
"Kau pikir Aku akan melepaskanmu begitu saja, Amel? Tidak. Ingat, Aku tidak akan membuatmu hidup tenang apalagi jika sampai membiarkan kau menikah lagi!"
Wanita yang dulu begitu memuja pria yang berjalan disebelahnya kini bergidik ngeri.
Soleh telah berubah, benar-benar berubah seperti singa gila yang siap menerkam.
"Bang! Aku bercerai bukan karena ingin menikah lagi!" jawab Amelia dengan suara pelan.
Perjalanan menuju rumah ketua rukun tetangga di wilayah tempat tinggal mereka itu menjadi horor bagi Amelia. Soleh seperti setan yang siap dengan taring runcingnya yang menakutkan.
"Cuih! (Ludah Soleh menjejak di atas pijakan tanah) Kalau sampai kudengar kau benar-benar ada main dengan pria yang bernama Lukman itu, siap-siap kalian mati kubunuh!"
"Astaghfirullah..."
"Aku tidak sedang main-main. Dan ini bukan ancaman bohong! Camkan itu, Amelia!"
"Istighfar, Bang! Tidakkah kamu merasa malu mengatakan hal-hal yang memperlihatkan kebodohanmu sendiri karena seperti kebakaran jenggot cerai dari aku!"
Nyaris saja Amelia kena pukul ayunan tangan Soleh. Tapi wanita 30 tahun itu dengan sigap menjauh.
"Sekali lagi tanganmu melayang kena tubuh dan wajah, siap-siap kau membusuk di penjara!"
__ADS_1
"Aku siap. Bahkan kalau perlu, Aku sendiri yang akan menyerahkan diri setelah nyawamu hilang diujung pisau belati buatan tanganku sendiri!"
Entah mengapa, Amelia seperti tidak mengenali lagi Solehudin. Pria santun yang baik hati dan selalu tersenyum kepadanya dengan penuh ketulusan di masa lalu.
Amelia kini menyadari, batas cinta dan benci memang sangatlah tipis sekali. Cintanya yang dulu begitu besar pada Soleh bahkan bersedia menerima pria sederhana itu menjadi suami meskipun saat itu Soleh masih pengangguran dan baru dapat surat panggilan kerja di pabrik keramik Ibukota.
Kini cinta itu dengan cepatnya berubah menjadi benci. Kebencian yang sudah membuat dirinya illfeel bahkan untuk sekedar mengingat masa lalu manis yang pernah ada pun enggan rasanya.
Soleh telah membuat cintanya berubah menjadi benci.
Dan pertikaian keduanya berubah menjadi kobaran dendam cinta yang sama-sama membara.
Tanpa basa-basi, keduanya menceritakan singkat kepada pengurus RT juga RW yang intinya keduanya sudah tidak ada sangkutan lagi antara satu dengan yang lain karena baru saja mengucapkan talak cerai.
Soleh akan hengkang dari rumah kontrakan. Sedangkan Amelia masih akan bertahan dan untuk sementara membiarkan dirinya berjuang sendirian di Ibukota tanpa pulang dan menceritakan semua ini pada kedua orang tuanya.
Amelia yakin, Ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Walaupun hanya memiliki ijazah Sekolah Menengah Pertama saja, tapi Amel yakin rezekinya sudah Allah atur sedemikian rupa.
Ia tidak takut. Tidak boleh takut karena yakin Allah bersamanya.
__ADS_1
Meski dihina Mariana seperti perempuan materialistis dan tidak punya harga diri karena meminta harta gono-gini padahal tidak bekerja sama sekali, tapi kali ini Ia tak mau ambil pusing. Cukup sudah kesabaran yang dipupuknya selama ini.
Sabar tiada berbatas.
Namun kesabarannya menahan semua rasa selama ini pada Soleh terutama kedua orang tua Soleh telah habis tak bersisa. Yang ada tinggallah luka dan kebencian karena terus terusan dihina.
"Dengar ya!? Selama ini Aku diam karena menghormati dan menghargai ibumu juga bapakmu. Tapi kini, maaf... Aku sudah hilang kesadaran. Dan kita kini bukan lagi suami istri. Jadi jika Kamu, Bapak dan Ibumu kembali hanya untuk menghinaku, jangan salahkan aku membalas lebih jauh lagi!"
"Kamu? Membalas? Bisa apa? Bisa nangis semalam suntuk, besok dan seterusnya, kau akan menyesal pernah meminta cerai dariku Amelia!"
"Sudah, Bang! Cukup! Aku tidak ingin terlalu dalam membencimu. Karena biar bagaimanapun, Aku pernah mencintaimu dan kita pernah merasakan hidup bahagia. Pergilah! Semoga kamu bahagia bersama Juriah. Semoga cepat dapat momongan juga supaya apa yang Ibu dan Bapakmu inginkan segera terwujud!"
"Hahaha... apa doamu tulus? Apa kata-kata itu keluar dari mulutmu yang cemburu buta melihatku bahagia bersama Juriah? Kamu cuma sedang cemburu. Aku yakin, dalam waktu tak sampai satu bulan, kau akan menangis menyesali keputusan yang kau ambil ini!"
Amelia berdecak. Kepalanya digeleng tanda kesal melihat tingkah laku Soleh yang bagaikan bocah ingusan yang sedang meledek dirinya.
"Dengar, Amelia! Tuhan pun enggan memberimu anak karena sikapmu yang sok benar ini! Kudoakan kau hidup sengsara seumur hidupmu tanpa pasangan!"
"Semoga doamu kembali kepada dirimu sendiri! Aamiin..."
Seperti itulah dua insan yang dulu saling mencinta kini berubah jadi saling serang dan saling mencerca.
__ADS_1
Cinta itu bisa berubah, seiring waktu tanpa si pemujanya tahu.
BERSAMBUNG