Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 127 Semua Adalah Rahmat Allah


__ADS_3

Tok tok tok


Tok tok tok


"Assalamualaikum... Assalamualaikum."


Sepi, tidak ada jawaban.


Mariana menoleh ke kanan dan ke kiri. Jalan di depan juga sepi.


Lani ikut memutari sebelah rumah Mia dan Kan'an.


Ada seorang perempuan melihat Lani.


"Mbak, maaf numpang tanya... keluarganya Mbak Amel kemana ya?"


"Oo, mereka kemarin sore berangkat ke Ibukota. Mbak Amel hari Sabtu Minggu besok akan melangsungkan resepsi pernikahan di kota. Jadi semuanya berangkat."


"Oh? Begitu!? Tidak dilangsungkan di sini?"


"Di rumah calon suaminya. Kami juga nanti Sabtu akan dijemput untuk pergi merayakan resepsi pernikahan mereka. Hehehe... Alhamdulillah, berkah banget deh. Ibu sama Mbak saudaranya Emak Mia kah? Mendingan Sabtu pagi saja siap-siap. Katanya Sabtu pagi dua bis besar sudah parkir di depan jalan raya buat jemput kita-kita yang mau ikut menghadiri acara ijab kabulnya Mbak Amel."


Lani tersenyum tipis. Mariana juga terlihat pucat tapi turut senang mendengar cerita kebahagiaan yang akan dijelang Amelia.


Satu tahun tiga bulan, Amelia menjadi janda putranya.


Sudah cukup rasanya untuk move on dan memulai hidup baru.


"Semoga pernikahan Amel kali ini bahagia sampai akhir hayatnya!" doa Mariana dengan suara bergetar.


"Aamiin... Ibu dari mana?"


"Saya dari kampung sebelah. Dari Asamka. Terima kasih banyak informasinya ya, Mbak. Kami pamit permisi."


"Iya, Mbak. Sabtu pagi saja Ibu dan Mbak kesini. Pukul sembilan katanya bis berangkat ke Ibukota. Tapi pukul tujuh busnya sudah standby di depan jalan. Ada dua bis kabarnya."


"Iya. InshaAllah, Mbak. Hehehe... Makasih, ya infonya."


Lani menuntun sepeda motor maticnya. Ia kembali membonceng Mariana pergi tinggalkan rumah orang tua Amelia.


Kini tujuan mereka adalah rumah sakit. Menjenguk Juriah dan merawatnya dengan sabar agar istri Soleh itu kembali sehat hingga cepat pulang.


..............


Tia, Inayah, terutama Rama dan Gaga terkejut melihat penampilan Mia yang baru saja pulang dari pergi bersama Fanny, Mamanya Lukman.


"I_ini, Emak??? Ini beneran Mak kami?"

__ADS_1


"Mama Fanny? Emak saya mana?"


Tia dan Inayah sampai terbengong-bengong hingga mendapatkan pukulan pelan dari Mia dan tawa renyah Fanny yang terbahak-bahak.


"Kalian ga boleh iri sama Mak, dong! Hehehe..." ledek Mia yang berdandan rapi super cantik dengan hijab style kekinian tapi sesuai dengan umurnya.


"Emak cantik kan?" tanya Fanny sambil merangkul bahu calon besannya yang sudah dianggap kerabatnya sendiri.


"Mana Mia? Nenek pun mau tengok macam mana penampilannya kini?"


Neneknya Lukman, Ibunda Bimo membuka pintu dan berjalan tertatih dengan tongkat besinya.


Rama dan Tia bergegas membantu orang paling tua di keluarga Lukman itu.


"Terima kasih, anak baik!" puji Nenek yang begitu welcome pada keluarga Amelia.


Mia tersipu mendapati pujian dari orang-orang. Fanny dengan bangga menggandeng tangan Mia. Mereka laksana dua wanita yang bersahabat sedari muda. Bahkan dari waktu pertama kali datang ke kediaman mereka, Mia, anak-anak serta menantu dan cucunya mendapatkan limpahan perhatian serta kebaikan dari keluarga Lukman.


Sampai Amelia menitikkan air mata terharu sekaligus bahagia.


"Sayang! Kamu dan Lukman sudah tidak boleh dulu bertemu kecuali nanti di pelaminan! Ingat pesan Mama! Tidak boleh ketemuan, Oke?"


Lukman hanya bisa tersenyum kecut sambil garuk-garuk kepala padahal tidak gatal. Sementara Amelia hanya tersenyum malu-malu mendapatkan warning peringatan dari calon Mama mertuanya.


Bimo akrab sekali dengan Arif karena ternyata keduanya klop dalam obrolan yang entah apa saja yang mereka perbincangkan.


Mia, Tia, Inayah, sibuk jalan-jalan terus bersama Fanny dan adik-adiknya Lukman ke butik desainer pakaian untuk mereka kenakan di hari istimewa yang akan digelar beberapa hari lagi.


Sementara Amelia, benar-benar dimanjakan bak putri raja. Menerima semua perlakuan khusus untuk calon pengantin. Semuanya dilakukan di salon khusus yang ada di rumah besar utama Keluarga Bimo yang berlantai lima.


Amelia dilulur, dimassage, diuap wewangian bahkan juga kelas private kilat yoga khusus untuk pengantin.


Benar-benar tak pernah ada dibenaknya. Untuk mengkhayal pun Amelia tak pernah. karena sama sekali tidak tahu kalau ada aturan yang dijalankan seperti ini untuk menjadi seorang pengantin.


Semua sibuk, dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan luar biasa.


Lukman juga tidak kalah sibuknya.


Ia pun mendapatkan perawatan tubuh sama seperti Amelia.


Hanya ponsel yang selalu setia ditangan. Menchat dan berceloteh tentang kerisihannya pada Amelia karena harus luluran juga.


Amelia tertawa dengan mata intens menatap layar ponsel.


Jarinya yang sedang perawatan manicure padicure agak kesusahan untuk mengetik bahkan sampai beberapa kali kena tegur si Mbaknya.


Alhasil, telepon pun jadi pilihan.

__ADS_1


...(Jangan chat terus, Mas. Aku ga bisa balasnya. Jariku lagi dikutek ini)...


"Bukan kutek, Mbak, tapi dikasih pacar. Hehehe..."


...[Hahh? Pacar? Buat apa Istriku dikasih pacar? Tiga hari lagi kami mau nikah!]...


"Hahaha... bukan pacar yang itu, Mas! Ini pacar Henna. Jadi si mbaknya tetap bisa sholat koq nantinya!"


...[Oh gitu. Hehehe...]...


Amelia tertawa pelan.


Hatinya bahagia tapi juga deg-degan.


Ia pernah menikah, tapi rasanya kali ini jauh lebih gugup dari pernikahan yang pertama.


Sebab ternyata pernikahan ini melibatkan banyak pihak yang ternyata sangat megah nantinya.


Walaupun Amelia masih belum tahu karena kediaman utama Lukman belum dihias sama sekali. Dan rumah utama keluarganya pun, baru kali ini Amelia datangi. Ia sempat dibawa Lukman ke rumah yang satunya. Ternyata rumah orangtuanya banyak sekali.


"Mbak Yu' benar-benar sangat beruntung ya Mak?!?"


Inayah dengan mata berbinar bahagia mengajak maknya berbincang sebelum tidur di kamar tamu yang luasnya seluas rumah mereka.


Gaga dan Rama tidur di kamar sebelah. Begitu juga Tia, Arif dan Pricilia di kamar sebelahnya.


Sungguh bagaikan mimpi.


Setiap kamar dilengkapi dengan fasilitas lengkap termasuk lemari es kecil yang dipenuhi aneka minuman dan makanan.


Gaga sampai kalap memakan ingin semua.


"Gaga, jangan begitu! Kayak orang kesetanan! Rakus itu temennya setan!" seru Rama mengingatkan adik bungsunya.


"Habisnya Gaga baru pertama kali liat makanan sebanyak ini. Juga baru pertama kali makannya dan enak semua."


"Itu benar. Tapi jangan sampai kita ini yang orang kampung terlihat sangat kampungan, Ga! Jangan buat Mbak Yu' malu dihadapan Keluarga Mas Lukman. Oke? Karena kita ini sedang bertamu. Masih akan beberapa hari lagi kita disini."


"Hehehe... Iya mas Ram. Maaf..."


Rama tersenyum. Mengusap lembut kepala adiknya yang kini telah beranjak remaja.


Teringat ketika dirinya pamit pergi merantau menjadi ABK, Gaga masih berusia enam tahun dan masih suka menangis jika tak diikuti setiap keinginannya.


Kini Gaga telah menjelma menjadi pemuda yang bersikap baik, sopan dan penurut juga.


Rama senang sekali.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2