
Amelia justru sedang menikmati masa-masa indahnya menjadi seorang janda.
Dicintai oleh dua orang pria yang sama-sama serius ingin menikahinya membuat Amelia pusing kepala juga.
Ia tidak mau munafik. Hatinya bahagia bukan kepalang.
Satu pria bujangan yang manis dan baik hati. Satu lagi duda tampan, kaya raya yang lembut dan sopan.
Amelia seperti sedang melayang di atas awan.
Hari-harinya dipenuhi oleh sanjungan serta buaian kedua pria itu yang sedang berusaha mengambil hatinya.
Amelia sudah pernah mengatakan kalau dirinya sedang menikmati masa kesendiriannya.
Amel belum ingin memikirkan menjalin hubungan apalagi pernikahan.
Tetapi baik Lukman maupun Adam seolah tidak peduli dan terus berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Seperti hari ini.
Hari Minggu, semua libur termasuk Amelia.
Tetapi yang namanya usaha katering, meskipun hari libur, tetap saja Amelia lebih suka hunting belanjaan bumbu-bumbu untuk esoknya masak kembali.
Amel dan Tasya berencana akan pergi ke pasar murah yang lokasinya sedikit lebih jauh dari rumah kontrakan mereka.
Tentu saja kedua pria yang sedang berkunjung main ke wilayah kontrakan mereka berebut memberikan tumpangan.
Lukman yang membawa motor mengungkapkan alasan agar Amel lebih memilih pergi dengannya ketimbang naik kendaraan roda empat milik Adam.
"Mbak Amel sama Aku aja. Selain cepat, juga dijamin tidak akan terjebak kemacetan yang lama. Secara ini adalah hari Minggu, Mbak! Pasar juga bakalan rame kalo hari libur begini." Lukman mencoba mencari jalan agar Amelia bersedia jalan dengannya.
"Jangan! Kalo naik motor selain keamanan kurang, ditambah ga bisa jalan bareng Tasya dan Dea!"
Amelia tersenyum bingung.
Dia galau. Ingin menolak tetapi ada Tasya dan Dea yang kadung senang karena ingin naik mobil bagus.
Adam telah mempersiapkan segalanya.
Rupanya Adam jauh lebih besar prepare dibandingkan Lukman yang kurang persiapan.
__ADS_1
Tetapi Amel justru merasa Lukman terlihat apa adanya tanpa terlalu berlebihan.
"Begini saja, kami naik mobil mas Adam saja ya Lukman? Secara, Lukman sering bantu Aku setiap kali mau ke pasar. Ditambah, Dea dan Tasya juga ada bersamaku."
Jujur, hati Lukman kecewa.
Amelia terlihat menolaknya dengan alasan kendaraan Adam jauh terlihat lebih oke dibanding kendaraan dirinya yang hanya roda dua. Membuat Lukman mengalah tanpa perlawanan setelah Amel bicara.
Amelia melihat binar redup kekecewaan yang Lukman rasa. Dan dia menatap lekat bola mata Lukman hingga keduanya saling pandang.
"Bukan seperti yang kamu pikirkan. Tapi ada Dea, seorang anak imut yang senang hatinya karena bisa naik mobil bagus."
Lukman termenung. Ucapan pelan Amel membuat gairahnya kembali bangkit.
Dia tak berkata apa-apa. Namun otaknya kembali berkembang seolah merasa kalau Amel juga memberinya angin segar.
Semoga saja ada sedikit perasaan Amelia untukku. Sedikit saja. Setidaknya dia bukanlah perempuan matre yang selama ini Aku kenal. Aku yakin itu! Gumam hati Lukman.
Matanya tak berkedip menatap mobil Adam meluncur perlahan membawa perempuan yang Ia suka bersama istri dan anak sahabatnya itu.
Diki terkekeh menepuk bahunya.
"Udah gue bilang jangan terlalu berharap banyak pada Mbak Amel! Perempuan itu mencari kenyamanan, bro! Secara, Boss kita memiliki segalanya. Tampan, kaya raya, duda keren pemilik konveksi pula. Jangan bersaing dengan orang yang sudah jelas-jelas jauh di atas diri Lo!"
Diki tertawa semakin keras.
Ia gelengkan kepalanya. Bingung juga karena Sang sahabat adalah orang yang keras kepala.
Setiap pilihan Lukman, pasti akan diperjuangkan sampai akhir. Meskipun selama ini hasilnya selalu nihil.
Lukman menghela nafas.
Ia duduk di teras rumah kontrakan Lukman.
"Gue mau berhenti kerja, Dik!"
"Hah? Kenapa? Karena merasa jadi pesaing Boss Adam?"
"Ga juga. Gue mau ambil tawaran nyokap!"
"Maksud Lo?"
__ADS_1
"Gue mau pulang ke rumah. Gue bakalan memperjuangkan Mbak Amel dengan cara gue!"
"Makin kaga ngerti, gue. Asli. Kalo Lo mau bersaing, bersainglah yang sehat. Tapi saran gue, mendingan Lo mundur daripada sakit hati. Mbak Amel lebih cocok sama Boss Adam. Dia pasti bakalan lebih bahagia hidupnya. Lo pernah denger, definisi cinta yang sesungguhnya?"
"Apa?"
"Cinta sejati itu adalah yang mendoakan selalu kebahagiaan pujaan hati. Cinta itu tidak harus memiliki. Apalagi kalau kita legowo ada orang yang lebih baik mencinta pujaan hati kita."
"Gue belum yakin, Boss Adam beneran cinta Mbak Amel! Dan gue juga udah janji dalam hati. Kalo emang mereka berdua berjodoh sampai naik ke pelaminan, otomatis gue harus lupakan Mbak Amel. Karena pantang bagi gue, untuk merusak hubungan orang."
"Tapi Lo sekarang udah jadi perusak hubungan mereka, Man!"
"Ga. Boss baru kenal sedangkan gue kenal Mbak Amel lebih dulu. Gue juga belum dengar Mbak Amel pilih Boss Adam! Jadi posisi kita saat ini sama. Sejajar."
"Yassalam. Terserah Lo dah. Pusing gue mikirinnya!"
Diki dan Tasya sebenarnya lebih nge-pro pada Adam. Bossnya itu punya segalanya. Berbeda dengan Lukman menurut pandangan Diki.
Diki dan Tasya juga sering menerima sogokan secara diam-diam dari Adam agar memihak dirinya yang berjanji akan mencintai Amelia sepenuh hati.
Lukman memang seringkali mengutarakan keinginannya yang kuat untuk memiliki Amel. Tapi Lukman terdengar hanya bualan semata.
Diki sendiri belum pernah melihat keluarga Lukman berkunjung ke rumah kontrakannya.
Lukman terlihat seperti seorang anak buangan yang tidak dipedulikan kedua orang tuanya yang kata Lukman masih lengkap semua.
Diki bukannya tidak mau mendukung Lukman. Tapi Diki juga ingin Lukman berfikir secara realistis.
Amelia adalah seorang janda yang pernah bermasalah cukup berat dengan suami dan keluarganya dulu ketika masih menikah.
Diki sedikit tahu permasalahan rumah tangga Amel dan Soleh yang memang mendamba hadirnya seorang anak di pernikahan yang telah sepuluh tahun kala itu.
Lukman masih perjaka. Otomatis Lukman juga pasti inginkan keturunan jika menikah.
Sementara Adam, duda yang ditinggal mati isteri yang sedang hamil muda. Setidaknya Adam punya pengalaman cukup pahit ketika almarhumah istrinya tengah mengandung.
Jadi menurut pandangan Diki, Adam menikahi Amelia dan tidak memiliki keturunan sepertinya bukanlah masalah besar bagi keduanya. Berbeda dengan Lukman. Terlebih Diki sering mendengar cerita Lukman tentang Ibunya yang sering menjodohkannya agar segera menikah dan punya anak.
Diki tidak mau kisah pernikahan Amel dan Soleh kembali terulang Lukman dengan permasalahan yang sama meskipun ganti pendamping.
Begitu pendapat Diki.
__ADS_1
BERSAMBUNG