Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 135 Arthur Yang Ngelantur


__ADS_3

Arthur sangat terkejut. Mantan suami Amelia berdiri dihadapannya dengan wajah lusuh dan... cacat tubuh.


Mereka memang menempati sebuah rumah toko besar dua lantai. Dilantai dasar bahkan berdiri kokoh toko onderdil dan bengkel yang luas tapi sepi pelanggan.


Arthur mengamati semuanya dengan seksama.


"Mas... Solehudin?"


Saya sendiri. Ada apa ya, Mister bisa kenal saya?"


Seorang perempuan bertubuh kurus, putih seputih mayat karena pucat seperti tidak pernah tersiram ultraviolet sinar matahari pagi.


Siti Juriah. Walaupun begitu, Arthur mengakui kalau masih ada sisa-sisa garis kecantikan di wajah perempuan yang sebenarnya masih berumur muda itu.


"Nona...Siti Juriah? Putri juragan angkot dan kontrakan di kampung ini?"


"Koq tau?"


"Siapa yang tidak tahu juragan terkaya di kampung ini. Saya mau periksa kelayakan mobil saya."


Juriah terpana. Matanya menatap lekat wajah Arthur yang benar-benar tak terlihat keturunan Indonesia-nya karena berwajah bule sekali.


Hanya suara dan ucapannya saja yang membuat orang baru percaya kalau sebenarnya darah Indonesia lebih banyak mengalir di tubuhnya ketimbang darah Amerika.


Papa Arthur, Joko Handoko asli arek Suroboyo Jawa Timur.


"Mister bahkan tahu nama lengkap saya!?!" Soleh terlihat bingung meskipun bangga.


Untung saja, berita tentang Amelia dan Lukman yang masuk koran tidak sampai masuk berita koran lokal kampung Amel juga Soleh. Sehingga tidak ada yang tahu kecuali orang-orang yang tinggal di Ibukota dan sekitarnya.


"Saya hanya ingin berkenalan saja. Sekalian napak tilas kampung halaman Papa saya."


Arthur memang tidak ingin membuka jati diri serta maksud tujuannya menyambangi Soleh Juriah dengan begitu jujur.


Ia hanya sedang observasi.


Arthur memang sering seperti itu. Sudah bukan hal yang aneh baginya melakukan perjalanan kesana-kemari demi untuk melanjutkan projects barunya hingga berhasil.


Arthur adalah pribadi yang perfeksionis. Detail dan selalu bisa mencari celah meskipun setitik untuk bahan pekerjaannya nanti. Dan hasilnya adalah pencapaian yang Arthur tuai setelah banyaknya perjuangan.


"Mister keturunan Indonesia? Beneran?"


Arthur tertawa. Pertanyaan Juriah bukan yang pertama kali Ia dengar. Bahkan seringkali dan sudah tidak terhitung jumlahnya orang yang menanyakan pertanyaan seperti itu kepadanya.


Jawabannya klise. Mengangguk dan tersenyum lebar.


"Bisa boso Jowo?" tanya Soleh.


Lagi-lagi Arthur menggeleng dan tertawa.

__ADS_1


"Saya lahir dan besar di Amerika. Sekarang pun masih bolak-balik sana sini. Biasalah. Kuli di sini, orang tua di sana."


Soleh tertegun kagum. Begitu juga dengan Juriah.


Untungnya bengkel mereka baru saja masuk seorang montir baru yang lumayan faham urusan mesin mobil hingga bisa membersihkan mesin mobil yang dikendarai Arthur.


Bahkan berkat kedatangan Arthur pula, satu demi satu ada pelanggan yang datang meskipun hanya sekedar ganti oli dan cek rem tangan motor mereka.


Arthur seperti membawa aura keberuntungan bagi bengkel Soleh yang sudah beberapa bulan ini anyep sepi. Tepatnya setelah rumah besar Ojan kebakaran tiga bulan lalu.


"Mbak bulan menikah dengan Mas Soleh sudah berapa lama?"


Arthur mulai mendekati Juriah. Bahkan memberinya julukan Bulan, karena kecantikan yang tersembunyi di balik awan hitam malam yang pekat. Begitu katanya ketika Juriah memprotes kenapa Arthur memanggilnya dengan sebutan Mbak Bulan.


Padahal Arthur telah mengetahui semuanya tentang Juriah. Siapa Juriah dan bagaimana pernikahan mereka.


Bahkan Arthur tahu kalau Soleh menderita penyakit HIV AIDS karena semua data sangat lengkap tentang mereka sudah berada di tangannya.


Arthur sepertinya mulai punya ide lain yang jauh lebih menjedorr menurutnya.


Ternyata jalan cerita hidup seorang Amelia jauh lebih bagus ketimbang jalan cerita pemeran utama di novel "Istri Muda Untuk Suamiku" yang akan Ia garap menjadi sebuah film festival.


Cerita ini jauh lebih membuatku merinding disko ternyata! Terlebih... setelah mengetahui satu persatu orang yang terlibat dalam kehidupan Amelia!


"Mas Soleh kenapa kakinya?"


"Langsung diamputasi dokter bedah?"


"Iya. Pas saya sadar, kaki saya sudah tidak ada lagi. Hhh... Mungkin ini sudah takdir suratan Illahi Robbi untuk saya."


"Mengapa Tuhanmu begitu jahat memberimu takdir?"


Sontak saja Soleh tertegun.


Arthur adalah orang baru yang baru saja Ia kenal. Tapi bisa berkata dengan sangat ringannya seolah menyalahkan takdir Tuhan atas apa yang terjadi pada hidupnya.


Soleh tidak tahu kalau Arthur adalah seorang atheis.


"Itu karena saya memang pantas diberikan takdir ini!" jawabnya lesu.


"Pantas? Menganut suatu agama dan pantas ketika kita diberikan keburukan oleh Tuhan? Lantas untuk apa kita memeluk agama tertentu!? Bukankah kita memeluk agama untuk mendapatkan keberkahan dari Tuhan yang kita sembah? Tapi kenapa justru Tuhan jahat pada kita? Lebih baik tidak menyembah siapa-siapa kecuali berjuang untuk diri sendiri, bukan? Toh menyembah Tuhan tidak berfungsi juga!"


"Astaghfirullah!"


Untungnya ada Le Giman yang memang kini ikut bekerja dengan Soleh dan Juriah.


Le'Giman kini adalah seorang muslim yang taat dan sedang fokus kepada pertobatannya meminta ampunan Allah atas segala dosa di masa lalu.


"Tidak boleh seperti itu! Jangan hujat Tuhan! Dosa besar dan murtad itu! Anda ini siapa, Mister? Anda punya maksud dan tujuan hidup seperti apa? Jangan-jangan Anda adalah orang yang punya niat jahat memurtadkan kami para muslim agar keluar dari Islam dan ikut dengan kata-kata Anda? Anda ini orang yang menyesatkan! Sebelum saya memanggil perangkat desa dan aparat keamanan, sebaiknya Anda pergi dari sini! Apa Anda seorang pendeta yang sedang cari pengikut baru di kampung ini?"

__ADS_1


Le' Giman marah besar.


Ia menghardik Arthur yang mulai belingsatan juga karena salah perhitungan.


Ia terlalu mendalami karakter sampai membuka jati diri sendiri sebagai seorang penganut faham 'tidak percaya adanya Tuhan'.


Setiap orang punya hak untuk menentukan pilihan.


Seperti juga dirinya. Yang berhak menjadi atheis. Itu pilihan hidupnya.


Hingga Arthur diusir paksa oleh keluarga Soleh Juriah karena ucapannya yang terlalu bebas berpendapat.


"Shiiiit!" makinya kesal dengan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Cekiiiit...


"Meooong!!!"


"Kyaaa, ya Allah gustiii!!!"


Arthur terkejut.


Mobilnya menabrak sesuatu. Sepertinya seekor kucing dan seorang gadis muda berteriak membuatnya tambah kaget.


Brak.


Arthur keluar dari mobil.


Ia tertegun melihat seorang gadis muda berambut sebahu sedang berjongkok dengan tangan berlumuran darah lalu menoleh kearahnya.


"Sembrono sekali nyetirnya! Cepat, bawa kucing ini dan kuburkan dengan layak!"


Arthur merasakan dadanya seperti sesak.


Dan...


Gubrak.


Ia pingsan sementara gadis itu terperanjat kaget sambil memekik keras.


"Kyaaa...!?!"


Gadis manis yang baru saja tamat SMA itu langsung berteriak meminta tolong pada orang-orang sekitar.


"Toloooonggg, toloooonggg!"


Gadis itu adalah Inayah. Adik kandungnya Amelia yang sedang bersiap-siap akan pindah domisili. Saat ini Ia baru saja akan ke warung sebrang jalan. Niatnya ingin membeli beberapa kardus bekas mie instan untuk mengepak barang-barang yang akan dibawa pindah ke Ibukota.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2