
Lukman pulang ke rumah orangtuanya yang mewah di wilayah pusat setelah cukup lama mengobrol dengan Diki.
Semalam Mamanya menchat Lukman, katanya Ia harus pulang karena ada Neneknya datang berkunjung dari kota Pandeglang sore ini.
Papanya memang lahir di sana meskipun kakeknya asli orang tanah Batak Toba yang menikah dengan Nyai Pandeglang Banten yaitu Neneknya.
Kakeknya telah tiada hampir empat tahun yang lalu. Kini tinggal Nenek Lukman saja yang masih ada, sehingga jika beliau datang ke rumah mereka, seluruh anggota keluarga wajib hadir untuk menghormati beliau.
Sepeda motor Lukman ternyata kalah cepat dengan kedatangan Sang nenek yang telah lebih dulu tiba.
Berpasang-pasang mata menatap gemas ke arah Lukman yang masuk lewat pintu depan.
"Wah, bujangnya Nenek sudah besar!" cetus Neneknya dengan nada suara menggoda. Membuat semua orang tersenyum meledek Lukman.
"Nenek apa kabar? Hehehe..." Lukman yang ter-gap baru datang langsung bergegas menghampiri Sang nenek untuk salim cium tangan.
"Baik, Anak Ganteng!"
Begitulah. Lukman adalah cucu emas kesayangan Neneknya.
Meskipun anak paling besar, Lukman selalu mendapatkan prioritas atas apapun termasuk harta warisan.
"Anak Ganteng tapi belum dewasa-dewasa pemikirannya, Nek!" timpa Bimo meledek putra sulungnya.
"Setelah menikah pasti dewasa. Iya kan Lukmanul Hakim? Hehehe..."
Lukman tersipu malu.
Neneknya mulai menyindir secara halus tentang pernikahan.
Beliau ingin sekali melihat cucu pertamanya dari Bimo segera melepas masa lajang. Begitu dua tahun lalu Nenek pernah bilang.
Lukman hanya bisa menjawab, jodoh itu Tuhan yang atur. Dirinya tidak bisa memberikan jawaban pasti tentang kapan menikah.
__ADS_1
Lukman seringkali ditanya para sepupunya yang datang juga ke kediaman Papa Mamanya ketika Nenek datang dan selalu Ia jawab, "May! Maybe yes maybe no!"
Kali ini adalah pertanyaan Nenek untuk yang kesekian.
"Cepatlah cari pasangan yang bisa membuat kamu bahagia. Menikah itu menyenangkan apalagi jika diniatkan untuk ibadah. Mumpung Nenek masih hidup. Besok, lusa atau bulan depan, tahun depan, belum tentu Nenek masih bisa berkunjung ke rumah ini."
"Hehehe... Makanya Nenek harus jaga kesehatan. Biar panjang umur dan terus bisa berkunjung kemari meskipun hanya setengah tahun sekali!"
"Ini anak! Dasar deh! Kalo dibilangin selalu aja bisa jawab!" sela Mamanya sembari menepis bahu Lukman karena seperti biasa, jadi pusat perhatian karena yang paling tua dan belum menikah.
Dua adiknya sudah menikah. Mereka memang anak perempuan, jadi wajar saja jika melangkahi sang kakak. Begitu bela Lukman ketika disindir semua kerabatnya.
"Memang menikah itu kayak beli anak ayam warna-warni di depan sekolahan! Bisa langsung di beli kalau suka. Bisa beli lebih dari dua. Ga, Nek!" timpal Lukman membuat Neneknya terkekeh-kekeh.
"Iya juga sih. Ngomong-ngomong, pacarmu orang mana? Kenalin dong!"
"Belum, Nek. Belum ada. Hhh... Masih tahap sedang mengejar. Tapi dianya kayak ogah-ogahan nerima cinta Lukman, Nek! Hahaha..."
Entah mengapa, hari ini Lukman begitu terbuka bercerita pada Sang Nenek soal keresahannya.
"Waduh?!? Ajak sini, biar Nenek bisa kenalan! Orang mana?" tanya Sang Nenek antusias.
"Hehehe...! Lukman cuma bohongan koq Nek! Jangan diladeni ucapan tadi. Canda aja, Nek!" Lukman gugup tersadar kalau ceritanya barusan memancing perhatian semua orang yang ada. Termasuk Papanya.
"Perempuan?" tanya Bimo penasaran.
"Ya iyalah, Pa! Masa' pacarnya Lukman laki-laki!" sentak Mamanya dengan geram.
Lukman tertawa kecil. Papanya masih saja meragukan kejantanan Lukman karena masih suka bergaul dengan mesin jahit dan bahan-bahan serta aksesoris pakaian perempuan.
Secara Bimo pernah melihat Lukman sedang memilih-milih bahan brukat di salah satu pusat perbelanjaan bahan ternama di ibukota.
Padahal saat itu Lukman sedang mengantar karyawan bagian pembelanjaan bahan mengambil bahan pesanan Boss Adam di sana.
__ADS_1
Bimo salah faham.
Bimo selalu takut kalau putranya itu belok. Meskipun tampilan Lukman kini lebih macho dengan rambut gondrong dan kumis serta jenggot yang dibiarkan memanjang, Bimo masih tetap tidak percaya pada anak sulungnya yang dulu agak kemayu.
Lukman sedih. Bimo masih memiliki keyakinan yang salah tentang dirinya.
Hati kecil Lukman selalu berdoa, semoga suatu saat nanti Ia bisa menunjukkan jati dirinya yang menyukai seni menjahit pakaian perempuan tapi tetap berjiwa laki-laki. Ia berharap cepat menikah dan hidup tenang dengan membuka usaha konveksi sendiri sehingga memiliki kebanggaan yang bisa dipamerkan kepada Bimo, Papanya.
Andai saja Amelia bisa Ia ajak kerjasama dalam urusan percintaan. Tenanglah hati Lukman.
Namun ternyata langkahnya menggapai cita dan cinta tidak semudah itu.
Harus terus berjuang demi membuat Amelia percaya dan mau mengerti dirinya yang mendambakan cinta tulus, sayang dan ikhlas.
Lukman tidak menyalahkan Amelia. Secara dirinya lah yang harus bisa mengerti keadaan wanita yang usianya dua tahun lebih tua darinya itu.
Amelia janda yang diceraikan suaminya karena suatu alasan yang menyakitkan. Poligami yang gagal dan juga tuduhan susah memberikan keturunan. Itu sangat menyesakkan hati Amel pastinya.
Lukman juga menilai, Amelia sangat berhati-hati dalam membina hubungan baru terutama hubungan serius soal pernikahan.
Tapi dirinya juga takut jika langkahnya keduluan Adam. Duda keren yang pastinya lebih cepat menarik perhatian Amelia karena sudah mapan.
"Lukman, Lukman?"
"Ah iya, Nek?"
"Bawa dia kesini. Siapapun dia, yang penting perempuan itu menerima kamu apa adanya. Nenek akan datang untuk melamar ke rumah orangtuanya. Hm?"
Lukman tersipu. Matanya berbinar terang berkhayal andaikan saja itu semua kejadian. Ia ingin secepatnya menikahi Amelia.
Sayang seribu sayang, Lukman belum bisa meluluhkan hati Amel untuk menerima dirinya apa adanya.
Hanya kepasrahan yang dibarengi pengharapan serta doa yang besar yang bisa Lukman sematkan di setiap sujudnya agar Amelia tergerak hatinya untuk mencintai Lukman seorang.
__ADS_1
BERSAMBUNG