
"Bang, motorku mana?" tanya Tito yang kesal dengan tingkah Kakak iparnya yang mulai terlihat wajah aslinya.
"Oh, besok ya To, Kukembalikan. Sekarang kesini bawa moge R15 ini cuma mau jajal kehebatannya melesat di jalan raya. Hehehe..."
Tito tersenyum kecut. Ia kembali masuk kamar dan diam tak lanjut komplein. Karena jika Ia teruskan, bisa-bisa dirinya dikeroyok kedua mertua dan Kakak iparnya itu dibilang pelit.
Padahal motor yang dipinjam Soleh itu adalah hartanya yang dipakai untuk mencari nafkah disela-sela dirinya yang sedang menganggur setelah masa tandur usai.
Motornya adalah sarana pencari uang sebagai tukang ojek pangkalan. Sudah sehari ini Tito absen ngojek dan tak bisa memberikan nafkah lahir kepada Lani yang merengut terus seharian ini.
Kemaren Soleh pinjam motor Tito untuk mengantar istri mudanya. Tapi ternyata pulang kembali ke rumah orangtuanya cuma untuk pamer motor gede yang baru dibelikan mertua. Membuat Tito mendengus kesal.
"Tuh, liat kelakuan Abang kesayangan mu sekarang! Motorku dia tinggal di rumah mertua barunya. Datang kemari cuma mau pamer karena punya motor gede baru! Tau gitu, Aku aja ya yang nikah sama Mbak Juriah itu! Mungkin Aku yang sekarang hidup bahagia bergelimang harta!" tukas Tito mulai sebal hingga berkata banyak hal yang bukan-bukan.
Puk.
Lani yang sedang menidurkan putrinya langsung bangun dan memukul bahu Tito.
"Ngomong sembarangan! Kujahit bibirmu, Mas! Mau ya kamu kupotong anunya kalo punya niatan nikah lagi? Belum bisa nyenengin malah kepikiran ngono! Ish... Dasar laki-laki!"
Lani emosi pada suaminya. Namun tetap tidak bisa menyalahkan Tito seratus persen juga.
Kini Ia berjalan keluar untuk menegur sang Kakak yang sudah buat keluarga kecilnya itu jadi susah.
"Bang! Mana motor bojoku? Heleh, datang cuma mau pamer! Kamu punya otak ga sih, Suamiku dari kemaren gak ngasih Aku nafkah gara-gara motornya dipake kamu! Anakku Cia sampai ga dikasih uang jajan gara-gara Mas Tio ga ngojek!"
__ADS_1
Amarah Lani membuat Juriah langsung mengambil lima lembar uang seratus ribuan dari dalam tasnya dan memberikannya pada Lani yang tersenyum malu-malu kucing.
Uang memang bisa merubah segalanya.
Amarah Lani menghilang seketika setelah disogok dengan uang lima ratus ribu rupiah dari Juriah.
Mariana ikutan senang. Menantunya yang ini sangat royal dan jauh berbeda dengan menantunya yang pertama.
"Maaf, Kak Lani. Tolong maafkan Mas Soleh, ya? Kami bukan bermaksud cuek tanpa fikirkan keadaan kalian. Kami cuma, terlalu sibuk sampai lupa. Belum lagi Mas Soleh juga mau ta'ziah ke keluarganya Mbak Amel. Jadi, terlalu banyak masalah sampai mengembalikan motor mas Tito pun terlupakan."
"Hehehe..., tidak apa-apa, Mbak! Saya cuma pusing mikirin uang jajan Cicia. Karena mas Tito gak ngojek dari kemaren sore. Belum juga ada yang nyuruh kerja potong rumput di sawah. Jadi nganggur, ga ada pemasukan! Hehehe..." tukas Lani dengan intonasi suara yang manis kepada Juriah.
"Si Amel saja kan bisa gantikan kehadiran Soleh? Lagipula yang meninggal itu adik Emaknya kan? Bukan Emaknya si Amel sendiri? Gitu aja koq repot!" sela Mariana membuat Juriah terkaget dengan ucapan ibu mertuanya yang sinis sekali.
Itu sebabnya Juriah segera mengalihkan pembicaraan. Berharap dirinya tidak mendapatkan perlakuan yang buruk seperti yang Amelia terima.
"Aamiin..."
Serentak Ia dan Anta suaminya bersyukur.
"Tapi Aku harus bereskan dulu kontrakan yang di ibukota, Yang!"
"Oh iya ya? Kapan, Mas?"
"Aku jemput dulu Amel. Biar bisa secepatnya pindahan dan pulang lagi ke kampung."
__ADS_1
"Mbak Amel nanti..." tanya Juriah agak mengambang.
"Antarkan saja si Amel ke rumah orangtuanya. Ga perlu pusing. Toh dia juga masih punya orang tua lengkap. Bisa mengurus adik-adiknya juga. Ga perlu dia diajak tinggal bersama. Rumah tangga kalian bisa kacau kalau disatukan dengannya!"
Obrolan yang terjadi di rumah Soleh tadi siang membuat Juriah melamun dalam kamar.
Soleh sedang sholat Maghrib di masjid karena diajak Ojan ikut kendurian setelah selesai sholat di rumah sahabatnya.
Samsiah, Uminya Juriah juga sedang sibuk menyiapkan kebutuhan untuk pergi besok ke tempat teman bisnisnya bersama Ojan. Sehingga Juriah lebih banyak menghabiskan waktu di kamar sendirian.
Ibunya Mas Soleh terlihat benci sekali pada Mbak Amel. Memang sangat jauh berbeda dengan perlakuan yang diperlihatkan ketika pesta pernikahanku tempo hari di depan orang banyak. Sepertinya, mereka berdua punya masalah yang cukup serius antara mertua dan menantu. Mmm...
Juriah sibuk berfikir banyak hal.
Apakah perlakuannya akan sama padaku jika... Aku tidak punya uang dan harta warisan dari Abi Umi? Hhh... Ternyata, menikah bukan awal kebahagiaan. Tapi justru awal penderitaan juga jika kita tidak bisa mengambil hati keluarga pasangan.
Juriah yang mulai memahami dunia pernikahan, hubungan antara menantu dan mertua, kini mulai berfikir harus bisa lebih pandai mengambil hati mertua terutama ibu mertua.
Berarti, Aku harus selalu siapkan uang untuk membuat ibu Mariana jadi semakin menghargaiku kedepannya. Secara, Aku adalah istri dari mas Soleh, putranya. Otomatis, untuk membuat wanita itu berkelakuan manis padaku, ya dengan sogokan uang sepertinya. Hm...
Juriah mulai pintar belajar menilai kehidupan keluarga Soleh.
Uang memang ujung pangkal dari kebencian Mariana dan Anta pada Amelia.
Padahal mereka tidak menyadari, kalau justru peranan Amel lah yang bisa mengatur keuangan Soleh sampai bisa menyisihkan sebagian gaji Soleh untuk menyokong hidup mereka setiap bulan sebelum Soleh menyandang status pengangguran.
__ADS_1
BERSAMBUNG