Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 161 Pertemuan Mia Dan Arthur


__ADS_3

Sehari, dua hari, bahkan sampai berhari-hari, chat Inayah masih ceklis satu.


Itu adalah hal yang paling menyakitkan bagi Inayah.


Nomor ponsel diblok seseorang. Seorang pria dewasa, bahkan.


Mungkin Aku semenyebalkan itu baginya. Mungkin Aku terlihat childish untuk dia yang sudah berumur cukup matang. Hhh... Sebegitu bencinya kah dia sampai nomorku benar-benar harus diblacklist hingga saat ini?


Hati dan otak Inayah bergaduh sendirian.


Semakin lama semakin mengubah kepribadiannya menjadi jauh lebih pendiam dan pemurung.


Sebenarnya Arthur hanya menutup komunikasi dengan Inayah saja. Tidak dengan anggota keluarga Mia yang lainnya.


Arthur masih sesekali menchat Rama dan mereka saling bertanya kabar satu sama lain meskipun mereka kini berada di negara yang berbeda.


Arthur sudah terbang ke negara Italia untuk keperluan syuting beberapa minggu di sana.


Itu sebenarnya adalah cara Arthur untuk mengurangi rasa rindunya pada Inayah. Meskipun Ia masih bisa memantau gadis imut itu setiap hari lewat media sosial dan juga story-story yang Inayah bagikan, tetap saja tanpa komunikasi dua arah, rasa kangennya tetap mencuat.


Arthur juga berubah setelah menutup komunikasi dengan Inayah. Ia jadi orang yang lebih dingin dan bahkan kini lebih cepat marah.


Pekerjaannya sebagai seorang sutradara dan produser semakin membuat emosinya kian melonjak.


Setiap hari, selalu saja ada masalah.


Sampai-sampai staf-staf dan para kru rumah produksi miliknya resah. Mereka berharap syuting cepat selesai hingga mereka segera kembali ke Indonesia. Lelah rasanya melihat wajah suram dan tatapan tajam sang atasan yang seperti seorang perempuan kena syndrom PMS.


"Gaga!!! Ya Allah ya Tuhanku!!! Bisa gak sih kamu itu ga bikin Mbak senewen? Nyebelin banget! Cepetan ambil lap tuh! Makanya kalo minum itu duduk! Jangan jalan-jalan kayak gitu! Ish!"


Gaga menggaruk kepalanya sambil cengengesan.


Bletak!


"Maaakkk!!!" pekik Gaga kena jitak Kakaknya yang kini suka sekali marah-marah.


"Habisnya dibilangin malah nyengir!" timpal Inayah kesal sambil berlalu masuk kamar.


Tinggal Mia yang geleng-geleng kepala melihat tingkah dua anaknya itu.


Sudah dua hari ini Ia merasakan sakit di bagian kepala. Fanny memberinya izin untuk berobat ke dokter, tapi Mia lebih memilih istirahat di rumah untuk memulihkan kondisinya.


Melihat dua putra putrinya ribut terus dari tadi pagi, Mia malah semakin pusing bukannya mendingan.


Gaga menghela nafas panjang.


Tadi pagi Inayah bahkan menumpahkan air pel yang ada di ember sampai lantai benar-benar banjir. Tapi melihat Gaga yang hanya menumpahkan sedikit air minum dari gelas, sewotnya Inayah seolah dirinya menumpahkan se-toren air saja. Gaga tak habis pikir dengan kejiwaan Kakaknya yang masih labil padahal sudah beranjak dewasa.


Gaga tidak tahu, Inayah seperti itu karena cinta.


Hari berganti hari, Arthur sudah pulang kembali ke Ibukota.


Ia tidak ambil cuti, tapi langsung kerja di kantor pusatnya mengedit dan menyunting potongan film yang mereka buat di Italia.


Di perjalanan pulang kantor pukul empat sore, Arthur melihat Mia yang sedang berdiri menunggu kendaraan lewat.

__ADS_1


Ia menepi dan membuka kaca jendela mobilnya.


"Mak!" sapanya dengan senyuman khas.


"Mas Arthur?!"


"Naik, Mak! Jam pulang kantor biasanya susah cari kendaraan kosong!"


Mia mengikuti saran Arthur.


Dia kini duduk di jok depan samping Arthur.


"Mak sakit ya?" tanya Arthur sembari menarik laju mesin kendaraannya.


"Kenapa memangnya, Mas?"


"Wajah Mak pucat!"


"Memang agak kurang enak badan. Sudah seminggu, rasanya kepala ini berat sekali. Mata juga kunang-kunang, mual."


Arthur hanya menghela nafas.


"Jaga kesehatan, Mak! Kondisi sirkulasi udara ibukota tidak sesehat di kampung pastinya. Jadi, harus ekstra jaga kondisi tubuh."


"Iya. Mungkin Mak stres karena suasana kota Jakarta yang serba cepat ya, Mas!?"


Arthur tersenyum tipis.


"Sudah lama kamu gak main ke rumah kami."


Bukannya justru Aku harus jaga jarak dengan anak-anaknya kemarin-kemarin?


Hati kecil Arthur bertanya-tanya.


Entah mengapa, Arthur cemas dengan keadaan Mia.


Diam-diam dia membawa ibu dari Amelia dan Inayah itu ke rumah sakit untuk diperiksa kesehatannya.


Mia bingung, Arthur membelokkan mobilnya masuk basemen parkiran rumah sakit dan membawanya berobat.


"Lah? Koq?"


"Ga apa ya, Mak? Kita periksa kondisi Mak. Biar lebih tenang dan gak minum sembarang obat."


Mia akhirnya menurut juga.


Ia bahkan mengikuti prosedur check up general yang membutuhkan waktu pemeriksaan lumayan panjang.


Bahkan Mia sampai sholat Maghrib dan Isya di mesjid rumah sakit karena harus menunggu tes darah dan lainnya di laboratorium.


Arthur memperhatikan Mia yang sedang ibadah di depan mesjid.


Hatinya merasa nyaman melihat orang-orang yang hilir mudik keluar masuk masjid.


Ia perhatikan wajah-wajah mereka justru terlihat lebih beraura positif setelah ibadah dan keluar dari dalam masjid. Hampir semua orang terlihat seperti itu dipandangannya.

__ADS_1


Hingga, ketika Ia melihat Mia keluar dari masjid, langsung dihadang dan dimintai saran.


"Mak, boleh ajarin saya cara ibadah umat muslim?"


Mia tersentak.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Karena saya melihat ketenangan orang-orang muslim yang selesai ibadah. Saya kepingin juga tenang, lahir batin. Terlihat damai dan tentram di hati."


Mia tertegun.


"Mari, kita masuk ke ruang tunggu laboratorium!"


"Mak?!? Apa Mak tidak ingin Saya masuk Islam?"


"Bukan! Bukan seperti itu!" Mia panik. Jantungnya berdebar mendengar komentar Arthur yang spontan.


"Saya ingin sekali belajar ibadah sholat seperti Mak dan orang-orang Islam lakukan pada umumnya."


"Apa karena ada suatu alasan?" tanya Mia menyelidik.


Arthur menggeleng mantap.


"Memiliki ketertarikan pada satu agama apakah harus ada alasan?" tanyanya membuat Mia tercekat.


"Bukan karena ingin menikahi gadis muslim? Bukan karena ingin memperlancar urusan pekerjaan? Dengar, Nak... Agama bukanlah hal yang pantas untuk dijadikan alasan. Apalagi untuk alasan duniawi semata."


"Saya tidak ada alasan seperti itu. Tidak ada gadis muslim yang sedang dekat dengan saya. Juga rekan bisnis saya semuanya kebanyakan justru non muslim. Saya tidak punya tujuan seperti diawal pernah nyaris hampir tercapai. Tidak ada. Ini murni dari hati sanubari terdalam. Bahwa saya tertarik sekali dengan Islam."


Mia tersenyum. Ia menepuk bahu Arthur pelan.


"Mak..."


"Nanti kita belajar wudhu dulu di rumah."


"Wudhu?"


"Iya, Mas. Sebelum ibadah dan masuk masjid, kita diwajibkan untuk mengambil wudhu. Membersihkan najis dengan hadast kecil hingga benar-benar suci dan terbebas dari kotoran najis."


"Kotoran najis itu seperti apa? Eek? Atau,"


"Bukan. Bukan seperti itu juga. Kita kadang tidak ingat, tidak sadar di jalan atau di kantor atau apapun itu, memegang sesuatu yang kotor. Atau...mmm, aduh, Mak bingung jelasinnya. Yang pasti sebelum sholat itu syarat sahnya adalah berwudhu, Mas! Sebaiknya carilah orang yang lebih faham dan pintar memberikan penjelasan supaya mas Arthur lebih mengerti apa itu wudhu dan apa itu najis. Mas hanyalah Ibu rumah tangga yang lulusan SD. Tidak bisa memberikan penjelasan yang bisa Mas Arthur pahami."


Kini Arthur mengerti maksud Mia.


Ia menyunggingkan senyuman dan mengangguk pelan.


Pukul delapan, general check up Mia selesai.


Dokter mengatakan kalau hasilnya baru akan keluar esok hari setelah 1x24 jam.


Mereka pun pulang ke rumah yang letaknya di luar kota Jakarta. Dan baru tiba pukul sepuluh malam lebih karena terjebak macet di pintu keluar tol Bogor.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2