Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 145 Kegaduhan Keluarga


__ADS_3

"Jadi, kalian didatangi oleh si sutradara sekaligus produser mesum itu?" Lukman yang mendengar cerita-cerita Fanny dan Mia serta Inayah seketika meradang.


Pasangan pengantin baru itu sengaja mengumpulkan anggota keluarga di rumah baru tepat di hari libur. Mereka berkumpul kembali bersama dengan semua anggota keluarga setelah pulang dari bulan madu. Walaupun Tia dan Arif serta Raja putra mereka tidak dapat hadir karena Raja ingin sekali ke SeaWorld melihat ikan besar.


Kini obrolan terlihat sedikit menegang karena topiknya adalah tentang Arthur.


"Mas Arthur tidak mengganggu, Nak. Cuma sedikit mendekati kita bahkan di hari kedua dia bisa mendapatkan banyak cerita kami yang lumayan..." Mia menunduk. Ada guratan kekecewaan pada dirinya sendiri yang telah teledor menerima sebuah pertemanan dan langsung terbuka menceritakan kisah hidup sang putri yang gagal di pernikahan pertamanya.


"Abaikan saja bule aneh itu, Mak!" kata Amelia singkat.


"Sudahlah. Yang penting lain kali jangan sembarang memasukkan orang luar ke dalam rumah. Selain berbahaya, orang-orang jaman sekarang susah untuk dipercaya. Apalagi di daerah perkotaan. Kita bahkan tidak bisa melihat apakah orang itu baik atau jahat, berhati bersih atau cuma pura-pura. Bahkan banyak orang yang ternyata adalah penipu ulung terutama pria muda, gagah dan tampan."


Fanny seolah sedang menatar Keluarga Amelia yang rata-rata berkepribadian sederhana dalam memandang seseorang.


Seperti Mia, dia tak pernah berfikir buruk dengan orang yang baru pertama kali bertemu. Apalagi jika orang itu memiliki niat jahat.


Selama ini, dalam hidupnya nyaris tidak pernah kena tipu atau apapun itu dalam hal pertemanan. Karena dirinya adalah pribadi yang jujur dalam segala hal.


Mia selalu ingat nasehat Kan'an, jangan pernah memandang rendah orang lain. Meskipun Ia adalah seorang anak kecil. Jika perkataannya benar dan baik, hargailah orang itu seperti Ia menghargaimu. Begitu dulu Kan'an pernah berucap.


Tetapi kini mereka tidak lagi tinggal di kampung. Orang-orang kampung kebanyakan polos dan berhati bersih.


Mengikuti saran Fanny tentang orang-orang yang berada di Ibukota dan beragam modus kejahatan yang setiap hari selalu ada terdengar jelas di berita baik televisi maupun radio juga media elektronik, adalah hal yang sudah pasti harus Mia antipasi.


Inayah sendiri hanya diam setelah mengatakan kalau Arthur sempat datang ke rumah mereka kemarin siang. Dan pergi juga akhirnya dengan wajah kesal setelah Ia katakan kalau Keluarganya tidak ingin berteman lebih lanjut lagi dengannya.


Rama yang ada dipojokkan juga diam. Dia memiliki nomor pribadi Arthur. Dan hanya dia yang dimintai dan bersedia tukaran nomor. Namun Arthur tidak pernah sekalipun menghubungi Rama untuk menekan agar mau merayu Amelia ikut main di film besutannya.


Memang betul, di kota besar kita harus berhati-hati.


Tetapi hidup dalam kehati-hatian yang terlalu berlebihan justru hasilnya juga tidak bagus. Hati menjadi kotor, dan jadi mencap orang buruk padahal belum pernah menjadi korban penipuan orang tersebut.


Secara Arthur memanglah pribadi yang unik.


Seorang pria blasteran yang lebih dominan berwajah bule dengan bola mata coklat keemasan, bercerita tentang dirinya yang seorang atheis setelah masuk ke keluarga mereka.


Apakah seorang penipu akan bercerita sejujur itu, bahkan menceritakan minus dirinya sendiri padahal dari hal itu saja mereka sudah bisa menilai siapa Arthur aslinya.


Rama hanya menatap wajah Mia. Keduanya seolah sedang bertelepati, berbicara dari hati ke hati. Dan mereka tersadar, kalau mereka satu pemikiran.


"Apakah pria itu penipu ulung?" tanya Rama tiba-tiba.


"Sebenarnya bukan penipu. Hanya... kehidupannya yang bebas lepas kadang membahayakan untuk kita turut serta ke dalam lingkungannya. Dia orang yang supel. Pandai bergaul dan cepat masuk ke kalangan manapun." Fanny memberikan penjelasan.

__ADS_1


"Sudah berapa banyak orang yang kena tipu, Bu?" tanya Rama lagi. Kini Fanny hanya terdiam dan menatap wajah Rama.


Apakah Aku terlalu berlebihan dalam menceritakan kepribadian anak si Joko Handoko itu? Secara personal Aku pun tidak mengenal lebih dekat dengannya. Tapi..., ada beberapa teman bisnis yang mengatakan kalau anak itu sweet dan pandai menggoyang. Haruskah Aku membuka aibnya seperti ini dihadapan mereka?


"Arthur memang bukan penipu yang sebenarnya. Tapi Ia penipu hati para perempuan lebih tepatnya!"


"Oalaa, Kak! Kupikir penipuan yang berkedok produser film. Hehehe..."


"Dia memang produser dan sutradara film asli. Filmnya memang lebih populer di negeri luar ketimbang negeri sendiri. Dia adalah pembuat film independen yang khusus untuk festival luar negeri."


"Apa... filmnya bergenre esek-esek?" tanya Rama lagi.


"Opo iku esek-esek? Sudah, kita ganti pembicaraan yang lain. Mengghibah orang terlalu besar bahaya buat diri kita sendiri. Hehehe..." Mia mulai was-was. Rama mengatakan hal-hal yang kurang pantas dibicarakan di riungan keluarga saat ini.


Yang pasti, dia akan menolak permintaan Arthur jika kembali datang dan mengatakan ingin mengajak Amelia main film.


Bagi Mia, anak-anaknya sudah cukup nyaman dan layak hidupnya. Bahkan tanpa harus jadi artis atau selebritis.


Mia melihat kesemrawutan justru di hidup para artis masa kini. Hidup bergelimang harta, foya-foya, tenar dan dikenal banyak orang, tetapi sarat masalah juga gosip yang kurang baik.


Seperti perselingkuhan, perceraian, bahkan sampai rebutan harta gono-gini termasuk rebutan anak yang tak kunjung usai.


Mia bergidik mengkhayalkan Amelia jadi artis.


Mata Mia menatap wajah Amelia yang sedari tadi hanya jadi pendengar setia bersama Lukman yang sedang memijat-mijat pelipis istrinya dengan penuh perhatian.


"Kayaknya... pengantin baru kita ini makin lama makin lengket aja ya Mak? Apalagi setelah pulang dari bulan madu. Kemana-mana selalu berdua. Saling beri perhatian."


"Alhamdulillah. Emak senang lihatnya, Kak!"


"Udah kayak amplop sama perekatnya. Nempel terus, ya!?!" goda Diana yang akhirnya ikut nimbrung juga.


Amelia tersenyum malu. Baru tersadar kalau sedari tadi Lukman yang duduk di atasnya memijat-mijat kepala Amel yang memang agak sedikit berat.


Lukman benar-benar Suami yang bisa diandalkan. Sejak Amelia bilang kalau kepalanya agak sakit, seketika pria itu memberikan minyak kayu putih ke bagian leher serta punggungnya dan memijatnya.


Lukman juga mengajak Amel untuk berobat ke dokter. Tapi Amel menolak dengan alasan hanya sedikit pusing saja. Mungkin masuk angin sehabis melakukan perjalanan jauh.


Lukman hanya bisa menghela nafas. Ia khawatir Amelia jatuh sakit karena terlalu lelah.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."

__ADS_1


Semua menoleh ke arah pintu rumah Lukman dan Amelia. Suami Diana, Akmal datang bersama Bimo.


Mia tersenyum menatap Fanny.


"Apa, Mak, apa? Jangan nasehati Aku buat melayani Suamiku membuatkan kopi pahit kesukaan dia!" sela Fanny membuat semua tertawa.


"Yap, Istriku selalu tahu kesukaanku. Dan tahu kalau suaminya memang belum ngopi hari ini. Hehehe... terima kasih, Sayang!" goda Bimo langsung menjawil dagu Fanny.


Suasana menjadi ramai. Riuh canda tawa diantara dua keluarga itu.


Membuat Lukman dan Amelia tersenyum saling memandang.


Harapan serta cita-cita menyatukan dua keluarga kini telah menjadi nyata. Allah mengijabah doa mereka.


Apalagi kini Fanny, Mamanya Lukman seperti menemukan sahabat sejati setelah bertemu Mia. Keduanya dengan cepat saling beradaptasi bahkan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup.


Lukman juga melihat aura kebahagiaan wajah Mamanya kian terpancar. Sangat kontras dengan Fanny yang beberapa tahun lalu. Orang bilang Mamanya Lukman cantik bak manekin. Cantik tapi jarang tersenyum.


Namun kini..., Lukman tersenyum bahagia. Bahkan Papanya yang dulu adalah orang yang serius dan ambisius, sejak Lukman menikah seperti menemukan kebahagiaan dengan kembali menjadi diri sendiri. Yang periang, banyak omong dan kini lebih suka berkumpul bersama keluarga ketimbang kongkow dengan teman-teman pengusahanya.


"Hoek hoekk!"


Lukman terkejut. Amelia terburu-buru setengah berlari menuju kamar mandi.


"Amel?!?"


Semua termangu dengan wajah harap-harap cemas menatap Lukman yang jadi bingung.


"Ke_kenapa semua pandang Aku seperti itu?" tanyanya tak mengerti.


"Sudah bawa Amel ke dokter?" tanya Fanny pada putranya.


"Amel belum mau. Katanya cuma masuk angin sakit kepala sedikit."


"Kalian sudah menikah hampir dua bulan! Cobalah periksa ke dokter! Jangan minum sembarang obat!" tegur Fanny membuat dada Mia berdebar kencang.


"Kak?!... Apakah...?"


"Daripada berandai-andai, lebih baik kita bawa Amel ke dokter sekarang juga!" saran Fanny membuat suasana kembali gaduh.


"Jangan dulu berfikir ke arah yang... Mama ngerti kan maksudku?" tolak Lukman segera menengahi kegaduhan itu.


Lukman sepertinya bisa membaca isi hati semua anggota keluarganya dan juga perasaan Amelia.

__ADS_1


"Belum tentu istriku sedang..., seperti yang ada difikiran kalian. Jangan buat Amelia jadi takut! Kumohon..., kumohon jangan ada yang bertanya macam-macam. Amelia juga sangat terkejut karena tiba-tiba perutnya mual dan mau muntah. Jangan ada yang bilang Amel kemungkinan hamil. Oke?" pesan Lukman sebelum berlalu menuju kamar mandi menemui istrinya yang sedang semaput merasakan mual serta kram perut yang baru pertama kali ini Ia rasakan.


BERSAMBUNG


__ADS_2