
Tanpa terasa, Amelia kini sudah melewati bulan keenam.
Lukman adalah suami siaga, suami idaman yang selalu setia antar jaga.
Apalagi kehamilan Amel yang langsung mengandung dua janin. Tentu saja membuat Lukman dan keluarganya benar-benar protektif.
Hari ini mereka ada janji konsultasi dengan dokter spesialis kandungan dan ahli gizi.
Seperti biasa, Lukman antusias mengantar Amelia memeriksakan kandungannya. Detak jantung dua calon bayi mereka menjadi candu bagi Lukman untuk terus rutin mendengarnya setiap bulan.
Hari ini Amelia akan melakukan pemeriksaan USG 4D. Lukman semakin senang dan ingin cepat-cepat melihat paras putra-putri mereka di layar monitor.
Dug.
"Maaf, maaf...!"
Lukman segera mengambil tas ransel seseorang yang tanpa sadar kena senggol tangannya hingga jatuh.
Lukman terkesima melihat satu kaki saja dari orang yang ia jatuhkan ranselnya ketika berjongkok. Satu kakinya lagi dibantu kruk penyangga. Ada rasa penyesalan karena berjalan tanpa perhatikan sekitar.
"Ini, Mas!"
Betapa kagetnya Lukman, karena pria berkaki satu itu adalah... Soleh.
Soleh sedang tertegun dengan mata menatap lekat wajah Amelia tak berkedip.
Begitu juga perempuan yang berdiri di samping Lukman. Siti Juriah, istri mudanya Solehudin.
Mereka berempat seperti membatu dan membisu dengan mata saling berpandangan.
"Amel..."
Amelia menoleh pada Lukman. Ia senang, sang suami gerak cepat menggenggam erat jemari tangannya yang mulai basah karena gugup.
Bukan karena berbuat dosa, tapi Amelia memang terkejut sekali bisa berpapasan dengan mantan suami beserta istri mudanya itu di sini.
"Sudah berapa bulan, Mbak?" tanya Juriah dengan suara bergetar namun tetap menebar senyuman.
__ADS_1
"Jalan enam."
Lukman terenyuh, Soleh benar-benar mendapatkan karma langsung dari Allah.
Tubuh pria yang dulunya tinggi tegap itu kini sangat jauh berbeda. Berbanding terbalik dengan Soleh yang dulu ketika masih bersama Amelia.
Bahkan pakaiannya pun, membuat Lukman miris. Apalagi setelah menyadari kalau Soleh kini cacat dan hanya memiliki satu kaki.
"Semoga lahir dengan selamat. Sehat untuk Ibu dan bayinya." Doa Juriah membuat Amelia mengangguk tersenyum dan mengucapkan kata, "Aamiin."
"Kami permisi, Mas, Mbak!"
Lukman segera mengambil alih. Di tuntunnya Amelia menjauh dari pasangan yang sempat membuat istrinya itu down di masa lalu.
Keduanya hanya saling menggenggam tangan tanpa kata-kata sepanjang jalan.
"Mbak Amel telah jadi perempuan yang sempurna!" seloroh Juriah membuat Soleh terluka harga dirinya. Mata Juriah menatap pasangan suami istri yang berlalu dari hadapan sampai menghilang di balik lorong rumah sakit.
"Apa maksudmu, Ju? Apa aku ini bukan pria sempurna? Bukankah karena pasanganku sendiri juga bukan perempuan sempurna? Hamil diluar nikah, sakit kista dan susah punya anak lagi!" katanya nya sengit.
Juriah sudah faham tabiat Solehudin kini.
Juriah enggan menanggapi.
Niatnya ke rumah sakit ini pun adalah untuk mengobati penyakit yang Soleh derita.
Seharusnya Soleh sadar diri dan tidak menghakimi Juriah karena dirinya yang kini dalam kondisi menyedihkan.
Tapi Juriah sudah malas berdebat.
Ia hanya mengakui diri dalam hati, kalau Ia telah salah memilih suami.
Hatinya bertanya-tanya, bagaimana cara Amelia bisa mendapatkan suami yang tampan, beruang dan sangat sayang dirinya itu. Padahal Amelia dulu lebih cupu dari dirinya yang seorang putri juragan kaya raya.
Juriah menghela nafas panjang. Soleh berjalan tertatih dengan mulut bungkam dan mata mendelik kesal.
Bodo amat! Dasar Suami tidak tahu diri! Andaikan saja Aku bisa dapatkan pria yang lain, kupastikan hidupmu sengsara jika tak merubah sikap!
__ADS_1
Juriah kini masa bodoh dengan tingkah Soleh yang menyebalkan.
Namun seketika Soleh tersadar, karena dirinya tidak bisa apa-apa tanpa Juriah.
Emosinya yang sempat meninggi kini turun lagi seiring langkahnya yang terhenti, lalu menoleh pada Juriah yang berjalan pelan di belakangnya.
"Sayang!" tuturnya dengan raut wajah kembali manis.
Cih! Pria ini! Sekarang drama, sok manis. Tadi maki-maki Aku, merendahkan Aku karena mantan istrinya sudah hamil! Pantas memang jika dirinya diberikan cobaan yang sebanding karena sifat congkaknya yang belum juga berubah!
Juriah tak menanggapi Soleh.
Tiga tahun pernikahan mereka arungi.
Bukan kebahagiaan yang didapat, melainkan ujian dan cobaan yang terus-menerus membuat Juriah lelah.
Bahkan satu persatu aset orang tuanya telah berpindah tangan. Mereka jual karena kebutuhan.
Bolak-balik rumah sakit mengobati dirinya dan juga Soleh yang terdeteksi menderita penyakit mematikan. Hingga untuk berhubungan intim pun mereka tidak boleh sembarangan dan wajib pakai pengaman.
Juriah sendiri kini lemah sejak operasi pengangkatan kanker rahimnya.
Terkadang jiwanya ingin berontak. Namun setelah disadari, dirinya juga membutuhkan Soleh untuk terus disisinya.
Karena takdirnya yang Tuhan tentukan sebagai jodoh Solehudin, pria arogan yang tengil meskipun jaman dan keadaannya telah berubah.
Soleh tersenyum malu.
Tangannya mengapit tangan Juriah.
"Maaf, istriku! Maafkan Aku yang terbawa suasana hingga tega memarahimu!"
Juriah hanya menghela nafas. Ia tak bisa berkata-kata apa-apa selain menerima nasib dan pasrah.
Keduanya kini berjalan kembali sesuai tujuan. Menuju ruang dokter spesialis yang menangani penyakit Soleh.
Amelia kini telah mendapatkan kebahagiaannya.
__ADS_1
Soleh hanya bisa berdoa dalam hati, semoga Allah mengampuni segala dosanya dimasa lalu. Dan berharap hidup tentram bahagia seperti Amelia dan Lukman.
BERSAMBUNG