
Lani bangun dan terkejut karena dirinya hanya sendirian dalam kamar dan di dalam rumah megahnya.
Tito juga Samsiah tidak ada di sana.
Tentu saja Lani langsung su'udzon berfikir buruk kalau mereka pergi bersama dan tak lagi pedulikan dirinya yang jatuh pingsan karena harta berharganya hilang digondol maling.
Lani langsung bangkit.
Otaknya menyuruh Ia untuk ambil tindakan secepatnya.
Juriah harus tahu kelakuan Uminya yang selama ini dianggap santun dan rajin ibadah.
Dengan angkutan umum, Lani pergi ke Asamka. Bengkel las yang paling besar di daerah sana adalah ruko tempat tinggal Soleh dan Juriah.
Butuh waktu satu jam kurang lima belas menit, Lani akhirnya turun dari angkot tepat di depan bengkel dan toko onderdil milik Ojan, yang kini dipegang Juriah dan abangnya.
Tanpa ba-bi-bu, Lani langsung masuk ke dalam bengkel yang pagi menjelang siang itu ramai.
"Bang! Bang Soleh! Juriah!"
"Lani? Lani, ada apa?"
Soleh kaget melihat wajah adiknya yang pucat dingin menyeramkan dengan nafas terengah-engah.
"Mana Juriah?" tanya Lani langsung pada intinya.
"Di lantai atas!"
"Ayo, ikut Aku!"
"Ada apa sih?"
"Ini masalah penting!"
"Soal apalagi? Soal uang? Bukannya suamimu sekarang gampang dapatkan uang pinjaman?"
Lani menarik tangan kakak laki-lakinya itu hingga Soleh nyaris tersandung kakinya.
"Dit, tolong jaga toko. Aku ke atas dulu!"
"Iya, Bang!"
Soleh menurut juga.
Tenaga adiknya lumayan besar hingga tubuhnya nyaris terbawa laksana terbang.
Juriah yang sedang memasak di lantai dua ruko tersenyum melihat kedatangan Lani.
"Mbak Lani! Sini makan bareng!" ajaknya ramah.
Bukan jawaban yang manis yang didapatkan Kakak iparnya itu tetapi gebrakan meja yang membuat Juriah melonjak kaget.
__ADS_1
"A_ada apa?" tanya Juriah gugup dan gemetar.
"Kamu tahu? Umimu yang berbudi bahasa itu telah berselingkuh dengan suamiku!!!" sentak Lani membuat Juriah semakin gemetar.
Jantung istri muda Solehudin itu berdegup kencang.
Ia tak langsung membantahnya. Hanya mendengarkan kicauan Lani yang dibarengi deraian air mata di pipi.
"Apa kamu gila, Lani?" sembur Soleh meradang kaget bukan kepalang.
"Bu Samsiah telah membawa pergi Tito!"
"Jangan sembarang tuduh! Jatuhnya jadi fitnah itu!"
"Aku serius, Bang! Demi Allah demi Rosulullah! Aku mendengar semuanya dengan telingaku yang masih normal!"
Tentu saja Soleh berdecak kesal, tak percaya.
"Bagaimana mungkin mereka ada hubungan seperti itu!? Bu Samsiah memang baik. Dia juga bilang kerja Tito sesuai dengan harapannya. Jadi Tito berhak mendapatkan hasil dari dedikasi dan loyalitasnya selama bekerja."
"Loyalitas dalam melayani Bu Samsiah diatas ranjang!" teriak Lani mulai lepas kontrol.
Soleh ternganga dan Juriah pucat pasi wajahnya.
"Bilang pada Umimu, jangan jadi perempuan gatal! Kalaupun sedang mengalami puber kedua, lihat-lihat dulu orang yang disikat! Tidak punya perasaan banget, suami dari adik menantunya sendiri juga diembat. Teganya! Hik hik hiks..."
Lani mulai kembali terisak.
Tubuhnya melemah dan jatuh terduduk di lantai. Sementara Juriah dan Soleh bingung harus berkata apa.
"Dibawa Wewe gombel itu!!!"
"Ya kemana?"
"Mana kutahu! Dan gilanya mereka pergi begitu saja, padahal putri kami sedang di rawat di rumah sakit karena panas tinggi kejang-kejang semalam!"
"Cia dirawat di rumah sakit?" ulang Soleh kaget.
"Hik hik hiks...! Ya Allah ya Tuhanku, cobaan apa ini yang Kau berikan pada rumah tanggaku!?"
"Coba telepon Tito!" perintah Soleh yang langsung dijawab ketus adik bungsunya itu.
"Abang saja yang telepon! Hapeku di rumah sakit, dipegang Cia!"
"Hhh..."
Soleh berdecak kesal.
Ia turun ke lantai bawah hendak mengambil ponselnya yang ketinggalan di toko.
Juriah benar-benar shock tak dapat berkata apa-apa.
__ADS_1
Lani menangis pilu sembari berjongkok di pojok dapur ruko Juriah.
"Mbak..., terus terang Aku bingung sekali harus bagaimana!"
"Telepon Ibu Samsiah! Kembalikan Suamiku! Kembalikan Tito! Jangan ganggu rumah tangga kami! Kalau dia mau selingkuh dengan laki-laki yang lebih muda, pikir-pikir dulu apalagi dia kenal Aku adalah istrinya Bang Tito! Hik hik hiks... Dasar perempuan tua Bangka murahan! Tak punya otak, tak ada perasaan! Padahal dia punya anak perempuan! Sama sekali tidak dipikirkan karma apa yang bakalan dia terima jika berbuat sesuatu tanpa pikir panjang dulu! Perempuan gatal! Semoga *********** busuk dilaknat Allah Ta'ala!"
Lani terus meracau. Mengoceh makin tak jelas mengumpat dan melontarkan kalimat sumpah serapah kepada Samsiah, ibunya Juriah.
Treeet treeet treeet
Soleh langsung menelpon adik iparnya sambil berjalan kembali ke lantai atas menapaki anak tangga.
Klik.
...[Hallo, Bang Soleh?]...
Tito! Kau dimana?"
...[Di rumah, Bang! Ada apa?]...
"Di rumah? Ini istrimu ada di rumahku! Yang benar kamu!?! Hei, Lani! Ini si Tito bilang, dia ada di rumah!"
"Alasan! Tadi dia tidak ada. Pergi dengan gundiknya! Sini, hapenya!"
Lani meraih ponsel Soleh.
"Hallo? Bang Tito? Kamu dimana?"
...[Aku di rumah, Yang! Kamu kenapa ada di rumah Bang Soleh?]...
"Alasan, kamu! Pintarnya bersandiwara!"
...[Kenapa, Lani? Ada apa? Hei, tenangkan dirimu, Sayang!]...
"Kemana gundikmu itu? Sudah kau antar pulang? Kemarilah, jemput Aku dan kita selesaikan semua sekarang juga! Hik hik hiks..."
...[Lani!?! Lani jangan ambil keputusan dalam keadaan yang sedang panas, Lani! Sebentar ya, Aku jemput kamu ke situ. Tunggu Aku, Sayang!]...
"Tunggu, tunggu,... dasar ba,"
Klik.
Tito ternyata memutuskan sambungan teleponnya dengan Lani di ponsel Solehudin.
Lani kembali menangis bahkan kini sampai meraung-raung pilu. Soleh dan Juriah bingung hendak bagaimana menghiburnya.
Terutama Juriah yang terlihat panik sekali wajahnya.
Juriah teringat saat dirinya memergoki Uminya yang sedang dipeluk Tito tempo hari.
Dadanya sakit sekali, berarti memang waktu itu pun Uminya sedang berbohong. Menutupi kelakuannya yang sempat terduga oleh Juriah.
__ADS_1
Jatuh perlahan air mata Juriah karena sedih mengingat kelakuan Samsiah yang tidak Ia sangka-sangka.
BERSAMBUNG