Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 108 Lukman Yang Bahagia


__ADS_3

"Ini ruko kontrakan yang bisa Mbak Amel gunakan juga buat usaha kateringan. Ini, toko-toko berjejer. Bisa buka rumah makan sekalian. Tambahin karyawan yang bekerja. Mbak bisa fokus di bagian produksi saja. Dan di sampingnya juga ada rumah kontrakan buat Tasya dan Diki tinggal."


Amelia terkesima.


Tempat yang Lukman tunjukkan adalah tempat yang sangat strategis dan juga nyaman untuk usaha kateringnya.


"Pasti sewanya mahal ya?" tanya Amel ragu-ragu.


"Sebulan satu juta dua ratus berikut air. Token listrik diisi sendiri sesuai kebutuhan. Dan untuk Mbak Amel juga Diki, pemiliknya kasih diskon separuh harga. Khusus pelanggan tetap katanya. Aku sudah nego sama pemiliknya. Beneran ini, kalo Mbak minat tinggal cari hari baik buat pindahan."


Mata Amelia membulat seketika.


"Beneran? Separuh harga? Jadi... enam ratus ribu rupiah perbulan? Beneran?"


Lukman mengangguk dan tersenyum manis.


"Mau, Man, mau! Kamu beneran nih, ga bohong? Udah dinego gitu? Terus pemiliknya kasih harga diskon buat dua rumah kontrakan ini?"


Amelia berjingkrak girang. Lukman tertawa terbahak-bahak ikut merasa senang.


"Iya. Khusus buat Mbak Amel dan keluarganya Diki."


"Pemiliknya temen kamu, Man?" tanya Amelia penasaran.


"Hehehe...! Ada deh. Nanti kamu juga kenal sendiri kalo udah tinggal di sini!"


"Oh iya ya?! Kapan ya bisa pindah ke sini?"


"Secepatnya, Mbak! Aku ga mau sampai Bang Soleh datang lagi ke rumah kontrakan yang sekarang dan ganggu ketenangan."


"Iya. Biar nanti Aku bilang dulu ke Tasya dan Diki. Ziah bisa ikut tinggal sama Aku juga karena lumayan luas ya?!"


"Iya. Aku senang karena bisa buat Mbak bahagia."


Amelia tersenyum bahagia.


Di tariknya jari telunjuk Lukman saking senangnya tapi malu untuk menggenggam.


"Hehehe...! Mbak, Jangan bikin Aku degdegan deh! Ini dicantel telunjuk aja udah bikin jantung serseran lho!"


"Ish, kamu ini!"


Sontak Amel melepaskan pegangan telunjuknya dengan wajah merona merah jambu.


Indahnya dunia kini terasa.


Seolah semua permasalahan dan kesedihan yang lalu-lalu sirna seketika tersiram bubuk serbuk sari cinta dari seorang laki-laki bernama Lukmanul Hakim.


Amelia tersipu.


Lukman mengajaknya keliling rumah toko dan membayangkan apa-apa saja yang akan dipasang di sekitar ruangan.

__ADS_1


"Berarti harus beli etalase juga dong ya?" gumam Amelia menghitung di kepala perkiraan budget yang Ia butuhkan untuk memperluas usaha barunya.


"Hm... Tenang, Mbak. Aku punya tabungan sedikit. Bisa bantu nanti beli-beli peralatan buat restoran. Ada temanku juga yang punya usaha furniture dan bersedia berikan kredit khusus usaha kecil menengah ke bawah. Jadi kita gak harus beli cash, cukup bayar angsuran perbulan memperingan di awal usaha. Sebenarnya emang enakan beli kontan jadi ga ada beban fikiran. Tapi, untuk itu butuh modal super gede. Terpaksa kita cari jalan tengah, ya seperti ini. InshaAllah setelah usaha berjalan bisa bayar hutang sampai lunas. Jika kita berfikir positif, InshaAllah akan ada jalan keluarnya."


"Aamiin."


Amel senang. Lukman memang dua tahun lebih muda dari dirinya. Tapi Lukman punya pemikiran yang luar biasa luas dan dewasa ketika memutuskan suatu masalah. Amelia merasa nyaman karena Lukman bisa diajak diskusi urusan yang serius seperti ini.


Teringat dulu ketika Ia masih bersuamikan Soleh.


Pria dewasa yang usianya lima tahun diatasnya itu justru tidak pernah bisa diajak diskusi. Selalu mematahkan semangatnya jika ada niatan buka usaha.


"Udah, jangan suka neko-neko! Ga ada modalnya juga. Lagipula Aku gak yakin usahamu bakalan maju. Yang ada pasti bangkrut lebih dulu. Udah! Duduk manis di rumah. Doain pekerjaanku lancar dan gaji naik terus tiap bulan. Jangan punya keinginan aneh-aneh!"


"Justru Aku mau buat usaha untuk bantu-bantu, Bang! Uang gaji kamu hanya habis untuk biaya hidup. Bahkan kalau mau dibilang kurang, ya selalu kurang. Setidaknya kita punya keinginan untuk usaha tambahan, Bang! Buka warung kecil-kecilan, nasi uduk, lontong sayur,"


"Ga. Ga usah. Ga ada modal!"


"Aku pinjam koperasi perusahaan. Biar aku yang bayar tiap bulan."


"Ga ada. Ga bisa. Aku sudah pinjam banyak dan belum lunas karena bapakku butuh mesin traktor untuk di sawah!"


Amelia menelan salivanya.


Soleh selalu begitu. Mengambil keputusan pinjam uang koperasi perusahaan tanpa kompromi dulu padanya.


Jika Ia mempermasalahkan hal itu, Soleh justru semakin marah dan bilang kalau itu urusannya. Dan dia juga yang bekerja. Jadi Amel tidak boleh komplein urusan keuangan.


Kini Amel tidak ingin mengalami hal seperti dulu lagi.


Jika memang masih ada jodoh dan diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikah lagi, Ia ingin suami yang baik dan mengerti serta selalu mengajaknya diskusi.


Seperti Lukman saat ini.


Hati Amelia berbunga.


Sangat bahagia karena Lukman menghargai dan menghormati setiap keputusannya.


Seperti ruko yang sedang mereka datangi ini. Lukman tidak memaksa Amelia untuk menerima langsung. Tapi meminta Amelia untuk memikirkan keputusannya. Ambil atau tidak.


Dengan harga yang sangat murah dan dapat diskon separuh harga dari si pemilik ruko, tentu saja Amel merasa sangat beruntung dan mau ambil segera unit ruko yang disampingnya ada rumah kontrakan yang bisa disewa Tasya juga. Harga diskon yang sama.


"Man?"


"Hm?"


"Itu bakalan setiap bulan bayarnya segitu kan?"


"Ya kemungkinan si pemilik bisa saja menaikkan harganya nanti-nanti. Tapi katanya harga enam ratus per bulan itu beliau kasih selama enam bulan ke depan. Mau?"


"Mauuu...! Pastinya Tasya juga mau, Man!"

__ADS_1


"Mbak,"


"Iya?"


"Boleh ga panggil Aku Mas, biar lebih enak gitu. Mbak sama Mas, pasangan serasi."


"Hihihi..." Amelia terkikik malu.


Ia terbiasa memanggil Lukman namanya saja. Rencananya ia baru akan panggil Mas jika sudah resmi jadi sepasang suami istri. Tepatnya setelah ijab kabul dilaksanakan.


Amelia mengangguk mengiyakan.


"Iya, Mas!"


"Nah kan, bikin tegang lagi nih dipanggil 'Mas'. Hehehe..."


"Ish, kamu ini, mas!"


Lukman tertawa bahagia.


Ternyata nasehat Papanya ada benarnya juga.


Saat ini Ia sedang ikut kerja dengan Bimo Sang Papa mengurus perusahaan propertinya. Belajar banyak menggeluti dunia bisnis tentang rumah dan kelas-kelas nya.


Sebenarnya ruko-ruko kontrakan ini adalah milik keluarganya terutama sang Mama.


Lukman mendapatkan bagian beberapa unit asalkan mau turun bekerja sama dengan sang Papa.


Bimo memberinya opsi, "Jika nanti kamu telah menikah dan istrimu mengizinkan kamu buka usaha retail dan garmen industri konveksi, Papa akan memberikan modal penuh. Tapi jika kamu sudah beristri dan istrimu memberi izin. Ingat! Karena fokus Papa adalah bisnis properti. Dan kamu juga harus belajar soal proyek pembangunan milik Papa!"


"Siap, Pa! Aku akan jadi putra kebanggaan Papa pastinya. Doakan Aku bahagia menggapai cinta ya Pa?!"


"Aamiin aamiin ya Allah. Semoga bahagia senantiasa menyertaimu, Anakku!"


Bimo senang. Lukman melunak dan bersedia ikut masuk jajaran eksekutif perusahaannya. Cepat atau lambat, Lukman adalah ujung tombak harapannya dalam melanjutkan tongkat estafet usahanya yang kian berkembang.


Sejak Lukman terbuka soal perasaannya pada Bimo dan Fanny, Lukman juga sudah jauh lebih mudah di arahkan ke arah yang mereka inginkan.


Bimo dan Fanny mendukung sepenuhnya niatan Lukman mempersunting Amelia.


Meskipun Amelia bukan gadis perawan, meskipun Amelia pernah gagal dan terdeteksi sulit punya keturunan, mereka tetap mendukung keinginan putra sulungnya untuk melepaskan masa lajangnya dengan Amelia.


Nenek Lukman sendiri menikah yang kedua kali dengan Bapaknya Bimo dalam status janda bahkan punya dua anak pula dari suami sebelumnya.


Masalah anak, Bimo dan Fanny tidak ambil pusing. Toh masih ada jalan lain misalnya adopsi atau mengurus anak saudara. Begitu kata mereka.


Bimo dan Fanny sudah mendapatkan cucu dari dua adik Lukman yang sudah menikah.


Mereka tidak punya masalah jika nanti Lukman menikah dan tidak diberi kesempatan memiliki anak.


Tentu saja membuat Lukman semakin lega.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2