Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 178 Pasangan Suami Istri Yang Kikuk


__ADS_3

Inayah duduk di tepi ranjang. Termenung dengan jantung deg-degan. Karena ini adalah hari pertama Ia dan Arthur tidur satu ranjang setelah seminggu sibuk mengurus tahlilan Mia.


Kemarin-kemarin, Inayah tidur masih bergantian dengan Frederica, Tia, Amelia, bahkan dengan Gaga adik bungsunya.


Malam ini, Ia berkesempatan untuk tidur di rumah Arthur yang indah dan besar berlantai dua.


Kamarnya sangat luas. Dua kali lipat lebih luas dari kamar Inayah di rumah Fanny.


Ranjang tidurnya juga ternyata bukan ranjang yang dijual bebas di pasaran.


Ranjang Arthur adalah ranjang ekslusif. Ranjang besar yang dipesan langsung dari pengrajinnya sehingga Inay pikir itu adalah ranjang satu-satunya yang pernah ada.


Arthur sedang mandi di kamar mandi yang ada di kamarnya. Sementara Inayah menunggu dengan dada berdebar.


Mereka belum pernah melakukan malam pertama. Belum sempat.


Banyak hal yang belum Ia lakukan bersama Arthur sebagai pasangan suami istri. Bahkan berbicara dari hati ke hati, lazimnya orang berumah tangga.


Krieeet...


Arthur telah selesai mandi.


Wajah dan tubuh bagian atasnya masih bersinar, basah oleh air. Arthur juga tengah asyik melap bagian tengkuk serta rambutnya yang klimis.


Seketika Inayah terpana melihat hal yang baru pertama kali itu hingga tanpa sadar Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


Ya ampun, Aku lupa... Aku ini kan istrinya. Kenapa malu hati begini melihatnya seperti itu? Aku... harus terbiasa. Dan jangan sampai mas Arthur illfeel dengan tingkah norakku.


Bersemu merah jambu wajah Inayah memikirkan sikapnya yang cupu. Tapi yang dipikirkan seolah tidak peduli. Dan kini bahkan duduk dengan santai di samping Inayah.


"Mandilah. Biar segar!" kata Arthur dengan suara lembut.


"Uhuukkk!"


Inayah tersedak air ludah sendiri. Arthur menatapnya sembari tersenyum.


"Kamu... tidak nyaman, ya? Baiklah. Aku akan menunggumu di luar kamar. Kamu gak perlu takut aku bakalan mengintip."


Arthur berdiri dan bergegas hendak keluar kamar.


"Mas!" Inayah segera menarik tungkai lengan Arthur yang masih memakai handuk setengah badan.


Mereka bertatapan.


"Ma_maaf..." tambah Inayah lagi.


Arthur menggeleng cepat.


"Jangan minta maaf. Ini bukan salahmu, Inay. Memang pernikahan kita sangat cepat. Aku faham Inayah masih kikuk dan,"


"Aku..., aku sudah menikah. Berarti sudah dewasa. Dan sudah sepantasnya melayani Mas Arthur!"


"Melayani hal apa?"


Memerah wajah Inayah. Arthur sengaja menggodanya.


Inayah pura-pura menyibukkan diri dengan mengambil handuk kecil yang ada di tangan Arthur.


"Mas lemari pakaiannya di mana?" tanya Inayah mencoba mengalihkan ledekan Arthur barusan.


"Lemari pakaian di kamar sebelah. Yuk, kukasih tahu! Lemari pakaian kamu juga disana."


Arthur menuntun tangan Inayah.


Ternyata kamar ganti ada di sebelah. Lengkap dengan lemari pakaian besar yang berjejer begitu rapi.


Lemari besar, kacanya bahkan tembus pandang. Sehingga biasa melihat pakaian mana yang ingin dipakai setelah mandi.


"Ini, lemari pakaian resmi. Ini, khusus pakaian rumah. Itu yang sebelah sana, pakaian Inayah."

__ADS_1


Netra Inayah terbelalak. Seluruh pakaiannya sudah tertata rapi. Bergantung di hanger dan sudah dipilah.


"Koq, pakaianku sudah...?!?"


"Mami dan Cici yang merapikannya sehari setelah wafatnya Emak."


"Hahh?!? Mami? Kenapa kamu biarkan Mami yang rapikan, Mas? Aku jadi malu banget, tau?!"


Inayah panik. Tangannya hendak menepuk tangan sang suami. Tapi..., malah menjawil handuk Arthur hingga,


"Huaaa!!!"


Keduanya menjerit berbarengan.


Handuk Arthur terlepas hingga tubuhnya yang putih dengan bulu-bulu kemerahan yang tegas di sebagian pangkal pahanya menarik perhatian Inayah.


Sontak Arthur tertawa melihat tingkah Inayah yang random karena mengintip di balik lima jarinya yang menutupi wajah.


Arthur membalikkan tubuhnya seraya berjongkok mengambil handuk yang jatuh.


"Hehehe..., ampun deh ah. Kalo mau iseng, ga usah gitu beb. Aku bisa kok kasih lihat kamu tanpa harus buat kamu ngintip malu-malu kucing gitu. Hehehe..."


Sontak Inayah tertohok.


Ia segera berlari keluar kamar ganti dan...


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Gadis polos itu menyandarkan tubuhnya di depan pintu yang tertutup sembari memejamkan mata.


Ya Allah...! Kenapa Aku spontan kabur giniii!?! Ya Allaaaahhh!!! Bodohnya Aku ini! Ish!


Diketuknya dahi sendiri menyadari kegugupannya barusan membuat Inayah seperti hilang akal. Ia kembali membalikkan badan dengan fikiran berkecamuk, tak tenang.


"Gimana kalo mas Arthur tersinggung? Gimana kalo,"


Krieeet...


Arthur membuka pintu kamar ganti. Dia berdiri dihadapan Inayah sudah berpakaian lengkap meskipun pakaian santai.


Kaos oblong putih polos dengan celana Hem selutut.


Manis sekali terlihat.


"Aku udah berpakaian, koq! Hehehe... Ya udah, kamu mandi dulu, gih! Oiya..., ada tombol rahasia, itu... kamu bisa tekan dan pintu meja riasnya akan terbuka. Semuanya, milik kamu, Inayah!"


Arthur melenggang santai dengan senyum dikulum.


Jantung Inayah masih berdebar-debar.


Ia termangu mendengar penjelasan Arthur tentang meja rias rahasia.


Rasa penasarannya membuat gadis itu melangkah masuk dan ingin tahu serahasia apa meja rias untuknya.


Trek


Tangannya menekan tombol yang ada di samping lemari pakaian ekslusifnya.


Taraaa ...


Inayah terpukau. tiba-tiba lemari pakaian yang besar itu bergeser dengan smooth dan... memperlihatkan ruangan lain yang terdiri dari meja rias cantik penuh peralatan kosmetik berbagai merek.


"Ya Allah!" pekiknya kagum.


Semua tertata rapi. Benar-benar surganya para perempuan pecinta make up. Inayah suka meski tidak terlalu faham juga, karena sejujurnya dia lebih suka wajah naturalnya yang orang bilang baby face.

__ADS_1


Namun sebagai seorang perempuan tulen, melihat banyaknya peralatan dandan seperti itu, Inayah terpukau juga.


Mirip toko kosmetik online yang pernah Ia datangi bersama teman kuliahnya.


Inayah menekan kembali tombol rahasia dan lemari bergeser lagi.


Kini Ia kembali ke kamar Arthur dan mengambil handuk warna pink yang ada di hanger khusus handuk di dekat pintu kamar mandinya.


Baru saja membuka, mata Inayah kembali terbelalak.


Bak besar terlihat begitu mewah dan elegan dengan segala macam peralatan canggih, shower yang tidak terlihat kran putarannya. Membuat Inayah bingung sebingung-bingungnya.


Tiba-tiba ia melihat sensor dan mencoba menjulurkan telunjuknya ke arah sensor hingga...


Currr


"Huaaa, panaasss!!!" pekiknya kaget.


Arthur yang mendengar suara teriakan Inayah langsung berlari masuk menemui istrinya yang imut.


Brakk


"Inayah!?!"


Arthur langsung menarik jemari Inayah yang merah terkena air panas dari kran yang tak terlihat di sampingnya.


Pria dewasa itu langsung melap tangan Inayah dengan handuk kecil yang dibasahi. Lalu Ia segera menyemprotkan cairan entah apa yang ada di tabung gas berukuran kecil ke tangan mungil itu.


"Sakit ga?"


Inayah menggeleng pelan.


"Maaf, aku lupa kasih tahu kalau kamar mandi ini peralatannya memakai sensor suhu. Ini, untuk air panas. Ini air dingin. Sebelum kamu mandi, atur dulu suhunya agar hangat-hangat kuku. Baru kemudian buka baju dan berdiri di bawah shower yang ini. Airnya akan turun otomatis setelah mendeteksi suhu tubuh kamu setelah sepuluh detik. Untuk berendam di bathtub, kamu bisa arahkan tanganmu ke bawah sini. Airnya akan mengalir otomatis juga. Kamu bisa tekan tombol ini, untuk tambahan esensial wewangian yang kamu inginkan. Ada aroma coklat, mawar, dan aroma terapi hutan Cemara. Kamu gak perlu khawatir airnya akan terus mengalir. Karena alat itu akan mendeteksi suhu tubuhmu dan akan berhenti sendiri setelah kamu selesai mandi."


Inayah menelan salivanya.


Ini beneran kamar mandi Sultan! Bahkan di rumah Mama Fanny yang kamar mandi dan toiletnya canggih pun masih kalah canggih dengan yang ini!


Inayah bergumam dalam hati.


Arthur tersenyum sembari mengusap lembut pucuk jilbab Inayah.


"Mau... Aku mandikan?" bisiknya membuat pipi Inayah merona merah.


"M_mas Arthur?!"


"Hehehe... Canda mandi. Ya udah, aku boleh tunggu kamu di atas ranjang kan? Takutnya kamu pas mandi butuh sesuatu. Jadi bisa panggil Aku. O iya, ini sabun cair, ini lotion, itu shampoo, conditioner juga ada. Aku lupa tanya sabun dan shampo yang kamu pakai. Setelah ini, kita belanja semua keperluan kamu ke supermarket, ya?!"


"Ga usah, Mas! Aku keramas pakai shampo apapun. Sabun mandi juga ga pilih-pilih. Kadang Giv, kadang Lux. Suka juga sesekali beli sabun Shinzui, atau Dove. Gimana keuangan aja. Hehehe..."


Arthur tertawa. Ia benar-benar memiliki dunia baru jika bersama Inayah.


Gadis cantik itu, sederhana. Polos dan apa adanya.


Sampai Arthur terpukau dengan kelembutan kulit tubuh serta wajah Inayah meskipun tidak perawatan.


"Kamu... cantik dari lahir! Apa... bibirmu merah alami?"


Jemari Arthur menyapu lembut permukaan bibir Inayah yang hanya memakai lipglos saja.


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Ya Tuhan... ya Allah... apa..., suamiku akan menciumku?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2