Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 53 Akal Bulus Soleh


__ADS_3

Soleh sudah menggenggam Juriah.


Perempuan muda itu meskipun keras kepala dan mulai terlihat bawelnya tetap saja adalah tambang emas yang berharga bagi Soleh.


Sehingga Ia harus bisa mengambil hati Juriah untuk terus memuja serta mengikuti keinginannya.


Setelah melakukan hubungan suami istri seperti biasa, Soleh mulai kembali mencari perhatian Juriah dengan obrolan yang dilebih-lebihkan.


"Yang,..."


"Hm?"


Juriah yang terlentang dengan tubuh basah keringat berdehem merespon panggilan Soleh.


"Amel tadi menghubungiku!"


"Apa? Mau apa Mbak Amel telepon, Mas? Ada perlu apa?"


Amelia membalikkan tubuhnya ke arah Soleh. Nada bicaranya mulai terdengar kesal.


"Entah. Aku tidak meresponnya juga. Mungkin dia menyesal, minta cerai dari Aku!"


Juriah terdiam. Dan Soleh semakin senang karena istrinya itu mulai masuk perangkapnya. Juriah tanpa malu-malu berdiri polos di hadapan Soleh.


"Mas...! Apakah Mbak Amel lebih baik dari Aku?"


Soleh pura-pura menutup wajahnya. Padahal bibirnya menyembunyikan smirk senang.


Juriah terbakar cemburu.


"Mas...! Mas jawab Aku!"


Juriah menggoyang-goyangkan tubuh Soleh.


Mereka masih tel+nj+++ hingga Soleh kembali menerjang bagian tubuh Juriah yang menantang.


"Tentu saja, kaulah yang paling baik segala-galanya, Juriah!" bisik Soleh kembali melakukan kegiatan yang kedua kalinya.


Mereka bergumul dengan diiringi tawa dan d+s+h bahagia.

__ADS_1


Begitulah Soleh membahagiakan Juriah lewat belaian kasih sayang. Dan Juriah semakin jauh jatuh cinta kepada Sang Suami yang semakin kotor fikirannya.


..............


"Adikku... ingin punya rumah sendiri. Tapi, dia tidak punya lahan. Bisakah Ia bangun rumah di daerah sawah yang digarap Bapak Ibuku?"


Juriah menatap wajah Soleh.


"Mbak Lani? Mau bangun rumah?"


"Iya, Yang! Dia ribut terus dengan Mertuanya. Begitulah... hhh... kalau tinggal bareng mertua!"


"Untuk seratus dua ratus meter sepertinya gak akan jadi masalah buat Abi Umi, Mas! Silahkan saja!"


"Tapi Abi pernah bilang, sawah itu baru akan dihibahkan jika kamu hamil, Sayang! Jujur Aku ga enak, rumah tangga kita baru sebulan setengah tapi... keluargaku seolah menagih janji padahal Aku belum bisa... menghamilimu juga sampai saat ini!"


Juriah langsung merapat tubuh Soleh dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Ga, Mas! Untuk Mbak Lani, aku sangat mengerti. Betapa berat jika harus bertahun-tahun tinggal bareng mertua. Walaupun Aku belum pernah tinggal bersama mertua, tapi ada beberapa sodaranya Umi yang suka curhat kalau tinggal di rumah mertua itu penuh ujian, Mas! Dan masalah kehamilan, kita kan baru sebulan setengah... bukan jadi masalah juga."


"Tapi,... Aku takut Abimu marah. Kamu lihat sendiri bagaimana Abi memandangku, Yang! Dimata Abi, Aku selalu salah. Seolah Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kerja di bengkel memang bukan kemampuanku. Karena Aku dulu kerja di pabrik keramik, bukan di bengkel. Wajarlah aku bodoh dalam urusan menyervis motor atau mesin mobil. Dan kejadian salah menghitung hingga Abimu kehilangan uang dua puluh juta, itu murni kelakuan bapakku. Aku sudah tegur bapak kemarin. Dan bapak minta maaf karena keteledorannya. Dia juga bilang, dia ga faham urusan pembukuan dan pembayaran jual beli sparepart. Jadi, kerugian yang dialami Abi karena bapak yang lupa minta bon nota juga. Maafkan bapak Aku ya, Yang?"


Soleh menghela nafas lega. Juriah berhasil dikuasainya lagi.


"Masalah Lani bangun rumah di lahan Abi gimana, Yang?"


"Buat aja, Mas! Abi ga akan banyak tanya. Sekarang kondisinya Abi seperti itu. Sepertinya Abi juga tak akan keliling mengontrol lahan dan juga kontrakannya. Jadi tenang saja, Mas!"


"Cuma, yang jadi masalah...hhh..."


"Apa, Mas? Ada apa?"


"Lani berniat pinjam uang seratus juta sama kamu. Hhh... Uangnya nanti dia cicil perbulan setelah rumahnya selesai berdiri."


Juriah bingung. Ia tak tahu harus bilang apa. Karena di kartu debit nya hanya tersimpan uang seratus jutaan saja. Jika Ia pinjamkan semua pada Lani, otomatis Juriah tak punya pegangan uang.


"Pinjam Abi aja! Mmm... kamu bisa bikin tanda tangan Abi kan?"


Juriah membulatkan bola matanya.

__ADS_1


"Palsukan tanda tangan Abi?" tanyanya dengan nada suara tinggi.


"Bukan bermaksud,... hhh... maaf kalau perkataanku bikin salah faham lagi. Tapi bukan maksudku begitu, Yang!"


"Oke, aku bisa, Mas!"


"Hah? Kamu setuju usulku?"


"Baiklah. Aku akan buat surat kuasa atas nama Abi untuk mencairkan satu deposit Abi yang di bank."


"Beneran?"


Juriah mengangguk.


"Tapi satu syarat."


"Apa?"


Soleh menatap lekat wajah Juriah.


"Jangan respon Mbak Amel! Blokir nomornya! Sini ponselmu!" Juriah mengambil ponsel Soleh.


Soleh gugup. Takut ketahuan kalau sebenarnya yang menelpon Amelia adalah dirinya bukan sebaliknya.


"Tu_tunggu!"


"Sudah kublokir nomornya! Nih!"


Uffhh... Soleh menghela nafas. Juriah tidak memeriksa WhatsApp nya untuk mengetahui panggilan masuk dan panggilan keluar dari ponsel Soleh. Dirinya bersyukur karena aman dari amukan Juriah yang cemburuan.


Soleh tersenyum nakal.


Jemarinya merengkuh tubuh Juriah. Kini mereka kembali berguling di atas ranjang. Tertawa bersama dengan hati dan fikiran yang berbeda.


Juriah, dengan fikirannya yang senang karena Amelia tidak akan ada lagi kesempatan bersama Soleh.


Sedangkan Soleh, dengan kesenangannya yang telah berhasil membuat Juriah menuruti maunya.


Sebentar lagi uang seratus juta rupiah akan cair dan segera bisa Ia berikan pada Lani, adik perempuan satu-satunya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2