
Lani terperanjat, suhu tubuh Felicia putrinya panas sekali. Bahkan Felicia sampai menggigil kedinginan padahal tinggi suhu hampir mencapai 40 derajat Celcius.
"Bu, Bu! Bu..."
Ia membangunkan Mariana yang sedang tertidur pulas di kasur bawah.
Saat itu Ibunya itu memang tengah menginap, menemani Lani dan Cia karena Tito harus pergi keluar kota mengantar Samsiah belanja keperluan butiknya.
Ini kali kedua Sang Suami tidak pulang ke rumah karena pekerjaan di luar kota.
"Bu,"
"Mhmmm..."
"Bu, Cia panas banget ini! Gimana ini?" tanya Lani panik.
Mariana membalikkan tubuhnya. Enggan bangun dan hanya memberi Lani saran.
"Kompres aja dahinya."
Lani turun dari ranjang tidur. Mengambil baskom kecil yang diisi air hangat dari dispenser baru kiriman Samsiah. Lalu membuka lemari pakaian mencari bahan handuk untuk kompres Cia.
"Hhhgg... hhhgg... hhhggg!"
Gigi Cia bergemerutuk kedinginan.
"Buu, Ibuu!"
Dibangunkannya lagi Mariana.
"Apaan sih?"
"Bangun dulu, liat Cia!"
"Hhh..."
Lani semakin panik. Cia menggeliat dan kejang. Matanya melotot dan giginya mengancing.
"Ibu! Cia step!!!" teriaknya membuat Mariana bangun dari rebahnya.
Kedua wanita itu panik dan berusaha mengompres tubuh Cia hingga basah kepala juga ketiak dan perutnya.
"Cia, Cia Sayang, bangun Nak! Cia... Bulan depan Cia kan mau ulang tahun yang kedua. Sayangku..."
Malam pukul satu dini hari.
"Ayo kita ke rumah sakit!!!"
"Sama siapa? Disini ga ada orang yang bisa diandalkan!"
"Pake uang, bodoh! Ayo cepat, bawa anakmu!!!" hardik Mariana melihat kondisi Felicia yang kian mengkhawatirkan.
"Telepon dulu Bang Tito!"
"Nanti kalau Cia sudah ditangani dokter!"
Lani mengambil jaket Cia dan memakaikannya. Dia juga segera mengambil dompet berisi uang lalu mereka berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
"Dimana angkutan umum tengah malam begini?" gumam Lani dengan kesal.
__ADS_1
"Sabar! Ayo jalan!"
Kedua Ibu dan Anak itu berjalan menyusuri trotoar yang gelap sepi.
Mariana melihat pagar rumah bercat putih dengan mobil angkot terparkir di halamannya.
Dor dor dor
"Permisi! Permisi!"
Dor dor dorrr
Ia mengguncang-guncangkan pintu gerbang rumah.
"Tolong! Tolong! Permisi!" Lani ikutan berteriak.
Lampu ruangan menyala dan seseorang keluar membukakan pintu.
"Pak tolong! Anak saya sakit demam tinggi. Kejang-kejang. Tolong antarkan kami ke rumah sakit unit darurat. Tolong!" kata Lani mengiba.
"Sebentar ya?"
Lega rasanya hati Lani. Pemilik mobil angkot itu sendiri yang membawa kendaraan roda empatnya untuk mengantar mereka di pukul setengah dua dini hari.
"Maaf ya Pak, kami mengganggu istirahatnya!"
Hanya senyuman yang Mariana dapatkan. Senyuman seorang pria yang sepantaran dengannya, sepertinya. Membuat Mariana jadi ge'er dan tersipu-sipu sendiri.
Pukul dua, Cia langsung masuk ruang Instalasi Gawat Darurat. Melihat kondisi sang putri sudah ditangani dokter jaga 24 jam, Lani sudah jauh lebih tenang.
Ia mengambil ponselnya yang ada di tas dan bermaksud menelpon sang suami.
Treeet treeet treeet
Treeet treeet treeet
Treeet treeet treeet
Niatnya tak lain adalah untuk mereject hape berondongnya itu karena lagi tanggung.
Nafasnya memburu. Berpacu dengan debaran jantung serta adrenalin hormon yang semakin meningkat intensitasnya.
Tito tersenyum melihat Samsiah yang mulai kewalahan menandinginya.
Pria itu tertawa kecil. Menggigit papilla Samsiah hingga perempuan paruh baya itu memekik antara sakit dan enak.
Deru nafas dan des+h+n kian mendebarkan jantung Lani yang sedang menguping perbuatan Tito di balik ponselnya.
Teriakan kecil Samsiah dan tawa renyah Tito membuat Lani terperangah tak percaya.
Tetapi Lani berusaha menguatkan hati serta jiwanya untuk mengetahui lebih jelas apa yang sedang Tito perbuat di malam pukul dua bersama Samsiah, Nyonya Besarnya.
Butiran-butiran hangat perlahan turun ke pipi Lani. Jatuh berderai air matanya mendengar suara samar bibir beradu bibir dan erangan Samsiah yang mengatakan kenikmatan luar biasa dengan bisikan yang didengar Lani.
Wanita itu juga mendengar jelas suara suaminya yang mengatakan 'kamu hebat' pada perempuan yang lebih pantas dianggapnya Ibu itu.
Lani tak sanggup lagi. Ia akhirnya menutup sambungan teleponnya setelah mendengar des++++ panjang dari bibir Samsiah dan tawa kecil Tito yang meracau masih haus kepingin mimi cucu.
Pecah tangis Lani yang duduk di pojokan ruang IGD sementara Mariana di dalam menunggui Cia yang kini sudah tertidur pulas.
__ADS_1
Lani hanya bisa menangis pilu meratapi nasibnya sendiri yang diselingkuhi Sang Suami dengan perempuan lain yang seumuran Ibunya.
Tangisan kekecewaan yang mendalam membuat Lani agak limbung juga hingga hampir saja Ia jatuh jika tidak disangga seseorang.
"Hati-hati, Mbak! Mbak baik-baik saja kan?"
Lani menoleh. Seorang pria berdiri di samping dengan mata menatap lekat Lani yang berurai air mata.
"Mbak?"
"Hik hik hiks... Huaaa..."
Tanpa malu-malu Lani langsung memeluk tubuh pria yang tidak dikenalnya itu.
Ia ingin melepaskan semua beban berat yang ditanggung. Ingin pergi berlari sejauh mungkin mengetahui Sang Suami sedang berhubungan intim dengan perempuan lain.
Tangisnya pecah di dada seorang pria yang terlihat kebingungan tetapi tidak menolak dan membiarkan Lani terus menempel di tubuhnya.
"Hik hik hiks... Saya bingung! Saya sakit hati sekali!" isak Lani setelah seperempat jam menangis di pelukan pria asing itu.
"Tenangkan hati Mbak! Semua cobaan pasti ada jalan keluarnya!"
Lani seperti mendapatkan angin segar.
Otaknya mulai berfikir dan terkoneksi.
Ia mengangkat wajahnya. Menatap ke arah wajah pria yang memeluknya erat.
Tampan juga! Lumayan untuk kujadikan pelampiasan! Selingkuh harus dibalas selingkuh juga. Mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa! Lihat saja kamu Tito! Beraninya menyelingkuhi Aku dengan perempuan yang jauh lebih tua dariku! Persetan dengan tingkah lakumu! Kau fikir Aku tidak bisa berbuat sama seperti dirimu! Cih! Laki-laki busuk!
"Mas punya pasangan?" tanya Lani sambil mengusap air matanya.
Sang Pria menggeleng.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jangan sebut namaku LANI jika tidak bisa balaskan perbuatan kotormu, Bang Tito!
"Maaf ya, saya tiba-tiba memeluk erat dan menangis di dada Mas! Maaf... Kemeja Mas jadi basah oleh air mata Saya!"
"Tidak apa-apa. Saya mengerti sekali, Mbak pasti sedang sedih!"
"Putri saya baru saja masuk di ruang IGD. Step kejang-kejang. Saya bingung, saya tidak tahu harus berbuat apa. Hik hiks..."
"Yang sabar ya Mbak? Ibu saya juga sedang di rawat inap di ruangan Anyelir. Saya sedang menjaga beliau. Ini karena gak bisa tidur, saya turun niatan merokok dan cari kopi panas."
"Siapa nama Mas?"
"Anton. Nama Mbak?"
"Lani."
"Suami Mbak ada di dalam?"
"Suami saya sedang pergi dengan selingkuhannya!"
"Hah?!?" Anton terpekik kaget.
"Saya, sedih. Hik hik hiks..."
Lani kembali masuk ke pelukan hangat Anton dan menangis lagi mengingat kekejaman Tito.
__ADS_1
Bang,... kau kira hanya kau saja yang bisa selingkuh? Aku juga bisa, Bang! Aku akan balas perbuatanmu padaku, Bang!
BERSAMBUNG