dulu telah berubah. Aku, juga masih banyak pertanyaan. Sangat banyak, Inayah....


Seketika Inayah terdiam. Ada gurat luka kembali menggores hatinya yang kadung bahagia.


Tapi Inayah berusaha tersenyum.


Ini sudah suatu keajaiban, mas Arthur menchatku lebih dahulu dan menanyakan kabar ku.


Ia berusaha membesarkan hatinya bahwa Arthur perlahan telah membaik.


...Moga mas segera pulih....


...Inay,......


...Ya?...


...Kamu pasti kecewa dan sangat membenci aku, bukan?...


...Tidak, Mas. Aku menerima nasib dan takdir ini sebagai ujian kehidupanku....


Diseberang sana Arthur kini yang dilanda keharuan.


Entah mengapa, saling berbalas chat dengan perempuan yang dulu adalah istrinya membuat hatinya menghangat tapi jiwanya jadi merindu.


...Inayah,...


...Ya?...


...Bagaimana kondisi kehamilanmu?...


...Alhamdulillah baik, Mas. Usia kandunganku sudah masuk lima bulan. Sudah selametan juga di rumah Mbak Amelia. Aku juga sudah masuk kuliah lagi, Mas. Kubatalkan cuti hamilku sampai empat bulan kedepan....


Arthur termenung memikirkan chattan Inayah.


Jadi kamu masuk kuliah lagi ternyata ya? Hhh...


...Kamu tinggal di mana sekarang?...


Tersentak Inayah mendapati pertanyaan Arthur.


...Maaf, Mas. Aku masih tinggal di rumahmu. Aku...tidak bisa belum bisa maksudnya. Belum bisa meninggalkan kediaman mu untuk waktu dekat. Minimal sampai aku melahirkan nanti. Mungkin aku akan pindah ke rumah kontrakan setelah bayi kita lahir....

__ADS_1


Arthur termangu membaca ketikan tangan Inayah.


Ia akan pindah ke rumah kontrakan setelah melahirkan? Apakah itu tidak terlalu beresiko untuk bayi kita nanti? Aku, meskipun tidak faham dengan kondisi ini. Tapi... jujur aku senang sekali ketika mengetahui kalau aku akan punya anak lagi. Karena dulu aku pernah diprediksi mandul. Sulit punya anak.


Inayah termenung.


Arthur tak lagi mengiriminya balasan. Bahkan tak terlihat tulisan sedang mengetik di bawah nama WhatsApp nya.


Sedih seketika hatinya.


...Mas? Maaf ya, kalau aku belum juga pindah dari BNR. Maaf. Aku akan secepatnya cari rumah kontrakan kalau begitu. Aku tidak enak hati jika harus menumpang di rumah Mbak Amelia dan juga apartemen Mbak Tia. Mereka pasti akan terganggu lama-lama, apalagi jika nanti bayiku lahir....


Arthur membaca chat masuk dari Inayah lagi.


Kini hatinya tersedak. Inayah mengubah 'bayi kita' menjadi 'bayiku'. Ia merasakan sesak sesaat.


Inayah pasti sakit hati sekali karena perlakuan Aku selama ini. Tebaknya dalam hati.


Padahal Inayah justru sedang merasa cemas kalau Arthur tidak suka dirinya menuliskan 'bayi kita'. Jadi Ia mengubahnya menjadi 'bayiku' supaya percakapan ini tidak sampai membuatnya kesal.


...Tetaplah tinggal di rumah itu, Inayah. Jangan kemana-mana. Aku tidak apa-apa. Justru aku tenang mendengar kamu masih tinggal di sana. Jika kondisi mentalku sudah jauh lebih baik, aku akan menengok bayi kita nanti....


Lagi-lagi bola mata Inayah terbelalak. Binarannya bahkan mampu menembus malam kelam diluar sana yang dingin sehabis hujan deras.


Inayah bersorak riang.


"Alhamdulillah..."


...Terima kasih, Mas....


...Sama-sama...


Keduanya melakukan gerakan yang nyaris sama. Menghela nafas dengan senyuman tersungging di bibir mereka.


Tuhan,... izinkan Aku dan Dia kembali bahagia.


Begitulah kira-kira isi hati mereka. Sama.


Arthur memang belum sepenuhnya kembali ingatannya. Namun perlahan sejak kepulangannya dan menziarahi kubur Bianca, satu persatu kemajuan tentang ingatannya yang hilang dibuka oleh Allah Ta'ala.


Arthur mendekap ponselnya erat di dada.


Ia lupa, kalau Inayah menunggu chat selanjutnya.

__ADS_1


Sampai keduanya tertidur dan bermimpi indah tapi lupa mimpi apa.


BERSAMBUNG


__ADS_2