
Inayah menchat Arthur setelah lima hari berlalu.
Ia tidak bisa menahan rasa di jiwa yang bergejolak campur aduk.
Ada rindu, penasaran dan juga sebal bin kesal karena Arthur tak jua mengirim kabar padanya. Meskipun bukan suatu keharusan karena mereka tidak memiliki ikatan, namun kenyataannya pertemanan mereka sudah ditahap nyaman. Inayah seperti menanti-nanti.
...Hai, Mas. Gmn keadaan Mas Arthur skrg?...
Diread! Cepat sekali responnya! Ayo, ayo cepat balas!
Sedetik, dua detik, tiga, empat,... bahkan sampai dua puluh detik berikutnya, tidak terlihat tanda-tanda kalau Arthur sedang mengetik dan membalas chattan Inayah.
"Kenapa dia gak bales chat Aku? Terlalu sibuk buat bales, tapi baca sempet? Hhh..."
Inayah hanya bisa bergumam sendirian.
Kecewa, tapi berusaha mengerti juga. Toh Arthur bukan siapa-siapanya juga.
Hubungan mereka sebatas pertemanan biasa. Bukan sahabat apalagi spesial dan istimewa.
Tapi..., Inayah merasa hatinya semakin sedih karena respon Arthur yang tak seperti biasanya.
Inayah tidak tahu, Arthur berada di tempat yang berbeda.
Di tempat Inayah kini menunjukkan pukul delapan malam, namun di Berlin saat ini baru pukul dua siang.
Dan sebenarnya hati Arthur berdebar kencang plus tumbuh bunga-bunga yang masih menguncup.
Ada senang tapi juga sedih di hati Arthur.
__ADS_1
Senang karena Inayah mengenyampingkan egonya dengan berani mengirimkan chat duluan pada Arthur. Tapi sedih, karena Ia terikat janji dengan Mia, Emaknya Inayah untuk tidak lagi mengganggu gadis ingusan yang berhasil membuatnya terpesona.
"Inayah... Maaf..."
Bibirnya hanya bisa mengucapkan kata itu seraya menghela nafas panjang.
Hanya dibaca, tapi harus bisa menahan diri untuk tidak membalas chattan Inayah.
Karena jika Ia membalas, hubungan pasti akan berlangsung. Artinya Ia mengingkari janji yang sudah Ia pegang.
Walaupun demikian, Arthur masih tetap memantau keseharian Inayah lewat sadapannya.
Tetap tak berubah, meski dimata Inayah Arthur tampak berbeda.
Arthur tidak bisa melepaskan Inayah begitu saja.
Ia berjanji, setelah dirinya sanggup meredam suasana hatinya yang menggalau karena tak ada restu, ia akan melepaskan Inayah dan mendoakan semoga gadis imut itu bahagia meskipun tak bisa jadi miliknya.
Cintanya layu sebelum berkembang.
Sejak saat itu, Inayah yang baru mulai mengenal cinta, menjadi gadis yang pendiam dan sedikit pemarah.
Bahkan ketika di hari libur dan sedang berkumpul dengan keluarga. Inayah menjadi jauh lebih jutek dan dingin.
Hari berganti hari, minggu berubah minggu.
Tanpa terasa, dua bulan terlewati.
Kandungan Amelia berhasil melewati triwulan pertama.
__ADS_1
Keluarga Aruan sangat bahagia. Apalagi setelah USG mendeteksi kalau perkiraan cucu putra pertama mereka adalah sepasang anak kembar cewek cowok. Tentu saja melengkapi kebahagiaan yang sempurna di keluarga besar mereka.
Nenek Lukman senangnya bukan kepalang.
Beliau langsung memberikan sepasang kerbau yang dipesan dari kampungnya di Toba untuk acara empat bulanan calon buyut-buyut mereka.
Acara akan segera digelar di hotel bintang lima milik Bimo.
Seperti waktu nikahan mereka, acara akan diadakan secara ekslusif di sana.
Kali ini, Lukman mengundang secara khusus beberapa yayasan panti asuhan yang ada di Jakarta untuk hadir dan mendoakan calon anak-anaknya.
Acara Tasyakuran yang meriah dan juga khidmat khusu' tertib. Semua anggota keluarga hadir, begitu pula dengan para kerabat, sahabat dan tamu-tamu kehormatan yang sengaja diundang keluarga besar mereka berdua.
Setelah usia kehamilan Amelia memasuki bulan ke lima, Amel dilarang Lukman untuk mengurus restoran. Semua diserahkan kepada Tia, Tasya dan juga Ziah. Lukman khawatir kesehatan Amelia karena mengandung dua anak sekaligus.
Mia mulai sibuk dengan Fanny di bisnis tanaman holtikultura organiknya yang ternyata prospeknya sangat cerah.
Semua sibuk, termasuk Inayah dan Gaga. Keduanya sibuk belajar untuk mendapatkan nilai yang baik.
Kembali pada rencana masing-masing untuk mempersembahkan yang terbaik dalam urusan pendidikan.
Inayah perlahan mulai bisa melupakan Arthur yang benar-benar seperti menghilang tanpa jejak.
Nomor pribadinya masih aktif. Namun keduanya tak ada lagi komunikasi sama sekali hingga detik ini.
Kita ternyata bukan jodoh. Dan dia bukan pria yang terbaik untukku. Berarti Aku harus legowo.
Begitulah kira-kira isi hati Inayah yang dipenuhi oleh kesadaran tinggi.
__ADS_1
BERSAMBUNG