Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 160 Kebingungan Mia


__ADS_3

Tentu saja, kediaman Mia beserta ketiga anaknya jadi gaduh dan ramai celotehan ledek dan goda untuk Inayah.


"Gaga sampe kaget, Mak! Ada banyak kotak plastik rapi. Isinya telur ayam, minyak sayur, kecap manis, kecap asin, bumbu dapur, penyedap, sayuran, daging ayam daging sapi, wuaaa pokoknya buanyak. Gaga kira Mbak Inayah mau buka cabang restoran Mbak Yu' Amelia di sini! Ga taunya, kiriman dari Tuan Dingin Arthur Handoko, kata Mbak Inay!"


"Gaga!! Mulai deh, nyebelin!"


Mia dan Rama tertawa mendengar celotehan Gaga yang memang sengaja membuat Inayah makin merah wajahnya.


"Mbak, emangnya Mbak bikin kebaikan apa sampai dibalas begitu baik sama Mas bule itu? Jangan-jangan,"


"Jangan-jangan apa? Jangan bikin fitnah deh! Mau kamu dikutuk jadi si pahit lidah kalo ngarang cerita gak bener!?"


"Dihh, emosi! Kan aku cerita fakta, bukan ngarang! Mbak Inay yang bilang kan, kalau ini kiriman Tuan Dingin Arthur Handoko! Mana ada Aku ngarang?! Yeee!!!"


"Ucapkan terima kasih sama dia, Nay!" ujar Mia dengan senyuman.


"Udah, Mak. Tapi ceklis satu. Ga tau lah. Mungkin nomor Inay diblokir dia!"


Rama mengamati perkataan Inayah. Karena baru saja beberapa jam yang lalu Ia mendapat chat dari Arthur. Katanya Ia akan pulang ke San Fransisco dan rehat dulu di kampung halaman Mamanya selama seminggu, lalu terbang ke Italia untuk mulai syuting film indie terbarunya.


"Memangnya Mas Arthur gak cerita kalau dia pulang ke negara asalnya?"


Inayah menatap wajah Rama tanpa berkedip. Lalu menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Kemarin..., Inayah hampir kecopetan anak punk di pasar. Itu anak awalnya minta uang. Inay kasih lima ribu, dia ngambek dan narik tangan Inay. Tiba-tiba Mas Arthur datang dan langsung jotos anak punk itu sampai jatuh di tanah. Inayah teriak. Sempet marahi dia karena bertingkah kasar tiba-tiba. Ternyata,... Mas Arthur nunjukin tas Inayah yang terkena sodetan silet. Baru Inay sadar kalau nyaris dompet di tas melayang. Dompet itu banyak surat-surat berharga termasuk kartu mahasiswa, KTP, SIM, STNK, ATM,... Kalau sampai hilang, ya Allah... Inayah gak berani bayangin itu. Mungkin mas Arthur jadi kesal ya, karena Inayah ngeyel?!? Hhh... Inayah sampe kirimin kata-kata maaf berkali-kali. Tapi sampai sekarang masih ceklis satu."


Inayah bercerita panjang lebar tentang pertemuan mereka yang tanpa sengaja sampai akhirnya Ia diantar pulang padahal belum belanja kebutuhan pokok yang jadi tujuan Inayah pergi ke pasar.


Inayah juga menceritakan tentang ucapan Arthur tentang bisnis Mia dan Fanny yang katanya sedang melesat termasuk usaha favorit dalam Aplikasi Belanja Bulanan Online.


Mia tersenyum simpul.


Fanny yang mengurusnya sampai sejauh itu. Dia sendiri kurang mengerti, bahkan lebih tepatnya tidak mengerti urusan bisnis.


Tapi Fanny memang bilang kalau usaha pertanian holtikultura hidroponik mereka berhasil. Mia mengurus pertanian, mulai dari pembibitan, pemberian pupuk kandang serta obat-obatan organik untuk tanaman holtikultura mereka. Untuk urusan panen dan pemasaran, semua dikerjakan Fanny dengan beberapa staf ahli kesehatan termasuk ahli gizi.

__ADS_1


Setahu Mia, Fanny bahkan berencana mengembangkan produk pertanian mereka lebih besar lagi. Tapi Mia kurang menyimak karena terlalu pusing mendengar rencana dan program usaha Fanny ketika mereka sedang berbicara serius.


Hingga akhirnya Fanny melihat Mia yang terlihat lelah dan memberinya jam kerja hanya lima hari dalam seminggu.


Dua hari lainnya, digunakan Mia untuk stay sebentar di restoran Amelia dan Lukman. Putrinya itu kini sedang dipingit sang suami. Tidak diperbolehkan mengurus apapun termasuk usaha restonya karena sedang hamil.


Kini restoran dipegang sepenuhnya oleh Tia dan Arif dibantu Tasya dan Ziah. Mia hanya datang di hari Sabtu Minggu. Itupun hanya mengontrol saja karena dihari libur itu biasanya pelanggan yang datang meningkat dari hari-hari biasa.


Anggota keluarga mereka benar-benar sibuk mengurus bisnis yang luar biasa maju pesat.


...........


Malam beranjak semakin larut.


Inayah sulit sekali pejamkan mata padahal sudah hampir dini hari.


Ia tidak bisa tidur. Sesekali Inayah memeriksa ponselnya dan melihat apakah chattnya sudah masuk di ponsel Arthur atau belum.


Inayah tidak mengerti mengapa chatnya masih ceklis satu walaupun sudah menebak kalau Arthur sepertinya memblokir nomornya.


"Apa salahku? Kenapa dia blokir? Karena bodoh? Karena meneriaki dia sebagai pria sembrono yang suka main hajar? Hhh... Ya Allah..., Maaasss! Aku itu panik. Aku takut anak punk itu kenapa-napa dan kamu jadi berurusan dengan polisi sedangkan kamu berstatus kewarganegaraan ganda. Andaikan terjadi sesuatu, bagaimana kalau sampai nanti kamu di deportasi, ga boleh tinggal di Indonesia lagi? Itu adalah bentuk kekhawatiranku sama kamu, Mas! Ck. Ya Allah... Kenapa dia itu suka sekali salah faham sama tingkahku!?!"


.......


Bangun pagi, mata Inayah terlihat seperti mata panda. Berkantung dan gelap di bagian kelopak bawah matanya.


Mia tak banyak bicara, hanya menatap wajah anak gadisnya yang terlihat jauh lebih pendiam dari kemarin.


Berbeda sekali dengan Gaga dan Rama yang antusias membuat sarapan sendiri dengan bahan makanan yang dikirim Arthur untuk mereka.


Ada sosis, bakso sapi dan potongan slice daging sapi untuk bahan barbeque-an yang menjadi bahan percobaan masakan Gaga serta Rama.


"Nay, mau cobain skotel makaroni buatan Mas gak?" tawar Rama pada Inayah dan dijawab anggukan kecil saja.


"Kenapa sih, pagi-pagi udah lemes?" tanya Gaga polos.

__ADS_1


"Banyak tugas kampus!" jawab Inayah singkat dan datar.


"Hm. Gaga hari ini masih libur dong! Hehehe... selamat belajar, Mbak Inayah cantik!"


Inayah mencubit pipi adiknya dengan gemas.


Skotel makaroni buatan Rama yang enak, hanya dimakan gadis itu beberapa suap.


"Kenapa? Koq sarapannya ga dihabiskan?" tanya Mia mulai khawatir dengan kesehatan Inayah. Apalagi putrinya itu agak kurang memperhatikan asupan makannya akhir-akhir ini. Mia merasa sangat bersalah karena kesibukan di luar rumah membuat Ia kurang peduli keadaan putra-putrinya.


"Udah kesiangan, Mak! Inayah berangkat ya? Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam.. Hati-hati di jalan, ya?"


"Iya."


Inayah mencium punggung tangan Mia dan juga Rama. Hari ini langkahnya tak se-energik biasanya. Rama dan Mia seperti melihat gairah Inayah yang menurun karena Arthur.


"Ram..."


"Ya, Mak?"


Mia menatap Inayah yang sudah berada di halaman rumah dari balik jendela.


"Apa... Mas Arthur memblokir nomornya Inayah?' tanya Mia penasaran.


Rama mengangguk.


"Katanya sebagai ganti karena ingkar janji pada Mak. Dia memblokir nomor Inayah supaya ga ada lagi komunikasi diantara mereka. Mak bisa tenang sekarang."


Entah mengapa, mendengar perkataan putranya itu, Mia justru merasa sedih sekali.


Ia merasa sangat bersalah. Apalagi, melihat putrinya jadi terlihat kurang gairah mendapati nomor pribadinya di blokir Arthur.


Tapi Ia juga masih sama cemasnya jikalau mereka makin dekat dan akrab satu sama lain.

__ADS_1


Mia bingung.


BERSAMBUNG


__ADS_2