Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 186. Ujian kehidupan Inayah


__ADS_3

"Apa yang terjadi padamu, Arthur? Siapa yang melakukan ini semua?"


Arthur memekik keras melihat sekujur tubuh Arthur Pangestu penuh bekas luka-luka pukulan dan cakaran.


Arthur kecil menundukkan kepala. Air matanya mulai mengalir dan bertambah deras membuat Inayah segera menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.


"Jangan cecar Aturr dengan pertanyaan yang menakutkan begitu!" sentak Inay membuat Arthur tersadar.


"I am so sorry, Boy! Let's go home!"


Mereka bergegas pulang meninggalkan mall dengan perasaan campur aduk.


Arthur mengantarkan dahulu Tia dan Reyhan ke rumahnya. Lalu pulang ke Bogor malam itu juga setelah menumpang sholat Maghrib disana.


Arthur kecil sebenarnya ingin menginap di rumah Tia karena sudah merasa dekat dengan Reyhan putra tunggal Tia.


Tapi Arthur tidak mengizinkannya. Arthur ingin keluarganya berkumpul di rumah jika Ia kembali ke rumah.


"Maaf, ya Aturr. Papamu tidak izinkan kamu menginap. Maybe next time, Okay?"


Aturr cemberut sambil menolehkan wajahnya ke arah jendela. Sepertinya Ia kesal karena larangan Arthur. Hingga perkataan Inayah sampai Aturr abaikan.


"Hahaha, you are so cute!"


Inayah bukannya marah tapi makin gemas pada anak kecil itu.


"How about me? Aku jauh lebih cute dibandingkan anak itu, bukan?" goda Arthur dari balik kemudi.


"Mas sudah kadaluarsa. Hihihi..."


"Expired? O my Gosh! Teganya teganya teganya..."


"Hahaha..., tahu lagu dangdut juga ternyata!"


Arthur tertawa senang. Inayah yang kemarin sempat kabur dari rumah, kini seolah lupa pada permasalahan rumah tangga mereka.


Thanks God, akhirnya istriku tercinta kembali tersenyum indah! Gumamnya dalam hati.


Malam yang menyenangkan bagi Arthur.


Pulang ke kota hujan dan mampir dahulu di kedai sate ayam untuk menikmati makan malam bersama anak istri selepas keluar dari pintu keluar tol.


Arthur terkesan dengan cara pendekatan Inayah pada Arthur kecil yang mengalir seperti air.


Bahkan Arthur yang disebut adalah anaknya bisa tersenyum lebar karena candaan Inayah yang tulus. Sangat mengharukan.


Di rumah, Inayah juga mengurus Arthur Pangestu dengan begitu telaten. Inayah melap tubuh Aturr setelah mandi Koboy pukul delapan malam dan mengganti pakaiannya dengan baju baru yang Inayah belikan di mall tadi sore.

__ADS_1


Arthur berasa seperti kepala keluarga yang sebenarnya. Ada istri dan anak yang menjadi teman hidupnya.


Wajah polos Arthur Pangestu dan raut manis Inayah yang sudah terlelap di atas ranjang tidur membuat Arthur tersenyum lega.


Cup


Cup.


Arthur mengecup kening serta bibir Inayah dengan pelan.


"Mas?!..."


"Sayang..., aku izin keluar rumah, boleh?" tanyanya dengan suara setengah berbisik.


Inayah memberikan kode dengan menaruh jari telunjuknya di atas bibir. Inayah turun perlahan dari ranjang, lalu berjalan pelan sambil menuntun Arthur ke luar kamar.


"Mau kemana?" tanya Inayah datar.


"Seperti yang kamu mau, aku ingin membereskan urusanku dengan Bianca. Apa kamu mengizinkannya?"


"Kamu mau kemana sekarang?" tanya Inayah lagi.


"Mencari Bianca, Nay. Ada yang harus aku tanyakan perihal Aturr dan kondisi tubuhnya yang penuh dengan luka seperti itu."


"Ini sudah larut malam. Besok memangnya gak bisa?"


"Besok aku sangat sibuk, Yang. Film IMUS akan segera dilempar kepasaran. Tanggal launching sudah ditetapkan dan kami akan siap-siap promo, Inayah. Aku mohon bantuan doa darimu. Setelah semua ini usai, kita bisa menikah secara resmi di KUA."


"Kamu adalah Istriku. Tapi status kita baru menikah siri. Aku ingin kita menikah resmi. Aku ingin membawamu ke kampung halamanku. Menginap di rumah orang tuaku. Membawamu pergi berbulan madu layaknya pasangan suami istri yang saling mencintai. Aku ingin mencari jalan keluar juga untuk Aturr tinggal nanti."


"Aku bisa menjaga Aturr. Biarkanlah dia tinggal bersama kita. Jangan mas kirim ke asrama. Aku tidak setujui itu!"


"Inayah?!? Bagaimana bisa kamu mengurus anak... dari hubungan gelapku dengan Bianca???" pekik Arthur kaget sekali.


"Itu semua sudah jadi bagian masa lalunya Mas Arthur. Aku adalah masa kini dan masa depanmu, Mas. Apalagi jika kamu mau berjanji untuk selalu terbuka berterus terang bercerita apa adanya padaku. Aku... berusaha menerima semuanya dirimu. Kita bisa saling melengkapi."


Grep.


Senang hati Arthur Handoko. Dipeluknya tubuh Inayah erat-erat dengan helaan nafas lega selega-leganya.


"Mas..."


"Terima kasih banyak, Inayah. Terima kasih Istriku tercinta!"


"Ini sudah pukul sembilan. Kalau mas keluar, bakalan pulang jam berapa? Mbak Bianca juga belum tahu sekarang berada di mana. Sebaiknya besok,"


Arthur segera menyodorkan ponselnya.

__ADS_1


"Anak buahku sudah menemukan Bianca. Dia menginap di hotel Asmara Hilton. Aku akan segera pulang sebelum pukul dua belas malam. Ini kesempatanku, Sayang. Aku... tidak ingin ia terus-menerus menjadi bayang-bayang bagiku. Pulang dari menemui Bianca, aku akan ceritakan semuanya padamu. Percayalah, Bianca sudah terhapus dari ingatan. Bahkan kenangan masa lalu bersamanya sudah tidak ada lagi di sini, dan di sini."


Arthur menunjuk pelipis dan dadanya untuk meyakinkan ucapannya pada Inayah.


"Pergilah. Hati-hati di jalan ya Mas! Aku mengizinkanmu membereskan semuanya."


"Terima kasih banyak."


Arthur memeluk Inayah lagi.


Ia mengambil kunci kontak mobilnya, kemudian mengecup kening dan mel+++t bibir istrinya sebentar.


"Aku pergi dulu ya Sayang!?"


Inayah mengangguk.


Ia menatap tubuh Arthur sampai hilang di balik pintu dan pergi keluar rumah dengan deru mesin mobil yang terdengar di telinga.


Ya Allah... jagalah Suamiku, jiwa raganya.


Inayah kembali ke kamar.


Duduk di bibir ranjang dengan mata menatap Arthur kecil yang memang berwajah mirip Arthur besar.


"Kasihannya kamu, Nak. Masih kecil, tapi sudah mendapatkan masalah hidup yang cukup besar. Andaikan Papamu tidak menerimamu dengan baik, Anti khawatir dengan kesehatan mentalmu di masa depan. Mamamu juga bukan orang yang bisa kau andalkan. Semoga, Anti dan Papamu bisa menjaga dan membimbingmu menjadi pribadi yang baik."


Inayah mengusap wajah Aturr yang sudah tertidur.


Ia merebahkan tubuhnya di dekat anak laki-laki berumur empat tahun itu.


Setitik air matanya turun perlahan. Mengingat nasibnya yang menikahi pria asing yang memiliki dunia kelam di masa lalu.


Jodoh adalah rahasia Illahi. Inayah sangat menyadari hal ini.


Hati kecilnya mencintai Arthur sepenuh hati. Seperti apapun masa lalunya, ia sudah siap dan menerimanya. Apalagi itu semua hanyalah masa lalu. Karena dia pun punya masa lalu.


Kehidupannya yang miskin penuh kesedihan dan air mata. Kini berganti bahagia serta tawa canda.


Semua berawal dari keberuntungan sang kakak sulungnya, Amelia yang menikah dengan bujang anak konglomerat Ibukota yang berhasil menaikkan derajat keluarga.


Inayah menerima Arthur bukan karena pria itu tampan dan kaya raya.


Ia ingin mengubah hidupnya dengan menjadi pintu pembuka kebaikan bagi sang suami yang dulunya adalah ateis dan pernah menjalani kehidupan yang bebas sebelumnya.


Inayah ingin mendapatkan berkah dan syafaat hidup dengan mengubah Arthur ke jalan kebenaran.


Hanya itu niat tulusnya.

__ADS_1


Akankah Ia kuat dan bertahan sampai akhir, hanya doa mohon keridhoan Allah Ta'ala. Juga minta kekuatan serta kesabarannya dalam menyikapi setiap ujian kehidupan.


BERSAMBUNG


__ADS_2